Review: Ben & Jody (2022)


Ada yang berbeda dalam presentasi cerita Ben & Jody – film ketiga yang mengikuti perjalanan kehidupan dua karakter penikmat kopi yang saling bersahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto), yang kisahnya sebelumnya dihadirkan lewat dua seri film Filosofi Kopi garapan Angga Dwimas Sasongko. Jika Filosofi Kopi the Movie (2015) dan Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017) bergumul dalam nada drama terkait dengan kisah tentang usaha kedua karakter tersebut dalam mengelola sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi ataupun berbagai intrik yang mewarnai kisah persahabatan mereka, maka Ben & Jody tampil dengan lingkup penceritaan yang lebih kental akan nuansa aksi. Manuver cerita yang cukup berani, meskipun jelas tidak terlalu mengejutkan jika ditilik dari sejumlah tema maupun konflik yang sempat dihadirkan Sasongko dalam dua film Filosofi Kopi sebelumnya.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Sasongko bersama dengan M. Nurman Wardi (Nussa, 2021), Ben & Jody melanjutkan pengisahan Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody yang bercerita tentang kegiatan Ben setelah dirinya meninggalkan Filosofi Kopi. Kembali ke kampung halamannya, Ben menjadi seorang petani kopi sekaligus aktif dalam kegiatan aktivisme membela kelompok petani yang lahannya diserobot kelompok perusahaan sawit. Keterlibatan Ben lantas menjadikannya sebagai salah satu sasaran penculikan yang dilakukan oleh kelompok pembalak liar pimpinan Tubir (Yayan Ruhian) yang menyekap Ben dan sejumlah warga lainnya di pelosok hutan yang sulit dijangkau. Merasa heran karena dirinya tidak dapat menghubungi Ben dalam beberapa hari terakhir, Jody memutuskan untuk menyusul Ben ke kampung halamannya. Sial, dalam pencariannya, keberadaan Jody tercium oleh kelompok pembalak liar yang kemudian juga menculik Jody.

Daripada menghadirkan semesta pengisahan yang baru bagi karakter Ben dan Jody, naskah cerita garapan Sasongko dan Wardi dengan jeli menggunakan karakterisasi maupun konflik – khususnya terkait dengan karakter Ben – yang telah dibentuk oleh dua film Filosofi Kopi sebelumnya guna membangun keberadaan narasi bernuansa aksi bagi film ini. Alur tentang bagaimana masa lalu membentuk sikap dan cara pandang dari karakter Ben terhadap kehidupan para petani dan keengganannya untuk bergabung dengan korporasi menjadi jembatan untuk kehadiran deretan karakter yang menciptakan konflik-konflik bernuansa aksi. Garapan yang cukup mulus untuk membuat warna pengisahan baru tersebut terasa alami kehadirannya – meskipun dengan balutan plot tentang kemampuan karakter Ben dalam meramu kopi yang mampu menarik perhatian karakter Tubir yang sedikit terasa canggung keberadaannya.

Di saat yang bersamaan, kemampuan Sasongko untuk memberikan olahan sekaligus pengarahan cerita aksi yang menghasilkan nafas baru bagi linimasa penceritaan seri film Filosofi Kopi tidak diiringi dengan pengembangan konflik yang benar-benar kuat ataupun utuh. Ben & Jody menghadirkan sejumlah bahasan tentang konflik agraria, ketidakadilan ataupun ketidakmampuan penegak hukum, aktivisme, premanisme, hingga perlawanan kelompok akar rumput yang cukup serius dan menarik namun tidak pernah dapat dijabarkan sebagai lebih dari sekedar pemantik konflik ataupun perangkat plot yang mampu bertutur secara kuat. Penggambaran kehidupan masyarakat adat yang digambarkan hidup di tengah hutan dan jauh dari kemajuan teknologi juga terasa sebagai gimmick yang diolah setengah matang dan tanpa pendalaman yang serius demi kehadiran sosok-sosok karakter perempuan tangguh seperti Rinjani (Hana P. Malasan) dan Tambora (Aghniny Haque).

Terlepas dari sejumlah keterbatasan pada penuturan ceritanya, selayaknya sebuah film aksi, Ben & Jody benar-benar mampu memberikan klimaks pengisahan ketika berfokus pada deretan adegan aksinya. Paruh ketiga film dimana karakter-karakter utama film harus berhadapan dengan para karakter penjahat mampu dikelola Sasongko dengan baik untuk menghadirkan intensitas paparan aksi yang mengikat. Chemistry yang erat antara Jerikho dan Dewanto yang semenjak Filosofi Kopi telah menjadi kekuatan utama bagi pengisahan seri film ini juga terasa semakin dinamis disini. Dukungan penampilan Malasan, Haque, dan Ruhian – yang selalu mampu mencuri perhatian meskipun dengan karakter yang seharusnya mendapatkan porsi pengisahan yang lebih besar lagi – juga menghasilkan dorongan bagi kualitas presentasi keseluruhan Ben & Jody.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

ben-jody-filosofi-kopi-chicco-jerikho-rio-dewanto-movie-posterBen & Jody (2022)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Cristian Imanuell Written by Angga Dwimas Sasongko, M. Nurman Wardi (screenplay), Dee Lestari (charactersStarring Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Hana P. Malasan, Aghniny Haque, Muzakki Ramdhan, Luna Maya, Yayan Ruhian, Reza Hilman, Ruth Marini, Yayu Unru, Arswendy Bening Swara, Bebeto Leutualy, Ari Lesmana, Fariz Alfarizi, Ricky Saldian, Muhammad Aga, Aufa Dien Assagaf Music by Ofel Obaja Setiawan Cinematography Arnand Pratikto Editing by Hendra Adhi Susanto Studio Visinema Pictures Running time 114 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s