Tag Archives: Biography

Review: The Monuments Men (2014)

The Monuments Men (Columbia Pictures/Fox 2000 Pictures/Smokehouse Pictures/Studio Babelsberg, 2014)
The Monuments Men (Columbia Pictures/Fox 2000 Pictures/Smokehouse Pictures/Studio Babelsberg, 2014)

Setelah berhasil memenangkan Academy Awards untuk Argo (2012) yang ia produseri bersama Ben Affleck dan Grant Heslov, George Clooney kembali bekerjasama dengan Heslov untuk memproduksi The Monuments Men yang sekaligus menjadi film kelima yang diarahkannya. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Clooney dan Heslov berdasarkan buku berjudul The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History karya Robert M. Edsel dan Bret Witter, The Monuments Men bercerita mengenai sebuah kisah nyata bertema kepahlawanan yang mungkin masih belum diketahui oleh banyak orang mengenai usaha penyelamatan berbagai benda seni dan budaya dunia dengan nilai kultural penting sebelum benda-benda tersebut dihancurkan oleh Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II. Sebuah tema penceritaan yang jelas sangat menarik untuk dipresentasikan. Sayangnya, tema menarik tersebut gagal untuk mendapatkaan pengembangan yang kuat, baik dari naskah cerita yang ditulis oleh Clooney dan Heslov maupun dari tata pengarahan Clooney sendiri. Hasilnya, meskipun didukung dengan penampilan berkualitas prima dari jajaran pemerannya, The Monuments Men tampil luar biasa datar dan jauh dari kesan menarik dalam penyajiannya.

Continue reading Review: The Monuments Men (2014)

Review: The Wind Rises (2013)

The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)
The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)

Dikabarkan akan menjadi film terakhir yang diarahkan oleh sutradara legendaris asal Jepang, Hayao Miyazaki, The Wind Rises adalah sebuah film animasi dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Miyazaki dari buku komik miliknya yang berjudul Kaze Tachinu yang kisahnya sendiri merupakan hasil adaptasi lepas dari sebuah cerita pendek berjudul sama karya Tatsuo Hori yang pertama kali dirilis pada tahun 1937. Berbeda dengan beberapa filmnya terdahulu seperti Spirited Away (2001), Howl’s Moving Castle (2004) dan Ponyo (2008) yang alur ceritanya lebih berorientasi kepada para penonton muda, The Wind Rises memiliki usia penuturan yang jauh lebih dewasa ketika Miyazaki mencoba mengisahkan perjalanan nyata kehidupan Jiro Horikoshi, salah satu ahli penerbangan paling dihormati di Jepang yang salah satu pesawat tempur ciptaannya digunakan oleh Kerajaan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sebuah pengisahan mengenai fantasi yang tentunya siap untuk menerbangkan setiap penontonnya.

Continue reading Review: The Wind Rises (2013)

Review: Dallas Buyers Club (2013)

Dallas Buyers Club (Truth Entertainment/Voltage Pictures, 2013)
Dallas Buyers Club (Truth Entertainment/Voltage Pictures, 2013)

(Mungkin) Bosan dengan gelar sebagai aktor yang paling dapat diandalkan untuk tampil bertelanjang dada dalam sebuah film drama komedi romantis, Matthew McConaughey mulai menata kembali karirnya (dan imejnya) di Hollywood dengan membintangi film The Lincoln Lawyer (2011) arahan Brad Furman serta Bernie arahan Richard Linklater yang dirilis pada tahun 2012. Dan berhasil! Perpaduan antara materi cerita yang tepat dengan kemampuan akting yang handal sekaligus kharisma yang begitu memikat berhasil memberikan penyegaran pada karir berakting McConaughey yang sebelumnya mulai terasa berjalan monoton. Di tahun-tahun berikutnya, McConaughey terus membuktikan kehandalan aktingnya melalui pilihan film serta peran yang begitu bervariasi – seperti yang ia tunjukkan pada Dallas Buyers Club dimana ia McConaughey berperan sebagai seorang pria penderita AIDS akut dengan jangka waktu kehidupan yang diprediksi tidak akan berjalan lama lagi.

Continue reading Review: Dallas Buyers Club (2013)

Review: 12 Years a Slave (2013)

12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)
12 Years a Slave (Regency Enterprises/River Road Entertainment/Plan B Entertainment/New Regency Pictures, Film4, 2013)

Dengan naskah yang ditulis oleh John Ridley (Red Tails, 2012) berdasarkan memoir berjudul Twelve Years a Slave: Narrative of Solomon Northup, a Citizen of New-York, Kidnapped in Washington City in 1841, and Rescued in 1853 yang ditulis oleh Solomon Northup, 12 Years a Slave mencoba untuk berkisah mengenai seorang pria Afro-Amerika merdeka yang terjebak dalam tindak perbudakan di masa-masa ketika warga kulit hitam di Amerika Serikat masih dipandang sebagai warga kelas bawah. Kisahnya sendiri diawali dengan memperkenalkan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor), seorang Afro-Amerika yang bekerja sebagai seorang tukang kayu dan pemain bola serta tinggal bersama istri, Anne (Kelsey Scott), dan kedua anak mereka, Margaret (Quvenzhané Wallis) dan Alonzo (Cameron Zeigler), di Saratoga Springs, New York, Amerika Serikat. Suatu hari, Solomon mendapatkan tawaran bekerja sebagai seorang musisi selama dua minggu di Washington DC oleh dua orang pria, Brown (Scoot McNairy) dan Hamilton (Taran Killam). Karena tertarik dengan sejumlah uang yang ditawarkan oleh kedua pria tersebut, Solomon akhirnya menerima tawaran mereka. Sial, begitu tiba di Washington DC, Solomon justru dijebak dan dijual sebagai seorang budak.

Continue reading Review: 12 Years a Slave (2013)

Review: Lone Survivor (2013)

Lone Survivor (Emmett/Furla Films/Envision Entertainment/Film 44/Foresight Unlimited/Herrick Entertainment/Hollywood Studios International/Spikings Entertainment/Weed Road Pictures, 2013)
Lone Survivor (Emmett/Furla Films/Envision Entertainment/Film 44/Foresight Unlimited/Herrick Entertainment/Hollywood Studios International/Spikings Entertainment/Weed Road Pictures, 2013)

Setelah mengarahkan Battleship (2012) yang cukup menyenangkan – well… setidaknya bagi beberapa orang, Lone Survivor menandai kembalinya Peter Berg untuk mengarahkan sebuah film aksi bernuansa militer dengan nada penceritaan yang lebih serius dan dramatis seperti yang dahulu pernah ia sajikan lewat The Kingdom (2007). Sekilas, tema cerita yang bersinggungan dengan permasalahan yang memang sedang dihadapi oleh pihak militer Amerika Serikat sendiri membuat Lone Survivor terlihat memiliki keterkaitan yang erat dengan The Kingdom. Namun, berbeda dari film yang dibintangi oleh Jamie Foxx dan Jennifer Garner tersebut, Lone Survivor mendasarkan kisahnya dari sebuah kisah nyata – sebuah fakta yang sepertinya kemudian mendorong Berg untuk memberikan fokus yang benar-benar kuat pada setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita agar dapat menciptakan atmosfer penceritaan sealami dan senyata mungkin kepada penontonnya.

Continue reading Review: Lone Survivor (2013)

Review: Soekarno (2013)

soekarno-header

Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.

Continue reading Review: Soekarno (2013)

Review: The Iceman (2013)

the-iceman-header

Diadaptasi dari buku berjudul The Iceman: The True Story of a Cold-Blooded Killer karya Anthony Bruno dan film dokumenter karya James Thebaut yang berjudul The Iceman Tapes: Conversations with a Killer, film arahan sutradara Ariel Vromen ini menceritakan kisah nyata mengenai seorang pembunuh bayaran asal Amerika Serikat, Richard Kuklinski. Meskipun ia hanya didakwa untuk lima kasus pembunuhan pada tahun 1988, Kuklinski sendiri mengaku bahwa ia telah membunuh sebanyak 100 hingga 250 orang sepanjang karirnya sebagai seorang pembunuh bayaran dari tahun 1948 hingga 1986. Yang lebih mengesankan, di saat yang bersamaan, Kuklinski juga mampu membangun sebuah keluarga yang bahagia dengan seorang istri dan dua orang puteri. Dua kehidupan yang saling bertolak belakang namun mampu berjalan beriringan. Hingga Kuklinski berhasil diringkus oleh pihak kepolisian, tentu saja. Sebuah kisah kriminal yang cukup mengagumkan, bukan?

Continue reading Review: The Iceman (2013)