Tag Archives: Adventure

Review: Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (2014)

Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (Batavia Pictures/Pop Up 3D Production, 2014)
Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (Batavia Pictures/Pop Up 3D Production, 2014)

Dirilis pertama kali untuk konsumsi layar lebar pada tahun 2012, seri Petualangan Singa Pemberani memulai perjalanannya dengan cukup sulit: perpaduan antara tampilan visual yang masih belum siap untuk disajikan di layar yang lebih besar serta jalinan kisah yang cukup dangkal membuat film animasi yang produksinya diprakarsai oleh perusahaan es krim Wall’s tersebut dilirik setengah mata oleh para penikmat film Indonesia. Beruntung, para pembuat seri film ini segera menyadari berbagai kelemahan yang terdapat pada karya perdana mereka dan memberikan peningkatan yang cukup signifikan baik dari sisi visual maupun penceritaan bagi Paddle Pop Begins: Petualangan Singa Pemberani 2 yang dirilis setahun kemudian. Kini Paddle Pop dan teman-temannya kembali lagi dalam sekuel kedua yang berjudul Petualangan Singa Pemberani Dinoterra. Mampukah seri ini mengulang kesuksesan kualitas seri kedua atau malah menandinginya?

Continue reading Review: Petualangan Singa Pemberani Dinoterra (2014)

Advertisements

Review: Divergent (2014)

Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)
Divergent (Summit Entertainment/Red Wagon Entertainment, 2014)

Hollywood’s search for the next great young adult adaptation continues with Divergent. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Veronica Roth, Divergent sekilas terasa seperti sebuah kolaborasi warna penceritaan dari beberapa film hasil adaptasi novel young adult yang sebelumnya telah dirilis: penggambaran mengenai struktur masyarakat yang modern dan sempurna seperti dalam The Host (2013), pengelompokan kondisi masyarakat serta pelatihan dan pengujian fisik seperti yang terdapat dalam The Hunger Games (2012 – 2013), pemilihan kelompok yang dilakukan oleh setiap individu muda seperti dalam dunia Harry Potter (2001 – 2011) hingga kehadiran sosok karakter terpilih layaknya dalam Ender’s Game (2013). Meskipun menawarkan jalinan kisah yang terasa familiar dan tidak lagi baru, Divergent cukup mampu tergarap dengan baik, khususnya dengan pengarahan sutradara Neil Burger (Limitless, 2011) yang mampu menghadirkan penceritaan film ini dengan ritme yang tepat sekaligus mendapatkan dukungan kuat dari penampilan akting para jajaran pengisi departemen aktingnya.

Continue reading Review: Divergent (2014)

Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)
Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)

Dengan naskah yang ditulis oleh Craig Wright berdasarkan karakter-karakter yang diambil dari segmen Peabody’s Improbable History dalam serial televisi animasi yang popular di tahun 1960an, The Rocky and Bullwinkle Show, Mr. Peabody & Sherman berkisah mengenai seekor anjing tercerdas di dunia yang dikenal dengan nama Mr. Peabody (Ty Burrell). Kecerdasan Mr. Peabody bukan hanya membuatnya mampu berbicara dan mengerti bahasa yang digunakan oleh manusia namun juga berhasil menjadikannya seorang pengusaha sukses, jutawan, penemu, ilmuwan, ahloi masak yang handal, penerima penghargaan Nobel sekaligus peraih medali Olimpiade. Quite an achievement huh? Suatu hari, Mr. Peabody menemukan seorang bayi yang ditelantarkan oleh kedua orangtuanya. Setelah melalui proses hukum untuk melakukan adopsi, Mr. Peabody mengasuh bayi tersebut, menamakannya Sherman (Max Charles) serta berusaha keras mendidiknya agar menjadi seorang sosok manusia yang cerdas.

Continue reading Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Review: Free Birds (2013)

Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)
Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)

Thanksgiving Day adalah sebuah hari libur nasional tahunan yang umumnya diperingati oleh warga Amerika Utara tepatnya pada hari Kamis keempat di bulan November. Diperkirakan dimulai pada tahun 1621 sebagai wujud rasa terima kasih warga pendatang yang berasal dari Eropa kepada penduduk pribumi Amerika dengan membagikan hasil panen mereka, Thanksgiving Day biasanya dirayakan setiap keluarga di Amerika dengan menikmati penganan khas perayaan tersebut yaitu kalkun. Well… kebiasaan warga Amerika dalam menikmati penganan kalkun untuk merayakan Thanksgiving Day itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi jalan penceritaan Free Birds. Diarahkan oleh Jimmy Hayward (Jonah Hex, 2010) yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Scott Mosier, Free Birds sayangnya gagal untuk mengembangkan premis ceritanya untuk menjadi sebuah presentasi yang menarik. Medioker – baik dari tampilan visual maupun penggarapan ceritanya.

Continue reading Review: Free Birds (2013)

Review: Pompeii (2014)

Pompeii (FilmDistrict/Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Impact Pictures, 2014)
Pompeii (FilmDistrict/Constantin Film Produktion/Don Carmody Productions/Impact Pictures, 2014)

Berbeda dengan James Cameron yang sepertinya akan selalu berhasil menarik pujian kritikus film dunia untuk setiap film yang ia arahkan, nama Paul W. S. Anderson lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang selalu mengandalkan tampilan efek visual bombastis dalam setiap film-filmnya namun dengan bangunan naskah cerita yang begitu lemah. Well… mencoba mengikuti jejak Cameron melalui Titanic (1997), Anderson hadir dengan film terbarunya, Pompeii, yang turut menyajikan paduan drama romansa yang menghanyutkan dengan latar belakang tragedi berdasarkan sebuah kejadian nyata. Sejujurnya, dari kemampuannya bercerita, Anderson jelas berada jauh dibawah Cameron – dan Pompeii masih membuktikan hal tersebut. Meskipun begitu, Pompeii bukanlah sebuah karya yang benar-benar buruk. Terlepas dari jalan penceritaan yang standar dan jauh dari kesan emosional, Anderson mampu mengemas film ini dengan baik dan menjadikannya sebagai sebuah sajian yang cukup menghibur.

Continue reading Review: Pompeii (2014)

Review: The Legend of Hercules (2014)

The Legend of Hercules (Millennium Films, 2014)
The Legend of Hercules (Millennium Films, 2014)

Merasa tidak familiar dengan nama sutradara Renny Harlin? Cukup wajar. Meskipun pernah menghasilkan film-film peraih sukses komersial besar seperti Die Hard 2 (1990) dan Cliffhanger (1993), nama Harlin secara perlahan mulai tenggelam setelah film Cutthroat Island (1995) yang ia arahkan gagal meraih kesuksesan ketika dirilis di pasaran dan bahkan sempat meraih gelar sebagai film dengan kegagalan komersial terbesar sepanjang masa. Harlin sendiri bukannya berhenti menjadi seorang sutradara setelah kegagalan tersebut. Ia masih aktif mengarahkan banyak film layar lebar seperti Deep Blue Sea (1999), The Covenant (2006) dan 12 Rounds (2009) serta beberapa episode serial televisi popular seperti Burn Notice, White Collar dan Covert Affairs meskipun tak satupun diantara kerja kerasnya tersebut mampu mengkatrol kembali nama besarnya di industri film Hollywood.

Continue reading Review: The Legend of Hercules (2014)

Review: Tarzan (2014)

Tarzan (Constantin Film Produktion/Ambient Entertainment GmbH, 2014)
Tarzan (Constantin Film Produktion/Ambient Entertainment GmbH, 2014)

Setelah terakhir kali dihidupkan oleh Walt Disney Animation Studios pada tahun 1999 dan berhasil meraih kesuksesan kritikal serta komersial – termasuk sebuah Academy Awards di kategori Best Original Song untuk lagu You’ll Be in My Heart yang ditulis dan dinyanyikan Phil Collins, novel Tarzan of the Apes yang ditulis oleh Edgar Rice Burroughs kembali diangkat ke layar lebar oleh sutradara asal Jerman, Reinhard Klooss, dalam bentuk film animasi berjudul Tarzan. Untuk versinya, Klooss bersama dengan dua penulis naskah, Jessica Postigo dan Yoni Brenner, memberikan beberapa sentuhan kisah bernuansa science fiction dalam jalan cerita Tarzan meskipun masih berpegang teguh terhadap garis cerita asli Burroughs yang telah melegenda tersebut. Sebuah pilihan yang beresiko… dan sayangnya kemudian gagal dikembangkan dengan baik oleh Klooss dan membuat Tarzan versinya tampil begitu datar. Dan membosankan.

Continue reading Review: Tarzan (2014)

Review: 47 Ronin (2013)

47-ronin-header

47 Ronin diadaptasi dari sebuah legenda asal Jepang yang berkisah mengenai empat puluh tujuh ronin – sebutan untuk para samurai yang  kehilangan tuannya akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah – yang selama dua tahun menyusun rencana untuk membalaskan kematian tuannya. Kisah tersebut sebenarnya telah memiliki banyak sudut penceritaan yang dapat dikembangkan menjadi sebuah presentasi film aksi yang menarik. Namun, tentu saja, di tangan Hollywood, kisah tersebut kemudian diberikan berbagai konflik tambahan dengan menjadikan seorang aktor Hollywood menjadi bintang utama untuk dapat menjual film tersebut ke pasaran yang lebih luas. Bukan masalah besar sebenarnya jika saja elemen-elemen komersial tersebut mampu diimplementasikan dengan baik ke dalam jalan cerita yang dihadirkan. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada film yang juga menjadi debut penyutradaraan dari Carl Erik Rinsch ini.

Continue reading Review: 47 Ronin (2013)

Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)

The-Hobbit-The-Desolation-of-Smaug-header

So… where are we? Right! Dalam The Hobbit: The Desolation of Smaug, Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan Gandalf (Ian McKellen) bersama dengan sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) melanjutkan perjalanan mereka menuju Lonely Mountain dengan memilih sebuah jalan pintas yakni melalui kawasan hutan Mirkwood. Tepat sebelum mereka memasuki kawasan hutan tersebut, Gandalf menemukan pesan rahasia yang terdapat pada sebuah reruntuhan bangunan tua. Penemuan tersebut membuat Gandalf memilih untuk meninggalkan Bilbo dan kawanannya tanpa memberitahukan alasan kepergiannya. Meskipun begitu, sebelum kepergiannya, Gandalf berpesan pada kelompok tersebut agar tetap mengikuti jalur jalanan yang telah tersedia di kawasan hutan Mirkwood dan menunggu kedatangan dirinya sebelum memasuki Lonely Mountain.

Continue reading Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)

Review: Frozen (2013)

frozen-header

Berbeda dengan Pixar Animation Studios yang belakangan terlihat mengalami sedikit kesulitan dalam menghadapi para kompetitornya – semaniak apapun Anda terhadap rumah produksi film animasi ini, Anda harus mengakui bahwa tak satupun karya mereka semenjak Toy Story 3 (2010) mampu meraih kredibilitas kualitas yang sekuat film-film pendahulunya – Walt Disney Animation Studios justru berhasil bangkit setelah bertahun-tahun dinilai semakin tidak relevan dengan dunia modern. Dimulai dengan Tangled (2010) dan diikuti Wreck-It Ralph (2012), rumah produksi bermaskot Mickey Mouse tersebut secara perlahan meraih kembali masa-masa kejayaan film-film animasi mereka terdahulu. Di tahun 2013, Walt Disney Animation Studios merilis Frozen, yang sekaligus menjadi film animasi ke-53 yang mereka produksi. Layaknya Tangled, Frozen diadaptasi dari sebuah kisah klasik dan disajikan dengan penceritaan musikal yang humoris serta hangat yang tentunya akan mengingatkan para penontonnya pada film-film animasi klasik karya Walt Disney Animation Studios.

Continue reading Review: Frozen (2013)

Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

the-hunger-games-catching-fire-header

Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, dunia dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak mengherankan memang. Selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan  faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

Continue reading Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Review: Ender’s Game (2013)

enders-game-header

The book is better than this movie. Dan pernyataan tersebut berlaku bahkan untuk Anda yang sama sekali tidak menyadari bahwa Ender’s Game diadaptasi dari sebuah novel. Ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Orson Scott Card, Ender’s Game adalah sebuah novel fiksi ilmiah yang menyimpan begitu banyak metafora mengenai kehidupan sosial serta politik manusia meskipun deretan karakter dan konflik yang terjadi di dalamnya membuat novel ini sekilas hanya terlihat sebagai sebuah kisah yang diorientasikan bagi kalangan young adult. Kandungan satir sosial politik yang berbalut kisah fiksi ilmiah inilah yang mampu membuat naskah cerita arahan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, 2009) terasa begitu kuat dalam menantang kemampuan intelektual para penontonnya. Sayangnya, pada kebanyakan bagian, Hood justru seperti terlalu berusaha untuk menjadikan Ender’s Game sebagai sebuah presentasi dengan daya tarik a la film-film blockbuster Hollywood yang (terlalu) luas sehingga membuat film ini justru seperti kehilangan arah sekaligus banyak bagian esensial dalam penceritaannya.

Continue reading Review: Ender’s Game (2013)