Review: Shanghai (2010)

Aktor John Cusack untuk kedua kalinya bekerjasama dengan sutradara asal Swedia, Mikael Håfström, setelah sebelumnya sukses dalam memproduksi film thriller supranatural, 1408 (2007). Berdasarkan naskah yang ditulis oleh Hossein Amini (Jude (1996), The Four Feathers (2002)), Shanghai memiliki latar belakang lokasi di Shanghai, China pada beberapa bulan sebelum pasukan Jepang melakukan pemboman terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor.

Continue reading Review: Shanghai (2010)

Advertisements

Review: After.Life (2010)

Menyaksikan After.Life, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan dari sutradara Agnieszka Wojtowicz-Vosloo, akan memberikan dua pemikiran yang berbeda bagi penontonnya. Beberapa orang akan memandang kagum atas kemampuan Wojtowicz-Vosloo dalam mengarahkan dua bintangnya, Liam Neeson dan Christina Ricci, untuk bermain sangat bagus dan menciptakan sebuah film horror yang memiliki atmosfer gelap dan cukup mencekam. Sementara itu, sebagian lagi akan meragukan kualitas film ini dan meletakkannya sebagai sebuah film yang terlalu absurd untuk diterima akal sehat.

Continue reading Review: After.Life (2010)

Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Sukses besar dengan franchise National Treasure ternyata membuat Walt Disney Pictures kembali membentuk kerjasama dengan produser Jerry Bruckheimer dan sutradara Jon Turteltaub. Tak lupa turut membawa juga aktor Nicolas Cage untuk duduk di kursi pemeran utama, Walt Disney akhirnya memilih The Sorcerer’s Apprentice, yang merupakan sebuah adaptasi bebas dari salah satu segmen di film animasi buatan mereka, Fantasia (1940), untuk dapat dikembangkan sebagai sebuah franchise film baru di masa yang akan datang.

Continue reading Review: The Sorcerer’s Apprentice (2010)

Review: Death at a Funeral (2010)

Bagi mereka penggemar film-film komedi yang berasal dari negeri Britania Raya tentu mengenal judul Death at at Funeral yang sempat dirilis dan sukses pada tahun 2007 lalu. Film tersebut berhasil merebut banyak perhatian para penikmat film dunia sekaligus para kritikus film yang kemudian juga membuahkan beberapa penghargaan bagi sutradaranya, Frank Oz. Tidak butuh waktu lama bagi Hollywood untuk kemudian melihat peluang emas dalam merilis film ini kembali dalam sebuah bentuk yang lebih sesuai untuk dipasarkan di daerah mereka.

Continue reading Review: Death at a Funeral (2010)

Review: Pengantin Topeng (2010)

Sutradara Awi Suryadi minggu ini memberikan sebuah terobosan yang cukup unik dalam merilis filmnya di Indonesia. Tidak cukup hanya dengan merilis satu film, Awi merilis sekaligus dua film langsung ke pasaran. Tidak hanya itu, dua filmnya tersebut, I Know What You Did On Facebook yang berasal dari genre drama dan Pengantin Topeng yang ber-genre horror, bahkan dirilis pada hari yang sama oleh dua distributor film yang berbeda.  Yang disayangkan, tak satupun di antara kedua film tersebut sepertinya akan mampu memberikan kredibilitas baik bagi sang sutradara, setidaknya kredibilitas yang sama ketika ia pernah merilis Claudia/Jasmine (2008).

Continue reading Review: Pengantin Topeng (2010)

Review: Inception (2010)

Setelah Memento dan The Dark Knight, sutradara Christopher Nolan kembali datang untuk menantang setiap penonton filmnya untuk dapat menggunakan sedikit pemikiran mereka dalam mengikuti salah satu film yang paling ditunggu untuk tahun ini, Inception. Merilisnya di saat musim panas, masa di mana Hollywood biasanya cenderung untuk merilis film-film popcorn yang hadir hanya sebatas hiburan belaka, tentu akan menjadi resiko tersendiri yang harus dihadapi Nolan. Namun, apakah Inception benar-benar sekompleks yang dibayangkan oleh setiap penontonnya?

Continue reading Review: Inception (2010)

Review: I Know What You Did On Facebook (2010)

Nama Awi Suryadi sebagai seorang sutradara sempat memperoleh ulasan hangat di beberapa media setelah filmnya Claudia/Jasmine (2008) berhasil mendapatkan pengakuan kualitas dari banyak penonton film Indonesia. Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak bertahan lama setelah Awi justru memilih untuk menyutradarai sejumlah film ‘dangkal’ seperti Cintaku Selamanya (2008) dan Selendang Rocker (2009), yang selain gagal mendapatkan pujian secara kualitas, juga ternyata tidak begitu berhasil pada peredaran komersialnya. Kini, dengan membawa tema hubungan di dunia maya yang sedang banyak menjadi banyak perbincangan, Awi kembali merilis sebuah film drama berjudul I Know What You Did On Facebook.

Continue reading Review: I Know What You Did On Facebook (2010)

Review: When In Rome (2010)

Pertanyaan: Apakah membuat sebuah film romantic comedy yang benar-benar lucu namun tetap romantis adalah sebuah hal yang sangat sulit dilakukan di zaman kemajuan internet seperti saat ini? Mungkin saja. Namun yang jelas, Hollywood sepertinya semakin kesulitan untuk menghasilkan film-film romantic comedy berkelas yang mampu menyaingi kualitas While You Were Sleeping (1995), When Harry Met Sally… (1989) atau mungkin Notting Hill (1999).

Continue reading Review: When In Rome (2010)

Review: Kites (2010)

Masyarakat India sepertinya sangat beruntung bahwa film telah menjadi salah satu kultur kebudayaan khas mereka. Orang-orang yang berada di industri film India sepertinya sangat berhasrat untuk menembus berbagai batasan negara dan budaya dengan tujuan untuk membawa dan memperkenalkan hasil karya mereka. Tidak mengherankan memang jika Bollywood, sebutan untuk industri film India, saat ini menjadi industri penghasil film terbesar di dunia.

Continue reading Review: Kites (2010)

Review: Hot Tub Time Machine (2010)

Jika film-film Hollywood adalah perwujudan dari seluruh mimpi dan angan manusia yang masih belum dapat tercapai hingga saat ini, maka menemukan dan menggunakan sebuah mesin waktu  mungkin adalah salah satu obsesi manusia terbesar berdasarkan banyaknya film yang bertemakan mesin maupun perjalanan waktu. Namun, tahun ini penonton akan diberikan sebuah alternatif baru dalam menikmati perjalanan waktu mereka: melalui Hot Tub Time Machine.

Continue reading Review: Hot Tub Time Machine (2010)

Review: Despicable Me (2010)

Universal Pictures, melalui Illumination Entertainment, akhirnya ikut serta dalam persaingan untuk perilisan film-film animasi Hollywood. Sedikit tertinggal dari rumah-rumah produksi lainnya, namun melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari para pesaingnya.

Continue reading Review: Despicable Me (2010)

Review: Istri Bo’ongan (2010)

Apa yang dapat para penonton harapkan dari sebuah film yang berjudul Istri Bo’ongan, dengan poster yang jelas-jelas mengedepankan kadar seksualitasnya, diarahkan sutradara yang pernah menyutradarai film-film berjudul Tali Pocong Perawan (2008)dan Perjaka Terakhir (2009) serta dibintangi oleh seorang aktris bernama Julia Perez? Adalah sangat mudah untuk menebak kemana film ini akan diarahkan. Namun dengan adanya nama Dwi Sasono dan Fahrani – yang mungkin masih dapat dianggap sebagai aktor dan aktris berkelas — apakah Istri Bo’ongan masih benar-benar seburuk dugaan banyak orang?

Continue reading Review: Istri Bo’ongan (2010)

Review: Greenberg (2010)

Dalam beberapa kesempatan, para aktor yang telah terlebih dahulu memiliki kredibilitas dalam membintangi film-film bertema komedi, akan menyempatkan diri untuk berakting di film drama dan membuktikan bahwa para aktor komedi juga memiliki kemampuan akting drama yang sama dengan para aktor drama. Beberapa diantara mereka gagal melakukannya, namun nama-nama seperti Adam Sandler (Punch-Drunk Love), Jim Carrey (Eternal Sunshine of the Spotless Mind), Will Ferrell (Stranger than Fiction), Eddie Murphy (Dreamgirls) dan beberapa nama lain berhasil melakukannya.

Continue reading Review: Greenberg (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar