Tag Archives: Chris Pine

Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Sony Pictures sepertinya semakin percaya diri dengan kolaborasi mereka bersama Marvel Comics. Setelah kesuksesan Spider-Man: Homecoming (Jon Watts, 2017) – yang juga menjadi film Spider-Man pertama yang diikutsertakan dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe – serta Venom (Ruben Fleischer, 2018), Sony Pictures kini memproduksi sebuah seri terbaru Spider-Man yang tidak berhubungan secara langsung dengan seri live-action Spider-Man yang sedang berjalan namun, di saat bersamaan, juga memiliki keterikatan semesta pengisahan dengan seri film tersebut. Digarap dalam bentuk animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse akan mengenalkan penonton pada sosok Spider-Man lain bernama Miles Morales yang berasal dari dimensi kehidupan yang berbeda – dimana, dalam dimensi kehidupan tersebut, karakter Peter Parker/Spider-Man dikisahkan telah meninggal dunia. Dengan pengembangan cerita dan karakter yang dilakukan oleh Phil Lord dan Christopher Miller (The LEGO Movie, 2014), Spider-Man: Into the Spider-Verse mampu dibangun menjadi sebuah presentasi yang cerdas, menyenangkan, bahkan menjadi salah satu adaptasi film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat hingga saat ini. Continue reading Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Review: A Wrinkle in Time (2018)

Ketika dirilis perdana pada tahun 1962, buku A Wrinkle in Time yang ditulis oleh novelis asal Amerika Serikat, Madeleine L’Engle, mampu mencuri perhatian dan memicu perbincangan di kalangan pecinta literatur dunia berkat struktur penceritaan buku tersebut yang membaurkan tema-tema seperti fantasi, agama, fiksi ilmiah, serta berbagai isu sosial yang memang sedang hangat dibicarakan di saat tersebut. Berkat penceritaan L’Engle yang apik, A Wrinkle in Time kemudian berhasil memenangkan banyak penghargaan di bidang sastra sekaligus menjadi salah satu buku paling popular dan berpengaruh di lingkungan sastra Amerika Serikat. Kepopuleran A Wrinkle in Time – yang nantinya dilanjutkan L’Engle lewat empat seri buku berikutnya – lantas membuat buku tersebut diadaptasi ke berbagai bentuk medium, mulai dari buku audio, novel grafis, drama panggung, opera, hingga film televisi. Yang terbaru, Walt Disney Pictures – rumah produksi yang juga memproduksi adaptasi film televisi dari A Wrinkle in Time (John Kent Harrison, 2003) – berusaha untuk menterjemahkan kekuatan cerita A Wrinkle in Time ke dalam bentuk film layar lebar dengan arahan dari sutradara Ava DuVernay (Selma, 2014). Continue reading Review: A Wrinkle in Time (2018)

Review: Wonder Woman (2017)

Cukup mengherankan untuk melihat baik DC Films maupun Marvel Studios (atau rumah produksi Hollywood lainnya) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya menggarap sebuah film pahlawan super dengan sosok karakter wanita berada di barisan terdepan. Terlebih, film-film bertema pahlawan super tersebut saat ini sedang begitu digemari oleh banyak penikmat film sehingga mampu mendatangkan jutaan penonton – khususnya para penonton wanita. Marvel Studios sebenarnya memiliki kesempatan tersebut ketika mereka memperkenalkan karakter Black Widow yang diperankan Scarlett Johansson pada Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010) dan The Avengers (Joss Whedon, 2012) yang akhirnya kemudian begitu mencuri perhatian. Entah karena masih kurang percaya diri atau merasa karakter Black Widow belum terlalu menjual, ide pembuatan film solo untuk Black Widow akhirnya terkubur dalam hingga saat ini. Johansson sendiri kemudian mampu membuktikan nilai jualnya ketika ia membintangi Lucy (Luc Besson, 2014), Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014), dan Ghost in the Shell (Rupert Sanders, 2017) yang menempatkannya sebagai semacam sosok pahlawan super wanita sekaligus berhasil meraih kesuksesan secara komersial ketika masa perilisannya. Continue reading Review: Wonder Woman (2017)

Review: Jack Ryan: Shadow Recruit (2014)

Jack Ryan: Shadow Recruit (Paramount Pictures/Skydance Productions/Mace Neufeld Productions/Di Bonaventura Pictures/Buckaroo Entertainment/Etalon Film/Translux, 2014)
Jack Ryan: Shadow Recruit (Paramount Pictures/Skydance Productions/Mace Neufeld Productions/Di Bonaventura Pictures/Buckaroo Entertainment/Etalon Film/Translux, 2014)

Seperti halnya Casino Royale (2006) bagi seri film James Bond, Jack Ryan: Shadow Recruit adalah sebuah film yang menandai dimulainya proses reboot untuk seri film Jack Ryan yang dahulu telah dimulai dengan The Hunt for Red October (1990) dan kemudian berlanjut dengan Patriot Games (1992), Clear and Present Danger (1994) serta The Sum of All Fears (2002) – yang juga dimaksudkan sebagai sebuah reboot namun kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan lebih lanjut. Sebagai sebuah seri yang akan menjadi dasar bagi kelanjutan kisah Jack Ryan berikutnya, Jack Ryan: Shadow Recruit harus diakui mampu memberikan kesempatan yang begitu luas bagi penonton untuk mengenal karakter yang diadaptasi dari seri novel karya Tom Clancy tersebut secara lebih dekat. Sayangnya, pengembangan cerita serta beberapa karakter pendukung yang dilakukan secara minimalis membuat Jack Ryan: Shadow Recruit terasa begitu medioker dan gagal tampil istimewa dalam penyampaian ceritanya.

Continue reading Review: Jack Ryan: Shadow Recruit (2014)

Review: Star Trek Into Darkness (2013)

star-trek-into-darkness-header

Di tahun 2009, dimana Hollywood dikuasai oleh film-film science fiction orisinal seperti Avatar serta District 9, J. J. Abrams mampu mencuri banyak perhatian penikmat film dunia ketika dirinya kembali menghadirkan sebuah franchise legendaris bernama Star Trek dengan sentuhan yang baru. Meski awalnya banyak mendapatkan keraguan, khususnya dari para penggemar setia franchise tersebut – yang biasa menyebut diri mereka sebagai Trekkies, dengan bermodalkan naskah cerita arahan Roberto Orci dan Alex Kurtzman yang sangat cerdas, Abrams mampu menghadirkan sebuah presentasi kisah Star Trek yang cukup segar dan modern untuk dapat meraih banyak penggemar baru namun tetap terasa sangat familiar untuk dapat memuaskan para penggemar lamanya. Kesuksesan tersebut jelas telah membuka pintu kesempatan yang sangat lebar bagi Abrams untuk dapat menjelajah lebih jauh dalam menangani seri lanjutan franchise film yang telah dimulai semenjak tahun 1979 tersebut.

Continue reading Review: Star Trek Into Darkness (2013)

Review: Rise of the Guardians (2012)

Diangkat dari seri buku cerita berjudul The Guardians of Childhood karya William Joyce – yang film animasi pendek-nya, The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore, memenangkan Academy Awards pada tahun lalu, Rise of the Guardians mencoba untuk menggabungkan beberapa tokoh mitos ikonik ke dalam satu rangkaian cerita. Dikisahkan, North (yang merupakan penggambaran dari Santa Claus, Alec Baldwin), E.Aster Bunnymund (yang merupakan penggambaran dari kelinci Paskah, Hugh Jackman), Tooth (yang merupakan penggambaran dari Peri Gigi, Isla Fisher) serta Sandy (penggambaran dari The Sandman yang bertugas untuk memberikan mimpi baik bagi para anak-anak) telah lama dipilih oleh Man in the Moon menjadi Guardians yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar perasaan bahagia selalu hadir dalam hati setiap anak-anak di dunia. Sebaliknya, kebahagiaan dari anak-anak dan kepercayaan mereka terhadap karakter-karakter mitos tersebut adalah sebuah kekuatan tersendiri yang akan tetap mampu menjaga keberadaan dari para Guardians.

Continue reading Review: Rise of the Guardians (2012)

Review: This Means War (2012)

Untuk seseorang dengan talenta seperti Reese Witherspoon – talenta yang telah memenangkannya sebuah Academy Award (Walk the Line, 2005) – adalah cukup mengherankan untuk melihat Witherspoon terus menerus memilih berbagai material cerita film yang sepertinya kurang mampu untuk mengeksplorasi talenta aktingnya tersebut. Tentu, pasca kemenangannya di ajang Academy Awards, Witherspoon pernah membintangi beberapa film-film dengan fondasi jalan cerita yang cukup kuat seperti Rendition (2007), How Do You Know (2010) dan Water for Elephants (2011). Namun pada kebanyakan bagian, karir Witherspoon pasca kemenangannya di ajang Academy Awards diisi dengan film-film seperti Just Like Heaven (2005), Penelope (2006) dan Four Christmases (2007) yang lebih menekankan cute factor dalam diri Reese daripada talenta akting yang ia miliki.

Continue reading Review: This Means War (2012)

Review: Unstoppable (2010)

Dalam sebuah kerjasama yang lebih low profile dari kerjasama yang dilakukan oleh Martin Scorsese dengan Leonardo DiCaprio dalam film manapun, sutradara, Tony Scott, kembali merilis sebuah film action yang menggunakan kereta api sebagai latar belakang cerita yang sekaligus menandai kali kelima dirinya bekerjasama dengan aktor, Denzel Washington. Sama seperti The Taking of Pelham 1 2 3 (2009), Unstoppable juga mendapatkan garis besar jalan ceritanya dari sebuah kisah nyata. Dengan jalan cerita yang ditawarkan oleh penulis naskah, Mark Bomback (Race to Witch Mountain, 2009), Unstoppable memang bukanlah sebuah film yang dapat dibanggakan dari sisi ceritanya. Namun dengan pengemasan yang apik dari sang sutradara dan para pemerannya, film ini berhasil menjelma menjadi sebuah film action ringan dengan intensitas yang cukup menegangkan.

Continue reading Review: Unstoppable (2010)