Review: My Name is Khan (2010)

Selepas terjadinya tragedi 9/11, dimana pemerintah Amerika Serikat langsung menuduh keberadaan golongan ekstrimis Muslim Al-Qaeda yang berada di balik peristiwa tersebut, tak pelak membuat perubahan cara pandang terhadap setiap warga Muslim yang berada disana. Bagi sebagian mereka yang memiliki cara pandang sempit, warga Muslim yang berada di sekitar mereka tentu akan dipandang sebagai bagian dari sebuah ancaman terorisme pula.

Continue reading Review: My Name is Khan (2010)

Advertisements

Review: W. (2008)

Ketika sutradara Oliver Stone mengumumkan rencananya untuk membuat sebuah film biografi mengenai Presiden Amerika Serikat ke-43, George Walker Bush, semua orang menjadi penasaran dengan film seperti apa yang akan dihasilkannya. Selain karena ingin tahu bagaimana sudut pandang Stone terhadap Bush, para penggemar dan kritikus film dunia juga sepertinya ingin melihat sesuatu yang ‘berani’ dari Stone, seperti yang sering ia perlihatkan di awal karirnya.

Continue reading Review: W. (2008)

Review: Fahrenheit 9/11 (2004)

Selepas meraih kesuksesan luar biasa lewat film dokumenternya, Bowling for Columbine di tahun 2002, sutradara Michael Moore kembali menimbulkan kontroversi lewat film dokumenter terbarunya, Fahrenheit 9/11. Kontroversi yang ditimbulkan film ini bahkan lebih besar daripada Bowling for Columbine, mengingat tema dari film ini yang menyinggung masalah yang sangat sensitif bagi kebanyakan warga Amerika Serikat yakni masalah pemboman World Trade Center pada 9 September 2001 dan masalah peperangan Irak.

Continue reading Review: Fahrenheit 9/11 (2004)

Review: Clash of the Titans (2010)

Setelah merilis Percy Jackson and the Lightning Thief di awal tahun, Hollywood sepertinya masih belum selesai untuk kembali melakukan eksplorasi pada berbagai kisah mitologi Yunani. Kini, dibawah arahan sutradara Louis Leterrier, rumah produksi Warner Bros. melakukan remake terhadap film bertema mitologi Yunani yang sebelumnya sempat dirilis dan sukses pada tahun 1981, Clash of the Titans.

Continue reading Review: Clash of the Titans (2010)

Review: Mother (2009)

Tahun 2009 mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu tahun yang paling membanggakan bagi industri film Korea Selatan. Bagaimana tidak, dua film mereka, yang sama-sama bergenre thriller, mendapat rekognisi luas dan pujian dari banyak kritikus film dunia. Thirst, sebuah thriller dengan tema vampire yang sedang populer, banyak digambarkan sebagai jawaban yang jauh lebih baik dari Korea Selatan atas Twilight. Sementara Mother, berhasil menjadi film unggulan Korea Selatan untuk bersaing di kategori Best Foreign Language di ajang The 82nd Academy Awards yang lalu, walaupun akhirnya harus gagal di tahap penyeleksian akhir.

Continue reading Review: Mother (2009)

Review: Bowling for Columbine (2002)

Bowling for Columbine adalah sebuah film dokumenter karya sutradara Michael Moore yang dirilis pada tahun 2002. Film ini adalah film pertama yang membawa nama Michael Moore ke kancah internasional ketika Bowling for Columbine tidak hanya berhasil menjadi film dokumenter terlaris sepanjang masa (sebelum akhirnya disisihkan film Michael Moore lainnya, Fahrenheit 9/11), namun juga berhasil memenangkan banyak penghargaan termasuk Academy Award untuk Best Documentary Feature.

Continue reading Review: Bowling for Columbine (2002)

Review: Boy A (2007)

Boy A adalah sebuah film drama asal Inggris yang disutradarai oleh John Crowley. Naskah film ini sendiri diadaptasi dari sebuah novel sukses karya Jonathan Trigell yang berjudul sama, dan terinspirasi dari kisah nyata mengenai pembunuhan seorang bocah berusia 2 tahun oleh dua orang anak laki-laki berusia 10 tahun yang pernah terjadi di Liverpool, Inggris pada tahun 1993.

Continue reading Review: Boy A (2007)

Review: Keramat (2009)

Nama Monty Tiwa pertama kali tercatat di sejarah perfilman Indonesia adalah sebagai seorang penulis naskah film Andai Ia Tahu di tahun 2002. Karirnya sebagai seorang penulis naskah film terus berlanjut, termasuk dengan menulis beberapa film sukses lainnya seperti Mendadak Dangdut (2006), Denias, Senandung di Atas Awan (2006) dan Mengejar Mas-Mas (2007).

Continue reading Review: Keramat (2009)

Review: Air Terjun Pengantin (2009)

Kembali ke awal tahun 2000-an, tepatnya di tahun 2001, ketika dunia perfilman Indonesia masih berada di dalam era kegelapan, nama Rizal Mantovani sempat mencuat ke permukaan, setelah karyanya, Jelangkung, berhasil menyusul Petualangan Sherina menjadi bibit-bibit awal kebangkitan kembali film Indonesia. Film horror yang digarap dengan sederhana namun sangat efektif tersebut bergulir secara perlahan namun pasti memperoleh banyak penonton di layar bioskop, bahkan memicu tren munculnya berbagai tayangan berbau klenik, tak hanya di layar bioskop, namun juga di layar televisi nasional.

Continue reading Review: Air Terjun Pengantin (2009)

Review: Shutter Island (2010)

Shutter Island adalah sebuah karya teranyar dari salah satu sutradara paling dihormati di Hollywood, Martin Scorsese. Kembali bekerjasama dengan Leonardo DiCaprio, film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya novelis Dennis Lehane.

Continue reading Review: Shutter Island (2010)

Review: Hachiko: A Dog’s Story (2009)

Hachiko: A Dog’s Story adalah sebuah film drama yang mengadaptasi kisah ceritanya dari sebuah kisah nyata populer dari negara Jepang mengenai seekor anjing Akita bernama Hachi. Film ini sendiri merupakan remake dari film Jepang Hachikō Monogatari yang sempat dirilis pada tahun 1987.

Continue reading Review: Hachiko: A Dog’s Story (2009)

Review: Te[rekam] (2010)

Te[rekam] adalah sebuah film yang tercipta akibat sebuah “ketidaksengajaan” yang terjadi ketika model dan aktris Olga Lidya hendak membuat sebuah film horror bersama dua orang temannya, Julia Perez dan Monique Henry. Berbagai hal aneh yang dialami oleh mereka dan terekam dalam beberapa buah handycam ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah film horror ketika kumpulan footage tersebut jatuh ke tangan seorang sutradara sekelas… Koya Pagayo.

Continue reading Review: Te[rekam] (2010)

Review: How to Train Your Dragon (2010)

Harus diakui, sebagai sebuah perusahaan yang pada awalnya menjadi saingan terberat Pixar dalam merebut pasar pecinta film-film animasi, DreamWorks Animation terasa sangat ketinggalan akhir-akhir ini. Memang, dari segi pendapatan, DreamWorks seringkali mengungguli hasil perolehan komersial film-film rilisan Pixar. Namun dari segi kualitas yang diberikan? Hanya seri pertama dan kedua dari Shrek yang mampu memberikannya.

Continue reading Review: How to Train Your Dragon (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar