Review: Despicable Me (2010)

Universal Pictures, melalui Illumination Entertainment, akhirnya ikut serta dalam persaingan untuk perilisan film-film animasi Hollywood. Sedikit tertinggal dari rumah-rumah produksi lainnya, namun melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari para pesaingnya.

Continue reading Review: Despicable Me (2010)

Review: Istri Bo’ongan (2010)

Apa yang dapat para penonton harapkan dari sebuah film yang berjudul Istri Bo’ongan, dengan poster yang jelas-jelas mengedepankan kadar seksualitasnya, diarahkan sutradara yang pernah menyutradarai film-film berjudul Tali Pocong Perawan (2008)dan Perjaka Terakhir (2009) serta dibintangi oleh seorang aktris bernama Julia Perez? Adalah sangat mudah untuk menebak kemana film ini akan diarahkan. Namun dengan adanya nama Dwi Sasono dan Fahrani – yang mungkin masih dapat dianggap sebagai aktor dan aktris berkelas — apakah Istri Bo’ongan masih benar-benar seburuk dugaan banyak orang?

Continue reading Review: Istri Bo’ongan (2010)

Review: Greenberg (2010)

Dalam beberapa kesempatan, para aktor yang telah terlebih dahulu memiliki kredibilitas dalam membintangi film-film bertema komedi, akan menyempatkan diri untuk berakting di film drama dan membuktikan bahwa para aktor komedi juga memiliki kemampuan akting drama yang sama dengan para aktor drama. Beberapa diantara mereka gagal melakukannya, namun nama-nama seperti Adam Sandler (Punch-Drunk Love), Jim Carrey (Eternal Sunshine of the Spotless Mind), Will Ferrell (Stranger than Fiction), Eddie Murphy (Dreamgirls) dan beberapa nama lain berhasil melakukannya.

Continue reading Review: Greenberg (2010)

Review: Obama Anak Menteng (2010)

Sebenarnya, keputusan Multivision Plus Pictures untuk memilih memfilmkan empat tahun masa kecil yang dihabiskan oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama, di Indonesia, bukanlah sebuah masalah besar. Bahkan jika mereka memilih untuk memfilmkan masa kecil tokoh-tokoh dunia lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan Indonesia, tetap bukanlah sebuah masalah besar. Yang menjadi masalah pada film ini adalah cara produsen film ini memperlakukan penonton yang menjadi pangsa pasar mereka dengan sangat tidak adil.

Continue reading Review: Obama Anak Menteng (2010)

Review: 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)

Setelah Cin(T)a yang dirilis secara terbatas pada tahun lalu, tema pluralisme dan hubungan percintaan antara dua insan yang memiliki latar belakang kepercayaan agama yang berbeda kini kembali diangkat ke layar lebar. Berbeda dengan Cin(T)a, yang membawakan jalan ceritanya dengan banyak dialog filosofis penuh makna, 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta mencoba menjajal tema yang ingin diceritakan dengan jalan penyampaian yang lebih ringan.

Continue reading Review: 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)

Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Well… Anda harus mengakui bahwa di tangan seorang David Slade (Hard Candy, 30 Days of Night) rilisan ketiga dari seri The Twilight Saga ini memang berhasil melampaui kualitas dua seri pendahulunya. The Twilight Saga: Eclipse memang masih saja berputar di sekitar kisah cinta segitiga antara Bella Swan, Edward Cullen dan Jacob Black. Namun dengan sentuhan Slade, seri ini  mampu terasa lebih hidup dengan menambahkan beberapa adegan keras, bertema seksual serta kisah yang berasal dari sudut pandang beberapa karakter lain.

Continue reading Review: The Twilight Saga: Eclipse (2010)

Review: Splice (2010)

Meet Dren! Sebuah hasil karya paling mutakhir manusia yang didapatkan dari hasil perpaduan beberapa sel genetik hewan dengan sel genetik manusia. Kontroversial? Melanggar kodrat manusia? Memang. Dua ilmuwan muda yang melakukan percobaan ini sendiri, Clive Nicoli (Adrien Brody) dan Elsa Kast (Sarah Polley),  juga menghadapi banyak tentangan ketika mereka mengajukan ide penggunaan sel genetik manusia. Namun, atas dasar keinginan memperbaiki sel-sel buruk tubuh yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, Clive dan Elsa secara sembunyi-sembunyi melakukan percobaan mereka.

Continue reading Review: Splice (2010)

Review: Still (2010)

Kesuksesan fenomenal 4bia, sebuah film  horror Thailand yang memadukan empat cerita berbeda dalam sebuah film, dan kemudian dilanjutkan dengan sekuelnya, yang juga mencapai sukses besar, Phobia 2, sepertinya telah membuat sebagian produser film horror Thailand lainnya tergiur untuk mengeruk keuntungan berdasarkan konsep yang sama. Still (Tai Hong) adalah salah satu film horror yang  kemudian mengikuti konsep penggunaan antologi cerita di dalam filmnya.

Continue reading Review: Still (2010)

Review: Vertige (2009)

Sama sekali tidak ada yang baru di Vertige, sebuah film horror arahan sutradara asal Perancis, Abel Ferry. Ketika menyaksikan sekelompok anak muda sedang bersemangat untuk menjelajah suatu wilayah yang seharusnya tidak mereka masuki, para penonton pastinya akan langsung terbayang berbagai adegan di film The Hills Have Eyes, The Descent maupun Wrong Turn, sekaligus mulai menebak siapa diantara karakter tersebut yang akan bertahan di akhir cerita.

Continue reading Review: Vertige (2009)

Review: Knight and Day (2010)

Sebagai seorang sutradara, James Mangold mungkin adalah salah satu sutradara yang paling eksperimental di Hollywood. Semenjak memulai karirnya dengan menyutradarai Heavy (1995), Mangold kemudian telah menjelajah untuk menyutradarai berbagai film dengan genre yang berbeda-beda. Mulai dari Girl, Interrupted (1999) yang berbau drama, Kate and Leopold (2001) yang berada di jalur komedi romantis, film thriller Identity (2003), film musikal Walk the Line (2005) hingga film western 3:10 to Yuma (2007).

Continue reading Review: Knight and Day (2010)

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Continue reading Review: Red CobeX (2010)

Review: Tanah Air Beta (2010)

Sukses dengan dua film terdahulunya, Alenia Pictures, yang digawangi oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, kini merilis Tanah Air Beta. Sama halnya seperti King (2009), Ari Sihasale kini kembali duduk di bangku sutradara. Dari naskah cerita yang ditulis oleh Armantono (Jagad X Code (2009), Opera Jawa (2007)), Tanah Air Beta mencoba menggali sisi drama dari perpisahan provinsi Timor Timur dari Republik Indonesia yang terjadi pada lebih dari satu dekade lalu.

Continue reading Review: Tanah Air Beta (2010)

Review: Toy Story 3 (2010)

Bagaimana Pixar selalu melakukannya? Merilis sebuah film animasi setiap tahunnya yang selalu berhasil mendapatkan klaim universal dari para penggemarnya dan berbagai tanggapan positif dari seluruh kritikus film dunia. Dan hal ini tidak hanya sekali maupun dua kali dilakukan oleh anak perusahaan Walt Disney Pictures ini. Mereka telah melakukannya sebanyak sepuluh kali pada sepuluh film layar lebar yang telah mereka rilis semenjak tahun 1995. Tanpa noda. Tanpa cela. Bagaimana mereka melakukannya?

Continue reading Review: Toy Story 3 (2010)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar