All posts by Amir Syarif Siregar

An organized chaos! A professional dreamer.

Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Lima tahun setelah film pertamanya – dengan The LEGO Batman Movie (Chris McKay, 2017) dan The LEGO Ninjago Movie (Charlie Bean, Paul Fisher, Bob Logan, 2017) menjadi dua film sempalan yang dirilis diantaranya – The LEGO Movie 2 hadir sebagai sekuel langsung bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Chris Miller, 2014). Walau masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bagi film ini, Lord dan Miller sendiri menyerahkan kursi penyutradaraan pada Mike Mitchell (Trolls, 2016). Para penggemar The LEGO Movie sepertinya tidak akan mengeluhkan perubahan tersebut. Pengaruh besar Lord dan Miller jelas masih dapat dirasakan dalam alur pengisahan The LEGO Movie 2: film ini masih tampil dengan humor yang kuat dan penuh dengan referensi kultur pop teranyar, tampilan visual penuh warna yang memikat, serta disajikan dengan ritme pengisahan yang mengalun cepat. Tidak menawarkan sesuatu yang baru? Jangan khawatir. Lord dan Miller menyediakan ruang konflik yang lebih besar sehingga membuka celah yang cukup luas pula bagi beberapa sentuhan segar dalam pengisahan The LEGO Movie 2. Continue reading Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Review: Laundry Show (2019)

Diadaptasi dari novel The Laundry Show karangan Uki Lukas, film terbaru arahan Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, 2017), Laundry Show, berkisah mengenai Uki (Boy William) yang karena telah merasa jenuh dengan perjalanan karirnya kemudian memilih untuk berhenti dari pekerjaannya. Dengan modal semangat yang diberikan oleh seorang motivator terkenal dan inspirasi dari sang ibu yang sempat bekerja sebagai seorang tukang cuci, Uki lantas mendirikan usaha layanan binatu. Membangun dan memulai usaha sendiri jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Bahkan setelah Uki berhasil menemukan lokasi usaha yang tepat, berbagai perlengkapan kerja, hingga para karyawan yang dapat mendukung usaha layanan binatunya tersebut, Uki masih harus memutar otak untuk dapat mencari cara agar usaha layanan binatunya mampu menarik perhatian banyak konsumen. Namun, tantangan terbesar bagi usaha layanan binatu milik Uki datang ketika sebuah usaha layanan binatu lain yang lebih besar, didukung teknologi yang lebih modern, serta mampu menawarkan banyak potongan harga kemudian dibuka tepat di hadapan lokasi usaha layanan binatu milik Uki. Perseteruan antara Uki dengan pemilik usaha layanan binatu baru tersebut, Agustina (Giselle Anastasia), kemudian mulai memanas. Continue reading Review: Laundry Show (2019)

Review: Alita: Battle Angel (2019)

Mereka yang telah familiar dengan James Cameron (Avatar, 2009) pasti telah cukup memahami bahwa setiap rilisan film yang melibatkan namanya – baik sebagai sutradara maupun produser – akan menghabiskan waktu yang cukup lama dalam tahapan produksinya. Sebagian besar waktu tersebut digunakan Cameron untuk mengembangkan teknologi yang mendukung penampilan teknologi audio maupun visual dari filmnya. Alita: Battle Angel, yang sempat akan diarahkan Cameron sebelum akhirnya diambil alih oleh Robert Rodriguez (Machete Kills, 2013), juga mengalami masa proses kreatif yang sama. Diadaptasi dari seri manga berjudul Battle Angel Alita, Cameron telah mengumumkan niatnya untuk memproduksi film ini semenjak tahun 2003. Setelah melalui berbagai rintangan – mulai dari masa pengembangan naskah, pergantian posisi sutradara yang lantas menempatkan Cameron untuk duduk di kursi produser bersama dengan Jon Landau, hingga usaha untuk menghasilkan teknologi termutakhir untuk digunakan (yang lantas semakin menambah besar beban biaya produksi film ini) – Alita: Battle Angel memasuki masa produksinya pada tahun 2016 dengan rencana rilis pada pertengahan tahun 2018 sebelum akhirnya mendapatkan revisi jadwal tayang pada awal tahun 2019. Continue reading Review: Alita: Battle Angel (2019)

Review: Serenity (2019)

Apakah era kebangkitan dan kejayaan Matthew McConaughey – juga dikenal dengan sebutan The McConaissance – yang dimulai ketika McConaughey meninggalkan film-film drama romansa berkualitas buruk dan mulai memilih untuk membintangi film-film dengan pengisahan yang lebih kuat dan eksentrik seperti The Lincoln Lawyer (Brad Furman, 2011), Bernie (Richard Linklater, 2012), Killer Joe (William Friedkin, 2012), dan mencapai puncaknya ketika ia memenangkan kategori Best Actor in a Leading Role pada ajang The 86th Annual Academy Awards untuk perannya di film Dallas Buyers Club (Jean-Marc Vallée, 2013) telah usai? Mungkin. Seusai membintangi Interstellar (Christopher Nolan, 2014), hampir tidak ada film yang dibintangi McConaughey mampu meraih tanggapan positif baik dari para kritikus maupun penikmat film dunia. Film terbarunya, Serenity, yang diarahkan oleh Steven Knight (Hummingbird, 2013) dan juga dibintangi oleh pemeran Interstellar lainnya, Anne Hathaway, sayangnya, justru semakin membuktikan indikasi tersebut. Continue reading Review: Serenity (2019)

Review: Terlalu Tampan (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Sabrina Rochelle Kalangie, yang bersama dengan Nurita Anandia juga bertugas sebagai penulis naskah bagi film ini, Terlalu Tampan berkisah mengenai seorang remaja bernama Mas Kulin (Ari Irham) yang sepanjang hidupnya lebih memilih untuk berada di dalam rumah akibat penampilan fisiknya yang terlalu tampan sehingga sering menyebabkan kekacauan bagi orang-orang di sekitarnya – bagi kaum perempuan, untuk tepatnya. Kondisi tersebut membuat kedua orangtua, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan Bu Suk (Iis Dahlia), serta kakak Mas Kulin, Mas Okis (Tarra Budiman), menjadi khawatir dengan perkembangan kepribadian Mas Kulin di masa yang akan datang. Pak Archewe, Bu Suk, dan Mas Okis kemudian menyusun sebuah rencana agar Mas Kulin mau melanjutkan pendidikannya di sekolah umum. Dan berhasil. Mas Kulin lantas bersekolah di sebuah sekolah umum layaknya para remaja lain dan, tentu saja, membuat banyak kaum hawa panik setiap kali melihat kehadirannya. Namun, di saat yang bersamaan, Mas Kulin mulai mengenal sosok seperti Kibo (Calvin Jeremy) dan Rere (Rachel Amanda) yang bersedia menjadi temannya tanpa pernah melihat bagaimana penampilan fisiknya. Continue reading Review: Terlalu Tampan (2019)

Review: Destroyer (2018)

Layaknya film-film yang telah ia arahkan terdahulu seperti Girlfight (2000), Æon Flux (2005), dan Jennifer’s Body (2009), film terbaru arahan Karyn Kusama, Destroyer, juga menampilkan sosok perempuan sebagai karakter utama yang menguasai sekaligus mendominasi linimasa penceritaan. Dalam Destroyer, karakter tersebut adalah Erin Bell yang diperankan oleh Nicole Kidman. Erin Bell adalah sosok polisi perempuan yang akibat torehan masa lalu yang kelam membuatnya kini sepertinya tidak lagi mampu menjaga hubungan apapun dengan orang lain – baik dalam skala personal maupun profesional. Suatu hari, di tempat kerjanya, Erin Bell menerima sebuah amplop yang berisi uang US$100 yang telah terkena noda tinta pada lembarannya. Sebuah kiriman yang misterius namun Erin Bell menyadari bahwa kiriman tersebut berhubungan dengan tragedi yang pernah ia alami di masa lampau yang sepertinya hadir kembali untuk menghantui kehidupannya. Continue reading Review: Destroyer (2018)

Review: Green Book (2018)

Berlatar belakang di tahun 1960an ketika perlakuan diskriminasi dan segregasi terhadap orang-orang kulit berwarna di Amerika Serikat masih berlangsung, film terbaru arahan Peter Farrelly (The Three Stooges, 2012), Green Book, memulai pengisahannya ketika mantan penjaga klub malam yang merupakan seorang Italia-Amerika, Frank “Tony Lip” Vallelonga (Viggo Mortensen), dipekerjakan oleh seorang musisi jazz berdarah Afrika-Amerika, Don Shirley (Mahershala Ali), untuk menjadi supir sekaligus penjaga keamanannya ketika sedang melakukan tur keliling Amerika Serikat yang akan berjalan selama delapan minggu. Jelas bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Selain keduanya harus bersiap menghadapi berbagai kendala yang akan muncul akibat identitas ras yang dimiliki Don Shirley, Frank “Tony Lip” Vallelonga dan Don Shirley sendiri seringkali merasa bahwa mereka bukanlah rekan kerja yang tepat akibat berbagai perbedaan yang ada dalam kepribadian mereka. Namun, menghabiskan masa selama delapan minggu bersama, keduanya mulai saling mengenal, membuka diri, dan bahkan melindungi satu sama lain. Continue reading Review: Green Book (2018)

Review: The Upside (2019)

Masih ingat dengan film drama komedi asal Perancis yang berjudul Intouchables? Ketika dirilis pada tahun 2011, film arahan Olivier Nakache dan Éric Toledano tersebut mampu meraih kesuksesan komersial besar di negara asalnya – dengan biaya produksi yang “hanya” mencapai US$10.8 juta, Intouchables lantas mampu mengumpulkan pendapatan sebesar US$412.9 juta di sepanjang masa perilisannya di Perancis. Tidak hanya sukses secara komersial, Intouchables juga mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus film, mendapatkan delapan nominasi dari ajang The 37th Annual César Awards – dan memenangkan kategori Best Actor untuk Omar Sy, serta akhirnya dipilih Perancis untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film pada The 85th Annual Academy Awards – walau kemudian gagal untuk mendapatkan nominasi. Kesuksesan Intouchables bahkan mampu merambah negara-negara di luar Perancis, seperti Jerman, Korea Selatan, Jepang, Italia, bahkan Amerika Serikat. Tidak mengherankan, beberapa sineas luar negeri lantas merasa tertarik untuk mengadaptasi jalan cerita Intouchables. Sutradara asal India, Vamsi Paidipally, mengarahkan adaptasi berbahasa Telugu dan Tamil dengan judul Oopiri dan merilisnya pada tahun 2016. Di tahun yang sama, sineas asal Argentina, Marcos Carnevale, juga merilis adaptasi Intouchables-nya yang berjudul Inseparables. Continue reading Review: The Upside (2019)

Review: Instant Family (2018)

Merupakan kali ketiga Mark Wahlberg berada dibawah arahan sutradara Sean Anders setelah Daddy’s Home (2015) dan Daddy’s Home Two (2017), Instant Family berkisah mengenai perjalanan hidup pasangan Pete (Wahlberg) dan Ellie Wagner (Rose Byrne) setelah keduanya memutuskan untuk menjadi orangtua asuh bagi tiga bersaudara, Lizzie (Isabela Moner), Juan (Gustavo Quiroz), dan Lita (Julianna Gamiz). Sebagai pasangan yang awalnya hanya memberikan fokus kehidupan pada bisnis yang mereka bangun, kehadiran tiga orang anak dalam keseharian mereka jelas memberikan sebuah warna baru. Bukan sebuah proses adaptasi yang mudah. Selain karena Lizzie, Juan, dan Lita memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain, latar belakang ketiganya yang hadir dengan catatan masa lalu yang kelam juga membuat Pete dan Ellie Wagner sering mendapatkan kesulitan untuk mendekati ketiga anak tersebut. Beruntung, Pete dan Ellie Wagner mendapatkan bimbingan dari dua orang pekerja sosial, Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro). Secara perlahan, Pete dan Ellie Wagner mulai memahami bagaimana cara yang tepat untuk menjadi pasangan orangtua bagi Lizzie, Juan, dan Lita sekaligus merebut hati dan perhatian ketiganya. Continue reading Review: Instant Family (2018)

Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Dalam film terbaru arahan Ody C. Harahap (Sweet 20, 2017), Orang Kaya Baru the Movie, seorang ibu (Cut Mini) dan ketiga anaknya, Duta (Derby Romero), Tika (Raline Shah), dan Dodi (Fatih Unru), yang terbiasa dengan kehidupan perekonomian yang terbatas secara tiba-tiba mendapatkan kejutan dari almarhum suami dan ayah mereka (Lukman Sardi) yang baru saja meninggal dunia berupa sejumlah uang yang… well… cukup untuk memenuhi kebutuhan sang ibu dan ketiga anaknya selama bertahun-tahun mendatang. Sang ayah selama ini ternyata menyembunyikan usaha suksesnya untuk mengajarkan arti hidup secara sederhana kepada keluarganya. Jadilah kini Ibu mampu membeli setiap perhiasan yang selalu diidam-idamkannya, Duta mampu mewujudkan impiannya untuk menggarap sebuah drama panggung yang akan ia sutradarai, Tika dapat melanjutkan kuliahnya di jurusan Arsitektur dengan tenang, serta Dodi yang kini tidak lagi rendah diri ketika bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Namun, apakah memiliki uang yang berlimpah dan berkecukupan sama artinya dengan memiliki kehidupan yang berbahagia? Continue reading Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Review: The Kid Who Would Be King (2019)

Well… tidak terlalu lama semenjak perilisan King Arthur (Antoine Fuqua, 2004) dan King Arthur: Legend of the Sword (Guy Ritchie, 2017), Hollywood kembali menghadirkan kisah mengenai King Arthur dan pedang legendarisnya, Excalibur, lewat film terbaru arahan Joe Cornish (Attack of the Block, 2011), The Kid Who Would Be King. Berbeda dengan film arahan Fuqua dan Ritchie, kisah hidup King Arthur hanya dijadikan inspirasi bagi linimasa penceritaan The Kid Who Would Be King yang kemudian berfokus pada petualangan sekelompok anak-anak yang melakukan perjalanan ke tanah kelahiran King Arthur guna menyelamatkan dunia dari sosok jahat yang berasal dari masa lalu dan berniat untuk kembali menguasai dunia. Formula ceritanya mungkin terasa bagai paduan antara legenda King Arthur dengan kisah petualangan yang telah dihadirkan Cornish sebelumnya lewat Attack of the Block. Namun, dengan pengarahan dan penggarapan naskah yang efektif, Cornish mampu memberikan sentuhan menyegarkan atas legenda King Arthur – yang mungkin merupakan salah satu kisah paling familiar bagi kebanyakan umat manusia yang ada di permukaan Bumi – dan menghadirkan sebuah sajian film keluarga yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: The Kid Who Would Be King (2019)

The 91st Annual Academy Awards Nominations List

The Favourite is the favourite! Film terbaru arahan sutradara Yorgos Lanthimos sukses menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di ajang The 91st Annual Academy Awards. The Favourite berhasil meraih sepuluh nominasi, termasuk nominasi di kategori Best Picture, Best Director untuk Lanthimos – yang menjadi nominasi Best Director perdana bagi sutradara kelahiran Yunani tersebut, Best Actress untuk Olivia Colman, Best Supporting Actress untuk Rachel Weisz dan Emma Stone, serta untuk Best Original Screenplay. Namun, The Favourite tidak melangkah sendirian. Film arahan Alfonso Cuarón, Roma, juga berhasil meraih jumlah perolehan nominasi yang sama dan bahkan akan turut bersaing dengan The Favourite dalam lima kategori utama yang telah disebutkan sebelumnya. Bergabung bersama The Favourite dan Roma dalam persaingan memperebutkan gelar Best Picture adalah Black Panther (Ryan Coogler, 2018), BlacKkKlansman (Spike Lee, 2018), Bohemian Rhapsody (Bryan Singer, 2018), Green Book (Peter Farrelly, 2018), A Star is Born (Bradley Cooper, 2018), dan Vice (Adam McKay, 2018). Continue reading The 91st Annual Academy Awards Nominations List

Review: Glass (2019)

Selalu ada kejutan yang berhasil diterapkan sutradara M. Night Shyamalan dalam setiap film yang diarahkannya. Kejutan tersebut bukan hanya datang dari pelintiran plot penceritaan dalam filmnya namun, seperti yang diketahui oleh para penikmat film-filmnya, juga hampir selalu datang dari kualitas presentasi keseluruhan film-film tersebut. Setelah meraih sukses besar sekaligus mendapatkan kredibilitas tinggi sebagai sosok sutradara yang cerdas lewat film-filmnya seperti The Sixth Sense (1999) – yang memberikannya nominasi Best Director di ajang The 72nd Annual Academy Awards, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004), siapa yang dapat menyangka jika karir Shyamalan akan mendapatkan hantaman beruntun ketika film-filmnya Lady in the Water (2006), The Happening (2008), The Last Airbender (2010), dan After Earth (2013) tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film dunia namun juga gagal untuk mendapatkan kesuksesan komersial yang maksimal. Namun, tentu saja, karir Shyamalan tidak lantas mati dan berhenti pada deretan kegagalan tersebut. Bekerjasama dengan produser Jason Blum, Shyamalan merilis The Visit (2015) dan Split (2017) yang sekali lagi – kejutan! – membangkitkan ketertarikan dunia pada kemampuan sutradara berkewarganegaraan Amerika Serikat tersebut dalam merangkai kisah-kisah tak biasanya. Continue reading Review: Glass (2019)