Review: Turning Red (2022)


Selepas memenangkan Academy Awards di kategori Best Animated Short Film untuk film pendeknya Bao (2018) dari ajang The 91st Annual Academy Awards, sutradara Domee Shi melanjutkan karir penyutradaraannya dengan mengarahkan film animasi cerita panjang pertamanya Turning Red. Seperti halnya Bao, naskah cerita Turning Red yang digarap Shi bersama dengan Julia Cho juga mengedepankan tuturan tentang hubungan antara ibu dan anak dengan menggunakan budaya dan/atau tradisi masyarakat Asia sebagai benang merah dari jalinan hubungan tersebut. Mengikuti formula film-film produksi Pixar Animation Studios seperti Brave (Mark Andrews, Brenda Chapman, 2012) dan Inside Out (Pete Docter, 2015) sembari mengambil inspirasi dari kehidupan pribadinya sebagai seorang anak perempuan yang memasuki masa remaja, Shi menjadikan Turning Red sebagai gambaran yang berkesan universal akan pergolakan yang dialami oleh hubungan ibu dan anak ketika sang anak mulai berusaha untuk menentukan atau menemukan identitas kehidupannya sendiri.

Dengan menggunakan latar belakang lokasi pengisahan di Toronto, Kanada pada tahun 2002, alur pengisahan Turning Red dimulai dengan memperkenalkan karakter utamanya – seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang bernama Meilin Lee (Rosalie Chiang) yang tinggal bersama kedua orangtuanya, Jin Lee (Orion Lee) dan Ming Lee (Sandra Oh). Meskipun menggambarkan dirinya sebagai gadis cerdas yang tahu apa yang diinginkannya serta bersama dengan teman-teman baiknya, Miriam Meldelsohn (Ava Morse), Priya Mangal (Maitreyi Ramakrishnan), dan Abby Park (Hyein Park), begitu menggemari grup vokal laki-laki popular bernama 4*Town, Meilin Lee seringkali bersitegang dengan sang ibu yang bersikap overprotektif pada dirinya. Suatu pagi, setelah melewati tidur malam yang diisi dengan mimpi buruk, Meilin Lee mendapati dirinya berubah menjadi sosok panda merah. Jelas menimbulkan rasa panik – tidak hanya dari Meilin Lee, namun juga ibunya yang menyadari bahwa satu rahasia dari masa lalu keluarganya akan segera terungkap.

Tentu, kisah tentang para anak yang berusaha melawan norma keluarga yang mengekang kepribadian mereka bukanlah sebuah pola cerita baru bagi film-film rilisan Pixar Animation Studios – mulai dari Finding Nemo (Andrew Stanton, 2003), Ratatouille (Brad Bird, 2007), hingga Brave, dan Coco (Adrian Molina, Lee Unkrich, 2017) – maupun Walt Disney Pictures – dari Lilo & Stitch (Chris Sanders, Dean DeBlois, 2002), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), hingga hampir seluruh film animasi yang menempatkan para Disney princess sebagai karakter utamanya. Turning Red mampu hadir dengan keistimewaan pengisahan tersendiri berkat pendekatan cerita Shi yang terasa personal – yang didorong oleh pengalaman kehidupannya sendiri – namun lantang dalam penjabaran konfliknya. Dengan menggunakan seorang anak perempuan sebagai karakter utama, Turning Red dengan fasih bertutur tentang menstruasi, hubungan erat dengan teman-teman sebaya yang memiliki kegemaran yang sama, fase cinta monyet terhadap sosok anak laki-laki yang dikagumi, serta kegilaan akan grup vokal laki-laki. Shi menghadirkan fase kehidupan bagi seorang anak perempuan tersebut dengan memikat.

Namun, Turning Red bukanlah sebuah presentasi yang hanya dapat berbicara kepada para perempuan atau mereka yang memiliki latar belakang Asia – yang dihadirkan dengan gambaran bagaimana para orangtua dengan latar belakang Asia memiliki standar kesempurnaan tersendiri yang harus dipenuhi dan dicapai oleh anak-anak mereka. Secara universal, film ini mengulas bagaimana sebuah proses menjadi dewasa yang akan dilewati oleh setiap orang. Turning Red juga bertutur tentang hubungan antara orangtua dan anak serta bagaimana hubungan tersebut kemudian berpengaruh pada perilaku sang anak di masa dewasanya. Lihat saja gambaran bagaimana kerasnya didikan sang ibu, Wu (Wai Ching Ho), memberikan pengaruh pada cara Ming Lee dalam memperlakukan puterinya, Meilin Lee. Bahasan tentang intergenerational trauma yang sebenarnya cukup pelik namun mampu dikemas dengan apik oleh naskah cerita garapan Shi dan Cho.

Yang paling mengesankan dari kisah garapan Shi adalah bagaimana ia menggarap karakter-karakternya. Karakter Ming Lee bukanlah sosok ibu otoriter yang selalu menekankan setiap keinginannya pada sang anak. Begitu pula dengan karakter Meilin Lee, yang tidak digambarkan sebagai sosok yang terkekang dari setiap aspek keinginannya dalam hidup. Karakter-karakter sederhana, biasa, dan regular yang mudah ditemukan di sekitar penonton – atau malah menggambarkan atau terhubung dengan para penonton sendiri. Mitos tentang panda merah yang coba disajikan Shi memang beberapa kali terkesan kurang tergali mendalam, khususnya ketika berhubungan dengan sejarah dari keluarga Ming Lee di masa lampau. Meskipun begitu, dengan narasi yang manis, hangat, dan berkesan begitu jujur dalam penggambaran masa transisi remaja serta didukung dengan kualitas animasi penuh warna – yang mengambil sejumlah pengaruh dari film-film animasi klasik buatan Studio Ghibli – Turning Red mampu menjelma menjadi sebuah presentasi cerita yang kuat.

Shi juga mendapatkan dukungan penampilan vokal yang mengesankan dari barisan pengisi suara filmnya. Chiang yang hadir dengan chemistry yang erat dengan para pemeran teman-temannya, Morse, Ramakrishnan, dan Park, serta sering menghadirkan momen-momen komikal yang begitu menyenangkan. Atau Oh yang hadir sangat meyakinkan dalam menghidupkan karakter Ming Lee. Tidak lupa, pujian khusus layak diberikan pada barisan lagu yang ditulis oleh Billie Eilish dan Finneas O’Connell yang mengisi banyak adegan film, khususnya lagu Nobody Like U yang mampu dibentuk sebagai sebuah tribut bagi lagu-lagu pop rilisan banyak grup vokal laki-laki yang begitu mendunia pada awal tahun 2000an dan akan dengan mudah melekat di ingatan banyak orang yang mendengarnya.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn2

turning-red-pixar-movie-posterTurning Red (2022)

Directed by Domee Shi Written by Julia Cho, Domee Shi (screenplay), Domee Shi, Julia Cho, Sarah Streicher (story) Produced by Lindsey Collins Starring Rosalie Chiang, Sandra Oh, Ava Morse, Maitreyi Ramakrishnan, Hyein Park, Orion Lee, Wai Ching Ho, Tristan Allerick Chen, James Hong, Addie Chandler, Sasha Roiz, Lily Sanfelippo, Lori Tan Chinn, Lillian Lim, Sherry Cola, Mia Tagano, Jordan Fisher, Finneas O’Connell, Josh Levi, Topher Ngo, Grayson Villanueva Cinematography Mahyar Abousaeedi, Jonathan Pytko Edited by Nicholas C. Smith, Steve Bloom Music by Ludwig Göransson Production companies Walt Disney Pictures/Pixar Animation Studios Running time 99 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s