Tag Archives: B. D. Wong

Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Berkaca pada pencapaian kualitas yang diraih oleh Jurassic World: The Lost World (Steven Spielberg, 1997), Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), dan Jurassic World (Colin Trevorrow, 2015), rasanya cukup jelas bahwa lanjutan kisah dari seri film Jurassic Park tidak akan mampu menandingi atau bahkan menyamai kualitas prima dari pengisahan Jurassic Park (Spielberg, 1993) yang sangat legendaris itu. Well… barisan sekuel Jurassic Park sebenarnya bukanlah film-film yang berkualitas buruk. Meskipun hadir dengan tatanan pengisahan yang semakin lama terasa semakin dangkal, film-film tersebut masih mampu dikembangkan dengan tata pengisahan yang menjadikannya cukup menyenangkan untuk disaksikan. Dan, tentu saja, kesuksesan raihan komersial film-film tersebut jelas akan membuat Spielberg dan para produser dari seri film Jurassic Park terus berusaha memutar otak mereka dalam menghasilkan bagian baru dari pengisahan seri film tersebut – seri terakhir Jurassic Park, Jurassic World, bahkan berhasil mendapatkan pendapatan sebesar lebih dari US$1.6 milyar dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus menjadikannya sebagai film paling sukses dari seri film Jurassic Park. Continue reading Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Advertisements

Review: Jurassic World (2015)

jurassic-world-posterKetika Steven Spielberg merilis Jurassic Park pada tahun 1993, Spielberg berhasil menghadirkan sebuah keajaiban sinema yang masih terasa begitu relevan bahkan hingga saat ini. Di era ketika komputer masih belum menjadi tumpuan utama para pembuat film untuk menghasilkan gambar-gambar dengan efek visual yang begitu mengagumkan, Spielberg mampu membawa penonton selama 127 menit untuk merasakan kesenangan/kekaguman/ketegangan/ketakutan hidup di tengah kawanan dinosaurus dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai sebuah pengalaman sinema yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Tidak mengherankan jika film dengan sentuhan terobosan teknologi tinggi tersebut kemudian sempat menjadi film dengan pendapatan komersial terbesar sepanjang masa – sebelum akhirnya digeser oleh Titanic (James Cameron, 1997), meraih begitu banyak penghargaan termasuk tiga Academy Awards serta diikuti oleh dua sekuel, The Lost World (1997) yang masih diarahkan oleh Spielberg dan Jurassic Park III (2001) yang kemudian diarahkan oleh Joe Johnston.

Kini, lebih dua dekade dari perilisan Jurassic Park dan lebih dari satu dekade setelah perilisan sekuel keduanya, Hollywood kembali berusaha untuk menghadirkan keajaiban tersebut dengan merilis sekuel ketiga bagi Jurassic Park yang diberi judul Jurassic World. Film ini sendiri awalnya telah direncanakan untuk dirilis pada satu dekade lalu dengan Spielberg hanya bertugas sebagai produser eksekutif – seperti yang ia lakukan pada Jurassic Park III. Namun, naskah cerita yang masih belum mampu terasa memuaskan serta berbagai masalah teknikal lainnya kemudian membuat Jurassic World terus mengalami penundaan produksi. Secara perlahan, usaha Spielberg untuk mewujudkan Jurassic World akhirnya mulai membuahkan hasil dan benar-benar memasuki masa produksi pada tahun 2014 dengan naskah cerita yang digarap oleh trio Rick Jaffa, Amanda Silver dan Derek Connolly bersama dengan Colin Trevorrow yang juga duduk di kursi penyutradaraan film.

Jurassic World sendiri memulai kisahnya ketika dua orang anak, Zach (Nick Robinson) dan Gray Mitchell (Ty Simpkins), diundang oleh bibinya, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), yang bekerja sebagai manajer operasi dari Jurassic World untuk datang dan berliburan ke pulau yang menjanjikan hiburan dan kesenangan akan hidup bersama para dinosaurus. Liburan yang awalnya berjalan lancar sesuai rencana tersebut sayangnya kemudian berubah menjadi bencana ketika salah satu dinosaurus yang dibuat dengan rekayasa genetik dan dinamakan Indominus rex berhasil melarikan diri dari kandangnya. Jelas, kepanikan lantas mulai menyebar diantara para pengunjung taman wisata tersebut, termasuk Zach dan Gray yang terjebak di dalamnya. Bersama dengan Owen Grady (Chris Pratt) yang bertugas sebagai tenaga ahli di Jurassic World, Claire mulai menelusuri seluruh taman guna menemukan dan menyelamatkan dua keponakannya tersebut.

Dalam satu bagian penceritaannya, karakter Claire Dearing sempat mengucapkan dialog bahwa generasi modern kini tidak lagi merasa begitu tertarik dengan eksistensi dinosaurus dari era purbakala – sebuah pernyataan yang menjadi dasar para ilmuwan yang bekerja di laboratorium Jurassic World untuk menghasilkan sosok dinosaurus yang lebih besar, lebih menakutkan dengan suara yang lebih menggelegar dan deretan gigi yang lebih banyak. WellJurassic World sendiri seperti menjadi perwujudan nyata akan pernyataan tersebut. Deretan dinosaurus yang tampil dalam film ini dihadirkan dalam skala besar. Skala film-film blockbuster modern, untuk lebih tepatnya. Namun apakah keberadaan sosok dinosaurus yang lebih besar dengan sentuhan teknologi komputer yang lebih kompleks tersebut mampu menyaingi para dinosaurus yang dihadirkan Spielberg dalam Jurassic Park? Belum tentu.

Salah satu hal yang membuat Jurassic Park begitu mampu melekat di benak penontonnya hingga saat ini adalah Spielberg mampu menciptakan deretan dinosaurus yang terlihat dan terasa begitu nyata ketika dihadirkan di dalam jalan penceritaan. Teknologi komputer saat ini memang mampu menyajikan tampilan visual dinosaurus yang sama (atau bahkan lebih) nyata dalam Jurassic World. Sayangnya, pengembangan cerita yang cenderung lemah justru membuat kehadiran para dinosaurus dalam film ini terasa hanya seperti makhluk buas yang dapat membunuh siapa saja dan harus segera dienyahkan tanpa pernah diberikan lapisan penceritaan yang membuat kehadirannya lebih berkesan. Hasilnya, daripada mampu memberikan ketegangan dan kekaguman pada penonton ketika muncul di layar penceritaan, deretan dinosaurus dalam Jurassic World kini tampil tanpa kejutan berarti yang dapat membuatnya terasa istimewa.

Olahan naskah cerita yang disediakan untuk Jurassic World juga terasa cukup mengecewakan. Dengan pakem cerita yang terasa begitu mengikuti berbagai formula yang telah diterapkan tiga seri Jurassic Park sebelumnya, Jurassic World jelas tidak akan begitu mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam pengisahannya. Sayang, formula familiar tersebut juga mendapatkan pengembangan yang begitu dangkal. Banyak karakter yang hadir tanpa porsi cerita yang maksimal, dialog-dialog yang terdengar cukup menggelikan serta konflik yang gagal untuk tersaji dengan menarik. Hal ini begitu terasa pada dua paruh awal penceritaan Jurassic World dimana konflik dan karakter-karakter cerita yang dihadirkan terasa begitu berantakan, hadir dan datang dari berbagai penjuru tanpa pernah mampu terasa memiliki tujuan penceritaan yang kuat. Arahan Colin Trevorrow juga terasa lemah dalam mengendalikan ritme cerita serta karakter-karakter yang ada dalam filmnya. Beruntung, meskipun terasa sedikit terlambat, Trevorrow mampu menyajikan paruh ketiga penceritaan yang benar-benar kuat, berjalan dengan cepat dan mampu menghadirkan ketegangan yang terasa begitu maksimal.

Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, mereka yang menyaksikan Jurassic World untuk kembali mendapatkan berbagai kenangan indah akan Jurassic Park sepertinya juga masih akan dapat cukup terpuaskan. Tata musik arahan Michael Giacchino yang beberapa kali menghadirkan komposisi musik orisinal arahan John Williams mampu memberikan ketegangan tersendiri. Begitu pula dengan sinematografi arahan John Schwartzman yang membuat setiap kepingan gambar dalam film ini terasa megah. Dari departemen akting, Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard mampu tampil prima dengan chemistry antara satu sama lain yang benar-benar tercipta begitu meyakinkan. Sayangnya pengembangan karakter pendukung yang dangkal tidak memberikan ruang yang cukup bagi para pemeran lain untuk mampu tampil dengan ruang yang lebih luas. Jurassic World secara keseluruhan masih mampu tampil sebagai sebuah film blockbuster modern yang cukup menyenangkan dengan beberapa ketegangan yang tersaji cukup baik. Namun, lebih dari itu, film ini gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih mengesankan, khususnya untuk sebuah film yang berada dalam barisan seri film Jurassic Park yang begitu monumental tersebut. [C]

Jurassic World (2015)

Directed by Colin Trevorrow Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley Written by Rick Jaffa, Amanda Silver, Derek Connolly, Colin Trevorrow (screenplay), Rick Jaffa, Amanda Silver (story), Michael Crichton (charactersStarring Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Vincent D’Onofrio, Ty Simpkins, Nick Robinson, Omar Sy, B. D. Wong, Irrfan Khan, Jake Johnson, Brian Tee, Lauren Lapkus, Katie McGrath, Judy Greer, Andy Buckley, James DuMont, Jimmy Fallon Music by Michael Giacchino Cinematography John Schwartzman Editing by Kevin Stitt Studio Amblin Entertainment/Legendary Pictures Running time 124 minutes Country United States Language English

Review: Focus (2015)

focus-posterDengan kemampuan akting dan daya tariknya yang demikian memikat, Will Smith pernah menjadi bintang terbesar di Hollywood. Film-film yang ia bintangi seperti Independence Day (1996), Men in Black (1997), Hitch (2007) dan Hancock (2008) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dan meraup pendapatan lebih dari US$500 juta selama masa edarnya di seluruh dunia. Tidak hanya itu, Smith juga mampu mengimbangi kesuksesan komersialnya dengan kesuksesan artistik ketika ia berhasil meraih nominasi Best Actor in a Leading Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film Ali (2001) dan The Pursuit of Happyness (2006). Namun, layaknya sebuah roda yang berputar, peruntungan Smith mulai menemui masa terjal. Dimulai dengan Seven Pounds (2008) yang gagal baik secara komersial maupun kritikal, film-film lain yang dibintangi Smith seperti Men in Black 3 (2012), After Earth (2013) dan Winter’s Tale (2014) turut menemui nasib yang tidak lebih baik daripada Seven Pounds. Ketidakberuntungan secara beruntun itulah yang kemudian menyebabkan banyak pihak kini memandang Smith sebagai aktor yang tidak lagi relevan di Hollywood.

Namun Hollywood selalu dipenuhi oleh kisah para petarung yang tidak akan pernah berhenti berjuang demi harga dirinya. Dan jika ada satu film yang akan mampu meremajakan kembali karir Smith yang telah melesu maka film itu adalah Focus. Film arahan duo Glenn Ficarra dan John Requa (Crazy, Stupid, Love., 2011) ini adalah sebuah film drama komedi romansa yang mampu mendayagunakan daya tarik dan kemampuan komikal Smith sebagai seorang aktor secara maksimal. Tidak seperti empat film terakhirnya dimana Smith terlihat setengah hati dalam menghidupkan karakter yang ia perankan, Smith yang hadir dalam Focus terlihat sebagai seorang aktor yang mencoba membuktikan kembali kemampuan dirinya… dan berhasil. Perannya sebagai seorang pencopet dan penipu lihai bernama Nicky Spurgeon mampu disajikan dengan begitu matang, dan benar-benar hidup.

Oh. Hal lain yang jelas mendukung kesuksesan penceritaan Focus jelas adalah kualitas penulisan naskah cerita Ficarra dan Requa yang benar-benar cerdik. Berkisah mengenai kehidupan komplotan para penipu yang mencari penghidupan mereka dengan mencopet di jalanan – plus dengan beberapa plot romansa di beberapa bagiannya, Ficarra dan Requa mampu memberikan apa yang diinginkan penonton dari film-film sejenis. Dalam penceritaannya, Focus membawa para penontonnya untuk mengenal berbagai trik penipuan yang dapat berlangsung di jalanan. Dikemas secara komikal, kejutan demi kejutan yang dikemas dengan baik oleh kedua sutradara film ini akan berhasil memberikan hiburan tersendiri bagi para penontonnya.

Focus sendiri tidak lepas dari beberapa kelemahan. Sebagai sebuah film yang berjudul Focus, Ficarra dan Requa seringkali terasa kehilangan fokus mereka dalam bercerita akibat terlalu… errr… berfokus dalam penyajian kejutan dalam cerita. Kejutan yang awalnya terasa segar di setengah bagian awal penceritaan secara perlahan mulai terasa menjemukan pada beberapa bagian akhir. Beberapa plot penceritaan juga kurang mampu terasah dengan baik, khususnya di bagian pengisahan mengenai karakter Nicky Spurgeon dan Jess Barrett (Margot Robbie) dalam menjalani kehidupan baru mereka di paruh kedua penceritaan. Belum lagi dalam hal pengaturan ritme penceritaan yang kadang terasa berbenturan antara berusaha menjadi sebuah film romansa atau film tentang kehidupan para penipu jalanan. Pengarahan cerita Ficarra dan Requa benar-benar melemah meskipun akhirnya mampu dibangkitkan kembali di penghujung bagian ketiga penceritaan.

Berbicara mengenai Margot Robbie, Focus juga mampu tampil demikian memikat berkat chemistry yang demikian erat antara Smith dan Robbie. Jalinan love and hate relationship yang terjalin antara dua karakter yang mereka perankan benar-benar mampu diterjemahkan dengan sangat baik. Robbie sendiri – selepas penampilannya yang spektakuler dalam The Wolf of Wall Street (2013) – juga mampu membuktikan bahwa dirinya adalah lebih dari sekedar aktris yang hanya bermodalkan tampang saja. Penampilan dan kharisma Robbie mampu mengimbangi Smith dengan baik untuk menjadikan penonton lupa akan beberapa kelemahan yang hadir dalam penyajian cerita film ini.

Selain Smith dan Robbie, Focus juga didukung oleh penampilan solid para pengisi departemen akting lainnya – meskipun penulisan karakter yang terasa benar-benar minimalis jelas membuat kehadiran mereka terasa kurang berarti. Dari sisi teknikal film ini juga mampu dihadirkan dalam tata produksi yang kuat. Tata sinematografi yang tampil glossy serta pemilihan musik yang benar-benar menghidupkan atmosfer playful dalam jalan cerita film menjadi dua elemen teknikal paling kuat dalam film yang akan sanggup membuat penontonnya kembali menghargai kehadiran Will Smith. Welcome back, Mr. Smith! [B-]

Focus (2015)

Directed by Glenn Ficarra, John Requa Produced by Denise Di Novi Written by Glenn Ficarra, John Requa  Starring Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Gerald McRaney, B. D. Wong, Robert Taylor, Dominic Fumusa, Brennan Brown, Griff Furst, Adrian Martinez, Alfred Tumbley Music by Nick Urata Cinematography Xavier Pérez Grobet Edited by Jan Kovac Production company Zaftig Films/Di Novi Pictures/Kramer & Sigman Films/Overbrook Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English