Tag Archives: Bryce Dallas Howard

Review: Jurassic World Dominion (2022)

Setelah posisinya sebagai sutradara digantikan oleh J. A Bayona pada Jurassic World: Fallen Kingdom (2018), Colin Trevorrow kini kembali duduk di kursi pengarahan Jurassic World Dominion yang dirancang menjadi film penutup bagi trilogi sekuel dari Jurassic Park yang linimasa pengisahannya dimulai oleh Jurassic World (2015) yang juga diarahkan Trevorrow. Harus diakui, seperti halnya The Lost World: Jurassic Park (Steven Spielberg, 1997) dan Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), dua film pertama dari seri Jurassic World memang tidak pernah mampu untuk menghasilkan kesan istimewa – sebuah “kutukan” yang sepertinya ditinggalkan oleh bayang-bayang besar kesuksesan mahakarya klasik sekelas Jurassic Park (Spielberg, 1993) bagi tiap film penerus yang berusaha untuk melanjutkan pengisahannya. Problema serupa juga dapat dirasakan pada Jurassic World Dominion yang tidak hanya menghadirkan pengembangan plot maupun karakter yang telah benar-benar usang namun juga arahan cerita yang berkualitas hambar. Continue reading Review: Jurassic World Dominion (2022)

Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Berkaca pada pencapaian kualitas yang diraih oleh Jurassic World: The Lost World (Steven Spielberg, 1997), Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), dan Jurassic World (Colin Trevorrow, 2015), rasanya cukup jelas bahwa lanjutan kisah dari seri film Jurassic Park tidak akan mampu menandingi atau bahkan menyamai kualitas prima dari pengisahan Jurassic Park (Spielberg, 1993) yang sangat legendaris itu. Well… barisan sekuel Jurassic Park sebenarnya bukanlah film-film yang berkualitas buruk. Meskipun hadir dengan tatanan pengisahan yang semakin lama terasa semakin dangkal, film-film tersebut masih mampu dikembangkan dengan tata pengisahan yang menjadikannya cukup menyenangkan untuk disaksikan. Dan, tentu saja, kesuksesan raihan komersial film-film tersebut jelas akan membuat Spielberg dan para produser dari seri film Jurassic Park terus berusaha memutar otak mereka dalam menghasilkan bagian baru dari pengisahan seri film tersebut – seri terakhir Jurassic Park, Jurassic World, bahkan berhasil mendapatkan pendapatan sebesar lebih dari US$1.6 milyar dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus menjadikannya sebagai film paling sukses dari seri film Jurassic Park. Continue reading Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Review: Gold (2016)

Terinsipirasi dari sebuah kisah nyata skandal penipuan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan mineral Kanada yang juga melibatkan pemerintahan Indonesia di tahun 1997, film teranyar arahan sutradara asal Amerika Serikat, Stephen Gaghan (Syriana, 2005), berkisah mengenai Kenny Wells (Matthew McConaughey), seorang pengusaha di bidang mineral alam yang sedang mengalami kesulitan finansial. Dalam usaha terakhir untuk mempertahankan perusahaan yang diwariskan oleh sang ayah kepadanya, Kenny Wells lantas menghubungi seorang geolog bernama Michael Acosta (Édgar Ramírez) yang memiliki keyakinan bahwa ia telah menemukan sebuah tambang emas di pedalaman hutan Kalimantan, Indonesia yang masih belum disentuh dan diketahui khalayak luas. Berbekal hanya dengan keyakinannya, serta hasil meminjam dana bantuan dari banyak pihak, Kenny Wells dan Michael Acosta akhirnya melakukan perjalanan ke wilayah yang diduga memiliki sumber emas dan memulai masa penggalian mereka. Setelah sekian lama menggali, Michael Acosta ternyata berhasil membuktikan kebenaran teorinya: wilayah pedalaman hutan Kalimantan tersebut memiliki sumber emas – bahkan merupakan sumber emas terbesar yang pernah ditemukan di dunia. Keuntungan komersial jelas dapat dengan mudah mereka raih. Namun, di saat yang bersamaan, beberapa pihak yang ingin turut ambil bagian keuntungan dari temuan Kenny Wells dan Michael Acosta tersebut mulai melancarkan strategi mereka untuk mendekati keduanya. Continue reading Review: Gold (2016)

Review: Jurassic World (2015)

Ketika Steven Spielberg merilis Jurassic Park pada tahun 1993, Spielberg berhasil menghadirkan sebuah keajaiban sinema yang masih terasa begitu relevan bahkan hingga saat ini. Di era ketika komputer masih belum menjadi tumpuan utama para pembuat film untuk menghasilkan gambar-gambar dengan efek visual yang begitu mengagumkan, Spielberg mampu membawa penonton selama 127 menit untuk merasakan kesenangan/kekaguman/ketegangan/ketakutan hidup di tengah kawanan dinosaurus dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai sebuah pengalaman sinema yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Tidak mengherankan jika film dengan sentuhan terobosan teknologi tinggi tersebut kemudian sempat menjadi film dengan pendapatan komersial terbesar sepanjang masa – sebelum akhirnya digeser oleh Titanic (James Cameron, 1997), meraih begitu banyak penghargaan termasuk tiga Academy Awards serta diikuti oleh dua sekuel, The Lost World (1997) yang masih diarahkan oleh Spielberg dan Jurassic Park III (2001) yang kemudian diarahkan oleh Joe Johnston. Continue reading Review: Jurassic World (2015)

Review: 50/50 (2011)

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda didiagnosa menderita sebuah penyakit yang dapat kapan saja mengakhiri perjalanan hidup Anda di dunia? Atau… apa yang akan Anda lakukan jika orang yang Anda sayangi ternyata harus menghadapi tantangan kehidupan tersebut? Tidak seperti film-film lain yang bertema sama dan biasanya ditulis dengan nada penceritaan dramatis yang mendayu-dayu, 50/50, yang ditulis oleh penulis naskah Will Reiser serta menjadi film ketiga yang diarahkan oleh Jonathan Levine setelah All the Boys Love Mandy Lane (2006) dan The Wackness (2008), justru berusaha menghadirkan jalan cerita yang cenderung kelam tersebut dengan nada drama komedi yang kental. Secara mengagumkan, Levine mampu mengolah naskah cerita tulisan Reiser menjadi sebuah presentasi dengan nilai komedi cerdas yang sangat menghibur, namun tetap sangat menyentuh ketika menghadirkan momen-momen dramatisnya.

Continue reading Review: 50/50 (2011)

Review: The Help (2011)

Berdasarkan sebuah novel karya Kathryn Stockett yang berjudul sama dan berlatar belakang waktu pada tahun 1960-an, The Help mengisahkan mengenai Eugenia “Skeeter” Phelan (Emma Stone), seorang gadis berkulit putih yang baru saja menyelesaikan masa kuliahnya dan kemudian kembali ke kampung halamannya di Jackson, Mississippi, Amerika Serikat untuk mengejar karir sebagai seorang penulis profesional. Langkah tersebut ia mulai dengan menerima pekerjaan sebagai seorang penulis kolom mengenai kebersihan rumah tangga di sebuah harian lokal. Tuntutan pekerjaannya tersebut yang kemudian mengenalkannya pada Aibileen Clark (Viola Davis), seorang wanita paruh baya berkulit hitam yang bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di kediaman salah seorang teman lama Skeeter, Elizabeth Leefolt (Ahna O’Reilly). Dari perkenalannya dengan Aibileen-lah, mata Skeeter mulai terbuka mengenai bagaimana perlakuan sebagian kaum kulit putih terhadap para warga kulita hitam yang dianggap sebagai warga kelas dua. Continue reading Review: The Help (2011)

Review: Hereafter (2010)

Selain memiliki karir yang cemerlang sebagai seorang aktor, Clint Eastwood juga memiliki karir yang tak kalah gemilangnya ketika ia bertindak sebagai seorang sutradaranya. Bahkan, begitu gemilangnya karir penyutradaraan Eastwood, Academy Awards pertama yang berhasil ia menangkan justru berasal dari kategori Best Director untuk filmnya, Unforgiven (1992). Di film terbarunya, Hereafter, Eastwood sepertinya berusaha melakukan eksplorasi mengenai sebuah tema yang lebih spiritual jika dibandingkan dengan film-film yang ia sutradarai sebelumnya. Dengan naskah yang ditulis oleh Peter Morgan (State of Play, 2009), sayangnya, tema tersebut bukan sebuah tema yang mampu tergali dengan dalam oleh Eastwood.

Continue reading Review: Hereafter (2010)

Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Well… Anda harus mengakui bahwa di tangan seorang David Slade (Hard Candy, 30 Days of Night) rilisan ketiga dari seri The Twilight Saga ini memang berhasil melampaui kualitas dua seri pendahulunya. The Twilight Saga: Eclipse memang masih saja berputar di sekitar kisah cinta segitiga antara Bella Swan, Edward Cullen dan Jacob Black. Namun dengan sentuhan Slade, seri ini  mampu terasa lebih hidup dengan menambahkan beberapa adegan keras, bertema seksual serta kisah yang berasal dari sudut pandang beberapa karakter lain.

Continue reading Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)