Tag Archives: Angus Sampson

Review: Insidious: The Last Key (2018)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang filmografinya diisi oleh film-film horor seperti The Taking of Deborah Logan (2014) dan Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015), film keempat dalam seri film Insidious, Insidious: The Last Key, kini menempatkan karakter Elise Rainier yang diperankan oleh Lin Shaye pada garda terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya. Jelas suatu hal yang tidak mengherankan mengingat naskah cerita Insidious: The Last Key berusaha menyelami karakter Elise Rainier secara personal yang sekaligus menjadikan film ini sebagai bagian pertama dari seri film Insidious jika dirunut berdasarkan kronologi pengisahannya. Shaye memang mampu menjadikan karakter yang ia perankan tampil begitu mengikat namun, sayangnya, naskah garapan Leigh Whannell tidak pernah bergerak dari berbagai taktik horor yang sebelumnya telah diterapkan oleh film-film Insidious sebelumnya. Hasilnya, Insidious: The Last Key berakhir sebagai sebuh presentasi cerita yang cenderung monoton dan membosankan. Continue reading Review: Insidious: The Last Key (2018)

Advertisements

Review: Insidious: Chapter 3 (2015)

insidious-chapter-three-posterBerbeda dengan Insidious (2011) dan Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 tidak lagi ditangani oleh James Wan – yang kali ini lebih memilih untuk hanya bertugas sebagai seorang produser dan menyerahkan kursi penyutradaraan pada penulis naskah seri film ini, Leigh Whannell. Insidious: Chapter 3 juga meninggalkan karakter-karakter dari keluarga Lambert yang merupakan fokus penceritaan pada dua seri sebelumnya dan menjadi sebuah prekuel dari Insidious dengan menempatkan kisah dari karakter cenayang Elise Rainier (Lin Shaye) sebagai karakter utama bagi film ini. Sayangnya, dengan segala perubahan tersebut, Insidious: Chapter 3 juga dikemas dengan begitu dangkal sehingga kehilangan seluruh daya tarik yang dimiliki oleh dua seri sebelumnya yang membuat seri film ini begitu popular sekaligus dinanti oleh banyak penikmat film horor dunia. Mungkin sudah saatnya untuk mengakhiri seri film ini secara keseluruhan?

Insidious: Chapter 3 memulai kisahnya ketika seorang remaja bernama Quinn Brenner (Stefanie Scott) berkunjung ke rumah Elise Rainier (Shaye) untuk meminta bantuannya dalam menghubungi sekaligus berbicara dengan arwah ibunya yang telah lama meninggal dunia. Meskipun awalnya menolak karena takut hal buruk akan terjadi pada dirinya, Elise kemudian memulai usahanya untuk membantu Quinn. Sayang, usaha tersebut berakhir dengan kegagalan. Daripada berhasil mendatangkan dan berkomunikasi dengan arwah ibu dari Quinn, Elise justru didatangi sesosok arwah jahat dari dunia kegelapan. Elise lantas mengingatkan Quin untuk tidak lagi berusaha menghubungi arwah sang ibu karena sosok arwah jahat dapat saja datang untuk kemudian menghantui dirinya. Benar saja. Sepulangnya Quinn dari rumah Elise, gadis tersebut mulai mengalami teror supranatural yang mulai mengganggu dan bahkan dapat saja mengambil kehidupannya.

Sejujurnya, dengan segala konflik yang terjadi dan telah diselesaikan pada dua seri sebelumnya, Insidious memang telah mencapai puncak kualitas naratifnya. Insidious: Chapter 2 bahkan telah menunjukkan fakta bahwa baik James Wan maupun Leigh Whannell telah terasa kelelahan dalam menemukan bentuk ketegangan baru yang dapat ditawarkan pada penonton filmnya. Insidious: Chapter 3, sayangnya, gagal untuk menunjukkan bahwa seri film ini telah mengalami sebuah perubahan positif yang berarti. Daripada berusaha untuk menyajikan sebuah jalan cerita yang kuat dengan sentuhan beberapa adegan horor yang menegangkan, Whannell justru menjebak Insidious: Chapter 3 untuk menjadi sebuah horor murahan yang murni hanya bergantung pada beberapa adegan menegangkan berkualitas kacangan untuk dapat memberikan hiburan bagi penontonnya. Tidak lebih. Cukup menyedihkan, khususnya jika mengingat bahwa Insidious adalah salah satu film horor buatan Hollywood yang mampu mencuri perhatian dengan fokus yang kuat pada karakter dan jalan ceritanya.

Kemampuan Whannell dalam pengarahan cerita memang masih terasa lemah dalam berbagai cerita. Whannell seringkali terasa kebingungan dalam memberikan fokus penceritaan yang terpecah antara konflik pribadi yang dimiliki oleh karakter Elise Rainier atau konflik keluarga yang dimiliki oleh karakter Quinn Brenner. Akhirnya, daripada berhasil merangkai kisahnya sebagai sebuah presentasi cerita yang nyaman untuk diikuti, Insidious: Chapter 3 justru terasa hadir dengan ritme penceritaan yang berantakan. Tata produksi yang dihadirkan Whannell untuk filmnya juga terasa jauh dari kesan istimewa. Komposisi musik horor karya Joseph Bishara yang biasanya mampu menjadi nyawa tambahan bagi sentuhan horor seri film Insidious kali ini gagal untuk tampil kuat. Begitu pula dengan tata sinematografi arahan Brian Pearson yang banyak bermain di wilayah gambar-gambar kelam tanpa pernah mampu membuatnya menjadi sentuhan yang esensial bagi atmosfer penceritaan film.

Departemen akting Insidious: Chapter 3 sendiri hadir dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Lin Shaye sekali lagi mampu menghidupkan karakter Elise Rainier yang telah ia perankan dalam dua seri Insidious sebelumnya dengan baik. Begitu pula dengan Angus Sampson dan Leigh Whannell yang masih mampu menyajikan sentuhan komedi melalui karakter duo Tucker dan Specks yang mereka perankan. Nama-nama pemeran baru dalam seri film ini juga tampil memuaskan. Stefanie Scott yang berperan sebagai karakter utama Quinn Brenner mampu memberikan penampilan yang akan dapat menarik perhatian setiap penonton pada karakter yang ia perankan. Dan meskipun karakter ayah yang ia perankan memiliki penceritaan yang cukup terbatas, namun Dermot Mulroney jelas tampil dalam kapasitas akting yang berkelas. [C-]

Insidious: Chapter 3 (2015)

Directed by Leigh Whannell Produced by Jason Blum, Oren Peli, James Wan Written by Leigh Whannell Starring Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Angus Sampson, Leigh Whannell, Lin Shaye, Ashton Moio, Ele Keats, Hayley Kiyoko, Steve Coulter, Tate Berney, Michael Reid MacKay, Phil Abrams, Ruben Garfias, Samantha Ramraj, Joseph Bishara, Tom Fitzpatrick, Anne Bergstedt Jordanova, Amaris Davidson, Anna Ross Music by Joseph Bishara Cinematography Brian Pearson Editing by Timothy Alverson Studio Automatik Entertainment/Blumhouse Productions/Entertainment One Running time 97 minutes Country United States Language English

Review: Mad Max: Fury Road (2015)

mad-max-fury-road-poster-02Masih ingat dengan Mad Max? Dibintangi oleh Mel Gibson dan dirilis pertama kali pada tahun 1979, film aksi dengan kandungan cerita yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik arahan George Miller tersebut kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial yang luar biasa sekaligus menjadi pembuka langkah film-film Australia lainnya untuk mendapatkan rekognisi lebih di Hollywood pada masa tersebut. Kesuksesan tersebut lantas membuat Miller memproduksi dua seri film Mad Max lainnya, Mad Max 2: The Road Warrior (1981) serta Mad Max Beyond Thunderdome (1985) yang juga berhasil meraih sambutan hangat baik dari para kritikus maupun para penikmat film dunia. Kini, 30 tahun setelah perilisan seri terakhir Mad Max, dan setelah mengarahkan film-film dari berbagai macam genre seperti The Witches of Eastwick (1987), Lorenzo’s Oil (1992), Babe: Pig in the City (1998) serta Happy Feet (2006), Miller kembali membawa Mad Max – lengkap dengan tata visual yang telah beradaptasi dengan era modern, deretan adegan aksi yang mampu menyaingi film-film aksi arahan sutradara yang berusia jauh dibawah usia Miller serta Tom Hardy yang kini menggantikan posisi Mel Gibson.

Berlatar belakang kisah di masa depan dimana hampir seluruh wilayah dunia telah berubah menjadi gurun dan peradaban manusia tidak lagi memiliki struktur serta aturan yang jelas, seorang pria bernama Max (Hardy) yang hidup berkelana sendirian baru saja ditangkap oleh pasukan War Boys milik Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Max lantas dipenjara serta dimanfaatkan sebagai kantong darah bagi salah satu anggota pasukan War Boys yang sedang menderita sakit, Nux (Nicholas Hoult). Di saat yang bersamaan, kekacauan terjadi dalam organisasi pimpinan Immortan Joe ketika salah satu orang kepercayaannya, Imperator Furiousa (Charlize Theron), membawa lari lima wanita yang dikenal sebagai Five Wives – lima sosok wanita bernama The Splendid Angharad (Rosie Huntington-Whiteley), Capable (Riley Keough), Cheedo the Fragile (Courtney Eaton), Toast the Knowing (Zoë Kravitz) serta The Dag (Abbey Lee) yang diseleksi khusus untuk melahirkan anak-anak dari Immortan Joe. Tidak pelak lagi, Immortan Joe lantas mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar, menangkap sekaligus membawa kembali Five Wives. Meskipun masih dalam kondisi yang lemah, Nux memilih untuk bergabung dengan pasukan War Boys. Jelas saja, Max yang bertugas sebagai kantong darahnya akhirnya harus turut dalam perjalanan sekaligus berperang di tengah liar dan tandusnya kondisi alam sekitar mereka.

Seperti halnya ketiga film lain dalam seri Mad Max, George Miller sekali lagi berhasil menyajikan deretan adegan aksi yang liar dan gila dalam Mad Max: Fury Road yang jelas akan memberikan rasa malu pada seluruh film aksi yang telah dan akan dirilis pada tahun ini. Bagaimana tidak. Dengan usianya yang telah menginjak 70 tahun, Miller masih memiliki kapabilitas untuk merangkai adegan-adegan aksi yang begitu kreatif, unik, segar dan jelas akan sanggup memuaskan hasrat setiap penikmat film aksi yang menyaksikannya. Seperti halnya The Raid (Gareth Evans, 2012) yang mampu menetapkan standar baru bagi penggunaan martial arts dalam adegan pertarungan dalam film-film aksi, Miller jelas telah menetapkan sebuah standar kualitas baru yang cukup tinggi bagi tatanan penceritaan serta visual bagi film-film aksi di masa yang akan datang.

Naskah cerita Mad Max: Fury Road yang ditulis oleh Miller bersama dengan Brendan McCarthy dan Nico Lathouris juga masih mengikuti pakem cerita film-film yang berada dalam seri Mad Max lainnya dalam menyajikan satir mengenai kehidupan sosial maupun politik masyarakat saat ini. Memang, seperti halnya kebanyakan film aksi yang dirilis saat ini, naskah cerita Mad Max: Fury Road memiliki beberapa keterbatasan dalam pengembangan konflik maupun karakternya. Namun, di saat yang bersamaan, Miller mampu mengisi keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan pengarahan yang begitu kuat. Miller menyajikan filmnya dengan alur penceritaan yang begitu cepat. Ritme penceritaan Mad Max: Fury Road telah tersaji dengan dorongan oktan tinggi semenjak film dimulai, memberikan ruang bagi penonton untuk menarik nafas di beberapa bagiannya namun terus hadir dengan intensitas yang terus meningkat hingga berakhirnya film. Dukungan tata produksi yang solid – mulai dari sinematografi arahan John Seale yang begitu memukau, desain produksi yang sangat berkelas hingga tata musik karya Junkie XL yang mampu mengiringi pengingkatan adrenalin dari jalan cerita film, Mad Max: Fury Road jelas hadir sebagai sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan begitu saja bagi para penikmatnya.

Miller juga mampu merangkai jalan cerita filmnya dengan kehadiran deretan karakter yang begitu mengesankan. Tom Hardy berhasil mengisi peran ikonik Max yang dahulu diperankan oleh Mel Gibson dengan tanpa cela. Meskipun begitu, karakter Max harus diakui tampil dengan kesan dikesampingkan jika dibandingkan dengan beberapa karakter utama lain dalam Mad Max: Fury Road. Imperator Furiousa yang diperankan oleh Charlize Theron jelas menjadi pencuri perhatian utama bagi film ini. Sosok wanita cerdas dan tangguh dengan latar belakang kekelaman masa lalu yang mampu dihidupkan Theron dengan sempurna. Karakter-karakter pendukung seperti Five Wives of Immortan Joe yang diperankan Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Courtney Eaton, Zoë Kravitz dan Abbey Lee juga berhasil menyajikan kesan tersendiri. Sama berkesannya dengan kehadiran Nicholas Hoult yang berperan sebagai Nux serta Hugh Keays-Byrne sebagai Immortan Joe. Karakter-karakter yang tercipta begitu unik dan mampu dihidupkan dengan sangat baik oleh deretan pengisi departemen akting film ini. Secara keseluruhan, Mad Max: Fury Road adalah sebuah pencapaian yang jelas akan menjadi kualitas pembanding bagi setiap film aksi yang dirilis di masa yang akan datang. Mengesankan! [A-]

Mad Max: Fury Road (2015)

Directed by George Miller Produced by Doug Mitchell, George Miller, P. J. Voeten Written by George Miller, Brendan McCarthy, Nico Lathouris Starring Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byrne, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Zoë Kravitz, Abbey Lee, Courtney Eaton, Nathan Jones, Megan Gale, Josh Helman, Melissa Jaffer, John Howard, Richard Carter, OTA, Angus Sampson, Jennifer Hagan, Gillian Jones, Joy Smithers Music by Junkie XL Cinematography John Seale Editing by Margaret Sixel Studio Kennedy Miller Mitchell/Village Roadshow Pictures Running time 120 minutes Country Australia, United States Language English

Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Continue reading Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Review: Insidious (2011)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Continue reading Review: Insidious (2011)