Review: Garis Waktu (2022)


Menjadi film arahan Jeihan Angga kedua setelah Just Mom (2021) yang dirilis secara luas di layar bioskop pada tahun ini, Garis Waktu merupakan drama romansa yang alur pengisahannya ditulis oleh Benni Setiawan (Merindu Cahaya de Amstel, 2021) berdasarkan novel berjudul sama garapan penulis sekaligus pemusik Fiersa Besari. Linimasa ceritanya dimulai ketika April (Michelle Ziudith) bertemu dan berkenalan dengan Senandika (Reza Rahadian). Kepribadian Senandika yang menarik dengan segera mampu menarik perhatian April. Gadis itu bahkan tidak segan mengenalkan Senandika kepada sahabatnya, Sanya (Anya Geraldine), yang diharapkan dapat membantu Senandika untuk mengembangkan karirnya sebagai seorang musisi. Sayang, kedekatan April dengan Senandika tidak disukai oleh sang ayah, Halim (Bambang Paningron). Guna memisahkan April dengan Senandika, Halim mengirimkan sang putri untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Di saat yang bersamaan, keberadaan Sanya secara perlahan mulai mengisi keseharian Senandika setelah dirinya ditinggal April.

Tidak akan ada yang dapat menduga jika Garis Waktu diarahkan oleh sutradara yang sebelumnya juga mengarahkan Mekah, I’m Coming (2020) dan Just Mom karena film ini memiliki kualitas penceritaan yang berada jauh dibawah kualitas kedua film tersebut. Penuturan Garis Waktu sebenarnya dimulai dengan menyenangkan. Interaksi yang terjalin antara ketiga karakter utama yang juga dimanfaatkan untuk menghadirkan penokohan dari karakter-karakter tersebut tergarap meyakinkan. Klise – dengan barisan narasi puitis yang kadang terdengar menggelikan, namun cukup mampu menghadirkan kesan manis untuk dinikmati penuturannya. Sial, layaknya mengunyah permen karet, manisnya pengisahan Garis Waktu dengan segera berakhir ketika linimasa ceritanya mulai menambah serta mengembangkan beban konfliknya.

Permasalahan terbesar dari Garis Waktu terletak pada naskah ceritanya. Setiawan berusaha untuk mengisi konflik utama film yang bertutur tentang perjalanan hubungan romansa antara kedua karakter utamanya dengan sejumlah lapisan cerita yang dimunculkan dari karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar mereka. Namun, tidak ada satupun dari konflik tersebut disajikan dengan kualitas penuturan yang memadai. Dangkal, dengan kebanyakan konflik hadir atau diselesaikan secara tiba-tiba – tiba-tiba lagu garapan karakter Senandika viral dan diminati banyak orang, tiba-tiba karakter April telah menyelesaikan masa pendidikannya dan kembali ke Indonesia, tiba-tiba karakter Halim diingatkan oleh sang istri, Sali (Izabel Yahya), bahwa dulu ia juga adalah seorang musisi yang kemudian membuatnya memberikan restu pada hubungan romansa dari karakter April dan Senandika, atau tiba-tiba karakter Bu Asih (Ruliyani Isfihana) dikisahkan meninggal karena sakit. Bahkan “kisah perselingkuhan” antara karakter Senandika dengan karakter Sanya yang seharusnya menjadi konflik utama juga hadir dengan pengisahan yang terlalu lemah untuk benar-benar dianggap sebagai sebuah konflik. Garapan yang seolah melecehkan logika penontonnya demi menghasilkan sajian drama bernuansa melankolis – yang gagal, tentu saja.

Pengarahan yang diberikan Angga juga tidak banyak membantu untuk mengemas kualitas naskah cerita Setiawan yang benar-benar buruk terlihat menjadi lebih baik. Entah karena Garis Waktu menjadi film cerita panjang pertama yang naskah ceritanya tidak melibatkan dirinya, pengarahan Angga berkesan hampa. Ritme ceritanya berantakan. Durasi pengisahan yang sebenarnya hanya berjalan selama 100 menit terasa berlangsung jauh lebih lama berkat garapan cerita Angga yang lamban. Kualitas produksi dan penampilan para pengisi departemen akting film juga berkualitas seadanya. Chemistry antara Rahadian – yang sepertinya sadar dengan kualitas cerita film ini dan lantas memilih untuk menyimpan energi beraktingnya – dan Ziudith tidak pernah terasa meyakinkan. Geraldine… well… penampilan aktingnya masih terbatas. Namun dengan karakterisasi yang juga dangkal, penampilan aktingnya setidaknya tidak berakhir dengan kesan yang benar-benar buruk.

Sebuah film berkualitas buruk yang seharusnya tidak pernah ada dalam garisan waktu kehidupan siapapun.

popcornpopcorn2popcorn2popcorn2popcorn2

garis-waktu-reza-rahadian-michelle-ziudith-anya-geraldine-movie-posterGaris Waktu (2022)

Directed by Jeihan Angga Produced by Manoj Punjabi Written by Benni Setiawan (screenplay), Fiersa Besari (novel, Garis Waktu) Starring Reza Rahadian, Michelle Ziudith, Anya Geraldine, Izabel Yahya, Bambang Paningron, Giras Basuwondo, Ruliyani Isfihana Music by Alfaomega Bani Sabathino Cinematography Mandella Majid Editing by Jeihan Angga Studio MD Pictures Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Garis Waktu (2022)”

    1. Ya emang segitu doang sepertinya batasannya. Tapi kalo untuk karakter yang serupa dengan ini sih yah… jadinya emang kerasa gak melenceng atau ngecewain amat sik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s