Review: Diary of a Wimpy Kid (2010)

Lewat Diary of a Wimpy Kid, penonton akan dikenalkan kepada kehidupan Greg Hefley (Zachary Gordon), seorang anak laki-laki yang baru saja memasuki masa remaja sekaligus baru saja akan menjalani kehidupannya yang baru sebagai seorang siswa sekolah menengah pertama. Dan Greg sangat khawatir tentang masa-masa awal status barunya ini. Tentu saja, masa-masa awal sekolah merupakan sebuah masa yang krusial dimana kesan pertama yang akan diberikan sangat menentukan imej yang akan terus dipegang selama tiga tahun menyelesaikan masa sekolah menengah pertama. Oh, teenagers!

Continue reading Review: Diary of a Wimpy Kid (2010)

Review: Happy Tears (2010)

Sukses dengan thriller Teeth (2007) yang sempat menjadi bahan perbincangan di banyak festival film, sutradara sekaligus penulis naskah Mitchell Lichtenstein kembali hadir dengan karya terbarunya, Happy Tears. Berbeda dengan jauh dengan film yang menjadi debut penyutradaraannya tersebut, Happy Tears merupakan sebuah film black comedy yang menceritakan mengenai kehidupan dua orang wanita bersaudara dalam merawat ayah mereka yang telah berusia lanjut.

Continue reading Review: Happy Tears (2010)

Review: Vampires Suck (2010)

Tentu saja. Dengan keberhasilan tiga film pertama dari franchise The Twilight Saga dalam meraup keuntungan hampir sebesar US$400 juta dari peredaran domestiknya di wilayah Amerika Utara, ditambah dengan banyaknya jumlah penggemar fanatik yang berbanding lurus dengan jumlah kritikus film dunia yang membencinya, perilisan sebuah film yang memparodikan franchise tersebut sepertinya adalah hal yang sangat wajar. Dan berbicara soal parodi, tentu saja tidak ada orang lain di Hollywood yang se-‘cerdas’ Jason Friedberg dan Aaron Seltzer dalam memanfaatkan momen berharga tersebut.

Continue reading Review: Vampires Suck (2010)

Review: Furry Vengeance (2010)

Nama Brendan Fraser sepertinya akan terus diingat sebagai nama seorang aktor yang terjebak untuk selalu membintangi film-film yang ditujukan untuk pangsa pasar keluarga. Bukan sebuah masalah besar jika film-film yang ia bintangi merupakan film-film keluarga dengan kualitas yang memorable dan dapat dibanggakan. Namun dengan judul-judul seperti Looney Tunes: Back In Actions, Inkheart dan Extraordinary Measures, yang tidak hanya gagal meraih perhatian para kritikus film dunia namun juga gagal meraih simpati para penonton, Fraser sepertinya harus semakin sering mempertimbangkan film yang akan ia bintangi. Dan Furry Vengeance bukanlah sebuah film yang akan merubah kenyataan itu.

Continue reading Review: Furry Vengeance (2010)

Review: The Expendables (2010)

Di usianya yang mencapai 64 tahun, Sylvester Stallone sepertinya masih sangat menolak untuk mengundurkan diri dari dunia film action. Setelah sukses memenangkan kembali hati kritikus film dunia dengan Rocky Balboa (2006) dan berhasil kembali menarik perhatian para penikmat film action lewat Rambo (2008), Stallone kini kembali lagi dengan The Expendables. Duduk di kursi sutradara sekaligus menjadi salah satu penulis naskah, The Expendables bukanlah sebuah ajang one-man show untuk Stallone. Lebih dari itu, Stallone mengumpulkan banyak nama bintang-bintang laga untuk bermain bersamanya di film ini.

Continue reading Review: The Expendables (2010)

Review: Black Death (2010)

Cukup mengherankan untuk mengetahui bahwa Hollywood hingga saat ini masih belum mau melirik sepenuhnya talenta dari sutradara asal Inggris, Christopher Smith. Padahal, jika dilihat dari setiap film yang ia hasilkan — yang kesemuanya merupakan film yang bergenre horror – sangat terasa bahwa bakat Smith semakin terasah di setiap filmnya. Dimulai dari Creep (2004), Severance (2006) dan yang terakhir Triangle (2009), walaupun kurang mendapatkan sambutan yang positif secara komersial, namun mendapatkan pujian yang sangat tinggi dari banyak kritikus dunia.

Continue reading Review: Black Death (2010)

Review: The Girl who Played with Fire (2009)

Adaptasi film dari novel kedua dalam trilogi Millenium karya penulis asal Swedia, Stieg Larsson, The Girl who Played with Fire, menemui sebuah perubahan besar-besaran ketika sutradara Niels Arden Oplev, yang sukses mengarahkan The Girl with the Dragon Tattoo, digantikan posisinya oleh Daniel Alfredson. Tidak hanya dari sisi pengarahan, naskah cerita yang awalnya ditangani oleh duet Nikolaj Arcel dan Rasmus Heisterberg kini ditangani oleh seorang penulis naskah baru, Jonas Frykberg. Apakah hal ini memiliki pengaruh terhadap kualitas The Girl who Played with Fire jika dibandingkan dengan The Girl with the Dragon Tattoo? Sangat!

Continue reading Review: The Girl who Played with Fire (2009)

Review: The Joneses (2010)

Steve Jones (David Duchovny) mungkin adalah salah satu pria yang paling beruntung di dunia. Pria tampan ini memiliki segala hal yang diinginkan setiap pria dewasa lainnya. Ia memiliki istri yang cantik, Kate (Demi Moore), dua anak yang sempurna, Jenn (Amber Heard) dan Mick (Ben Hollingsworth), serta memiliki status finansial yang sangat berkecukupan. Karenanya, tidaklah mengherankan ketika keluarga Jones pindah ke sebuah lingkungan baru, masing-masing anggota keluarga tersebut dapat dengan cepat beradaptasi dan mendapatkan sekumpulan relasi baru.

Continue reading Review: The Joneses (2010)

Review: Killers (2010)

Aktris cantik Katherine Heighl pernah hampir menyihir dunia dengan  daya tariknya. Ia bahkan banyak diramalkan untuk menjadi seorang ratu komedi romantis mengikuti jejak Julia Roberts, Meg Ryan dan Sandra Bullock ketika ia membintangi komedi sukses karya Judd Apatow, Knocked Up (2007). Perlahan-lahan, dunia — khususnya para kritikus film dunia — mulai lelah dengan pilihan film-film Heighl, seperti 27 Dresses (2008) dan The Ugly Truth (2009), yang walaupun sukses secara komersial, namun tidak menunjukkan peningkatan kualitas akting yang berarti dari diri Heighl.

Continue reading Review: Killers (2010)

Review: The Last Song (2010)

Well… Miley Cyrus akan berulang tahun yang ke-18 pada tahun ini. Dan seperti layaknya para aktris muda lainnya yang telah memulai karir mereka di dunia entertainment semenjak dini, Nona Cyrus juga menginginkan satu peran yang akan diingat sebagai sebuah peran yang akan menjembatani dirinya untuk memperoleh peran-peran yang lebih dewasa di masa yang akan datang. Dan seperti halnya Mandy Moore dalam A Walk To Remember, Cyrus menemukan peran tersebut dalam sebuah adaptasi novel Nicholas Sparks lainnya, The Last Song.

Continue reading Review: The Last Song (2010)

Review: The Last Airbender (2010)

Sebagai salah satu serial animasi terpopuler di saluran anak Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender dikenal sebagai sebuah serial yang cukup mampu untuk menghibur tiap penontonnya dengan kisah petualangan dan persahabatan karakter-karakternya yang cukup seru serta seringkali diselingi dengan banyak dialog-dialog yang jenaka. Tahun 2007, MTV Films dan Nickelodeon Movies, yang merupakan anak perusahaan Paramount Pictures, memutuskan untuk mengadaptasi serial animasi tersebut ke layar lebar dalam bentuk live-action dengan M Night Shyamalan sebagai arsiteknya. Keputusan yang mungkin akan sangat mereka sesali di kemudian hari.

Continue reading Review: The Last Airbender (2010)

Review: D’Love (2010)

Dari Helfi Kardit, seorang sutradara yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hantu Bangku Kosong, Mengaku Rasul hingga Arisan Brondong, hadirlah D’Love, yang secara mengagumkan mampu merangkum seluruh hal-hal klise yang ada di perfilman Indonesia di dalam durasinya yang hanya sepanjang 90 menit itu. Mulai dari cinta segitiga, karakter yang broken home, karakter yang terpaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, karakter gay hingga karakter yang harus menderita sakit terangkum dan dimanfaatkan dengan sangat baik di film ini.

Continue reading Review: D’Love (2010)

Review: Salt (2010)

Walau dikenal sebagai seorang aktris watak yang cukup menjanjikan, dengan tatapan mata yang misterius serta sikapnya yang tegas, Angelina Jolie juga dikenal Hollywood sebagai seorang aktris yang cukup dapat diandalkan ketika diminta untuk memerankan karakter-karakter yang mengharuskannya untuk beradegan keras dalam sebuah film action. Kini, bekerjasama dengan sutradara Phillip Noyce — yang sebelumnya sempat mengarahkan Jolie dan Denzel Washington di The Bone Collector — Angelina Jolie berkesempatan untuk semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu bintang action terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini.

Continue reading Review: Salt (2010)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar