Tag Archives: Chin Han

Review: Mortal Kombat (2021)

Dirilis pertama kali pada tahun 1992 oleh Midway Games, Mortal Kombat dengan segera meraih popularitas diantara para penikmat permainan video bertema pertarungan – khususnya berkat tampilan grafisnya yang tidak segan mengumbar begitu banyak unsur darah serta kekerasan yang sempat memicu kontroversi dari sejumlah pihak. Popularitasnya tersebut mampu membawa Mortal Kombat menjadi salah satu permainan video bertema pertarungan dengan angka penjualan terbaik di sepanjang sejarah yang kemudian coba diadaptasi dan dikembangkan ke berbagai bentuk media lainnya, mulai dari film, serial televisi, komik, novel, permainan kartu, hingga kompetisi judi secara daring. Adaptasi film layar lebar pertama dari Mortal Kombat sendiri dirilis pada tahun 1995. Meskipun mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari para kritikus film dunia, Mortal Kombat mampu meraih sukses besar secara komersial sekaligus meluncurkan karir dari sutradara Paul W. S. Anderson di Hollywood. Sayang, sekuel arahan John R. Leonetti yang berjudul Mortal Kombat: Annihilation (1997) gagal untuk meraih kesuksesan serupa dan menutup pintu bagi adanya kesempatan untuk adaptasi film layar lebar dari Mortal Kombat selanjutnya. Continue reading Review: Mortal Kombat (2021)

Review: Skyscraper (2018)

Skyscraper adalah sebuah film drama aksi terbaru yang dibintangi oleh Dwayne Johnson. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup untuk membuat banyak orang dapat membayangkan bagaimana pengisahan Skyscraper akan berjalan. Ummm… masih membutuhkan deskripsi singkat mengenai jalan cerita film ini? Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Rawson Marshall Thurber – yang sebelumnya mengarahkan Johnson dalam Central Intelligence (2016) – Skyscraper berkisah mengenai seorang mantan tentara bernama Will Sawyer (Johnson) yang bersama istri, Sarah Sawyer (Neve Campbell), dan kedua anaknya, Georgia Sawyer (McKenna Roberts) dan Henry Sawyer (Noah Cottrell), sedang berada di Hong Kong setelah Will Sawyer mendapatkan pekerjaan untuk melakukan supervisi terhadap sistem keamanan sebuah gedung pencakar langit yang telah dibangun oleh milyuner Zhao Long Ji (Chin Han). Pekerjaan tersebut awalnya berjalan dengan lancar. Namun, sebuah tindakan pengkhianatan yang melibatkan sosok mafia besar di Hong Kong kemudian menghancurkan seluruh hasil kerja Zhao Long Ji dan Will Sawyer – sekaligus menjebak seluruh anggota keluarga Will Sawyer dalam kebakaran besar yang dapat mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: Skyscraper (2018)

Review: Ghost in the Shell (2017)

Tidak dapat disangkal, The Ghost in the Shell merupakan salah satu manga ikonik sekaligus paling berpengaruh yang pernah dirilis hingga saat ini. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1989, The Ghost in the Shell kemudian diadaptasi ke berbagai media termasuk permainan video, serial televisi hingga beberapa film animasi layar lebar dengan Ghost in the Shell (Mamoru Oshii, 1995) menjadi produk adaptasi paling populernya. Jelas tidak mengherankan bila kemudian Hollywood turut serta melirik kesempatan untuk memproduksi dan merilis hasil adaptasi mereka sendiri. Dimulai pada tahun 2008, rumah produksi DreamWorks Pictures membeli hak adaptasi The Ghost in the Shell yang sekaligus mengawali proses pembuatan versi live-action Hollywood dari manga yang ditulis oleh Masamune Shirow tersebut. Setelah sempat mengalami beberapa pergantian pemeran dan kru produksi, DreamWorks Pictures kemudian mengumumkan di tahun 2014 bahwa Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman, 2012) akan duduk di kursi sutradara serta aktris Scarlett Johansson akan menjadi pemeran utama bagi Ghost in the Shell – sebuah keputusan yang kemudian memicu kontroversi karena karakter utama dalam manga tersebut adalah sesosok wanita yang memiliki latar belakang ras Asia. Continue reading Review: Ghost in the Shell (2017)

Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers. Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru.

Continue reading Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Review: Restless (2011)

Sukses dengan Milk (2008), yang berhasil merebut banyak perhatian para kritikus film dunia sekaligus memenangkan dua Academy Award, Gus Van Sant kembali duduk di kursi sutradara untuk film Restless. Tidak seperti Milk yang sangat berkesan mewah dengan jajaran bintang kelas atas yang mengisi departemen aktingnya serta jalan cerita yang begitu ambisius, Restless menandai kembalinya Van Sant ke film-film dengan jalan cerita yang memiliki tema lebih sederhana namun tetap menawarkan keunikan karakter-karakternya, dengan jajaran aktor dan aktris muda yang mengisi departemen aktingnya serta memanfaatkan tampilan gambar yang begitu indah untuk menekankan isi dari jalan cerita yang dihadirkan. Tema cerita Restless memang bukanlah suatu hal yang istimewa. Namun kemampuan Van Sant untuk mengolah jalan ceritanya yang didukung oleh penampilan apik para jajaran pemerannya membuat Restless cukup mampu tampil efektif.

Continue reading Review: Restless (2011)

Review: Contagion (2011)

Adalah mudah untuk mendapatkan banyak bintang tenar untuk membintangi setiap film yang akan Anda produksi. Sepanjang Anda memiliki biaya produksi yang mencukupi, rasanya proses pemilihan aktor maupun aktris manapun yang Anda kehendaki tidak akan menemui masalah yang terlalu besar. Yang menjadi permasalahan, tentunya, adalah bagaimana Anda akan membagi dan memanfaatkan setiap talenta yang telah Anda dapatkan dalam jalan cerita film yang akan Anda produksi. Seperti yang telah dibuktikan oleh banyak film-film yang menampilkan jajaran pemeran yang terdiri dari nama-nama besar di Hollywood, kebanyakan dari talenta-talenta tersebut tampil kurang maksimal akibat minimnya karakterisasi dari peran yang harus mereka tampilkan. Pun begitu, jika Anda adalah Steven Soderbergh – yang telah mengumpulkan seluruh isi Hollywood dalam film-film seperti Traffic (2000) hingga The Ocean Trilogy (2001 – 2007) – Anda tahu bahwa Anda memiliki detil yang kuat untuk menampilkan setiap sisi terbaik dari kemampuan akting talenta pengisi film Anda.

Continue reading Review: Contagion (2011)