Review: The Matrix Resurrections (2021)


Hampir dua dekade selepas perilisan film ketiganya, The Matrix Revolutions (2003), seri The Matrix (The Wachowskis, 1999 – 2003) melanjutkan alur pengisahannya melalui The Matrix Resurrections. Jika tiga film sebelumnya ditulis dan diarahkan secara bersama oleh duo The Wachowskis, Lana Wachowski dan Lilly Wachowski, The Matrix Resurrections menandai kali pertama sebuah film cerita panjang dalam seri The Matrix diarahkan secara tunggal oleh Lana Wachowki yang juga mengerjakan naskah cerita film ini bersama dengan David Mitchell dan Aleksandar Hemon. The Matrix (1999), tentu saja, akan selamanya diingat sebagai film aksi revolusioner yang tidak hanya mampu memberikan pengaruh kepada penggarapan unsur aksi film-film lain yang dirilis sesudahnya namun juga menghadirkan tatanan cerita monumental yang dipengaruhi oleh banyak pemikiran bertema filosofis hingga simbolis. The Matrix Reloaded (2003) dan The Matrix Revolutions (2003) tidak mampu memberikan pencapaian kualitas yang sama, lalu apa yang ingin dilakukan oleh The Matrix Resurrections?

Jika ingin memberikan pemaknaan secara literal, The Matrix Resurrections tentu diharapkan menjadi kebangkitan kembali bagi seri film The Matrix, khususnya setelah seri film tersebut ditutup dengan The Matrix Revolutions yang tidak hanya memiliki kualitas cerita yang lemah namun juga meninggalkan kesan yang cukup buruk bagi setiap penontonnya. Tema kebangkitan juga digambarkan pada alur cerita The Matrix Resurrections dimana sosok karakter baru dari dunia realita bernama Bugs (Jessica Henwick) menyadari bahwa sosok Neo (Keanu Reeves), yang telah dianggap sebagai sosok suci bagi kaum manusia, ternyata masih hidup sebagai sosok bernama Thomas Anderson di dunia virtual yang dikenal dengan nama The Matrix yang diciptakan oleh para mesin. Bugs juga menemukan sosok Morpheus (kini diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II) yang kemudian membantunya untuk mencari lokasi keberadaan Neo sekaligus untuk, sekali lagi, membebaskannya.

Naskah cerita garapan Lana Wachowski bersama dengan Mitchell dan Hemon memang mampu mendorong linimasa pengisahan seri film The Matrix untuk terus bergerak maju, khususnya dengan keterlibatan sejumlah karakter baru. Namun, di saat yang bersamaan, The Matrix Resurrections terasa digarap sebagai refleksi – jika tidak ingin menyebutnya sebagai pengulangan – dari berbagai konflik yang sebelumnya telah diutarakan oleh The Matrix. Lana Wachowski mungkin meniatkan kehadiran film ini sebagai penyegaran kembali bagi mereka yang telah familiar dengan semesta pengisahan The Matrix atau sebagai pengenalan bagi mereka yang datang dari generasi baru atau sebagai jembatan bagi kemungkinan hadirnya film-film lanjutan pengisahan The Matrix di masa depan. Sayang, dengan penuturan yang terlampau lemah, The Matrix Resurrections sukar untuk menghasilkan presentasi yang benar-benar memikat.

Alur penceritaan The Matrix Resurrections sebenarnya dimulai dengan cukup meyakinkan. Dengan menggunakan latar belakang cerita yang berada di dunia virtual, film ini berusaha menyentil keberadaannya sebagai sekuel yang dipaksakan kehadirannya. Salah satu dialog film ini bahkan dengan lantang menegaskan jika Warner Bros. Pictures – rumah produksi yang menguasai hak cipta dari seri film The Matrix – akan terus memproduksi sekuel bagi seri film tersebut dengan atau tanpa keterlibatan para kreator asli ceritanya. Sentilan yang cukup menggelikan sekaligus tajam yang ditujukan Lana Wachowski pada kondisi industri perfilman Hollywood (dan dunia) saat ini.

Ketika linimasa penceritaan mulai membenturkan dua dunia yang menjadi latar belakang pengisahannya, The Matrix Resurrections mulai terasa kehilangan ritme pengisahannya. Pada kebanyakan bagian, film ini tenggelam dalam berbagai mitologi dan konsep cerita ketika memilih untuk menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjelaskan berbagai mitologi maupun konsep cerita tersebut melalui perantaraan dialog-dialog panjang para karakternya. Usaha untuk membangun dunia pengisahan lantas terasa menjemukan, terlebih dengan penggunaan berbagai istilah teknis yang membutuhkan konsentrasi lebih untuk dapat memahaminya.

The Matrix Resurrections terasa mampu bertutur secara dinamis ketika Lana Wachowski memilih untuk berfokus pada hubungan yang terjalin antara karakter serta eksekusi yang kuat pada adegan-adegan aksinya. Fokus terlalu besar pada karakter Neo memang memberikan ruang yang cukup terbatas pada sejumlah karakter yang sebenarnya memiliki warna pengisahan dan karakterisasi yang menarik – lihat saja bagaimana karakter Bugs hanya digunakan ketika karakternya dibutuhkan untuk mendorong roda pengisahan. Meskipun begitu, sukar untuk membantah bahwa Lana Wachowski mampu mengeksplorasi sentuhan-sentuhan emosional yang terjalin antara karakter-karakternya. Momen ketika karakter Neo kembali dipertemukan dengan karakter Trinity (Carrie-Anne Moss) jelas menciptakan banyak momen manis bagi film ini.

The Matrix Resurrections mungkin tidak memiliki barisan koreografi aksi yang digarap oleh Yuen Woo-ping untuk menghasilkan adegan-adegan aksi seikonik dalam The Matrix. Porsi adegan aksi dalam film ini juga tidak sebesar dalam film-film sebelumnya. Meskipun begitu, Lana Wachowski masih mampu menghadirkan deretan adegan aksi yang tampil megah serta jelas akan dapat menyita perhatian. Kualitas presentasi departemen produksinya juga berkelas. Desain produksi, efek visual, tata suara, hingga tata rias dan busana dengan tegas tetap mengedepankan kesan futuristik yang unik dan membuatnya terasa berada di kelas yang berbeda dengan film-film sepantarannya.

Reeves dan Moss memang tetap (dan akan selalu) menjadi bintang bagi pengisahan film ini. Namun, wajah-wajah pemeran baru yang mengisi penceritaan The Matrix Resurrections juga memberikan kontribusi yang kuat. Henwick selalu mampu untuk mencuri perhatian dalam setiap kehadirannya. Begitu juga dengan Jonathan Groff dan Nail Patrick Harris yang menghidupkan dua sosok antagonis dalam film ini. Groff, khususnya, mampu memberikan interpretasi familiar namun tetap dengan kesan yang berbeda terhadap sosok Smith yang dahulu diperankan oleh Hugo Weaving. Jelas sukar menggantikan posisi Weaving yang telah menciptakan sosok karakter sekuat Smith – tanyakan saja pada Abdul Mateen II yang seringkali tenggelam dalam bayangan Laurence Fishburne dalam usahanya untuk menghidupkan karakter Morpheus – namun Groff dengan lihai menjadikan sosok karakter Smith-nya terasa begitu mengesankan.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

The Matrix Resurrections (2021)

Directed by Lana Wachowski Produced by James McTeigue, Lana Wachowski, Grant Hill Written by Lana Wachowski, David Mitchell, Aleksandar Hemon (screenplay), The Wachowskis (characters) Starring Keanu Reeves, Carrie-Anne Moss, Yahya Abdul-Mateen II, Jessica Henwick, Jonathan Groff, Neil Patrick Harris, Priyanka Chopra Jonas, Jada Pinkett Smith, Toby Onwumere, Max Riemelt, Brian J. Smith, Eréndira Ibarra, Lambert Wilson, Christina Ricci, Telma Hopkins, Chad Stahelski, Andrew Lewis Caldwell, Ellen Hollman, Julian Grey, Gaige Chat, Geoff Keighley, Laurence Fishburne, Hugo Weaving Cinematography Daniele Massaccesi, John Toll Edited by Joseph Jett Sally Music by Johnny Klimek, Tom Tykwer Production companies Village Roadshow Pictures/Venus Castina Productions Running time 148 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s