Review: Jolt (2021)

Advertisements

Film terbaru arahan Tanya Wexler (Buffaloed, 2019), Jolt, berkisah tentang seorang perempuan bernama Lindy (Kate Beckinsale) yang semenjak kecil didiagnosa memiliki kelainan kondisi medis dimana dirinya tidak mampu menahan rasa amarah yang lantas mendorongnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Untuk menangani rasa amarah Lindy yang sering tidak terkendali, psikiaternya, Dr. Munchin (Stanley Tucci), memberikan sebuah alat kejut listrik yang mampu meredam hasrat Lindy untuk berlaku kasar ketika dirinya sedang emosional. Dr. Munchin juga menyarankan Lindy untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan orang lain. Saran yang kemudian mempertemukan Lindy dengan seorang akuntan bernama Justin (Jai Courtney). Tanpa disangka, Justin ternyata dapat merebut sekaligus melunakkan hati Lindy. Namun, belum lama kisah asmara tersebut tumbuh, sebuah tragedi muncul dan menimpa Justin. Lindy tidak mampu lagi mengontrol seluruh emosi yang ia rasakan dan lantas berusaha untuk menemukan siapa yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada sosok pria yang begitu dicintainya.

Continue reading Review: Jolt (2021)

Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Advertisements

Menjadi film pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Israel, Navot Papushado, secara solo – setelah sebelumnya mengarahkan Rabies (2010) dan Big Bad Wolves (2013) bersama dengan Aharon Keshales, Gunpowder Milkshake berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Sam (Karen Gillan) yang ditugaskan untuk membunuh seorang pria, David (Samuel Anderson), karena telah mencuri sejumlah uang dari perusahaan tempat Sam sekarang bekerja, The Firm. Sebagai seorang pembunuh bayaran profesional, tugas tersebut jelas bukanlah sebuah hal yang sulit. Namun, ketika mengetahui bahwa David mencuri uang tersebut untuk digunakan sebagai tebusan bagi putrinya, Emily (Chloe Coleman), yang sedang diculik, hati Sam kemudian tergerak untuk membantu. Sam sendiri yang kemudian menghantarkan uang tebusan tersebut kepada sang penculik dengan maksud untuk kembali merebut uang tersebut dan mengembalikannya ke perusahaan setelah Emily berhasil ia dapatkan. Sial, rencana tersebut menemui kegagalan yang bahkan menyebabkan uang hasil curian lenyap. Sam, yang biasa memburu dan membunuh orang-orang yang telah ditentukan oleh The Firm, kini menjadi buruan karena dugaan telah melarikan uang perusahaan. Continue reading Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Advertisements

Dirancang sebagai sebuah trilogi yang masing-masing bagian pengisahannya dirilis tiap minggu secara berurutan oleh Netflix, seri film Fear Street mengakhiri perjalanan kisahnya dengan perilisan Fear Street Part Three: 1666. Dengan naskah cerita yang digarap oleh sutradara film ini, Leigh Janiak, bersama dengan Phil Graziadei dan Kate Trefry, Fear Street Part Three: 1666 akan membawa penontonnya semakin jauh ke masa lalu untuk menggali secara mendalam kisah dari seorang perempuan bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dikisahkan, di pemukiman yang dikenal dengan nama Union – yang di masa depan akan berkembang menjadi kota modern, Sunnyvale dan Shadyside, sebuah kekuatan misterius menyebabkan bahan makanan menjadi membusuk, hewan ternak mati, dan, puncaknya, Pastor Cyrus Miller (Michael Chandler) ditemukan telah membunuh murid-muridnya. Panik, warga Union mulai berkumpul dan memutuskan bahwa kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka adalah merupakan akibat perbuatan sihir. Kepanikan warga tersebut kemudian dimanfaatkan oleh seorang pemuda bernama Caleb (Jeremy Ford) untuk membalaskan dendamnya pada Sarah Fier dan Hannah Miller (Olivia Scott Welch) yang dahulu pernah mempermalukannya. Continue reading Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Review: A Perfect Fit (2021)

Advertisements

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Hadrah Daeng Ratu (Makmum, 2019), bersama dengan Garin Nugroho (99 Nama Cinta, 2019), A Perfect Fit berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara Saski (Nadya Arina), seorang penulis di bidang fesyen, dengan Rio (Refal Hady), yang secara perlahan berujung pada kedekatan antara keduanya. Padahal, Saski telah bertunangan dengan Deni Wijaya (Giorgino Abraham), seorang pemuda yang sebentar lagi akan meneruskan bisnis hotel milik ayahnya (Mathias Muchus). Di saat yang bersamaan, oleh sang ibu (Unique Priscilla), Rio juga sedang dijodohkan dengan teman masa kecilnya, Tiara (Anggika Bolsterli), yang kini telah menjelma menjadi seorang pengusaha dan turut berniat untuk mengembangkan toko sepatu yang dimiliki oleh Rio. Meskipun telah memiliki sosok lain yang akan segera mendampingi mereka dalam kehidupan pernikahan, namun baik Saski dan Rio tidak dapat membantah kenyamanan yang mereka rasakan ketika keduanya sedang bercengkrama bersama. Continue reading Review: A Perfect Fit (2021)

Review: Chaos Walking (2021)

Advertisements

Selain menjadi judul dari film terbaru arahan Doug Liman (American Made, 2017), Chaos Walking jelas merupakan ungkapan yang juga tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana proses pembuatan film ini. Diadaptasi dari buku The Knife of Never Letting Go yang merupakan buku pertama dari trilogi Chaos Walking karangan Patrick Ness, kekacauan serta hambatan yang dihadapi film yang dibintangi Daisy Ridley dan Tom Holland ini telah dimulai ketika naskah cerita yang awalnya ditulis oleh Charlie Kaufman (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, 2004) kemudian dinilai kurang memuaskan dan lantas mendapatkan revisi dari sejumlah penulis naskah lain seperti Jamie Linden (Dear John, 2010) dan John Lee Hancock (The Little Things, 2021) sebelum akhirnya menggunakan naskah yang digarap oleh Ness bersama dengan Christopher Ford (Spider-Man: Homecoming, 2017). Proses pengambilan gambar film sendiri sebenarnya telah diselesaikan pada tahun 2017. Namun, setelah mendapatkan respon buruk dari sejumlah tes penayangan, Chaos Walking lantas melakukan sejumlah proses pengambilan gambar ulang – yang melibatkan sutradara Fede Álvarez (The Girl in the Spider’s Web, 2018) – dan menunda perilisan film ini dari tahun 2019 menjadi awal tahun ini. Tidak mengejutkan bila kemudian deretan kekacauan tersebut cukup terefleksi pada kualitas akhir dari pengisahan Chaos Walking. Continue reading Review: Chaos Walking (2021)

Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Advertisements

Melanjutkan laju pengisahan Fear Street Part One: 1994 (Leigh Janiak, 2021), Fear Street Part Two: 1978, yang masih diarahkan oleh Janiak dengan naskah cerita yang ditulis oleh Janiak bersama dengan Zak Olkewicz berdasarkan seri buku Fear Street karangan R. L. Stine, akan menguak lebih dalam mengenai misteri keberadaan seorang perempuan bernama Sarah Fier yang di tahun 1666 dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dengan latar belakang waktu pengisahan di tahun 1978, film ini memperkenalkan dua bersaudara yang berasal dari kota Shadyside, Ohio, Amerika Serikat, Cindy (Emily Rudd) dan Christine Berman atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Ziggy (Sadie Sink), yang sedang mengikuti perkemahan musim panas di Camp Nightwing. Meskipun bersaudara, Cindy dan Ziggy Berman memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kesehariannya: Cindy Berman berfokus penuh untuk mewujudkan seluruh impiannya agar dapat keluar dari Shadyside sementara Ziggy Berman lebih memilih untuk menikmati hidup meskipun akhirnya sering terjebak dalam berbagai masalah. Hubungan keduanya kemudian mendapatkan ujian ketika Camp Nightwing mendapatkan teror dari seorang sosok bertopeng yang bersiap untuk membunuh setiap orang yang ditemuinya. Continue reading Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Review: The Tomorrow War (2021)

Advertisements

Dalam The Tomorrow War, Chris Pratt berperan sebagai seorang pria dengan berbagai kenangan buruk akan sosok ayah yang meninggalkan dirinya di masa kecil serta kini harus turut dalam sebuah pertarungan melawan makhluk asing dari angkasa luar guna menyelamatkan Bumi. Bukan. The Tomorrow War bukanlah film yang melanjutkan perjalanan cerita Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) dan Guardians of the Galaxy Vol. 2 (Gunn, 2017) yang juga dibintangi oleh Pratt. Menjadi film pertama yang diarahkan oleh Chris McKay setelah kesuksesannya dalam mengarahkan film animasi The LEGO Batman Movie (2017), The Tomorrow War memang menghadirkan Pratt untuk berperan sebagai sosok dengan latar belakang karakter yang menyerupai sosok karakter yang diperankannya dalam seri film yang termasuk dalam semesta pengisahan Marvel Cinematic Universe tersebut. Tidak hanya desain karakter utamanya, film fiksi ilmiah ini juga memiliki barisan konflik yang cukup familiar bagi mereka para penikmat film-film bertemakan peperangan dengan makhluk asing dari angkasa luar. Bukan lantas berarti buruk karena McKay mampu membalut filmnya dengan banyak momen aksi yang akan cukup berhasil untuk mempesona banyak mata yang menyaksikannya. Continue reading Review: The Tomorrow War (2021)

Review: The 8th Night (2021)

Advertisements

Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara sekaligus penulis naskah Kim Tae-hyoung, alur penceritaan The 8th Night dimulai ketika seorang biksu muda, Cheong-seok (Nam Da-reum), ditugaskan oleh gurunya, Ha-jeong (Lee Eol), untuk membawa sebuah bungkusan kepada seorang mantan biksu, Park Jin-soo (Lee Sung-min), sekaligus memperingatkannya bahwa sesosok makhluk jahat yang dahulu pernah berusaha untuk membuka pintu neraka telah kembali dan bersiap untuk mengulangi kembali aksinya. Bukan usaha yang mudah. Selain Cheong-seok harus menemukan Park Jin-soo yang tidak terlalu jelas lokasi keberadaannya, Park Jin-soo menyimpan kenangan akan masa lalu yang kelam dan membuatnya tidak lagi percaya akan berbagai ajaran yang dulu diterimanya sebagai seorang biksu. Di saat yang bersamaan, seorang detektif bernama Kim Ho-tae (Park Hae-joon), sedang dilanda kebingungan ketika dirinya harus mengungkap kasus pembunuhan aneh dimana para korban ditemukan dengan kondisi mayat telah mengering. Continue reading Review: The 8th Night (2021)

Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Advertisements

Sebelum namanya popular berkat seri novel horor Goosebumps (1992) yang ditujukan bagi para pembaca dari kalangan anak-anak, R. L. Stine sebelumnya telah merilis serangkaian novel yang juga bertema horor berjudul Fear Street (1989) dengan alur pengisahan yang lebih berorientasi pada para pembaca dari kalangan remaja. Meskipun kesuksesannya tidak sefenomenal Goosebumps, Fear Street tetap berhasil mengumpulkan sejumlah besar penggemar sekaligus menarik perhatian Hollywood yang kemudian berusaha untuk mengadaptasi seri novel tersebut menjadi serial televisi maupun film – khususnya setelah kesuksesan yang diraih oleh Scream (Wes Craven, 1996). Serial televisi yang didasarkan pada seri novel Fear Street dan ditayangkan pada tahun 1998, sayangnya, gagal untuk menemukan peminat. Sementara itu, adaptasi film dari Fear Street baru benar-benar menemukan titik terang pada tahun 2015 ketika Chernin Entertainment mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan mengembangkan Fear Street sebagai sebuah film trilogi dengan Leigh Janiak (Honeymoon, 2014) duduk di kursi penyutradaraan. Proses produksi trilogi Fear Street sendiri telah selesai pada tahun 2019 dan kini Netflix akan merilis setiap film dari seri tersebut di setiap minggu pada bulan Juli 2021, dimulai dengan Fear Street Part One: 1994. Continue reading Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Review: Devil on Top (2021)

Advertisements

Menyusul Sabar ini Ujian (2020) dan Till Death Do Us Part (2021), Devil on Top menjadi film ketiga arahan Anggy Umbara yang diproduksi oleh rumah produksi miliknya, Umbara Brothers Film, bersama dengan MD Pictures yang dirilis untuk ditayangkan melalui Disney+ Hotstar. Drama komedi ini berkisah mengenai seorang pemuda bernama Angga (Angga Yunanda), yang bersama dengan ketiga sahabat sekaligus rekan kerjanya, Richard (Kenny Austin), Rudi (Joshua Suherman), dan Boni (Lolox), menyusun rencana untuk menggulingkan atasan mereka, Sarah (Cinta Laura Kiehl), dikarenakan kerasnya sikap Sarah kepada setiap bawahannya di tempat mereka bekerja. Berbagai rencana mulai mereka susun. Angga, Richard, Rudi, dan Boni bahkan berusaha menggali masa lalu sekaligus rahasia-rahasia kelam milik Sarah agar perempuan tersebut dapat segera dipecat dari posisinya. Sial, ketika dirinya ditunjuk menjadi seorang direktur kreatif yang membuatnya harus sering bekerja secara langsung dan berdekatan dengan Sarah, Angga malah mulai merasakan benih-benih asmara tumbuh antara dirinya dengan sang atasan. Continue reading Review: Devil on Top (2021)

Review: Luca (2021)

Advertisements

Dengan film-film seperti WALL·E (Andrew Stanton, 2008), Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), serta Inside Out (Pete Docter, 2015) dan Soul (Docter, 2020) berada di dalam filmografi Pixar Animation Studios, mungkin mudah untuk memandang premis cerita yang ditawarkan oleh Luca secara sebelah mata. Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara Enrico Casarosa – yang sebelumnya mengarahkan film pendek berjudul La Luna (2011) yang berhasil mendapatkan nominasi Best Animated Short di ajang The 84th Annual Academy Awards, Luca berkisah mengenai persahabatan antara dua monster laut, Luca Paguro (Jacob Tremblay) dan Alberto Scorfano (Jack Dylan Grazer), yang menyadari bahwa spesies mereka memiliki kemampuan untuk berubah wujud menyerupai manusia ketika sedang berada di daratan. Dengan kemampuan tersebut, keduanya kemudian berpetualang ke sebuah kota bernama Portorosso yang terletak di wilayah pesisir Italia dan bersahabat dengan seorang anak perempuan bernama Giulia Marcovaldo (Emma Berman). Meskipun jalinan persahabatan antara ketiganya terus bertambah erat, baik Luca Paguro dan Alberto Scorfano terus merasa khawatir akan sikap Giulia Marcovaldo serta warga sekitar Portorosso jika mereka mengetahui siapa sosok diri mereka yang sebenarnya. Continue reading Review: Luca (2021)

IndiHome Hadirkan Dolby Audio untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Sinematis

Advertisements

Harus diakui, keberadaan pandemi COVID-19 telah memberikan banyak perubahan dalam keseharian manusia sebagai makhluk sosial. Bayangkan saja, dalam jangka waktu setahun, kebiasaan manusia yang melibatkan interaksi dengan sosok manusia lain harus diminimalisir (baca: ditinggalkan) demi membantu usaha untuk memerangi keberadaan virus tersebut. Bagi para penggemar film, salah satu kegiatan yang terpaksa harus ditinggalkan, tentu saja, adalah aktivitas untuk menonton dan menikmati penayangan film di layar bioskop. Continue reading IndiHome Hadirkan Dolby Audio untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Sinematis

Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Advertisements

Diarahkan oleh Lucky Kuswandi (Galih & Ratna, 2017) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Gina S. Noer (Dua Garis Biru, 2019), Ali & Ratu Ratu Queens bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Ali (Iqbaal Ramadhan) untuk menemukan kebahagiannya di kota New York, Amerika Serikat. Mengapa New York? Karena di kota itulah sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang semenjak lama telah meninggalkan dirinya dan sang ayah, Hasan (Ibnu Jamil), demi mengejar mimpi untuk menjadi seorang penyanyi, kini berada. Berbekal sejumlah uang, tiket penerbangan yang dahulu pernah dikirimkan oleh ibunya, serta sedikit informasi tentang lokasi keberadaan sang ibu, Ali memulai perjalanannya. Sial, sesampainya di sebuah apartemen yang menjadi tujuannya di wilayah Queens, New York, Ali diberitahu bahwa kini ibunya tidak lagi tinggal disana. Di saat yang bersamaan, Ali bertemu dengan empat imigran asal Indonesia, Party (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Chinta (Happy Salma), serta Ance (Tika Panggabean), yang kemudian bersedia untuk menampung Ali serta membantunya untuk menemukan keberadaan sang ibu. Continue reading Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

Exit mobile version
%%footer%%