Review: Marry Me (2022)


Jika Anda merindukan penampilan akting Jennifer Lopez dalam film drama komedi romantis seperti yang dahulu sering dilakoninya lewat film-film semacam The Wedding Planner (Adam Shankman, 2001), Maid in Manhattan (Wayne Wang, 2002), Monster-in-Law (Robert Luketic, 2005), hingga The Back-Up Plan (Alan Poul, 2010) dan What to Expect When You’re Expecting (Kirk Jones, 2012), jelas akan dapat dengan mudah menyukai Marry Me. Diarahkan oleh Kat Coiro (A Case of You, 2013), film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karangan Bobby Crosby ini akan membawa para penontonnya kembali ke era keemasan film-film drama komedi romantis yang menghadirkan alur pengisahan yang begitu sederhana namun terasa manis dengan dukungan penampilan apik Lopez dan barisan pemeran yang… well… atraktif serta mudah untuk menarik perhatian.

Penceritaan Marry Me dimulai ketika pernikahan antara dua penyanyi terkenal, Katalina Valdez (Lopez) dan Bastian (Maluma), yang seharusnya digelar di hadapan ribuan mata penonton konser keduanya tiba-tiba dibatalkan ketika Katalina Valdez mengetahui bahwa Bastian telah berselingkuh darinya. Tidak ingin rencananya untuk menikah berlalu begitu saja, Katalina Valdez secara impulsif lantas meminta seorang guru Matematika, Charlie Gilbert (Owen Wilson), yang menghadiri konser tersebut bersama dengan puteri, Lou Gilbert (Chloe Coleman), dan rekan kerjanya, Parker Debbs (Sarah Silverman), untuk naik ke atas panggung dan menikah dengan dirinya. Terkejut namun tidak ingin menambah rasa kecewa yang dirasakan sang bintang, Charlie Gilbert menyetujui permintaan Katalina Valdez. Siapa sangka, perkenalan dan hubungan yang terjalin secara tiba-tiba tersebut kemudian akan mengubah kehidupan keduanya secara total.

Premis yang ditawarkan oleh Marry Me jelas akan dengan mudah membawa ingatan para penikmat film-film drama komedi romantis kepada film-film sejenis yang memang sering menggunakan premis tentang pertemuan dua sosok karakter yang saling bertolak belakang pada penuturan kisahnya – Notting Hill (Roger Michell, 1999) dan Maid in Manhattan – yang dibintangi Lopez sendiri, anyone? Pengulangan tema tidak lantas menjadikan Marry Me terasa membosankan. Seperti film-film sepantarannya, Marry Me dikemas menjadi sebuah sajian cerita dengan kesan manis akan perjalanan dua sosok karakter yang berusaha untuk saling mengenal satu dengan yang lain sebelum akhirnya menyadari bahwa keduanya tercipta untuk bersama. Naskah cerita yang dikerjakan oleh John Rogers (Catwoman, 2004), Tami Sagher, dan Harper Dill juga mampu mengeksplorasi karakter-karakternya dengan cukup baik, mulai dari latar belakang kehidupannya, sikap mereka di keseharian, hingga berbagai cerita yang akhirnya menghubungkan mereka. Garapan kisah tentang posisi seorang wanita yang lebih sukses dari pasangannya dalam sebuah hubungan juga cukup menarik. Tidak ada yang istimewa, namun film ini setidaknya mau berusaha untuk memberikan penuturan yang cukup berwarna.

Di saat yang bersamaan, dengan berbagai kefamiliaran yang dihadirkan oleh linimasa penceritaannya, Coiro tidak pernah mampu untuk mendapatkan kualitas terbaik dari setiap elemen pengisahan Marry Me. Tidak seperti film-film drama komedi romantis yang mampu tampil manis sekaligus intim, Marry Me kurang dapat memberikan galian yang benar-benar kuat maupun memikat dari barisan konflik ataupun karakternya. Hubungan antara karakter Katalina Valdez dan Charlie Gilbert dapat dikembangkan, namun tidak pernah benar-benar terasa meyakinkan. Penuturan akan karir dari karakter Katalina Valdez sebagai seorang penyanyi sukses serta pekerjaan sebagai guru yang didalami oleh karakter Charlie Gilbert diberikan sejumlah fokus, namun tidak pernah benar-benar terasa menggugah. Lagu-lagu yang dinyanyikan Lopez dan Maluma yang mengiringi banyak adegan film juga tidak buruk, namun tidak pernah benar-benar terasa mengikat. Hal yang sama juga dirasakan dari deretan kisah yang hadir dari sejumlah karakter sampingan.

Meskipun kualitas ceritanya gagal untuk tampil sejajar dengan film-film drama komedi romantis legendaris yang telah hadir sebelumnya, Marry Me tidak pernah terasa membosankan berkat penampilan handal para pengisi departemen aktingnya. Chemistry antara Lopez dan Wilson sering terasa goyang di bagian awal film namun secara perlahan kemudian mulai tumbuh dan hadir hangat serta meyakinkan. Silverman dan John Bradley yang sepertinya ditugaskan untuk menghadirkan momen-momen komikal bagi alur pengisahan film juga mampu untuk mencuri perhatian. Sayang, porsi pengisahan yang diberikan pada dua karakter yang mereka perankan terasa sering dikesampingkan. Marry Me berakhir sebagai sebuah presentasi drama komedi romantis yang tidak mengecewakan dan masih mampu untuk memberikan hiburan ringan, namun tidak dapat benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam ataupun emosional.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

marry-me-jennifer-lopez-owen-wilson-maluma-movie-posterMarry Me (2022)

Directed by Kat Coiro Produced by Elaine Goldsmith-Thomas, Jennifer Lopez, Benny Medina, John Rogers Written by John Rogers, Tami Sagher, Harper Dill (screenplay), Bobby Crosby (graphic novel, Marry MeStarring Jennifer Lopez, Owen Wilson, Maluma, John Bradley, Chloe Coleman, Sarah Silverman, Michelle Buteau, Stephen Wallem, Jameela Jamil, Utkarsh Ambudkar, Brady Noon, Hoda Kotb, Nicole Suarez, Ricky Guillart, Jimmy Fallon, Justin Sylvester Cinematography Florian Ballhaus Edited by Michael Berenbaum, Peter Teschner Music by John Debney Production companies Nuyorican Productions/Perfect World Pictures/Kung Fu Monkey Productions/Belle Hope Productions Running time 112 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s