Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)


Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Twivortiare, 2019) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Arumi E – yang konon juga terinspirasi dari kisah nyata perjalanan spiritual seorang gadis mualaf asal Belanda, film Merindu Cahaya de Amstel arahan Hadrah Daeng Ratu (A Perfect Fit, 2021) memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang gadis bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) dengan seorang fotografer jurnalistik bernama Nicholas van Dijck (Bryan Domani). Secara tidak sengaja, figur Khadija Veenhoven terekam dalam salah satu gambar yang diambil oleh Nicholas van Dijck yang kemudian menginspirasi fotografer tersebut bersama dengan rekan kerjanya, Joko (Ridwan Remin), untuk menuliskan artikel tentang kehidupan wanita Muslim di Eropa. Sayang, permintaan Nicholas van Dijck agar dirinya dapat menggunakan foto Khadija Veenhoven untuk artikelnya ditolak karena perempuan yang dalam kesehariannya mengenakan hijab tersebut merasa khawatir masa lalu yang coba dilupakan akan kembali menghantuinya.

Momen-momen awal pengisahan Merindu Cahaya de Amstel sebenarnya dimulai dengan cukup mulus. Interaksi perkenalan antara karakter-karakter Khadija Veenhoven, Nicholas van Dijck, Joko, dan Kamala (Rachel Amanda) yang juga digunakan untuk memperkenalkan kilasan karakterisasi dari karakter-karakter tersebut kepada penonton berlangsung menyenangkan untuk diikuti. Hal ini juga didukung dengan penampilan apik para pemerannya, khususnya Rawles yang selalu mampu untuk mengikat perhatian melalui penampilannya yang kuat dan meyakinkan meskipun terasa begitu bersahaja dalam usahanya untuk menghidupkan sesosok karakter perempuan yang digambarkan begitu taat dalam menjalankan nilai-nilai agama yang dianutnya. Meskipun minimalis, pemberian latar belakang cerita kepada dua karakter utamanya yang berdarah Belanda namun begitu fasih dalam berbahasa Indonesia juga terasa cukup efektif.

Sial, ketika Merindu Cahaya de Amstel mulai memperkenalkan dan memperdalam konflik-konflik ceritanya, film ini secara perlahan juga mulai tenggelam dalam banyak momen pengisahan yang seringkali akan menghadirkan kernyitan di dahi para penontonnya. Deretan problema yang dihadapi oleh masing-masing karakter tampil dengan kualitas penceritaan yang berkesan medioker. Mulai dari masalah yang dihadapi oleh karakter Kamala dengan sang ibu (Maudy Koesnaedi), hubungan abusif yang dialami oleh karakter Sarah (Rita Nurmaliza), hingga kisah masa lalu dari karakter Khadija Veenhoven dan kisah awal perjalanan spiritualnya. Masalah-masalah tersebut sepertinya dibentuk untuk memberikan semacam pesan moral bernuansa keagamaan pada linimasa cerita. Namun, dengan garapan yang hambar, kehadiran barisan kisah tersebut tidak pernah terasa mampu untuk memantik ikatan emosional dengan penonton.

Selayaknya banyak film Indonesia lain yang memiliki nuansa relijius dalam penuturan cerita serta memilih luar negeri sebagai latar belakang lokasi pengisahannya, Merindu Cahaya de Amstel juga menghadirkan kisah romansa cinta segitiga antara karakter-karakternya. Elemen pengisahan ini tidak mampu berbuat banyak untuk mendorong kualitas pengisahan film ketika jalinan romansa yang dihadirkan hanya berputar pada usaha para karakter untuk mencuri perhatian karakter lain atau menyimpan perasaannya demi rasa persahabatan dan tidak menyakiti perasaan karakter lain. Paparan cerita akan unsur keagamaan serta spiritual juga tampil dangkal ketika bahasannya hanya terbatas pada perbandingan antara penggunaan hijab dengan permen yang tidak terbungkus, menjadi sosok yang lebih taat beragama demi memikat seseorang yang disuka, bahkan berpindah kepercayaan demi memuluskan hubungan asmara.

Secara teknis, Merindu Cahaya de Amstel mungkin masih mampu untuk dihadirkan dengan kualitas yang mumpuni. Pun begitu, dengan tema pengisahan drama reliji yang masih terpaku pada formula dangkal akan kisah cinta beda keyakinan yang berujung pada glorifikasi atas “meng-Islamkan” seorang non Muslim, film ini sepertinya memberikan sinyal kuat bahwa film drama reliji Indonesia sedang berada di titik kreativitas cerita paling jenuh serta membutuhkan garapan yang benar-benar baru dan kuat. Buruk.

popcornpopcorn-halfpopcorn2popcorn2popcorn2

merindu-cahaya-de-amstel-amanda-rawles-movie-posterMerindu Cahaya de Amstel (2022)

Directed by Hadrah Daeng Ratu Produced by Oswin Bonifanz, Yoen K Written by Benni Setiawan (screenplay), Arumi E (novel, Merindu Cahaya de Amstel) Starring Amanda Rawles, Bryan Domani, Rachel Amanda, Oki Setiana Dewi, Ridwan Remin, Maudy Koesnaedi, Dewi Irawan, Floris Bosma, Angèle Roelofs, Allard Warnas, Rita Nurmaliza, Yasmin Karssing Music by Joseph S. Djafar Cinematography Adrian Soegiono Editing by Firdauzi Trizkiyanto, Muhammad Rizal Studio Unlimited Production/Maxima Pictures Running time 107 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s