Tag Archives: Alice Eve

Review: Please Stand By (2018)

Setelah keberhasilannya dalam mengarahkan The Sessions (2012) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial namun juga memberikan sebuah nominasi Academy Awards di kategori Best Actress in a Supporting Role untuk Helen Hunt pada ajang The 85th Annual Academy Awards, sutradara asal Australia, Ben Lewin, kini merilis film terbarunya yang berjudul Please Stand By. Hampir serupa dengan The Sessions yang berkisah tentang kehidupan seorang penderita penyakit polio dalam interaksi kesehariannya, Lewin juga menjadikan Please Stand By sebagai media penggambarannya mengenai jalinan rumit keseharian seorang penderita Sindrom Asperger untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Diberkahi oleh penampilan gemilang dari Dakota Fanning, Please Stand By mampu menyajikan banyak momen menyentuh yang dipastikan dapat membuat para penontonnya terhanyut meskipun beberapa kali terjebak dalam tata cara pengisahan yang cenderung terlalu familiar. Continue reading Review: Please Stand By (2018)

Advertisements

Review: ATM (2012)

atm-header

Di tahun 2009, nama Chris Sparling mulai dikenal Hollywood setelah naskah cerita yang ia tulis, Buried, berhasil masuk dalam daftar The Black List – sebuah daftar naskah cerita film terbaik yang belum diproduksi hasil pilihan para produser film Hollywood. Seperti halnya naskah cerita The Social Network (2010), Take this Waltz (2011) dan Cedar Rapids (2011) yang juga berada di daftar tersebut, Buried lantas menarik minat banyak pihak sebelum akhirnya diproduksi dengan Rodrigo Cortés berada di kursi penyutradaraan dan Ryan Reynolds sebagai bintang utamanya. Film yang berkisah mengenai usaha seorang warga sipil Amerika Serikat yang bekerja di Irak untuk bertahan hidup setelah menemukan dirinya terkubur hidup-hidup di sebuah lokasi yang tidak diketahui keberadaannya tersebut lantas berhasil meraih sukses besar, baik secara kritikal maupun secara komersil, termasuk memberikan Sparling sebuah penghargaan Best Original Screenplay dari National Board of Review Awards di tahun 2010.

Continue reading Review: ATM (2012)

Review: Star Trek Into Darkness (2013)

star-trek-into-darkness-header

Di tahun 2009, dimana Hollywood dikuasai oleh film-film science fiction orisinal seperti Avatar serta District 9, J. J. Abrams mampu mencuri banyak perhatian penikmat film dunia ketika dirinya kembali menghadirkan sebuah franchise legendaris bernama Star Trek dengan sentuhan yang baru. Meski awalnya banyak mendapatkan keraguan, khususnya dari para penggemar setia franchise tersebut – yang biasa menyebut diri mereka sebagai Trekkies, dengan bermodalkan naskah cerita arahan Roberto Orci dan Alex Kurtzman yang sangat cerdas, Abrams mampu menghadirkan sebuah presentasi kisah Star Trek yang cukup segar dan modern untuk dapat meraih banyak penggemar baru namun tetap terasa sangat familiar untuk dapat memuaskan para penggemar lamanya. Kesuksesan tersebut jelas telah membuka pintu kesempatan yang sangat lebar bagi Abrams untuk dapat menjelajah lebih jauh dalam menangani seri lanjutan franchise film yang telah dimulai semenjak tahun 1979 tersebut.

Continue reading Review: Star Trek Into Darkness (2013)

Review: The Raven (2012)

Setelah V for Vendetta (2006) dan Ninja Assasin (2009), The Raven menandai kali pertama sutradara James McTeigue bekerja jauh dari pengawasan duo Lana dan Andy Wachowski – yang kini lebih dikenal sebagai Wachowski Starship. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ben Livingston dan Hanna Shakespeare, McTeigue mencoba untuk menggarap sebuah thriller fiksi yang didasarkan pada hari-hari terakhir kehidupan salah satu penulis dan pujangga terbesar Amerika Serikat, Edgar Allan Poe. Diatas kertas, ide mengenai seorang pembunuh berantai yang menggunakan deretan karya sastra sebagai inspirasinya untuk melakukan tindakan pembunuhan memang terdengar sangat menarik. Sayangnya, naskah yang medioker dan pengarahan McTeigue yang lemah menjadikan The Raven kehilangan begitu banyak momen emas yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan ritme penceritaan yang menegangkan.

Continue reading Review: The Raven (2012)

Review: Men in Black 3 (2012)

Sepuluh tahun seusai perilisan Men in Black II – yang mendapatkan kesuksesan komersial walaupun dihujani kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia – sutradara Barry Sonnenfeld akhirnya merilis bagian ketiga dari franchise Men in Black. Masih dibintangi oleh duo Will Smith dan Tommy Lee Jones, proses produksi Men in Black 3 sendiri telah berjalan cukup lama, dengan hambatan kebanyakan datang dari sisi penulisan naskah yang terus menerus mengalami perbaikan. Pun begitu, usaha perbaikan naskah yang secara intensif terus dilakukan tersebut sepertinya jelas terlihat dalam penceritaan Men in Black 3. Lebih bernuansa serius jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya, Men in Black 3 mampu menghadirkan tata cerita yang lebih terjaga dengan karakterisasi yang lebih mendalam.

Continue reading Review: Men in Black 3 (2012)