Tag Archives: Alex Pettyfer

Review: Endless Love (2014)

Endless Love ( Bluegrass Films/Fake Empire/Relativity Media, 2014)
Endless Love (Bluegrass Films/Fake Empire/Relativity Media, 2014)

Diadaptasi dari novel karya Scott Spencer, film drama romansa, Endless Love (1981), arahan Franco Zeffirelli popular karena dua hal: menjadi film pertama yang dibintangi Tom Cruise serta lagu tema berjudul sama yang dinyanyikan oleh duet Diana Ross dan Lionel Richie yang kemudian berhasil meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Original Song sekaligus menjadi salah satu lagu tersukses di sepanjang karir kedua penyanyinya. The movie itself? Not so much. Meskipun mampu meraup keuntungan komersial dalam skala menengah, Endless Love mendapatkan banyak kritikan tajam akibat plot ceritanya yang cenderung berjalan monoton serta deretan karakter yang hadir dengan penggalian yang cukup dangkal. Sebuah drama romansa medioker yang mudah terlupakan begitu saja. Lalu perubahan apa yang dapat ditawarkan oleh Endless Love versi modern yang diarahkan oleh Shana Feste (Country Strong, 2010) ini?

Continue reading Review: Endless Love (2014)

Review: Lee Daniels’ The Butler (2013)

??????????

Dwight D. Eisenhower. John F. Kennedy. Lyndon B. Johnson. Richard Nixon. Gerald Ford. Jimmy Carter. Ronald Reagan. Tujuh nama presiden Amerika Serikat yang jelas telah dikenal luas oleh masyarakat dunia. Namun, apakah Anda pernah mengenal nama Cecil Gaines? Film terbaru arahan sutradara Lee Daniels (Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire, 2009) justru sama sekali tidak membahas salah satu ataupun keseluruhan tujuh nama presiden Amerika Serikat tersebut. Lewat Lee Daniels’ The Butler, Daniels mengajak penontonnya untuk mengenal sosok Cecil Gaines, seorang kepala pelayan White House berkulit hitam yang melayani ketujuh nama presiden Amerika Serikat tersebut sekaligus hubungannya dengan setiap presiden, berbagai intrik dalam kehidupan pribadinya sekaligus masa pergerakan sipil warga Afrika-Amerika yang terjadi di tahun-tahun tersebut.

Continue reading Review: Lee Daniels’ The Butler (2013)

Review: Magic Mike (2012)

Magic Mike, yang merupakan film terbaru karya sutradara pemenang Academy Awards, Steven Soderbergh (Erin Brockovich, 2000), merupakan sebuah film drama yang berkisah mengenai kehidupan para penari telanjang… pria. Terkejut? Tidak perlu. Dalam beberapa tahun terakhir – terlepas dari pernyataannya bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari profesinya sebagai seorang sutradara, Soderbergh terus menerus mengeksplorasi berbagai tema cerita yang harus diakui cukup menantang (baca: aneh). Dan lewat Magic Mike, Soderbergh sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pencerita handal yang mampu menangani berbagai topik penceritaan yang mungkin telah sangat familiar menjadi sebuah presentasi yang sangat berkelas.

Continue reading Review: Magic Mike (2012)

Review: In Time (2011)

Setelah kesuksesannya dalam memerankan karakter Sean Parker dalam The Social Network (2010), Justin Timberlake muncul sebagai salah satu aktor yang paling banyak dibicarakan di Hollywood. The Social Network memang bukanlah film pertama dari aktor yang juga seorang penyanyi ini. Namun, baru lewat The Social Network kemampuan akting Timberlake mampu dilirik dan dianggap serius oleh banyak kritikus film dunia. Pertanyaan berikutnya jelas, apakah kemampuan akting Timberlake dalam The Social Network adalah murni merupakan bakat akting Timberlake yang semakin terasah atau hanya karena Timberlake sedang beruntung berada di bawah arahan seorang sutradara bertangan dingin seperti David Fincher. Dua film komedi, Bad Teacher dan Friends with Benefits, yang dirilis lebih awal jelas tidak akan mampu dijadikan tolak ukur mendalam dari kemampuan akting Timberlake. Pembuktian tersebut datang dari In Time, film science fiction yang dibintangi Timberlake bersama Amanda Seyfried dengan arahan sutradara Andrew Niccol (Lord of War, 2005).

Continue reading Review: In Time (2011)

Review: Beastly (2011)

Masih ingat dengan kisah Si Cantik dan Si Buruk Rupa atau Beauty and the Beast? Beastly, yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Alex Flinn, adalah sebuah versi penceritaan modern dari kisah klasik tersebut. Sama seperti Beauty and the Beast, Beastly masih memiliki seorang pria tampan yang kaya namun tinggi hati, seorang wanita muda yang miskin namun cantik dan cerdas, serta, tentu saja, seorang penyihir yang karena sakit hatinya kemudian menyihir sang pangeran untuk memiliki wajah yang buruk rupa. Hanya saja, Beastly tidak memerlukan latar belakang cerita yang mengharuskan para pemerannya mengenakan kostum dari zaman period. Lebih modern, kisah Beauty and the Beast tersebut diadaptasi menjadi sebuah drama kehidupan remaja di sebuah sekolah. Sebuah keputusan yang sangat salah?

Continue reading Review: Beastly (2011)

Review: I Am Number Four (2011)

Dalam I Am Number Four, aktor muda asal Inggris, Alex Pettyfer, berperan sebagai Daniel, salah satu dari sembilan alien dari ras Lorien yang dikirimkan orangtuanya ke Bumi guna menyelamatkan mereka ketika para alien dari ras Mogadorian mencoba menghapus keberadaan ras Lorien dari catatan sejarah. John tidak sendirian. Sama seperti halnya dengan kedelapan alien lainnya yang dikirim ke Bumi – dan ditempatkan dalam lokasi yang saling berjauhan di Bumi – John memiliki Henry (Timothy Oliphant) yang bertugas sebagai pelindung dan pengasuh dirinya ketika ras Mogadorian melakukan pengejaran terhadap sembilan alien tersebut ke Bumi. Kesembilan alien tersebut masing-masing memiliki nomor pengenal sebagai identitas mereka. Alien pertama berhasil ditemukan dan dibunuh di Malaysia. Alien kedua berhasil ditemukan dan dibunuh di Inggris. Ketika alien ketiga juga berhasil ditemukan dan dibunuh pasukan Mogadorian di Kenya, Daniel, sebagai alien keempat, bersama Henry segera berpindah tempat agar keberadaan mereka tidak diketahui.

Continue reading Review: I Am Number Four (2011)