Review: The Human Centipede (First Sequence) (2010)

The Human Centipede (First Sequence) mungkin adalah salah satu film horror yang paling banyak dibicarakan di internet saat ini. Bukan apa-apa, tema yang dibawakan film ini sendiri mungkin adalah sebuah tema yang pertama kali dibawa ke layar lebar. Dengan ide yang absurd namun tak serta merta meninggalkan kadar sadisme yang luar biasa, menjadikan The Human Sequence (First Sequence) sebagai salah satu film horror yang paling ditunggu oleh para penggemar genre tersebut saat ini.

Continue reading Review: The Human Centipede (First Sequence) (2010)

Advertisements

Review: Bandslam (2009)

Hanya karena Bandslam dibintangi oleh Vanessa Hudgens dan Aly Michalka — yang keduanya adalah bintang-bintang muda lulusan Disney Channel — bukan berarti film ini memiliki kualitas yang dapat disamakan dengan film-film remaja rilisan Disney seperti High School Musical. Memang, tema-tema umum yang biasa ditemukan di film-film remaja seperti sekolah, persahabatan, musik, band dan, tentu saja, cinta, memang masih menjadi dominasi utama film ini. Namun dengan pengolahan yang tepat, formula standar itu menjadi dapat begitu dinikmati di film ini.

Continue reading Review: Bandslam (2009)

Review: The Back-Up Plan (2010)

Selepas kesuksesan komersial Monster-in-Law pada tahun 2005, aktris Jennifer Lopez secara perlahan sepertinya ingin beralih kepada film-film dengan tema sosial dan lebih dari sekedar sebuah komedi romantis yang biasa ia perankan. Berturut-turut, datanglah An Unfinished Life (2005), Bordertown (2007) dan El Cantante (2007), yang sialnya, selain gagal secara komersil, juga tidak mendapat sambutan begitu baik dari para kritikus film dunia.

Continue reading Review: The Back-Up Plan (2010)

Review: Ratu Kostmopolitan (2010)

Dalam promosinya, jajaran pemeran Ratu Kostmopolitan mengungkapkan bahwa membuat film ini adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Hal ini tidak lain disebabkan karena mereka merasa bahwa naskah cerita dari Ratu Kostmopolitan menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film lainnya. Selain membahas mengenai kehidupan para anak perantauan bertahan di kota besar seperti Jakarta, film ini diceritakan juga dijanjikan untuk menghadirkan nuansa komedi yang dipadupadankan dengan aksi laga, drama dan disempali dengan saratnya pesan-pesan sosial. Tentu saja, menyenangkan bagi jajaran pemerannya bukan berarti bahwa film ini akan sebegitu menyenangkannya bagi penonton.

Continue reading Review: Ratu Kostmopolitan (2010)

Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Ketika Walt Disney Pictures pertama kali mengumumkan rencananya bekerjasama dengan Jerry Bruckheimer untuk mengubah salah satu theme park di Disneyland menjadi sebuah film, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa Pirates of the Caribbean akan menjadi sebuah film yang selain menyenangkan untuk dilihat, juga memberikan keuntungan luar biasa bagi rumah produksi tersebut. Sekarang, Disney dan Bruckheimer kembali bekerjasama untuk memberikan sebuah petualangan baru bagi para penontonnya. Kali ini, bukan untuk menggubah sebuah theme park, melainkan sebuah permainan video game populer, Prince of Persia.

Continue reading Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Review: Repo! The Genetic Opera (2008)

Layaknya sebuah penampilan opera, Repo! The Genetic Opera berusaha memaparkan jalan ceritanya yang bernuansa horror lewat serangkaian lagu-lagu bernuansa rock yang ditampilkan oleh sutradara Darren Lynn Bousman di sepanjang film ini. Bagi penggemar film-film horror tentu telah mengenal nama Bousman yang sebelumnya pernah menyutradarai film Saw II, Saw III dan Saw IV.

Continue reading Review: Repo! The Genetic Opera (2008)

Review: The Descent Part 2 (2009)

Ketika pertama kali dirilis pada tahun 2005, banyak penggemar film dunia yang tidak berharap banyak pada kehadiran The Descent. Wajar saja, seperti halnya tema vampire pada beberapa tahun belakangan, tema zombie dan makhluk-makhluk aneh lainnya memang sedang banyak ditampilkan oleh banyak sineas film horror dunia pada waktu itu.

Continue reading Review: The Descent Part 2 (2009)

Review: Shrek: The Final Chapter (2010)

Semenjak petualangannya dimulai sembilan tahun lalu, para penggemar animasi telah melihat Shrek tumbuh menjadi seorang yang berbeda. Pada awalnya sebagai seorang monster yang menakutkan semua orang, Shrek kemudian berubah menjadi seorang monster yang telah menjadi favorit semua orang setelah ia menyelamatkan Puteri Fiona. Namun, tetap saja, di dalam diri Shrek sebenarnya, ia merindukan kebebasan dan keliaran dari seorang monster sejati seperti yang pernah ia dapat dulu sebelum bertemu Fiona.

Continue reading Review: Shrek: The Final Chapter (2010)

Review: A Nightmare on Elm Street (2010)

Freddy Krueger is back! Setelah terakhir kali difilmkan oleh sutradara Ronny Yu lewat Freddy vs. Jason pada tahun 2003, kini Michael Bay dengan perusahaan produksinya, Platinum Dunes, kembali memfilmkan salah seorang karakter horror paling populer di Hollywood ini dengan maksud melakukan reboot terhadap franchise A Nightmare on Elm Street yang pertama kali dirilis pada tahun 1984 dengan Wes Craven sebvagai sutradaranya.

Continue reading Review: A Nightmare on Elm Street (2010)

Review: Brothers (2009)

Brothers adalah sebuah film drama bertema perang yang disutradarai oleh Jim Sheridan, yang mungkin sebelumnya banyak dikenal atas karya-karyanya seperti My Left Foot dan In America. Brothers sendiri merupakan versi remake dari film drama Denmark yang berjudul sama (Brødre), yang disutradarai oleh Susanne Bier dan meraih banyak pujian dari kritikus film dunia ketika dirilis pada tahun 2004 yang lalu.

Continue reading Review: Brothers (2009)

Review: Me and Orson Welles (2009)

Sama seperti halnya dengan Robert Pattinson, yang berusaha kuat untuk melepaskan image bintang tampan yang dicintai oleh banyak penggemar wanita karena penampilannya dalam seri Twilight, Zac Efron juga mengalami hal yang sama pasca penampilannya dalam seri High School Musical. Tentu saja, mereka tidak memerlukan penampilan yang akan menambah jumlah penggemar berat mereka. Mereka lebih ingin mendapatkan pengakuan dari para kritikus film dunia bahwa mereka memiliki bakat akting, daripada sekedar berwajah tampan, yang layak untuk diakui keberadaannya.

Continue reading Review: Me and Orson Welles (2009)

Review: Baby Mama (2008)

Setelah sekian lama bekerjasama dalam Saturday Night Live, aktris Tina Fey dan Amy Poehler akhirnya memiliki kesempatan untuk bermain bersama dalam sebuah film layar lebar. Memang, ini bukanlah film pertama yang menampilkan mereka berdua. Poehler pernah tampil sebagai cameo dalam Mean Girls, yang ditulis dan dibintangi oleh Fey. Baby Mama adalah film pertama dimana keduanya berada di posisi sebagai bintang utama.

Continue reading Review: Baby Mama (2008)

Review: Kick-Ass (2010)

How come nobody’s ever tried to be a superhero? Begitulah pemikiran yang berada di kepala Dave Lizewski (Aaron Johnson) sebelum ia akhirnya memilih untuk mengenakan sebuah kostum dan merubah dirinya menjadi seorang pahlawan super dengan nama Kick-Ass, walaupun ia sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Seorang penggemar komik sejati, Dave merasa penasaran mengapa dari sekian banyak penggemar kisah-kisah bertema pahlawan super di dunia, tidak ada satupun yang ingin mencoba menjadi salah satu diantara pahlawan super tersebut dan melakukan perbuatan terpuji dengan membantu umat manusia.

Continue reading Review: Kick-Ass (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar