Review: Just Mom (2021)


Setelah debut pengarahan film cerita panjangnya, Mekah, I’m Coming (2020), yang hangat dan menyenangkan, Jeihan Angga kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk film drama keluarga Just Mom. Diadaptasi dari buku berjudul Ibu, Doa yang Hilang yang ditulis oleh Bagas D. Bawono – yang sebelumnya juga menuliskan cerita pendek yang kemudian diadaptasi menjadi film Hasduk Berpola (Harris Nizam, 2013), Just Mom bercerita tentang perempuan bernama Siti (Christine Hakim) yang bertemu dengan dan kemudian memilih untuk merawat seorang gelandangan dengan gangguan jiwa yang tengah hamil tua, Murni (Ayushita Nugraha). Keputusan tersebut mendapatkan tentangan dari kedua anaknya, Damar (Ge Pamungkas) dan Pratiwi (Niken Anjani), yang menilai sang ibu telah mengambil sebuah keputusan yang ceroboh. Di saat yang bersamaan, usaha Siti untuk merawat Murni secara perlahan mulai menutup duka yang selama ini rasakan atas rasa kerinduan yang sering tidak berbalas kepada anak-anaknya yang kini telah dewasa dan tidak lagi tinggal bersama dengan dirinya.

Di tangan… ummm… sejumlah pencerita, Just Mom dapat saja digubah menjadi presentasi melodrama yang berusaha (baca: memaksa) untuk tampil sentimental dalam menyentuh hati penontonnya. Pada sejumlah bagian di paruh akhir penceritaannya, Just Mom sempat terasa hampir terjebak di wilayah penceritaan tersebut. Beruntung, pengarahan lugas yang diberikan oleh Angga serta naskah cerita yang ia tuliskan bersama dengan Carine Regina dan Nadhifa Firyal terus mampu untuk mempertahankan kesan drama keluarga yang membumi daripada menonjolkan intensitas emosional berlebihan yang menjemukan.

Paparan cerita Just Mom sebenarnya tergarap sederhana. Kisah kerinduan seorang ibu akan kehadiran anak-anaknya yang kemudian dibenturkan dengan konflik akan munculnya seorang sosok baru dalam kehidupan sang ibu dan anak-anaknya. Pengembangan premis tersebut juga tidak pernah terasa spesial atau berusaha untuk menjadikannya terlihat berbeda dengan banyak film drama keluarga lain pendahulunya – termasuk plot tentang penyakit yang diderita oleh karakter sang ibu. Yang membuat film ini terasa begitu istimewa dan kuat dalam bercerita adalah kesensitivitasan pengarahan yang diberikan oleh Angga pada tiap konflik maupun karakter yang hadir dalam linimasa ceritanya. Angga memperlakukan drama keluarganya dengan humanis. Dengan begitu, tiap konflik dan karakter dapat memberikan perspektif yang lebih mendalam pada alur pengisahan utama serta tidak hanya sekedar menjadi bentrokan antara hitam dan putih.

Kekuatan pengarahan Angga juga dapat dirasakan pada pilihan-pilihan gambar yang dihadirkan oleh sinematografer Mandella Majid – yang dengan intim menangkap guratan ekspresi dari wajah tiap karakter atau memberikan pernyataan tegas tentang arti keeratan hubungan tiap anggota sebuah unit keluarga ketika sedang bercengkerama di meja makan – serta sentuhan-sentuhan kecil penceritaan seperti grafis pertukaran pesan dalam sebuah kelompok WhatsApp atau kolase foto orang-orang yang berada di balik layar pembuatan film ini ketika bersama dengan ibu mereka masing-masing yang dihadirkan pada tampilan kredit akhir film.

Jangkar emosional terbesar film ini, tentu saja, hadir dalam penampilan fantastik yang diberikan oleh Hakim. Penampilan Hakim dikelilingi oleh penampilan solid dari barisan pemeran muda yang berada di sekitarnya: Anjani, Pamungkas, Toran Waibro, Nugraha – yang tampil dengan minim dialog namun menyajikan kisah karakternya melalui perantaraan gestur tubuh yang begitu memikat, serta Dea Panendra – yang selalu berhasil mencuri perhatian lewat penampilan komikalnya di banyak adegan film.

Penampilan-penampilan tersebut menjadi elemen pelengkap bagi penampilan megah yang diberikan Hakim. Penampilan yang mampu membuat sosok karakter ibu yang diperankannya terasa begitu universal, bukan hanya sosok ibu bagi anak-anak yang dilahirkannya namun menjadi sosok pengayom bagi siapapun yang dapat merasakan kasihnya. Tiap lapisan emosi yang dirasakan oleh karakter Siti dapat dihidupkan dengan baik oleh Hakim, baik melalui perantaraan dialog maupun lewat ekspresi wajah dan tubuhnya – yang berhasil ditangkap Angga secara begitu detil dan melekat. Penampilan Hakim menjadi nyawa bagi Just Mom yang membuat tuturan film ini begitu mudah untuk meresap ke dalam hati setiap mata yang menyaksikannya dan mendorong mereka untuk memeluk, menyapa, atau bahkan sekedar mengingat setiap sosok ibu yang telah hadir dalam kehidupan mereka. Powerful.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn2

just-mom-christine-hakim-jeihan-angga-movie-posterJust Mom (2021)

Directed by Jeihan Angga Produced by Hanung Bramantyo, Palwoto Written by Jeihan Angga, Carine Regina, Nadhifa Firyal (screenplay), Bagas D. Bawono (novel, Ibu, Doa’ yang Hilang) Starring Christine Hakim, Ayushita Nugraha, Ge Pamungkas, Niken Anjani, Toran Waibro, Dea Panendra, Haru Sandra Hanindra, Anastasia Herzigova, Jordan Omar, Pritt Timothy, Christine Djogja, Bambang Paningron Cinematography Mandella Majid Edited by Jeihan Angga, Ahyat Andrianto Music by Charlie Meliala, Ricky Lionardi Production companies Dapur Film Production/Taman Wisata Candi Running time 88 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Just Mom (2021)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s