Tag Archives: Animation

Review: The LEGO Batman Movie (2017)

The LEGO Movie arahan Phil Lord dan Christopher Miller muncul menjadi salah satu film animasi terbaik yang dirilis pada tahun 2014 lalu dengan tampilannya yang begitu berwana, naskah cerita yang diisi dialog serta karakter yang jenaka serta sebuah lagu tema yang berhasil menempel di kepala setiap penontonnya – sekaligus membuahkan nominasi Best Original Song pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Tahun ini, penonton mendapatkan sebuah subseri dari The LEGO Movie yang dibintangi oleh salah satu karakter pahlawan super yang sempat muncul di film tersebut, Batman. Diarahkan oleh Chris McKay – yang sebelumnya bertugas sebagai salah satu penata gambar pada The LEGO Movie, The LEGO Batman Movie menjanjikan pengalaman yang sama menyenangkannya dengan film pertama seri ini sekaligus kehadiran Batman serta rekan-rekan protagonis dan antagonisnya dalam nada penceritaan yang jauh dari kesan kelam seperti yang sering dibawakan film-film Batman selama ini. BecauseWhy so serious, right? Continue reading Review: The LEGO Batman Movie (2017)

Review: Sing (2016)

Di sepanjang karirnya sebagai seorang sutradara musik video, Garth Jennings telah menghasilkan beberapa musik video yang cukup mengesankan seperti Freedom (Robbie Williams, 1996), Right Here, Right Now (Fatboy Slim, 1999), Coffee & TV (Blur, 1999) hingga Imitation of Life (R.E.M., 2001) dan Lotus Flower (Radiohead, 2011). Kesuksesannya tersebut lantas membuat Jennings mencoba peruntungannya dalam mengarahkan film layar lebar. Film layar lebar perdana yang ia arahkan, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (2005), mendapatkan sambutan yang cukup beragam, baik dari kalangan kritikus maupun para penikmat film. Film keduanya, Son of Rambow (2007), bernasib sedikit lebih baik. Meskipun gagal untuk mendapatkan jumlah penonton dalam jumlah yang lebih luas, film komedi tersebut cukup berhasil membuat banyak kritikus film memberikan pujian pada Jennings. Continue reading Review: Sing (2016)

Review: Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (2011)

Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (Kanbar Entertainment/Kanbar Animation/Arc Productions, 2011)
Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (Kanbar Entertainment/Kanbar Animation/Arc Productions, 2011)

Ada dua alasan mengapa Anne Hathaway memilih untuk meninggalkan peran untuk mengisisuarakan karakter utama, Red Puckett, dalam sekuel film animasi Hoodwinked! (2006). Alasan pertama jelas karena nama Hathaway yang telah demikian melambung semenjak ia mengisisuarakan film animasi berkualitas medioker ini – dan Hathaway tentu kini lebih memilih untuk terlibat dalam film animasi yang lebih berkelas seperti Rio (2011). Alasan kedua… wellHoodwinked! memiliki kualitas yang medioker, mulai dari kualitas presentasi visual maupun pengolahan naskah ceritanya. Kualitas tersebut juga masih begitu terasa pada Hoodwinked Too! Hood vs. Evil. Meskipun telah didorong dengan perbaikan tingkat kualitas pada sisi visualnya, namun naskah cerita Hoodwinked Too! Hood vs. Evil tetap gagal untuk menjadikan film animasi ini mampu memiliki eleman kuat untuk menarik perhatian para penontonnya.

Continue reading Review: Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (2011)

Review: Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (2014)

Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (Batavia Pictures/Pop Up 3D Production, 2014)
Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (Batavia Pictures/Pop Up 3D Production, 2014)

Dirilis pertama kali untuk konsumsi layar lebar pada tahun 2012, seri Petualangan Singa Pemberani memulai perjalanannya dengan cukup sulit: perpaduan antara tampilan visual yang masih belum siap untuk disajikan di layar yang lebih besar serta jalinan kisah yang cukup dangkal membuat film animasi yang produksinya diprakarsai oleh perusahaan es krim Wall’s tersebut dilirik setengah mata oleh para penikmat film Indonesia. Beruntung, para pembuat seri film ini segera menyadari berbagai kelemahan yang terdapat pada karya perdana mereka dan memberikan peningkatan yang cukup signifikan baik dari sisi visual maupun penceritaan bagi Paddle Pop Begins: Petualangan Singa Pemberani 2 yang dirilis setahun kemudian. Kini Paddle Pop dan teman-temannya kembali lagi dalam sekuel kedua yang berjudul Petualangan Singa Pemberani Dinoterra. Mampukah seri ini mengulang kesuksesan kualitas seri kedua atau malah menandinginya?

Continue reading Review: Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (2014)

Review: The Wind Rises (2013)

The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)
The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)

Dikabarkan akan menjadi film terakhir yang diarahkan oleh sutradara legendaris asal Jepang, Hayao Miyazaki, The Wind Rises adalah sebuah film animasi dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Miyazaki dari buku komik miliknya yang berjudul Kaze Tachinu yang kisahnya sendiri merupakan hasil adaptasi lepas dari sebuah cerita pendek berjudul sama karya Tatsuo Hori yang pertama kali dirilis pada tahun 1937. Berbeda dengan beberapa filmnya terdahulu seperti Spirited Away (2001), Howl’s Moving Castle (2004) dan Ponyo (2008) yang alur ceritanya lebih berorientasi kepada para penonton muda, The Wind Rises memiliki usia penuturan yang jauh lebih dewasa ketika Miyazaki mencoba mengisahkan perjalanan nyata kehidupan Jiro Horikoshi, salah satu ahli penerbangan paling dihormati di Jepang yang salah satu pesawat tempur ciptaannya digunakan oleh Kerajaan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sebuah pengisahan mengenai fantasi yang tentunya siap untuk menerbangkan setiap penontonnya.

Continue reading Review: The Wind Rises (2013)

Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)
Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)

Dengan naskah yang ditulis oleh Craig Wright berdasarkan karakter-karakter yang diambil dari segmen Peabody’s Improbable History dalam serial televisi animasi yang popular di tahun 1960an, The Rocky and Bullwinkle Show, Mr. Peabody & Sherman berkisah mengenai seekor anjing tercerdas di dunia yang dikenal dengan nama Mr. Peabody (Ty Burrell). Kecerdasan Mr. Peabody bukan hanya membuatnya mampu berbicara dan mengerti bahasa yang digunakan oleh manusia namun juga berhasil menjadikannya seorang pengusaha sukses, jutawan, penemu, ilmuwan, ahloi masak yang handal, penerima penghargaan Nobel sekaligus peraih medali Olimpiade. Quite an achievement huh? Suatu hari, Mr. Peabody menemukan seorang bayi yang ditelantarkan oleh kedua orangtuanya. Setelah melalui proses hukum untuk melakukan adopsi, Mr. Peabody mengasuh bayi tersebut, menamakannya Sherman (Max Charles) serta berusaha keras mendidiknya agar menjadi seorang sosok manusia yang cerdas.

Continue reading Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Review: Free Birds (2013)

Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)
Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)

Thanksgiving Day adalah sebuah hari libur nasional tahunan yang umumnya diperingati oleh warga Amerika Utara tepatnya pada hari Kamis keempat di bulan November. Diperkirakan dimulai pada tahun 1621 sebagai wujud rasa terima kasih warga pendatang yang berasal dari Eropa kepada penduduk pribumi Amerika dengan membagikan hasil panen mereka, Thanksgiving Day biasanya dirayakan setiap keluarga di Amerika dengan menikmati penganan khas perayaan tersebut yaitu kalkun. Well… kebiasaan warga Amerika dalam menikmati penganan kalkun untuk merayakan Thanksgiving Day itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi jalan penceritaan Free Birds. Diarahkan oleh Jimmy Hayward (Jonah Hex, 2010) yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Scott Mosier, Free Birds sayangnya gagal untuk mengembangkan premis ceritanya untuk menjadi sebuah presentasi yang menarik. Medioker – baik dari tampilan visual maupun penggarapan ceritanya.

Continue reading Review: Free Birds (2013)

Review: The LEGO Movie (2014)

The LEGO Movie (Warner Bros. Pictures/Village Roadshow Pictures/LEGO Systems A/S/Vertigo Entertainment/Lin Pictures/Animal Logic/RatPac-Dune Entertainment/Warner Animation Group, 2014)
The LEGO Movie (Warner Bros. Pictures/Village Roadshow Pictures/LEGO Systems A/S/Vertigo Entertainment/Lin Pictures/Animal Logic/RatPac-Dune Entertainment/Warner Animation Group, 2014)

Setelah seri film Dungeons & Dragons (2000 – 2011), Transformers (2007 – 2011), G.I. Joe (2009 – 2013) dan Battleship (2012), Hollywood kembali mencoba peruntungannya dalam memproduksi film yang diangkat dari sebuah permainan melalui The LEGO Movie. The LEGO Movie sendiri bukanlah film pertama yang jalan ceritanya didasarkan atas permainan susun bangun yang terbuat dari plastik tersebut. Sebelumnya, LEGO telah menginspirasi sejumlah film animasi yang kebanyakan langsung dirilis dalam bentuk DVD maupun ditayangkan melalui media televisi – menjadikan The LEGO Movie sebagai film LEGO pertama yang dirilis di layar lebar. Untungnya, dibawah arahan duo Phil Lord dan Chris Miller (Cloudy with a Chance of Meatballs, 2009), The LEGO Movie mampu dikembangkan menjadi sebuah film yang tidak hanya tampil kuat dalam kualitas visualnya, namun juga hadir dengan kualitas naskah yang begitu hangat dan menghibur.

Continue reading Review: The LEGO Movie (2014)

Review: Tarzan (2014)

Tarzan (Constantin Film Produktion/Ambient Entertainment GmbH, 2014)
Tarzan (Constantin Film Produktion/Ambient Entertainment GmbH, 2014)

Setelah terakhir kali dihidupkan oleh Walt Disney Animation Studios pada tahun 1999 dan berhasil meraih kesuksesan kritikal serta komersial – termasuk sebuah Academy Awards di kategori Best Original Song untuk lagu You’ll Be in My Heart yang ditulis dan dinyanyikan Phil Collins, novel Tarzan of the Apes yang ditulis oleh Edgar Rice Burroughs kembali diangkat ke layar lebar oleh sutradara asal Jerman, Reinhard Klooss, dalam bentuk film animasi berjudul Tarzan. Untuk versinya, Klooss bersama dengan dua penulis naskah, Jessica Postigo dan Yoni Brenner, memberikan beberapa sentuhan kisah bernuansa science fiction dalam jalan cerita Tarzan meskipun masih berpegang teguh terhadap garis cerita asli Burroughs yang telah melegenda tersebut. Sebuah pilihan yang beresiko… dan sayangnya kemudian gagal dikembangkan dengan baik oleh Klooss dan membuat Tarzan versinya tampil begitu datar. Dan membosankan.

Continue reading Review: Tarzan (2014)

Review: Frozen (2013)

frozen-header

Berbeda dengan Pixar Animation Studios yang belakangan terlihat mengalami sedikit kesulitan dalam menghadapi para kompetitornya – semaniak apapun Anda terhadap rumah produksi film animasi ini, Anda harus mengakui bahwa tak satupun karya mereka semenjak Toy Story 3 (2010) mampu meraih kredibilitas kualitas yang sekuat film-film pendahulunya – Walt Disney Animation Studios justru berhasil bangkit setelah bertahun-tahun dinilai semakin tidak relevan dengan dunia modern. Dimulai dengan Tangled (2010) dan diikuti Wreck-It Ralph (2012), rumah produksi bermaskot Mickey Mouse tersebut secara perlahan meraih kembali masa-masa kejayaan film-film animasi mereka terdahulu. Di tahun 2013, Walt Disney Animation Studios merilis Frozen, yang sekaligus menjadi film animasi ke-53 yang mereka produksi. Layaknya Tangled, Frozen diadaptasi dari sebuah kisah klasik dan disajikan dengan penceritaan musikal yang humoris serta hangat yang tentunya akan mengingatkan para penontonnya pada film-film animasi klasik karya Walt Disney Animation Studios.

Continue reading Review: Frozen (2013)