Review: The Karate Kid (2010)

Welcome to 1984!

Hollywood minggu ini sepertinya berusaha untuk membawa para penontonnya ke tahun ’80-an. Setelah merilis  The A-Team yang cukup berhasil menghibur, di minggu yang sama Hollywood juga merilis The Karate Kid, sebuah film keluarga yang dirilis pada tahun 1984 dan sempat sukses baik secara kritikal dan komersial. Jika pada film aslinya tokoh pengajar karate diperankan oleh aktor berdarah Jepang, Pat Morita, yang berhasil mendapatkan nominasi Best Actor in a Supporting Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film tersebut, maka dalam versi terbarunya, aktor legendaris asal Hong Kong, Jackie Chan, yang menerima kehormatan untuk memainkan peran tersebut.

Continue reading Review: The Karate Kid (2010)

Advertisements

Review: The A-Team (2010)

Musim panas biasanya dimanfaatkan oleh industri film Hollywood untuk merilis film-film dengan jalur cerita cheesy namun dapat menutupi berbagai kekurangannya tersebut dengan plot action dan komedi yang dibuat dengan cara yang berlebihan untuk mencapai hasil yang menyenangkan. Fakta bahwa hingga pertengahan musim panas tahun ini baru Iron Man 2 yang (hampir) mencapai hal tersebut mungkin dapat menjadi pertanda bahwa musim panas tahun ini tidaklah semenyenangkan musim panas tahun-tahun sebelumnya. And then comes The A-Team.

Continue reading Review: The A-Team (2010)

Review: Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

Setelah memulai debut penyutradaraannya pada film Betina (2006), butuh waktu dua tahun bagi aktris Lola Amaria untuk menyelesaikan film keduanya. Waktu yang relatif lama tersebut terjadi karena alasan klise, masalah dana. Seperti yang diungkapkan Lola dalam sebuah wawancara, tim produksi Minggu Pagi di Victoria Park sepenuhnya mengandalkan kucuran dana dari pihak independen, dan tanpa adanya sponsor. Walau begitu, jika melihat apa yang ia hasilkan di film ini, rasanya tidak akan ada yang keberatan untuk menunggu dua tahun lagi asalkan Lola mampu menghasilkan karya yang lebih baik atau mampu menyamai apa yang diraihnya disini.

Continue reading Review: Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

Review: Sehidup (Tak) Semati (2010)

Sutradara The Tarix Jabrix 2 dan Bukan Malin Kundang, Iqbal Rais, kini kembali lagi dengan sebuah film drama komedi berjudul Sehidup (Tak) Semati. Selain dibintangi oleh aktris yang semakin naik daun namanya semenjak membintangi Hari Untuk Amanda, Fanny Fabriana, film ini juga dihiasi dengan banyak wajah familiar lainnya seperti Winky Wiryawan, Joanna Alexandra, Astri Nurdin hingga komedian seperti Bolot,  Henky Solaiman, Rina dan Faqih Ngatemin.

Continue reading Review: Sehidup (Tak) Semati (2010)

Review: Sex and the City 2 (2010)

Enam tahun seusai masa penayangannya di televisi berakhir dan dua tahun seusai film pertama dari serial tersebut dirilis, dan meraih kesuksesan komersial luar biasa, empat wanita stylish asal New York kembali hadir mengunjungi para penggemarnya. Dan bukan main-main, Sex and City 2 dibuat dengan biaya produksi sebesar US$95 juta, yang berarti US$30 juta lebih besar dari film pertamanya, untuk membuat sebuah sekuel yang lebih besar, lebih mewah dan… lebih panjang durasi penayangannya.

Continue reading Review: Sex and the City 2 (2010)

Review: Celine: Through the Eyes of the World (2010)

Kesuksesan yang dicapai oleh film dokumenter Michael Jackson, This Is It, tak pelak  memberikan sebuah ide baru bagi beberapa rumah produksi untuk mendapatkan keuntungan dari para penggemar musik di seluruh dunia. Sony Pictures Entertainment, perusahaan yang merilis This Is It, kemudian membuka The Hot Ticket, sebuah divisi khusus untuk perilisan film-film dokumenter yang membahas mengenai seorang penyanyi dengan rangkaian konser musik yang dijalaninya. Sebagai film yang dirilis pertama, Sony memilih salah satu diva musik paling populer di dunia, Celine Dion, memfilmkan rangkaian tur dunianya yang bertajuk Taking Chances Tour, dan mengemasnya menjadi Celine: Through The Eyes of the World.

Continue reading Review: Celine: Through the Eyes of the World (2010)

Review: The Human Centipede (First Sequence) (2010)

The Human Centipede (First Sequence) mungkin adalah salah satu film horror yang paling banyak dibicarakan di internet saat ini. Bukan apa-apa, tema yang dibawakan film ini sendiri mungkin adalah sebuah tema yang pertama kali dibawa ke layar lebar. Dengan ide yang absurd namun tak serta merta meninggalkan kadar sadisme yang luar biasa, menjadikan The Human Sequence (First Sequence) sebagai salah satu film horror yang paling ditunggu oleh para penggemar genre tersebut saat ini.

Continue reading Review: The Human Centipede (First Sequence) (2010)

Review: Bandslam (2009)

Hanya karena Bandslam dibintangi oleh Vanessa Hudgens dan Aly Michalka — yang keduanya adalah bintang-bintang muda lulusan Disney Channel — bukan berarti film ini memiliki kualitas yang dapat disamakan dengan film-film remaja rilisan Disney seperti High School Musical. Memang, tema-tema umum yang biasa ditemukan di film-film remaja seperti sekolah, persahabatan, musik, band dan, tentu saja, cinta, memang masih menjadi dominasi utama film ini. Namun dengan pengolahan yang tepat, formula standar itu menjadi dapat begitu dinikmati di film ini.

Continue reading Review: Bandslam (2009)

Review: The Back-Up Plan (2010)

Selepas kesuksesan komersial Monster-in-Law pada tahun 2005, aktris Jennifer Lopez secara perlahan sepertinya ingin beralih kepada film-film dengan tema sosial dan lebih dari sekedar sebuah komedi romantis yang biasa ia perankan. Berturut-turut, datanglah An Unfinished Life (2005), Bordertown (2007) dan El Cantante (2007), yang sialnya, selain gagal secara komersil, juga tidak mendapat sambutan begitu baik dari para kritikus film dunia.

Continue reading Review: The Back-Up Plan (2010)

Review: Ratu Kostmopolitan (2010)

Dalam promosinya, jajaran pemeran Ratu Kostmopolitan mengungkapkan bahwa membuat film ini adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Hal ini tidak lain disebabkan karena mereka merasa bahwa naskah cerita dari Ratu Kostmopolitan menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film lainnya. Selain membahas mengenai kehidupan para anak perantauan bertahan di kota besar seperti Jakarta, film ini diceritakan juga dijanjikan untuk menghadirkan nuansa komedi yang dipadupadankan dengan aksi laga, drama dan disempali dengan saratnya pesan-pesan sosial. Tentu saja, menyenangkan bagi jajaran pemerannya bukan berarti bahwa film ini akan sebegitu menyenangkannya bagi penonton.

Continue reading Review: Ratu Kostmopolitan (2010)

Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Ketika Walt Disney Pictures pertama kali mengumumkan rencananya bekerjasama dengan Jerry Bruckheimer untuk mengubah salah satu theme park di Disneyland menjadi sebuah film, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa Pirates of the Caribbean akan menjadi sebuah film yang selain menyenangkan untuk dilihat, juga memberikan keuntungan luar biasa bagi rumah produksi tersebut. Sekarang, Disney dan Bruckheimer kembali bekerjasama untuk memberikan sebuah petualangan baru bagi para penontonnya. Kali ini, bukan untuk menggubah sebuah theme park, melainkan sebuah permainan video game populer, Prince of Persia.

Continue reading Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Review: Repo! The Genetic Opera (2008)

Layaknya sebuah penampilan opera, Repo! The Genetic Opera berusaha memaparkan jalan ceritanya yang bernuansa horror lewat serangkaian lagu-lagu bernuansa rock yang ditampilkan oleh sutradara Darren Lynn Bousman di sepanjang film ini. Bagi penggemar film-film horror tentu telah mengenal nama Bousman yang sebelumnya pernah menyutradarai film Saw II, Saw III dan Saw IV.

Continue reading Review: Repo! The Genetic Opera (2008)

Review: The Descent Part 2 (2009)

Ketika pertama kali dirilis pada tahun 2005, banyak penggemar film dunia yang tidak berharap banyak pada kehadiran The Descent. Wajar saja, seperti halnya tema vampire pada beberapa tahun belakangan, tema zombie dan makhluk-makhluk aneh lainnya memang sedang banyak ditampilkan oleh banyak sineas film horror dunia pada waktu itu.

Continue reading Review: The Descent Part 2 (2009)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar