Review: I Know What You Did On Facebook (2010)

Nama Awi Suryadi sebagai seorang sutradara sempat memperoleh ulasan hangat di beberapa media setelah filmnya Claudia/Jasmine (2008) berhasil mendapatkan pengakuan kualitas dari banyak penonton film Indonesia. Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak bertahan lama setelah Awi justru memilih untuk menyutradarai sejumlah film ‘dangkal’ seperti Cintaku Selamanya (2008) dan Selendang Rocker (2009), yang selain gagal mendapatkan pujian secara kualitas, juga ternyata tidak begitu berhasil pada peredaran komersialnya. Kini, dengan membawa tema hubungan di dunia maya yang sedang banyak menjadi banyak perbincangan, Awi kembali merilis sebuah film drama berjudul I Know What You Did On Facebook.

Continue reading Review: I Know What You Did On Facebook (2010)

Advertisements

Review: When In Rome (2010)

Pertanyaan: Apakah membuat sebuah film romantic comedy yang benar-benar lucu namun tetap romantis adalah sebuah hal yang sangat sulit dilakukan di zaman kemajuan internet seperti saat ini? Mungkin saja. Namun yang jelas, Hollywood sepertinya semakin kesulitan untuk menghasilkan film-film romantic comedy berkelas yang mampu menyaingi kualitas While You Were Sleeping (1995), When Harry Met Sally… (1989) atau mungkin Notting Hill (1999).

Continue reading Review: When In Rome (2010)

Review: Kites (2010)

Masyarakat India sepertinya sangat beruntung bahwa film telah menjadi salah satu kultur kebudayaan khas mereka. Orang-orang yang berada di industri film India sepertinya sangat berhasrat untuk menembus berbagai batasan negara dan budaya dengan tujuan untuk membawa dan memperkenalkan hasil karya mereka. Tidak mengherankan memang jika Bollywood, sebutan untuk industri film India, saat ini menjadi industri penghasil film terbesar di dunia.

Continue reading Review: Kites (2010)

Review: Hot Tub Time Machine (2010)

Jika film-film Hollywood adalah perwujudan dari seluruh mimpi dan angan manusia yang masih belum dapat tercapai hingga saat ini, maka menemukan dan menggunakan sebuah mesin waktu  mungkin adalah salah satu obsesi manusia terbesar berdasarkan banyaknya film yang bertemakan mesin maupun perjalanan waktu. Namun, tahun ini penonton akan diberikan sebuah alternatif baru dalam menikmati perjalanan waktu mereka: melalui Hot Tub Time Machine.

Continue reading Review: Hot Tub Time Machine (2010)

Review: Despicable Me (2010)

Universal Pictures, melalui Illumination Entertainment, akhirnya ikut serta dalam persaingan untuk perilisan film-film animasi Hollywood. Sedikit tertinggal dari rumah-rumah produksi lainnya, namun melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari para pesaingnya.

Continue reading Review: Despicable Me (2010)

Review: Istri Bo’ongan (2010)

Apa yang dapat para penonton harapkan dari sebuah film yang berjudul Istri Bo’ongan, dengan poster yang jelas-jelas mengedepankan kadar seksualitasnya, diarahkan sutradara yang pernah menyutradarai film-film berjudul Tali Pocong Perawan (2008)dan Perjaka Terakhir (2009) serta dibintangi oleh seorang aktris bernama Julia Perez? Adalah sangat mudah untuk menebak kemana film ini akan diarahkan. Namun dengan adanya nama Dwi Sasono dan Fahrani – yang mungkin masih dapat dianggap sebagai aktor dan aktris berkelas — apakah Istri Bo’ongan masih benar-benar seburuk dugaan banyak orang?

Continue reading Review: Istri Bo’ongan (2010)

Review: Greenberg (2010)

Dalam beberapa kesempatan, para aktor yang telah terlebih dahulu memiliki kredibilitas dalam membintangi film-film bertema komedi, akan menyempatkan diri untuk berakting di film drama dan membuktikan bahwa para aktor komedi juga memiliki kemampuan akting drama yang sama dengan para aktor drama. Beberapa diantara mereka gagal melakukannya, namun nama-nama seperti Adam Sandler (Punch-Drunk Love), Jim Carrey (Eternal Sunshine of the Spotless Mind), Will Ferrell (Stranger than Fiction), Eddie Murphy (Dreamgirls) dan beberapa nama lain berhasil melakukannya.

Continue reading Review: Greenberg (2010)

Review: Obama Anak Menteng (2010)

Sebenarnya, keputusan Multivision Plus Pictures untuk memilih memfilmkan empat tahun masa kecil yang dihabiskan oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama, di Indonesia, bukanlah sebuah masalah besar. Bahkan jika mereka memilih untuk memfilmkan masa kecil tokoh-tokoh dunia lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan Indonesia, tetap bukanlah sebuah masalah besar. Yang menjadi masalah pada film ini adalah cara produsen film ini memperlakukan penonton yang menjadi pangsa pasar mereka dengan sangat tidak adil.

Continue reading Review: Obama Anak Menteng (2010)

Review: 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)

Setelah Cin(T)a yang dirilis secara terbatas pada tahun lalu, tema pluralisme dan hubungan percintaan antara dua insan yang memiliki latar belakang kepercayaan agama yang berbeda kini kembali diangkat ke layar lebar. Berbeda dengan Cin(T)a, yang membawakan jalan ceritanya dengan banyak dialog filosofis penuh makna, 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta mencoba menjajal tema yang ingin diceritakan dengan jalan penyampaian yang lebih ringan.

Continue reading Review: 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)

Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Well… Anda harus mengakui bahwa di tangan seorang David Slade (Hard Candy, 30 Days of Night) rilisan ketiga dari seri The Twilight Saga ini memang berhasil melampaui kualitas dua seri pendahulunya. The Twilight Saga: Eclipse memang masih saja berputar di sekitar kisah cinta segitiga antara Bella Swan, Edward Cullen dan Jacob Black. Namun dengan sentuhan Slade, seri ini  mampu terasa lebih hidup dengan menambahkan beberapa adegan keras, bertema seksual serta kisah yang berasal dari sudut pandang beberapa karakter lain.

Continue reading Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Review: Splice (2010)

Meet Dren! Sebuah hasil karya paling mutakhir manusia yang didapatkan dari hasil perpaduan beberapa sel genetik hewan dengan sel genetik manusia. Kontroversial? Melanggar kodrat manusia? Memang. Dua ilmuwan muda yang melakukan percobaan ini sendiri, Clive Nicoli (Adrien Brody) dan Elsa Kast (Sarah Polley),  juga menghadapi banyak tentangan ketika mereka mengajukan ide penggunaan sel genetik manusia. Namun, atas dasar keinginan memperbaiki sel-sel buruk tubuh yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, Clive dan Elsa secara sembunyi-sembunyi melakukan percobaan mereka.

Continue reading Review: Splice (2010)

Review: Still (2010)

Kesuksesan fenomenal 4bia, sebuah film  horror Thailand yang memadukan empat cerita berbeda dalam sebuah film, dan kemudian dilanjutkan dengan sekuelnya, yang juga mencapai sukses besar, Phobia 2, sepertinya telah membuat sebagian produser film horror Thailand lainnya tergiur untuk mengeruk keuntungan berdasarkan konsep yang sama. Still (Tai Hong) adalah salah satu film horror yang  kemudian mengikuti konsep penggunaan antologi cerita di dalam filmnya.

Continue reading Review: Still (2010)

Review: Vertige (2009)

Sama sekali tidak ada yang baru di Vertige, sebuah film horror arahan sutradara asal Perancis, Abel Ferry. Ketika menyaksikan sekelompok anak muda sedang bersemangat untuk menjelajah suatu wilayah yang seharusnya tidak mereka masuki, para penonton pastinya akan langsung terbayang berbagai adegan di film The Hills Have Eyes, The Descent maupun Wrong Turn, sekaligus mulai menebak siapa diantara karakter tersebut yang akan bertahan di akhir cerita.

Continue reading Review: Vertige (2009)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar