Tag Archives: Ardy Octaviand

Review: Stip & Pensil (2017)

Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi. Continue reading Review: Stip & Pensil (2017)

Advertisements

Review: Oh Tidak..! (2011)

Dengan film-film semacam Otomatis Romantis (2008), Pintu Terlarang (2008) dan Khalifah (2011) berada di dalam daftar filmografinya, tentu banyak yang akan bertanya mengapa Marsha Timothy mau menerima tawaran untuk bermain dalam film yang kualitasnya mungkin telah tercermin dengan jelas dari buruknya pemilihan judul film itu sendiri, Oh Tidak..!. Marsha sendiri tidak bermain buruk. Ia dan aktor yang menjadi lawan mainnya di film ini, Fathir Muchtar, tampil dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Namun, naskah cerita yang benar-benar tidak dapat diandalkan – yang hanya mengusung deretan adegan drama klise, karakterisasi yang dangkal serta guyonan-guyonan yang cenderung telah kadaluarsa – membuat Oh Tidak…! hadir lebih dari sekedar mengecewakan.

Continue reading Review: Oh Tidak..! (2011)