Tag Archives: Christina Hendricks

Review: Toy Story 4 (2019)

Do we need another Toy Story movie? Seri Toy Story jelas merupakan salah satu elemen paling krusial dalam sejarah perjalanan Pixar Animation Studios. Toy Story (John Lasseter, 1995) merupakan film animasi panjang pertama – sekaligus film animasi perdana yang menggunakan teknologi Computer-Generated Imagery secara utuh di Hollywood – yang dirilis oleh rumah produksi yang kini dimiliki oleh Walt Disney Pictures tersebut. Berbeda dengan kebanyakan seri film lain – termasuk beberapa yang juga diproduksi oleh Pixar Animation Studios, seri film Toy Story berhasil digarap dengan kualitas cerita dan produksi yang tampil berkelas secara konsisten. Tidak mengherankan jika trio film Toy Story, Toy Story 2 (Lasseter, 1999), dan Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010) seringkali dinilai sebagai salah satu trilogi film terbaik sepanjang masa serta begitu dicintai oleh para penggemarnya. Tidak mengherankan, ketika Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios mengumumkan bahwa mereka akan melanjutkan kisah petualangan Woody dan rekan-rekan mainannya, banyak penikmat film dunia yang lantas kurang mendukung keputusan tersebut. Continue reading Review: Toy Story 4 (2019)

Review: The Strangers: Prey at Night (2018)

Ketika dirilis satu dekade lalu, The Strangers (Bryan Bertino, 2008) mampu menjelma dari sebuah film horor dengan premis sederhana menjadi sajian yang berhasil menarik perhatian banyak penikmat film dunia. Dengan bujet produksi yang “hanya” membutuhkan biaya sebesar US$9 juta, film yang dibintangi Liv Tyler dan Scott Speedman tersebut kemudian berhasil meraih pendapatan sebesar lebih dari US$82 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Tiga karakter antagonisnya – Dollface, Pin-up Girl dan Man in the Mask yang selalu mengenakan topeng dan tidak berbicara selama menjalankan aksinya – bahkan menjadi karakter horor ikonik dan dihadirkan dalam film The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2012) bersanding dengan karakter-karakter horor ikonik lainnya. Kesuksesan The Strangers tersebut kini berusaha dilanjutkan melalui sekuelnya, The Strangers: Prey at Night, yang diarahkan Johannes Roberts (47 Meters Down, 2017). Masih menawarkan premis yang sama sederhana dengan jumlah karakter yang kini lebih banyak, The Strangers: Prey at Night jelas menjanjikan sajian slasher yang lebih brutal dari pendahulunya. Namun, apakah Roberts berhasil mempertahankan kualitas atmosfer penceritaan film secara keseluruhan? Continue reading Review: The Strangers: Prey at Night (2018)

Review: Detachment (2012)

Walaupun memiliki premis film yang bercerita mengenai seorang guru yang harus mengajar di sebuah sekolah dimana kebanyakan muridnya merupakan kumpulan remaja yang bermasalah, Detachment bukanlah Dangerous Minds (1996). Jika Dangerous Minds memfokuskan kisahnya pada satu karakter guru yang berusaha untuk membawa para muridnya ke jalan (baca: pilihan) hidup yang lebih baik, maka Detachment memilih untuk melihat secara lebih dekat bagaimana sebenarnya kehidupan pribadi para guru ketika harus dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi saat orang-orang yang mereka ajarkan kebanyakan tidak mempedulikan dan bahkan sering merendahkan mereka. Sebuah potret kelam yang depresif dan seringkali sukar untuk diikuti.

Continue reading Review: Detachment (2012)

Review: I Don’t Know How She Does It (2011)

Jika ada hal yang ingin ditunjukkan oleh naskah cerita I Don’t Know How She Does It yang diadaptasi oleh penulis naskah Aline Brosh McKenna (The Devil Wears Prada, 2006) dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Allison Pearson, maka I Don’t Know How She Does It adalah sebuah cerita yang ingin menunjukkan bagaimana para wanita karir yang memiliki keluarga lengkap mampu menyeimbangkan kehidupan mereka antara tuntutan keluarga yang selalu mengharapkan kehadiran mereka dan karir yang seringkali mengharapkan mereka bersikap layaknya para pria – sebuah hal yang ironis mengingat film ini diarahkan oleh seorang pria, Douglas McGrath (Emma, 1996). Bukan hal yang buruk. Namun McKenna dan McGrath seperti kebingungan untuk menghadirkan nada yang tepat untuk film ini, tidak pernah menyajikan drama, romansa, kisah keluarga dan komedi dalam tarikan nafas yang tepat dan membuat I Don’t Know How She Does It menjadi terkesan datar dan gagal menjangkau sisi emosional setiap penontonnya.

Continue reading Review: I Don’t Know How She Does It (2011)

Review: Drive (2011)

Di tangan seorang sutradara dengan kemampuan pengarahan dan penceritaan seadanya, Drive dapat dengan mudah menjadi sebuah film aksi popcorn yang hanya dapat menawarkan deretan adegan bernuansa kekerasan, seksualitas dan Jason Statham sebagai bintang utamanya. Sangat mudah. Namun, Nicholas Winding Refn bukanlah seorang sutradara dengan kemampuan filmis yang biasa. Mulai memperoleh perhatian dunia setelah mengarahkan film-film yang kental dengan nuansa kekerasan seperti Bronson (2008) yang dibintangi Tom Hardy dan Valhalla Rising (2009), Winding Refn mampu mengolah jalan cerita bernuansa kekerasan tersebut menjadi sebuah sajian yang bercita rasa tinggi, namun tidak dengan serta merta lantas menjadikannya sebagai sebuah film yang sulit untuk dicerna oleh penonton kebanyakan. Hal itulah yang sekali lagi dilakukan Winding Refn terhadap Drive, sebuah film yang jalan ceritanya diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya James Sallis.

Continue reading Review: Drive (2011)

Review: Life as We Know It (2010)

Semenjak namanya menanjak lewat Knocked Up (2007), nama Katherine Heigl sepertinya terus akrab dengan film-film drama komedi romantis dengan tipikal peran yang hampir sama: seorang wanita karir yang akhirnya menemukan cinta pada seorang pria yang awalnya ia anggap tak mungkin ia cintai. Formula tersebut awalnya cukup berhasil (27 Dresses, 2008), namun kemudian terus melemah (The Ugly Truth, 2009) dan semakin melemah (Killers, 2010). Hampir dapat dipastikan, setiap film yang dibintangi oleh Heigl selalu memanfaatkan performa yang ia tampilkan bersama aktor yang menjadi pasangannya, daripada memanfaatkan kekuatan cerita yang ingin disampaikan di film tesebut.

Continue reading Review: Life as We Know It (2010)