Review: Resident Evil: Afterlife (2010)

Walau terus menerus mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia, dengan perolehan keuntungan yang telah berhasil mencapai US$525 juta dari peredaran ketiga seri film Resident Evil sebelumnya, tidaklah mengherankan begitu mendengar berita bahwa sutradara Paul W. S. Anderson kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan seri keempat franchise tersebut. Memanfaatkan teknologi 3D yang saat ini sedang digandrungi Hollywood, Resident Evil: Afterlife pun akhirnya diproduksi dengan bujet sebesar US$60 juta – yang merupakan biaya produksi tertinggi jika dibandingkan seri lainnya di franchise ini.

Continue reading Review: Resident Evil: Afterlife (2010)

Advertisements

Review: Aftershock (2010)

Berdasarkan kisah tragedi gempa Bumi yang terjadi di Tangshan, China pada tahun 1976 – gempa yang disebut-sebut sebagai gempa terbesar yang pernah terjadi sepanjang abad ke-20 karena membunuh 240.000 orang – sutradara, Feng Xiaogang (The Banquet, 2006), mengarahkan Aftershock. Awalnya dirilis pada bulan Juli 2010, film yang menjadi film berteknologi IMAX pertama yang dibuat di luar Amerika Serikat ini berhasil menggeser posisi film The Founding of a Republic (2009) sebagai film nasional terlaris sepanjang masa di negara China pada awal Agustus 2010.

Continue reading Review: Aftershock (2010)

Review: Piranha (2010)

Publik Amerika Serikat mulai mengenal nama sutradara asal Perancis, Alexandre Aja, setelah sutradara, Wes Craven, mengajaknya untuk mengarahkan versi remake dari film horror The Hills Have Eyes pada tahun 2006. Ajakan ini sendiri datang setelah Craven melihat hasil karya Aja, Haute Tension (2003), yang sekaligus menempatkannya pada daftar Ten Directors To Watch di majalah film, Variety, pada tahun 2004. Walau The Hills Have Eyes mendapatkan sambutan yang beragam dari para kritikus film dunia, film tersebut terbukti sukses dalam memperoleh keuntungan komersial.

Continue reading Review: Piranha (2010)

Review: Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010)

Maxima Pictures. Ody Mulya Hidayat. Findo Purnomo HW. Dewi Perssik. Paku Kuntilanak? Syukurnya tidak, walaupun kali ini mereka juga membawa film yang tidak lebih baik daripada film horror yang sempat mengundang banyak kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia tersebut. Menjauh dari nuansa horror, mendekat dengan wilayah komedi dengan melakukan pengurangan adegan yang berbau sensualitas, produser Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat, kembali menunjuk sutradara Findo Purnomo HW (Buruan Cium Gue (2004), Paku Kuntilanak (2009), Menculik Miyabi (2010)) untuk menyutradarai sebuah film komedi bertajuk Lihat Boleh, Pegang Jangan. Dibintangi oleh Dewi Perssik, tak seorangpun seharusnya mengharapkan apa-apa dari film ini. Tidak juga unsur hiburan.

Continue reading Review: Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010)

Review: Merah Putih II: Darah Garuda (2010)

Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2009, Merah Putih, yang merupakan bagian pertama dari  Trilogi Merdeka, trilogi fiksi kisah perjuangan rakyat Indonesia dalam usahanya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, mendapatkan sambutan yang beragam dari para penonton Indonesia. Namun, secara keseluruhan, banyak penonton yang merasa bahwa Merah Putih terlalu banyak memfokuskan diri pada drama dengan dialog yang terdengar sedikit ‘terlalu resmi’ serta terlalu sedikit memberikan sajian action seperti yang sering dijanjikan para produser film ini ketika masa promosinya.

Continue reading Review: Merah Putih II: Darah Garuda (2010)

Review: Sang Pencerah (2010)

Berbeda dengan banyak rumah produksi di Hollywood, yang sepertinya selalu dapat mengandalkan karya yang berisi kisah biopik untuk dapat meraup banyak penghargaan dari berbagai ajang festival, sineas Indonesia sepertinya masih merasa bahwa biopik adalah sebuah genre film yang selain susah untuk direalisasikan, juga salah satu genre yang sulit untuk dipasarkan. Tercatat semenjak era kebangkitan kembali film Indonesia di awal tahun 2000, hanya ada dua film yang berasal dari genre ini, Marsinah (Cry Justice) (2001) karya aktor sekaligus sutradara Slamet Rahardjo serta Gie (2005) yang disutradarai oleh Riri Riza.

Continue reading Review: Sang Pencerah (2010)

Review: Dawai 2 Asmara (2010)

Terakhir kali membintangi Tabir Biru yang dirilis pada tahun 1994, aktor sekaligus penyanyi dangdut Rhoma Irama kini kembali lagi ke layar lebar untuk membintangi Dawai 2 Asmara. Selain menandai kembalinya Rhoma setelah lebih satu dekade absen di layar lebar, film ini juga menjadi debut akting bagi putranya, Ridho Rhoma, yang juga sedang menanjak namanya di blantika musik Indonesia semenjak merilis album dangdut bersama band-nya, Sonet2, pada tahun lalu.

Continue reading Review: Dawai 2 Asmara (2010)

Review: Centurion (2010)

Tentu saja, lewat Gladiator (2000) dan 300 (2007), banyak orang telah mengenal prajurit Romawi sebagai sekumpulan serdadu yang tangguh ketika mereka sedang berada di medan peperangan. Jadi apa yang coba diberikan oleh Centurion, sebuah film bertema sama yang disutradarai oleh sutradara asal Inggris, Neil Marshall? Bayangkan apa yang terjadi jika seorang sutradara menyatukan The Descent (2005) dengan Gladiator, maka Centurion adalah hasil yang akan Anda dapatkan. Well… kurang lebih seperti itu.

Continue reading Review: Centurion (2010)

Review: We Are Family (2010)

Anda harus mengakui bahwa para sineas India memiliki kelebihan tertentu dalam menghasilkan film-film dengan tingkat sentimental yang sangat tinggi. Sama halnya seperti yang terjadi di industri film Indonesia, para penikmat film Hindie seringkali menyaksikan film-film yang serasa bagaikan sebuah film yang meniru sebuah plot atau jalan cerita yang dari sebuah film yang telah dirilis sebelumnya. Perbedaannya, sineas India seringkali berhasil meletakkan unsur sentimental tersebut dengan sangat baik sehingga film-film yang mereka hasilkan dapat menjadi lebih emosional dari film aslinya.

Continue reading Review: We Are Family (2010)

Review: The Switch (2010)

Jennifer Aniston dan film komedi romantis sepertinya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Walau begitu, pemilihan cerita yang monoton – dan sepertinya seringkali merefleksikan kehidupan nyata Aniston yang sering digambarkan di banyak tabloid gosip – membuat pilihan film Aniston banyak menerima kritikan, baik dari para kritikus film dunia hingga para penikmat film.

Continue reading Review: The Switch (2010)

Summer Movie Scorecard 2010

Sinema Indonesia dipenuhi banyak film-film tak bermutu. Angelina Jolie kehilangan identitas dirinya. Tom Cruise kehilangan kemampuan untuk menarik hati para penggemarnya. Christopher Nolan menghipnotis para penontonnya. Pixar menemukan Finding Nemo-nya yang baru. Mike Newell menghasilkan sebuah film adaptasi game yang sama sekali tidak mengecewakan. At The Movies merangkum beberapa hal yang terjadi selama empat bulan terakhir di dunia sinema.

Continue reading Summer Movie Scorecard 2010

Review: Solitary Man (2010)

Kapan terakhir kali Anda menyaksikan performa Michael Douglas dalam sebuah film yang banyak diakui keunggulannya oleh para kritikus film dunia? Memerlukan waktu satu dekade ke belakang untuk menemukan film tersebut, yakni ketika Douglas berperan sebagai Professor Grady Tripp di film Wonder Boys (2000) di bawah arahan sutradara Curtis Hanson. Setelahnya, resume Douglas kebanyakan diisi oleh film-film yang kebanyakan malah mengubur imej dirinya sebagai seorang aktor watak yang masih dapat diperhitungkan.

Continue reading Review: Solitary Man (2010)

Review: Nanny McPhee Returns (2010)

Serahkan kepada Emma Thompson untuk menghasilkan sebuah naskah cerita film keluarga yang walaupun berisi hal-hal magis yang bagi beberapa orang tidak masuk akal, tetap dapat tampil menghibur, berisi banyak pesan moral dan jauh dari kesan dangkal seperti halnya banyak film-film keluarga yang dirilis akhir-akhir ini. Aktris pemenang dua Academy Awards ini memang harus diakui mampu memberikan sentuhan sendiri dalam setiap naskah cerita yang ia berikan, dan ini kembali dapat dibuktikan lewat Nanny McPhee Returns.

Continue reading Review: Nanny McPhee Returns (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar