Tag Archives: Andrew Niccol

Review: Anon (2018)

Andrew Niccol (Good Kill, 2015) membawa penontonnya ke masa depan lewat film terbarunya, Anon. Di masa tersebut, setiap manusia memiliki implan yang ditanamkan ke retina mata yang menyebabkan setiap orang dapat mendapatkan informasi yang mereka butuhkan mengenai seseorang atau sesuatu yang mereka jumpai secara cepat dan tepat. Tidak hanya itu, setiap detil tindakan atau perkataan juga dapat terekam dan tersimpan dengan baik – suatu hal yang jelas kemudian memudahkan pihak kepolisian untuk meneliti setiap kasus kejahatan kriminal yang mereka tangani dengan hanya memutar ulang kembali rekaman ingatan setiap orang yang mereka jadikan sebagai tersangka. Tetap saja, hal tersebut tidak menghentikan langkah beberapa pelaku kriminal untuk dapat menjalankan aksi mereka. Dalam sebuah kasus terbaru, seorang pembunuh meretas sistem informasi penglihatan para korbannya sehingga mata mereka tidak dapat melihat siapa pembunuh mereka dan justru menyaksikan sendiri bagaimana mereka terbunuh. Cukup sadis. Continue reading Review: Anon (2018)

Advertisements

Review: Good Kill (2015)

good-kill-posterSetelah membintangi debut penyutradaraan Andrew Niccol, Gattaca (1997), Ethan Hawke kembali berada di bawah pengarahan sutradara asal Selandia Baru tersebut untuk film teranyarnya, Good Kill. Berbeda dengan Gattaca maupun beberapa film Niccol lain seperti S1m0ne (2002), In Time (2011) maupun The Host (2013), film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Niccol ini bukanlah sebuah film fiksi ilmiah yang menempatkan latar belakang kisah, karakter maupun desain produksi yang terlihat futuristik. Niccol justru menghadirkan sebagai sebuah kisah yang menyentuh isu politik perang Amerika Serikat yang memang semakin mamanas semenjak terjadinya tragedi 9/11 di negara itu sekaligus efek yang disebabkannya pada orang-orang yang terlibat langsung di dalam peperangan tersebut. Bayangkan American Sniper (2014)… namun dengan nada penceritaan yang lebih suram dan jauh dari kesan dramatis.

Good Kill berkisah mengenai seorang pilot bernama Major Thomas Egan (Hawke) yang kini ditugaskan oleh Angkatan Udara milik Amerika Serikat untuk mengontrol pesawat tanpa awak milik mereka yang digunakan untuk membunuh para tersangka pelaku kegiatan terorisme di beberapa negara asing yang dianggap dapat mempengaruhi atau mengancam stabilitas keamanan negara adikuasa itu. Major Thomas Egan sendiri merasa tugasnya cenderung membosankan dan ingin agar dirinya ditempatkan kembali langsung di medan peperangan. Ia juga mulai mempertanyakan etika pekerjaannya ketika banyak pihak sipil yang turut menjadi korban akibat tugas yang ia laksanakan. Secara perlahan, tekanan-tekanan tersebut mulai mempengaruhi kehidupan personal Major Thomas Egan, termasuk kehidupan pernikahan yang ia jalin dengan istrinya, Molly (January Jones).

Niccol benar-benar tertarik pada ide mengenai pemberontakan pada aturan yang telah diterapkan oleh pihak-pihak berkuasa. Layaknya film-film yang diarahkan Niccol sebelumnya, Good Kill juga menawarkan tema penceritaan yang sama – karakter utama dalam film ini mengalami kesulitan untuk menerima aturan yang diterapkan padanya yang kemudian mempengaruhi kepribadiannya sebelum akhirnya melakukan sebuah pembelotan atas aturan tersebut. Niccol sepertinya ingin menyuarakan kampanye anti-perangnya terhadap Amerika Serikat secara eksplisit melalui film ini. Dan harus diakui, Niccol mampu melakukannya dengan baik. Good Kill akan mampu menenggelamkan penontonnya pada kelamnya jalan penceritaan sekaligus membuat mereka sekali lagi ditampar oleh realita kejamnya politik peperangan di dunia yang berjalan layaknya sebuah lingkaran setan.

Niccol sendiri menitikberatkan pengisahan Good Kill pada hubungan yang terjalin antara sang karakter utama dengan konflik yang tengah ia hadapi. Sebuah pembelajaran karakter. Karena itulah, meskipun film ini menawarkan kisah yang berkaitan dengan dunia peperangan, Good Kill sama sekali tidak menyajikan deretan adegan aksi maupun efek ledakan di sepanjang 104 menit presentasi ceritanya. Warna cerita yang cukup kelam dengan konflik dramatis yang cukup minim serta perlakuan atas alur cerita yang dieksekusi dalam gerak yang cukup lamban memang akan memberikan sedikit kesulitan bagi sebagian penonton untuk menikmati film ini. Namun, Good Kill memang membutuhkan ruang penceritaan yang luas tersebut untuk membiarkan deretan konflik dan karakternya berkembang sedemikian rupa untuk kemudian mengambil alih perhatian penontonnya.

Sebagai pemeran sang karakter utama yang kisahnya menjadi perhatian penuh bagi film ini, Ethan Hawke mampu menyajikan penampilan akting terbaiknya. Good Kill mungkin tidak menyediakan ruang seluas yang disediakan American Sniper bagi Bradley Cooper dalam menyajikan transisi sikap akan sesosok karakter dengan mental yang terpengaruh akan perang. Karakter yang diperankan Hawke seringkali terlihat berada dalam kemuraman dan kesunyian. Dengan penampilan yang prima, Hawke mampu menghidupkan emosi tersebut untuk dapat dirasakan oleh penonton. Penampilan jajaran pemeran pendukung yang diisi oleh nama-nama seperti January Jones, Zoë Kravitz hingga Bruce Greenwood juga memberikan dukungan yang solid atas penampilan Hawke. Sebuah kualitas yang mampu meningkatkan kualitas performa film ini secara keseluruhan. [B-]

Good Kill (2015)

Directed by Andrew Niccol Produced by Mark Amin, Nicolas Chartier, Zev Foreman Written by Andrew Niccol Starring Ethan Hawke, January Jones, Zoë Kravitz, Jake Abel, Bruce Greenwood, Peter Coyote, Dylan Kenin Music by Christophe Beck Cinematography Amir Mokri Editing by Zach Staenberg Studio Voltage Pictures/Sobini Films Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: The Host (2013)

the-host-header

Stephenie Meyer memulai masa kejayaannya ketika seri novel The Twilight Saga (2005 – 2008) yang ia tulis diadaptasi ke layar lebar oleh Hollywood. Meskipun kebanyakan bagian film seri tersebut mendapatkan kritikan tajam dari kritikus film Hollywood – khususnya akibat dialog maupun deretan adegan romansa cheesy yang terus mewarnai film seri tersebut, lima seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan total pendapatan sebesar lebih dari US$3 milyar serta menjadi sebuah pop culture phenomenon bagi banyak kalangan muda. Tentu saja… ketika Meyer kemudian merilis The Host (2008)  – yang pada dasarnya masih merupakan sebuah novel bertema kisah cinta segitiga namun hadir dengan balutan penceritaan bernuansa science fiction yang lebih dewasa, Hollywood jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengulang kembali kesuksesan luar biasa tersebut begitu saja. Namun… can the lightning really strikes the same place twice?

Continue reading Review: The Host (2013)

Review: In Time (2011)

Setelah kesuksesannya dalam memerankan karakter Sean Parker dalam The Social Network (2010), Justin Timberlake muncul sebagai salah satu aktor yang paling banyak dibicarakan di Hollywood. The Social Network memang bukanlah film pertama dari aktor yang juga seorang penyanyi ini. Namun, baru lewat The Social Network kemampuan akting Timberlake mampu dilirik dan dianggap serius oleh banyak kritikus film dunia. Pertanyaan berikutnya jelas, apakah kemampuan akting Timberlake dalam The Social Network adalah murni merupakan bakat akting Timberlake yang semakin terasah atau hanya karena Timberlake sedang beruntung berada di bawah arahan seorang sutradara bertangan dingin seperti David Fincher. Dua film komedi, Bad Teacher dan Friends with Benefits, yang dirilis lebih awal jelas tidak akan mampu dijadikan tolak ukur mendalam dari kemampuan akting Timberlake. Pembuktian tersebut datang dari In Time, film science fiction yang dibintangi Timberlake bersama Amanda Seyfried dengan arahan sutradara Andrew Niccol (Lord of War, 2005).

Continue reading Review: In Time (2011)