Review: Antlers (2021)


Menjadi film horor perdana yang diarahkan oleh sutradara Scott Cooper yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Crazy Heart (2009) dan Hostiles (2017), Antlers bertutur tentang seorang anak laki-laki bernama Lucas Weaver (Jeremy T. Thomas) yang harus merawat ayah, Frank Weaver (Scott Haze), dan adik laki-lakinya, Aiden Weaver (Sawyer Jones), ketika keduanya secara tiba-tiba menderita sebuah penyakit yang membuat mereka menjadi terus kelaparan dan perlahan juga mengubah penampilan mereka menjadi mengerikan. Kondisi tersebut membuat sikap dan perangai Lucas Weaver menjadi berubah – situasi yang kemudian mendapatkan perhatian mendalam oleh gurunya, Julia Meadows (Keri Russell). Awalnya, Julia Meadows curiga bahwa perubahan sikap Lucas Weaver terjadi karena dirinya mendapat perlakuan kekerasan dari sang ayah. Namun, penyelidikan yang dilakukan oleh Julia Meadows membawanya pada misteri akan mitologi setempat yang semenjak lama menghantui warga di daerah tersebut.

Diproduseri oleh Guillermo del Toro (Nightmare Alley, 2021), linimasa penceritaan Antlers tidak hanya berfokus pada kisah horor ataupun misteri yang harus dihadapi oleh karakter-karakternya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Cooper bersama dengan C. Henry Chaisson dan Nick Antosca (The Forest, 2016) berdasarkan cerita pendek berjudul The Quiet Boy yang juga ditulis Antosca, Antlers juga berusaha menyentuh tema-tema tentang kekerasan pada anak, kemiskinan, hingga sifat tamak manusia yang secara perlahan menghancurkan lingkungan hidup tempat tinggal mereka. Tema-tema tersebut dipadukan dengan mitologi horor yang berasal dari kepercayaan penduduk asli Amerika akan sosok wendigo yang dikisahkan dapat merasuk ke jiwa manusia untuk kemudian mengkonsumsi energi dan tubuh mereka. Cukup mengerikan.

Sayangnya, kebanyakan tema yang ingin disampaikan oleh alur pengisahan film ini tidak mampu dikelola secara matang. Kisah tentang kenangan buruk akan kekerasan yang dilakukan oleh sang ayah di masa lalu kepada karakter Julia Meadows yang kemudian membuat hubungannya dengan sang adik, Paul Meadows (Jesse Plemons), menjadi renggang memang mendapatkan perhatian lebih di sejumlah bagian cerita film. Meskipun begitu, pengembangan yang minimalis membuat konflik tersebut seringkali hanya berkesan sebagai perangkat plot yang digunakan untuk menciptakan konflik-konflik lain di dalam jalan cerita tanpa pernah dapat dimanfaatkan secara utuh. Hal yang sama juga dapat dirasakan terjadi pada tema-tema sosial dan kemanusiaan yang berusaha disentuh oleh penceritaan film ini. Beruntung, Cooper, Chaisson, dan Antosca masih dapat memberikan penuturan yang lugas pada barisan tema tersebut sehingga Antlers tidak pernah terasa terlalu bertele-tele penyampaiannya.

Antlers memang lebih mampu mencapai momen-momen gemilangnya ketika berfokus pada elemen horor ceritanya. Film ini memang menjadi kali pertama Cooper menggarap sebuah sajian horor. Namun Cooper berhasil memamerkan kehandalannya dalam mengelola sebuah pengisahan misteri, secara perlahan mengupas lapisan-lapisan kisah misteri tersebut, sekaligus mempertahankan atmosfer kelam yang menumbuhkan kesan kengerian di sepanjang presentasi filmnya. Keberadaan del Toro jelas turut memberikan pengaruh – hal yang khususnya dapat begitu dirasakan pada garapan bentuk maupun penataan kehadiran dari sosok makhluk mengerikan yang menjadi teror utama pada alur pengisahan Antlers. Cooper tidak pernah “memamerkan” sosok makhluk tersebut secara gamblang dengan lebih memilih untuk menghadirkannya melalui bayangan atau potongan-potongan penampakan. Trik yang cukup berhasil membangun ketegangan dan akhirnya dapat dirasakan memuncak ketika sosok makhluk tersebut dihadirkan secara utuh di paruh akhir pengisahan.

Departemen akting film sendiri hadir dalam kapasitas yang solid. Russell mampu menghidupkan lapisan-lapisan yang terdapat pada karakternya dengan meyakinkan – baik ketika ia berperan sebagai sesosok guru yang merasa khawatir terhadap salah seorang muridnya maupun ketika dirinya menggambarkan sosoknya sebagai sosok perempuan yang masih berusaha berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Russell juga mampu membangun chemistry yang erat dengan Plemons serta menciptakan sejumlah momen emosional dengan Thomas – yang seringkali mencuri perhatian lewat penampilannya. Antlers memang tidak begitu lihai mengolah berbagai kisah yang ingin disampaikannya. Pun begitu, dengan garapan mumpuni yang diberikan oleh Cooper serta penampilan kuat dari tiap pemeran, Antlers masih berhasil menjelma menjadi sajian horor yang cukup mengesankan.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

antlers-keri-russell-movie-posterAntlers (2021)

Directed by Scott Cooper Produced by Guillermo del Toro, David S. Goyer, J. Miles Dale Written by C. Henry Chaisson, Nick Antosca, Scott Cooper (screenplay), Nick Antosca (short story, The Quiet Boy) Starring Keri Russell, Jesse Plemons, Jeremy T. Thomas, Graham Greene, Scott Haze, Rory Cochrane, Amy Madigan, Cody Davis, Sawyer Jones, Jake T. Roberts, Andy Thompson, Michael Eklund, Katelyn Peterson Cinematography Florian Hoffmeister Edited by Dylan Tichenor Music by Javier Navarrete Production companies Searchlight Pictures/TSG Entertainment/Phantom Four Films/Double Dare You Productions Running time 99 minutes Countries United States, Mexico, Canada Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s