Tag Archives: Billy Christian

Review: Petak Umpet Minako (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Billy Christian berdasarkan novel berjudul sama karya @manhalfgod – No, seriously. – Petak Umpet Minako berkisah mengenai pertemuan kembali seorang gadis bernama Vindha (Regina Rengganis) dengan teman-temannya di masa sekolah pada hari reuni mereka. Vindha sendiri bukanlah sosok yang populer diantara teman-temannya. Semasa sekolah dahulu, ia bahkan seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh beberapa pelajar lain. Berbekal penampilannya yang telah berubah semenjak berkuliah di Jepang, Vindha kini mampu melepas imejnya terdahulu sebagai seorang gadis penyendiri yang lugu. Gadis itu bahkan berhasil meyakinkan teman-temannya untuk turut bermain dalam sebuah permainan petak umpet a la Jepang yang dikenal dengan sebutan Hitori Kakurenbo ketika mereka mengunjungi gedung sekolah mereka. Sial, permainan yang melibatkan ritual pemanggilan arwah tersebut kemudian berakhir sebagai bencana ketika mereka yang terlibat dalam permainan tersebut satu demi satu ditemukan tak bernyawa lagi. Continue reading Review: Petak Umpet Minako (2017)

Advertisements

Review: Rumah Malaikat (2016)

Cukup mudah untuk merasakan bahwa Billy Christian adalah salah satu sosok pembuat film Indonesia yang memiliki begitu banyak ide segar di kepalanya. Lihat saja film-film horor yang pernah ia garap seperti Tuyul – Part 1 (2015) atau Kampung Zombie (2015) yang mampu hadir dengan sentuhan kesegaran ide yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan film horor produksi pembuat film Indonesia lainnya. Bahkan pada film komedi seperti The Legend of Trio Macan (2013) atau drama romansa seperti 7 Misi Rahasia Sophie (2013), Christian tetap mampu menyelipkan sentuhan-sentuhan tersebut untuk membuat filmnya terasa lebih berisi meskipun dengan jalan cerita yang sebenarnya telah familiar. Continue reading Review: Rumah Malaikat (2016)

Review: Tuyul – Part 1 (2015)

tuyul-part-1-posterMungkin karena perwujudannya yang berupa manusia bertubuh kerdil dengan kepala plontos dan bersifat kekanak-kanakan, film-film horor Indonesia yang menampilkan karakter tuyul seringkali dibumbui dengan nuansa komedi, seperti yang disajikan Tuyul (T. Bonawi, 1978). Dua film Indonesia tentang tuyul lainnya, Tuyul Eee Ketemu Lagi (Suhardja Widirga, 1979) dan Tuyul Perempuan (Bay Isbahi, 1979), serta sebuah serial televisi berjudul Tuyul dan Mbak Yul (1997 – 2002) bahkan lebih menggali unsur komedi dari karakter mitos Indonesia tersebut daripada sisi horornya. Jangan khawatir! Keadilan horor telah ditegakkan dengan hadirnya Tuyul – Part 1 arahan Billy Christian (Kampung Zombie, 2015) yang kembali menyajikan karakter mistis yang juga digambarkan suka mencuri tersebut sebagai sosok karakter horor – lengkap dengan visualisasi akan sosok tuyul yang errr… lebih modern, kelam dan mencekam.

Dikonsepkan sebagai sebuah trilogi, bagian pertama dari kisah Tuyul dimulai ketika pasangan Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya yang sedang hamil, Mia (Dinda Kanya Dewi), pindah ke rumah lama yang pernah ditempati Mia dan ibunya semasa kecil. Mia sendiri tidak begitu senang akan pilihan tersebut karena berbagai kenangan buruk yang ia miliki selama berada di rumah itu. Tuntutan pekerjaan Daniel yang kemudian memaksanya untuk menerima fakta bahwa ia harus kembali menjalani kehidupannya disana. Awal kepindahan Daniel dan Mia sendiri berjalan lancar. Namun, seiring dengan kesibukan Daniel yang semakin padat, kehidupan pernikahan mereka mulai menghadapi banyak rintangan. Parahnya, Mia kini harus menghadapi teror mistis yang sepertinya tidak hanya berniat untuk mengganggu dirinya namun juga mengganggu bayi yang sedang dikandungnya.

Harus diakui, seperti halnya Kampung Zombie yang juga digarap Billy Christian dan dirilis pada pertengahan bulan lalu, Tuyul – Part 1 merupakan salah satu dari segelintir film horor Indonesia yang mampu tergarap dengan cukup baik. Terlepas dari adanya gangguan dari tata musik arahan Andhika Triyadi yang hadir dengan kualitas standar film horor Indonesia – tampil dengan volume dan frekuensi tinggi guna memberikan efek kejutan bagi para penonton film – pada paruh awal penceritaan, departemen produksi Tuyul – Part 1 tersaji dengan kualitas yang cukup memuaskan. Mulai dari desain ulang penampilan karakter tuyul, desain produksi latar belakang lokasi hingga tata sinematografi benar-benar dihadirkan guna mendukung atmosfer penceritaan film yang berkesan gloomy. Jelas berada di kelas yang masih sulit untuk dijangkau banyak film horor Indonesia lainnya.

Sayangnya, Tuyul – Part 1 masih menghadapi masalah yang sama dengan kebanyakan film-film horor Indonesia lainnya: naskah cerita yang cenderung lemah. Naskah cerita garapan Luvie Melati, Billy Christian dan Gandhi Fernando seperti mencoba untuk mencakup (terlalu) banyak hal dalam pengisahannya, mulai dari kisah personal dari hubungan dua karakter utamanya, kisah masa lalu kelam dari karakter Mia dan ibunya, permasalahan yang dihadapi karakter Daniel di bidang pekerjaannya hingga kisah tentang tetangga baru karakter Daniel dan Mia yang mencurigakan kehadirannya. Memang, masing-masing plot tersebut saling terhubung dan memicu kehadiran satu sama lain. Namun, penggarapan yang kurang mendalam membuat kehadiran beberapa plot tersebut menjadi datar dan jauh dari kesan menarik untuk diikuti kisahnya. Tuyul – Part 1 mungkin akan bekerja jauh lebih baik jika film ini hadir dengan pendekatan lebih personal – menggali kembali masa lalu karakter Mia dan keluarganya – dan membuang jauh karakter-karakter pendukung yang kurang berarti fungsinya dalam jalan cerita. Lebih banyak kisah tentang para tuyul, mungkin?

Arahan Billy Christian terhadap jalan cerita Tuyul – Part 1 sendiri juga bukannya hadir tanpa masalah. Semenjak awal penceritaan, Billy terasa seperti kesulitan untuk menetapkan ritme penceritaan yang tepat bagi film ini – apakah harus berjalan lamban dan membiarkan penonton menyerap sendiri atmosfer kelam dari jalan cerita film atau hadir dengan irama cepat guna memberikan beberapa kejutan khas film horor Indonesia di beberapa bagian penceritaan. Inkonsistensi ini baru terasa menemui akhir di paruh ketiga penceritaan ketika Billy sepertinya benar-benar membiarkan Tuyul – Part 1 bercerita lepas dengan ritme yang cukup cepat. Bukan sebuah gangguan yang benar-benar besar namun jelas memberikan kontribusi tersendiri bagi beberapa momen hambar yang hadir dalam penceritaan film.

Tidak banyak hal yang menonjol dari departemen akting film ini, kecuali penampilan Dinda Kanya Dewi sebagai Mia yang benar-benar mencuri penuh perhatian penonton pada setiap kehadirannya dalam jalan cerita. Dinda secara meyakinkan benar-benar mampu menghidupkan sosok karakter Mia yang depresif dengan segala tantangan yang ia hadapi. Sayangnya, penampilan Dinda gagal untuk diimbangi dengan baik oleh jajaran pengisi departemen akting lainnya. Gandhi Fernando seringkali terlihat kaku pada banyak penampilannya. Chemistry yang ia jalin dengan Dinda Kanya Dewi juga terlihat datar. Penampilan Ingrid Widjanarko juga seperti dibuat-buat sebagai sosok pelayan misterius. Terkesan tertahan dan jauh dari meyakinkan. Entah bagaimana konsep penceritaan trilogi yang ada di benak para produser film ini. Namun, berdasarkan kualitas yang ditunjukkan oleh bagian pertama film, Tuyul jelas masih menyisakan ruang kualitas yang cukup besar untuk ditingkatkan lagi pada seri berikutnya. [C]

Tuyul – Part 1 (2015)

Directed by Billy Christian Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina Written by Luvie Melati, Billy Christian, Gandhi Fernando Starring Dinda Kanya Dewi, Gandhi Fernando, Citra Prima, Karina Nadila, Ingrid Widjanarko, Allan Wangsa, Dicky Topan, Dini Vitri, Neni Anggraeni, Bubah Alfian, Dimas Harry, Frans Nicholas Music by Andhika Triyadi Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Heytuta Masjhur Studio Renee Pictures Running time 97 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Kampung Zombie (2015)

kampung-zombie-posterSebagai sebuah industri yang seringkali menyajikan menu horor bagi para konsumennya, jelas adalah cukup mengherankan melihat belum ada satu pembuat film horor Indonesia yang mencoba untuk mengangkat tema penceritaan mengenai zombi dalam film yang mereka buat – khususnya ketika film-film seperti 28 Days Later… (2002) atau Zombieland (2009) atau World War Z (2013) atau malah serial televisi The Walking Dead berhasil meraih perhatian dan popularitas yang luar biasa dari banyak penggemar film horor dunia. Bukannya tanpa usaha. Raditya Sidharta pernah menggarap segmen berjudul The Rescue yang mengangkat kisah mengenai makhluk yang sering juga disebut sebagai mayat hidup tersebut dalam film omnibus Takut: Faces of Fear (2008). Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Dion Widhi Putra yang menggarap film pendek berjudul Rengasdengklok untuk film kompilasi finalis Fantastic Indonesian Short Film Competition, FISFiC Vol. 1 (2011). Namun Anda harus mengingat jauh hingga film horor Indonesia legendaris Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) untuk mendapati karakter-karakter mayat hidup mengisi jalan cerita sebuah film Indonesia.

Di awal tahun 2015, duo sutradara, Billy Christian dan Helfi Kardit, merilis film berjudul Kampung Zombie yang mencoba untuk mengangkat para mayat hidup tersebut sebagai salah satu karakter sentral dalam jalan cerita filmnya. Meskipun baru dirilis ke pasaran, konsep cerita film ini sendiri sebenarnya telah lama dikembangkan oleh Billy Christian dengan judul Mati ½ Hidup. Sempat terkatung-katung selama beberapa tahun, konsep cerita horor mengenai para zombi yang dikembangkan oleh sutradara film 7 Misi Rahasia Sophie (2014) tersebut akhirnya mampu diproduksi dengan bantuan Ody Mulya Hidayat sebagai produser, Baskoro Adi yang bertugas mengolah naskah cerita film serta tambahan sentuhan dari Helfi Kardit dalam membantu tugas pengarahan film yang judulnya kemudian diganti menjadi Kampung Zombie seperti yang dikenal sekarang. Lalu bagaimana kualitas “film zombi Indonesia perdana” ini?

Perjalanan kisah Kampung Zombie sendiri dimulai ketika lima orang sahabat, Budi (El Jalaludin Rumi), Rico (Axel Matthew Thomas), Julie (Luthya Sury), Via (Kie Poetri) dan Joni (Ali Mensan), yang baru saja kembali dari kegiatan pendakian sebuah gunung. Akibat perjalanan yang panjang dan melelahkan, kelimanya lantas memutuskan untuk bermalam dengan berkemah di sebuah wilayah perhutanan sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Tidak disangka, tidak berapa lama kemudian, tempat berkemah mereka mulai didatangi penduduk yang berasal dari kampung yang berada dekat dari perhutanan tersebut. Para penduduk tersebut bukanlah penduduk biasa. Mereka datang untuk mengincar kematian Budi dan kawanannya.

Harus diakui, menit-menit awal Kampung Zombie mampu dikemas dengan begitu menarik. Adegan pembuka khas film horor – yang menawarkan adegan kematian para korban-korban perdana dari para mayat hidup – serta tata sinematografi yang mampu dihadirkan begitu mencekam seperti berusaha memberikan sebuah janji bahwa Kampung Zombie akan menjadi sebuah sajian horor yang berbeda sekaligus menegangkan. Lalu para karakter utama mulai memasuki jalan cerita yang tidak lama berselang turut diikuti dengan konflik utama dimana para karakter-karakter tersebut berusaha menyelamatkan diri setelah terjebak di perkampungan tempat tinggal para zombi tersebut. Yep. Layaknya para karakter tersebut, jalan cerita Kampung Zombie secara perlahan mulai tertahan serta terjebak dalam rutinitas adegan yang sama yang tentu saja membuat film ini terasa membosankan dan penonton mulai berharap agar para karakter-karakter tersebut segera menemui ajal mereka sehingga film ini dapat segera berakhir.

Ada banyak permasalahan dalam naskah cerita yang ditulis oleh Baskoro Adi. Permasalahan utama terletak pada dangkalnya penggalian kisah yang dilakukan pada karakter-karakter yang hadir dalam jalan cerita film. Dengan latar belakang lokasi cerita – dan konflik – yang benar-benar terbatas, Kampung Zombie harusnya mampu memanfaatkan para karakter-karakternya untuk memberikan warna lebih bagi jalan penceritaan. Sayang, daripada memberikan informasi lebih mendalam kepada para penonton mengenai siapa para karakter-karakter tersebut, Kampung Zombie lebih tertarik untuk menjadikan karakter-karakternya terlihat bodoh dengan deretan dialog yang begitu menggelikan sekaligus berbagai aksi yang harusnya telah membunuh mereka mereka semua di menit pertama para zombi mulai menyerang. Ditambah lagi dengan kapabilitas minim dari para aktor pemeran untuk dapat memerankan serta menghidupkan karakter yang mereka perankan, deretan karakter dalam Kampung Zombie tampil tak lebih menarik dari deretan mayat hidup yang muncul di berbagai adegan cerita dan sama sekali gagal untuk membuat penonton merasa simpati kepada mereka.

Jalan cerita dari Kampung Zombie sendiri tidak hadir dalam kapasitas yang lebih baik. Di sepanjang 81 menit durasi perjalanan film ini, Kampung Zombie terus menerus menawarkan konflik yang berulang. Kegagalan Billy Christian dan Helfi Kardit dalam menyajikan jalan cerita dalam ritme penceritaan yang tepat juga menjadi masalah tersendiri sehingga Kampung Zombie tidak pernah benar-benar mampu hadir dalam intensitas penceritaan yang mencekam – dan tata musik arahan Joseph S. Djafar yang seperti berusaha mengagetkan para penontonnya sepanjang waktu juga sama sekali tidak membantu. Kampung Zombie berakhir layaknya para zombi itu sendiri: begitu datar secara emosional.

Permasalahan juga begitu terasa pada kehadiran karakter para zombi sendiri. Bahkan mereka yang tidak mengenal betul tentang pengisahan dunia zombi akan dapat merasakan bahwa konsep zombi yang ditawarkan oleh Kampung Zombie masih terasa begitu mentah. Adalah cukup menarik untuk menyaksikan tawaran Billy Christian dan Helfi Kardit mengenai awal mula penyebab para manusia di sebuah kampung berubah menjadi kawanan zombie atau melihat deretan zombi dengan sentuhan kearifan lokal yang mampu hadir dan benar-benar terasa berasal dari Indonesia atau ketika para zombi dikisahkan seperti tertahan pada masa waktu kematian mereka dan terus melakukan hal-hal yang mereka lakukan pada waktu tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, ada banyak inkonsistensi dari kehadiran para zombi dalam jalan cerita film ini. Di satu bagian digambarkan mereka mampu melihat sasaran korban mereka, di bagian lain mereka memanfaatkan indra penciuman mereka untuk melakukan tersebut. Di satu bagian mereka dapat dibunuh ketika ditusuk di bagian kepala, di bagian lain mereka harus dihadapi layaknya para pelaku kriminal yang jago bela diri dalam The Raid (2011). Di satu bagian mereka berjalan begitu lamban, di bagian lain mereka dapat berjalan cepat dalam memburu sasaran korban mereka. Deretan inkonsistensi yang sebenarnya kecil namun sayangnya terus berulang dalam penceritaan Kampung Zombie dan secara tidak langsung melemahkan presentasi film ini secara keseluruhan.

To be fair, Kampung Zombie tidak lantas hadir dengan penampilan yang benar-benar buruk. Sebagai sebuah film yang menawarkan kisah mengenai para zombi, film ini hadir dengan kualitas teknis yang tidak mengecewakan. Tata rias para mayat hidup tampil cukup meyakinkan. Begitu juga dengan desain produksi dari lokasi tempat terjadinya cerita mampu disajikan dengan cukup baik. Selebihnya? Kampung Zombie adalah sebuah upaya yang cukup baik dalam mengembangkan tema penceritaan yang masih jarang dieksplorasi dalam industri film Indonesia. Tetap saja, penggarapan yang lemah membuat film ini sepertinya justru mempertegas mengapa film-film bertema zombi masih sangat jarang disentuh oleh para pembuat film Indonesia. [D]

Kampung Zombie (2015)

Directed by Billy Christian, Helfi Kardit Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Baskoro Adi Starring El Jalaludin Rumi, Axel Matthew Thomas, Luthya Sury, Kia Poetri, Ali Mensan Music by Joseph S. Djafar Cinematography Budi Utomo Edited by Askan Larepand Production company Movie Eight/Rumah Satu Film/Popcorn Film Running time 81 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)
7 Misi Rahasia Sophie (Starvision Plus, 2014)

Setelah The Legend of Trio Macan (2013), Billy Christian melanjutkan karir penyutradaraan film layar lebarnya dengan sebuah film drama romansa remaja berjudul 7 Misi Rahasia Sophie. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Anggoro Saronto (Sang Kiai, 2013), 7 Misi Rahasia Sophie mencoba untuk menelusuri kisah persahabatan antara dua remaja yang dibalut dengan satir mengenai kegemaran kaum muda modern untuk mendokumentasikan diri dan kegiatan mereka di dunia maya. Sebuah ide cerita yang sebenarnya begitu sederhana namun masih cukup menarik. Sayangnya, kesederhanaan ide cerita tersebut kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan yang kuat. Akhirnya, di sepanjang 98 menit durasi penceritaan filmnya, 7 Misi Rahasia Sophie seringkali terasa datar secara emosional dalam penyajian kisahnya.

Continue reading Review: 7 Misi Rahasia Sophie (2014)

Review: The Legend of Trio Macan (2013)

the-legend-of-trio-macan-header

Dengan naskah yang ditulis oleh Toha Essa (Sumpah, (Ini) Pocong!, 2009), The Legend of Trio Macan memiliki latar belakang lokasi cerita di sebuah kampung China Peranakan pada masa seratus tahun silam. Dikisahkan, Bu Beng Chot alias A Chot memiliki segala hal untuk dapat menjadi seorang ketua perguruan silat yang disegani khalayak luas… kecuali tinggi tubuhnya. Akibat sebuah kutukan yang dijatuhkan pada dirinya, A Chot memiliki tinggi tubuh yang jauh lebih pendek dari ukuran pria dewasa dan seringkali membuatnya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Untuk dapat menghilangkan kutukan tersebut, A Chot kemudian diharuskan untuk menikahi seorang gadis perawan yang terlahir dengan sebuah tanda lahir khusus berbentuk macan di tubuhnya sebelum berlangsungnya malam Imlek di tahun tersebut. Pencarian A Chot yang dibantu dengan dua asistennya kemudian berakhir setelah mereka menemukan seorang gadis cantik bernama Iva.

Continue reading Review: The Legend of Trio Macan (2013)

Review: Sanubari Jakarta (2012)

Berapa banyak cerita yang dapat Anda cerna dalam durasi 106 menit? Berbeda dari kebanyakan omnibus yang saat ini sedang menjamur di layar bioskop Indonesia, Sanubari Jakarta menghadirkan sepuluh cerita sekaligus kepada penontonnya dalam benang merah tema cerita yang berkisah mengenai persoalan yang dihadapi oleh kaum Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender di kota Jakarta, Indonesia. Kehadiran sepuluh cerita dalam durasi 106 menit jelas saja tidak akan memberikan ruang yang cukup bagi setiap cerita untuk bergerak bebas dalam mengembangkan dirinya. Ditambah dengan fakta bahwa tidak seluruh cerita yang hadir mampu memberikan kesan yang kuat dan cenderung datar pada kebanyakan bagian ceritanya, mengakibatkan Sanubari Jakarta justru terkesan bertele-tele dalam penyampaiannya.

Continue reading Review: Sanubari Jakarta (2012)

Review: Hi5teria (2012)

Seperti yang dilakukan oleh beberapa praktisi film Indonesia pada FISFiC Vol. 1 yang dirilis pada akhir tahun lalu, produser Chand Parwez Servia bersama dengan sutradara Upi Avianto juga mengumpulkan beberapa talenta muda untuk mengarahkan film-film pendek bertemakan horor dan thriller untuk kemudian ditampilkan dalam satu presentasi. Walau sama sekali belum pernah mengarahkan film layar lebar, nama-nama sutradara yang karyanya turut disertakan dalam Hi5teria sendiri bukanlah nama-nama yang baru pertama kali berkenalan dengan industri film. Tercatat, Adriyanto Dewo, Chairun Nisa, Billy Christian, Nicho Yudifar dan Harvan Agustriansyah lebih dahulu dikenal sebagai penghasil film pendek dengan beberapa diantaranya bahkan mampu membawa karya mereka melangkah lebih jauh di tingkat persaingan dunia.

Continue reading Review: Hi5teria (2012)