Tag Archives: Alex Russell

Review: Only the Brave (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ken Nolan (Transformers: The Last Knight, 2017) dan Eric Warren Singer (American Hustle, 2013) berdasarkan artikel berjudul No Exit yang ditulis jurnalis Sean Flynn untuk majalah GQ, Only the Brave bercerita mengenai kisah nyata kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Yarnell Hill, Arizona, Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 2013 yang kemudian berubah menjadi salah satu tragedi alam terbesar di negara tersebut setelah menelan korban sebanyak 19 jiwa – yang seluruhnya merupakan anggota pasukan pemadam kebakaran. Film ini sendiri memberikan fokus pengisahannya pada karakter-karakter anggota pemadam kebakaran yang menjadi korban ketika menjalankan tugasnya dalam tragedi tersebut. Jelas tidak mengherankan jika kemudian Only the Brave berjalan dengan presentasi cerita bertema pengorbanan dan kepahlawanan yang telah cukup familiar. Meskipun begitu, dengan penulisan dan pengarahan cerita yang apik, Only the Brave memiliki cukup banyak amunisi untuk membuatnya tetap menjadi sebuah presentasi yang menyentuh. Continue reading Review: Only the Brave (2017)

Advertisements

Review: Unbroken (2014)

Unbroken (Legendary Pictures/Jolie Pas/3 Arts Entertainment, 2014) This review was originally published on December 28, 2014 and being republished as it hits Indonesian theaters today.

Apa yang sebenarnya mendorong seorang Angelina Jolie untuk menjadi seorang sutradara? Ketenaran? Penghasilan komersial yang lebih banyak? Hasrat untuk pembuktian dirinya? Atau hanyalah sekedar ajang untuk menantang dirinya diluar dari berakting? Mungkin saja. Namun satu hal yang jelas: Unbroken gagal memperlihatkan bahwa Jolie adalah seorang sutradara dengan visi yang kuat untuk mengeksekusi jalan cerita yang ia ingin hadirkan kepada para penontonnya.

Diadaptasi dari buku non-fiksi karya Laura Hillenbrand, Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption, yang berkisah tentang kehidupan atlet sekaligus salah satu tentara pasukan Amerika Serikat di masa Perang Dunia II, Louis Zamperini, Unbroken sebenarnya memiliki begitu banyak faktor untuk menjadi sebuah kisah yang menarik, menginspirasi sekaligus menegangkan. Sayangnya, tata arahan Jolie justru terasa begitu kaku dalam usahanya menghidupkan naskah cerita yang dibentuk Joel Coen, Ethan Coen, Richard LaGravenese dan William Nicholson. Tidak terasa adanya energi ataupun rasa antusias dalam bercerita ataupun emosi yang kuat untuk mengaliri jalinan kisah yang dihantarkan. Sebagai seorang sutradara, Jolie terasa hanya mengikuti berbagai pakem standar Hollywood dalam pembuatan sebuah biopik bernuansakan perang tanpa pernah mampu berani melangkah lebih jauh berkreasi dalam menciptakan atmosfer baru bagi filmnya.

Terlepas dari arahan Jolie, Unbroken setidaknya mampu mendapatkan dukungan kualitas yang kuat dari para jajaran pemerannya – yang didominasi oleh wajah-wajah muda Hollywood. Jack O’Connell tampil dengan determinasi tinggi dalam memerankan Louis Zamperini. Layaknya Zamperini, O’Connell terlihat sangat meyakinkan dan berani dalam membawakan karakternya. Penampilan O’Connell juga diiringi dengan penampilan sama mengesankannya dari nama-nama muda seperti Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Finn Wittrock hingga Alex Russell – sementara aktor asal Jepang, Miyavi, seringkali terlihat terlalu komikal dalam memerankan karakter yang menjadi lawan bagi karakter Louis Zamperini.

Dari sisi teknikal, Unbroken juga tidak begitu mengecewakan. Arahan sinematografi Roger Deakins maupun tata efek khusus yang disiapkan untuk menghidupkan atmosfer Perang Dunia bagi film ini bekerja dengan cukup baik. Satu catatan khusus layak diberikan kepada arahan musik karya Alexandre Desplat bagi film ini. Entah mengapa, iringan musik Desplat terasa terlalu berusaha mendikte sisi emosional penontonnya. Penonton seperti digiring untuk merasakan sebuah emosi tertentu padahal jalan cerita yang dihadirkan justru gagal untuk membuat penonton merasakan adanya kehadiran emosi tersebut. Tapi mungkin Desplat memang bermaksud demikian. Tata musik yang medioker untuk sebuah film yang berkualitas medioker pula. [C-]

Unbroken (2014)

Directed by Angelina Jolie Produced by Matthew Baer, Angelina Jolie, Erwin Stoff, Clayton Townsend Written by Joel Coen, Ethan Coen, Richard LaGravenese, William Nicholson (screenplay), Laura Hillenbrand (book, Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption) Starring Jack O’Connell, Domhnall Gleeson, Miyavi, Garrett Hedlund, Finn Wittrock, Jai Courtney, Luke Treadaway, Travis Jeffery, Jordan Patrick Smith, John Magaro, Alex Russell, Maddalena Ischiale, Morgan Griffin, Savannah Lamble, Sophie Dalah, C.J. Valleroy Music by Alexandre Desplat Cinematography Roger Deakins Edited by Tim Squyres Studio Legendary Pictures/Jolie Pas/3 Arts Entertainment Country United States Language English

Review: The Host (2013)

the-host-header

Stephenie Meyer memulai masa kejayaannya ketika seri novel The Twilight Saga (2005 – 2008) yang ia tulis diadaptasi ke layar lebar oleh Hollywood. Meskipun kebanyakan bagian film seri tersebut mendapatkan kritikan tajam dari kritikus film Hollywood – khususnya akibat dialog maupun deretan adegan romansa cheesy yang terus mewarnai film seri tersebut, lima seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan total pendapatan sebesar lebih dari US$3 milyar serta menjadi sebuah pop culture phenomenon bagi banyak kalangan muda. Tentu saja… ketika Meyer kemudian merilis The Host (2008)  – yang pada dasarnya masih merupakan sebuah novel bertema kisah cinta segitiga namun hadir dengan balutan penceritaan bernuansa science fiction yang lebih dewasa, Hollywood jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengulang kembali kesuksesan luar biasa tersebut begitu saja. Namun… can the lightning really strikes the same place twice?

Continue reading Review: The Host (2013)

Review: Bait (2012)

bait-header

Ketika Anda membuat sebuah film yang berkisah mengenai sekelompok manusia yang hidupnya terancam oleh kawanan ikan hiu, tentu saja Anda akan mendapatkan perbandingan langsung dengan beberapa film bertema sama yang pernah dirilis sebelumnya: entah itu dibandingkan dengan ketegangan yang mampu dihasilkan Steven Spielberg dalam Jaws (1975) yang legendaris itu atau Deep Blue Sea (1999) yang walaupun bukanlah sebuah karya berkualitas tinggi namun sangat menyenangkan untuk disaksikan atau… mendapatkan perbandingan dengan Shark Night (2011) yang datar dan jauh dari kesan mengesankan. Bait, sebuah film horor arahan sutradara Kimble Randall, mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang baru dalam film teror ikan hiu-nya: ikan hiu yang berada dalam sebuah pusat perbelanjaan! Terdengar inovatif? Well… seandainya Randall juga mampu bercerita se-inovatif ide gila yang dia miliki tersebut, mungkin Bait akan dapat lebih mudah dinikmati banyak penontonnya.

Continue reading Review: Bait (2012)

Review: Chronicle (2012)

With great power comes great responsibility. Mungkin pesan tersebut adalah satu hal yang ingin disampaikan oleh Chronicle, sebuah film yang menandai debut penyutradaraan sekaligus penulisan naskah sebuah film layar lebar dari Josh Trank dan Max Landis. Jalan cerita Chronicle sangat sederhana. Tiga orang sahabat secara tidak sengaja mendapatkan sebuah kekuatan telekinesis setelah mereka memasuki sebuah lubang besar di tanah yang berisikan potongan-potongan kristal misterius. Ketiganya kemudian menyadari bahwa kekuatan yang mereka miliki akan semakin bertambah kuat jika mereka semakin sering menggunakannya. Dan mereka menggunakannya untuk bersenang-senang… hingga akhirnya sebuah tragedi terjadi dan mengancam persahabatan dan nyawa ketiganya. Sederhana. Namun cara Trank mengeksekusi deretan kisah Chronicle yang membuat film yang juga menggunakan teknik penceritaan found footage ini menjadi sangat mengesankan untuk diikuti.

Continue reading Review: Chronicle (2012)