Review: Hari Untuk Amanda (2010)

Hari Untuk Amanda adalah sebuah film drama yang diarahkan oleh sutradara muda, Angga Dwimas Sasongko. Film ini pada awalnya akan dirilis tahun lalu, namun karena beberapa hal, Hari Untuk Amanda kemudian mengalami penundaaan rilis hingga awal tahun ini — yang mungkin sedikit menjelaskan mengapa gaya rambut Reza Rahardian berbeda antara poster dengan filmnya.

Continue reading Review: Hari Untuk Amanda (2010)

Advertisements

Review: A Prophet (2009)

Film asal Perancis, A Prophet, mengisahkan mengenai Malik El Djebena (Tahar Rahim) yang masih berusia 19 tahun ketika ia dijebloskan ke dalam penjara. Atas tindakannya memukul seorang polisi, Malik terpaksa harus menerima hukuman selama 6 tahun penjara. Di dalam penjara, tanpa pengetahuan dan buta huruf, tidak akan ada seorangpun yang mampu menyelamatkannya kecuali keberuntungan, yang jelas-jelas bukanlah suatu hal yang akan datang dengan sendirinya. Keberuntungan di dalam penjara, sama halnya di dunia luar, adalah sesuatu yang harus dicapai dengan kerja keras.

Continue reading Review: A Prophet (2009)

Review: Demi Dewi (2010)

Demi Dewi adalah sebuah film drama yang disutradarai oleh Charles Ghazali. Dibintangi oleh Wulan Guritno dan Winky Wiryawan, Demi Dewi sepertinya mencoba untuk menggabungkan antara sebuah kisah drama keluarga dengan menyisipkan beberapa adegan action di dalamnya.

Continue reading Review: Demi Dewi (2010)

Review: Anything for Her (2008)

Memiliki judul asli Pour Elle, Anything for Her adalah sebuah drama thriller asal Perancis yang menjadi debut penyutradaraan bagi sutradara Fred Cavayé. Sutradara film pemenang Academy Award, Crash, Paul Haggis, baru-baru ini menyelesaikan proses pengambilan gambar untuk remake film ini, yang diberinya judul The Next Three Days dan dibintangi oleh Russell Crowe dan Elizabeth Banks untuk dirilis akhir tahun ini.

Continue reading Review: Anything for Her (2008)

Review: The Bounty Hunter (2010)

The Bounty Hunter adalah sebuah film drama komedi romantis, yang juga menyelipkan beberapa adegan action di dalam jalan ceritanya, dan disutradarai oleh Andy Tennant. Nama tersebut terdengar familiar? Tentu saja, Tennant adalah sutradara yang dapat dinilai cukup berpengalaman dalam menangani genre semacam ini mengingat resumenya yang berisi film-film bertema serupa seperti Ever After (1998), Sweet Home Alabama (2002) dan Hitch (2005).

Continue reading Review: The Bounty Hunter (2010)

Review: Agora (2009)

Apakah agama akan selalu bersinggungan dengan ilmu pengetahuan? Atau kedua sisi tersebut harus benar-benar dipisahkan antara satu sama lain? Tema tersebut mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendiskusikannya. Sutradara asal Spanyol, Alejandro Amenábar (The Others, 2001) mencoba memaparkan sedikit mengenai hal ini berdasarkan kisah historis mengenai Hypatia, seorang filsuf wanita dari era Mesir kuno, dalam film terbarunya, Agora.

Continue reading Review: Agora (2009)

Review: A Single Man (2009)

Setelah 16 tahun saling berhubungan, George Falconer (Colin Firth), seorang dosen Sastra Inggris, harus mendengar fakta pahit bahwa kekasihnya, Jim (Matthew Goode), meninggal dunia secara tragis dalam sebuah kecelakaan mobil. Kemuraman dan rasa hampa pun akhirnya mewarnai hari-hari George setelah ditinggal Jim. Kehampaan yang menyelimuti dirinya selama delapan bulan terakhir itulah yang akhirnya membimbing George untuk memutuskan bahwa bunuh diri mungkin adalah jalan terbaik bagi dirinya.

Continue reading Review: A Single Man (2009)

Review: Chloe (2010)

Sutradara asal Kanada, Atom Egoyan, memang lebih banyak dikenal sebagai seorang sutradara yang lebih banyak memberikan film-film bertema art-house daripada film-film komersial yang seringkali dirilis murni untuk mencari keuntungan belaka. Walau begitu, bukan berarti Egoyan tidak berani untuk mencoba sesuatu yang bersifat komersial. Chloe adalah sebuah usaha Egoyan untuk mencampurkan teknik penyutradaraan art-house yang sering ia terapkan, dengan sisi komersialisme untuk dapat dinikmati oleh publik umum.

Continue reading Review: Chloe (2010)

Review: Iron Man 2 (2010)

Baiklah… mari sama-sama mengucapkan selamat datang kepada musim panas. Musim dimana Hollywood akan berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menarik minat para pecinta film dunia untuk datang memenuhi bioskop-bioskop terdekat dengan merilis berbagai film-film blockbuster. Tahun ini, Hollywood resmi menyambut datangnya musim panas dengan merilis salah satu sekuel paling ditunggu tahun ini, Iron Man 2.

Continue reading Review: Iron Man 2 (2010)

Review: The Girl with the Dragon Tattoo (2009)

Di tahun 2009, film thriller asal Swedia, The Girl with the Dragon Tattoo menjadi film terlaris di Eropa di sepanjang tahun tersebut. Selain sukses secara komersial, film ini juga sempat menerima banyak penghargaan di berbagai ajang festival film Eropa. Kabar kemudian menyebutkan bahwa sutradara David Fincher (Seven) telah bekerjasama dengan penulis naskah Steven Zaillan (Schindler’s List) untuk membuat versi Hollywood dari film ini dan dirilis pada tahun 2012 mendatang.

Continue reading Review: The Girl with the Dragon Tattoo (2009)

Review: Love Happens (2009)

Jennifer Aniston. Mungkin bukan kesalahan semua orang jika ketika mendengar nama aktris yang populer lewat serial televisi Friends ini langsung terbayang akan berbagai film komedi romantis yang sayangnya kebanyakan dinilai dangkal dan kurang efektif. Dengan judul Love Happens dan sebuah poster yang kurang menarik, penilaian itu mungkin akan semakin tajam terbentuk, bahkan sebelum kebanyakan penonton menyaksikan film ini.

Continue reading Review: Love Happens (2009)

Review: Leap Year (2010)

Leap Year adalah sebuah film komedi romantis yang mungkin akan diingat oleh banyak orang sebagai catatan buruk pertama dari aktris Amy Adams. Dengan naskah yang berisi berbagai formula yang telah ada di berbagai film drama komedi romatis Hollywood sebelumnya, Leap Year sepertinya masih mencoba untuk menarik perhatian penggemar genre ini. Walaupun, kebanyakan dari mereka sepertinya akan merasa kecewa.

Continue reading Review: Leap Year (2010)

Review: The Crazies (2010)

Selamat datang di kota Ogden Marsh, Iowa, Amerika Serikat. Sebuah kota kecil dengan penduduk yang ramah dan saling mengenal satu sama lain. Keakraban diantara setiap warganya sendiri dapat terlihat pada berbagai acara yang digelar di kota tersebut. Seperti yang terlihat di film The Crazies, dimana seluruh warganya sedang berkumpul untuk menonton pertandingan baseball di sebuah sekolah.

Continue reading Review: The Crazies (2010)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar