Review: Splice (2010)

Meet Dren! Sebuah hasil karya paling mutakhir manusia yang didapatkan dari hasil perpaduan beberapa sel genetik hewan dengan sel genetik manusia. Kontroversial? Melanggar kodrat manusia? Memang. Dua ilmuwan muda yang melakukan percobaan ini sendiri, Clive Nicoli (Adrien Brody) dan Elsa Kast (Sarah Polley),  juga menghadapi banyak tentangan ketika mereka mengajukan ide penggunaan sel genetik manusia. Namun, atas dasar keinginan memperbaiki sel-sel buruk tubuh yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, Clive dan Elsa secara sembunyi-sembunyi melakukan percobaan mereka.

Continue reading Review: Splice (2010)

Advertisements

Review: Still (2010)

Kesuksesan fenomenal 4bia, sebuah film  horror Thailand yang memadukan empat cerita berbeda dalam sebuah film, dan kemudian dilanjutkan dengan sekuelnya, yang juga mencapai sukses besar, Phobia 2, sepertinya telah membuat sebagian produser film horror Thailand lainnya tergiur untuk mengeruk keuntungan berdasarkan konsep yang sama. Still (Tai Hong) adalah salah satu film horror yang  kemudian mengikuti konsep penggunaan antologi cerita di dalam filmnya.

Continue reading Review: Still (2010)

Review: Vertige (2009)

Sama sekali tidak ada yang baru di Vertige, sebuah film horror arahan sutradara asal Perancis, Abel Ferry. Ketika menyaksikan sekelompok anak muda sedang bersemangat untuk menjelajah suatu wilayah yang seharusnya tidak mereka masuki, para penonton pastinya akan langsung terbayang berbagai adegan di film The Hills Have Eyes, The Descent maupun Wrong Turn, sekaligus mulai menebak siapa diantara karakter tersebut yang akan bertahan di akhir cerita.

Continue reading Review: Vertige (2009)

Review: Knight and Day (2010)

Sebagai seorang sutradara, James Mangold mungkin adalah salah satu sutradara yang paling eksperimental di Hollywood. Semenjak memulai karirnya dengan menyutradarai Heavy (1995), Mangold kemudian telah menjelajah untuk menyutradarai berbagai film dengan genre yang berbeda-beda. Mulai dari Girl, Interrupted (1999) yang berbau drama, Kate and Leopold (2001) yang berada di jalur komedi romantis, film thriller Identity (2003), film musikal Walk the Line (2005) hingga film western 3:10 to Yuma (2007).

Continue reading Review: Knight and Day (2010)

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Continue reading Review: Red CobeX (2010)

Review: Tanah Air Beta (2010)

Sukses dengan dua film terdahulunya, Alenia Pictures, yang digawangi oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, kini merilis Tanah Air Beta. Sama halnya seperti King (2009), Ari Sihasale kini kembali duduk di bangku sutradara. Dari naskah cerita yang ditulis oleh Armantono (Jagad X Code (2009), Opera Jawa (2007)), Tanah Air Beta mencoba menggali sisi drama dari perpisahan provinsi Timor Timur dari Republik Indonesia yang terjadi pada lebih dari satu dekade lalu.

Continue reading Review: Tanah Air Beta (2010)

Review: Toy Story 3 (2010)

Bagaimana Pixar selalu melakukannya? Merilis sebuah film animasi setiap tahunnya yang selalu berhasil mendapatkan klaim universal dari para penggemarnya dan berbagai tanggapan positif dari seluruh kritikus film dunia. Dan hal ini tidak hanya sekali maupun dua kali dilakukan oleh anak perusahaan Walt Disney Pictures ini. Mereka telah melakukannya sebanyak sepuluh kali pada sepuluh film layar lebar yang telah mereka rilis semenjak tahun 1995. Tanpa noda. Tanpa cela. Bagaimana mereka melakukannya?

Continue reading Review: Toy Story 3 (2010)

Review: Date Night (2010)

Dengan tiga anak diantara mereka, Phil (Steve Carrell) dan Claire Foster (Tina Fey) memiliki tipe pernikahan yang dipastikan akan menjadi mimpi buruk bagi seorang Carrie Bradshaw: berjalan lambat dan sangat membosankan. Phil dan Claire sendiri telah menyadari hal ini, yang membuat mereka selalu berusaha untuk meluangkan satu malam di setiap minggunya untuk keluar bersama berdua dan melupakan segala rutinitas harian mereka. Namun, tradisi keluar bersama berdua ini sendiri lama-kelamaan mulai menjadi sebuah rutinitas yang membosankan pula bagi pasangan ini. Phil dan Claire membutuhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan dalam kehidupan mereka!

Continue reading Review: Date Night (2010)

Review: Remember Me (2010)

Walaupun tidak benar-benar memulai karirnya dari awal dengan membintangi franchise The Twilight Saga, namun tidak akan ada yang menyangkal bahwa nama aktor asal Inggris, Robert Pattinson, yang sebelumnya juga turut serta membintangi Harry Potter and the Goblet of Fire, benar-benar menjadi sebuah nama yang dikenal publik dunia semenjak ia memerankan karakter Edward Cullen di franchise tersebut. Sebegitu melekatnya Pattinson pada peran tersebut hingga sepertinya tidak mungkin untuk tidak menyebutkan nama karakter vampir tersebut ketika menyebutkan nama Pattinson.

Continue reading Review: Remember Me (2010)

Review: The Runaways (2010)

Wajar saja jika Anda tidak pernah mengenal nama band The Runaways sebelumnya. Walau berisikan figur-figur wanita populer di dunia musik rock, seperti Joan Jett, Lita Ford, Mickie Steele, Cherie Currie, Sandy West dan Jackie Fox, eksistensi mereka hampir mendekati eksistensi band fiktif, The Wonders dari film That Thing You Do!. Prestasi terbaik The Runaways sebagai sebuah band wanita yang membawakan lagu-lagu rock hanyalah ketika album kedua mereka, Queens of Noise, berhasil mencapai posisi 172 di Billboard Top 200 Albums pada tahun 1977.

Continue reading Review: The Runaways (2010)

Review: Melodi (2010)

Film musikal mungkin adalah salah satu genre yang paling menantang untuk dipasarkan di pasar perfilman Indonesia. Bukan hanya karena penontonnya yang segmented, dari sisi proses produksi, proses pembuatan film ber-genre ini memang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada film-film biasa. Tidak hanya harus memperhatikan sisi dramatisasi, sang pembuat film juga diharuskan menyusun banyak komposisi lagu yang sesuai dengan jalan cerita untuk ditampilkan di sepanjang film. Mungkin karena itu pula genre musikal di Indonesia lebih difokuskan pada pangsa film anak-anak, seperti yang dilakukan Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua, yang akan lebih mudah menerima cerita yang disertai dengan iringan lagu-lagu berirama ceria.

Continue reading Review: Melodi (2010)

Review: The Karate Kid (2010)

Welcome to 1984!

Hollywood minggu ini sepertinya berusaha untuk membawa para penontonnya ke tahun ’80-an. Setelah merilis  The A-Team yang cukup berhasil menghibur, di minggu yang sama Hollywood juga merilis The Karate Kid, sebuah film keluarga yang dirilis pada tahun 1984 dan sempat sukses baik secara kritikal dan komersial. Jika pada film aslinya tokoh pengajar karate diperankan oleh aktor berdarah Jepang, Pat Morita, yang berhasil mendapatkan nominasi Best Actor in a Supporting Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film tersebut, maka dalam versi terbarunya, aktor legendaris asal Hong Kong, Jackie Chan, yang menerima kehormatan untuk memainkan peran tersebut.

Continue reading Review: The Karate Kid (2010)

Review: The A-Team (2010)

Musim panas biasanya dimanfaatkan oleh industri film Hollywood untuk merilis film-film dengan jalur cerita cheesy namun dapat menutupi berbagai kekurangannya tersebut dengan plot action dan komedi yang dibuat dengan cara yang berlebihan untuk mencapai hasil yang menyenangkan. Fakta bahwa hingga pertengahan musim panas tahun ini baru Iron Man 2 yang (hampir) mencapai hal tersebut mungkin dapat menjadi pertanda bahwa musim panas tahun ini tidaklah semenyenangkan musim panas tahun-tahun sebelumnya. And then comes The A-Team.

Continue reading Review: The A-Team (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar