Review: Yuni (2021)


Sejujurnya, cukup menggusarkan hati untuk menerima kenyataan bahwa film terbaru arahan Kamila Andini (Sekala Niskala, 2017), Yuni, didasarkan pada realita kehidupan keseharian yang masih harus dihadapi oleh kaum perempuan di sejumlah (banyak?) tempat di negara ini hingga saat ini. Meskipun jika Anda merupakan seorang laki-laki. Khususnya jika Anda adalah seorang laki-laki. Naskah cerita film yang ditulis Andini bersama dengan Prima Rusdi (Ada Apa dengan Cinta? 2, 2016) secara perlahan namun mendalam membuka berbagai luka dan duka kaum perempuan yang menjadi fokus utama linimasa pengisahan dan membuat setiap mata yang menyaksikan kisah mereka kembali diingatkan pada betapa buruknya perlakuan sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dalam proses berkehidupan dan bermasyarakat terhadap mereka. We failed them.

Sesuai dengan judulnya, pusat pengisahan film ini berada pada sosok perempuan remaja yang masih belum cukup umur untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk bernama Yuni (Arawinda Kirana). Di sekolahnya, Yuni dikenal sebagai sosok pelajar yang cerdas – yang membuat salah seorang gurunya, Bu Lies (Marissa Anita), mendorong gadis itu untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah melalui jalur beasiswa. Di saat yang bersamaan, Yuni terkungkung dalam kehidupan dimana lingkungannya sering memberikan tekanan pada gadis seusianya untuk segera melangkah ke pelaminan. Yuni sendiri telah menerima dan menolak dua lamaran pernikahan dari dua pria yang lebih tua dari dirinya, Iman (Muhammad Khan) dan Mang Dodi (Toto ST Radik). Yuni tahu bahwa ada kehidupan yang lebih baik baginya di luar sana. Namun, Yuni sama sekali tidak memiliki petunjuk bagaimana cara untuk mencapainya.

Yuni memang karakter yang berada di garda terdepan dalam penceritaan film ini. Namun, naskah cerita garapan Andini dan Rusdi tidak hanya memberikan fokusnya pada sosok karakter Yuni semata. Di sepanjang 122 menit perjalanan ceritanya, Yuni menghadirkan sejumlah karakter yang, seperti halnya karakter Yuni, juga hidup terkurung dalam budaya patriarki: salah seorang sahabat sebayanya, Tika (Anne Yasmine), tak mampu berbuat banyak ketika dirinya tidak diacuhkan sang suami setelah ia melahirkan anak mereka; Suci (Asmara Abigail) malah ditinggalkan oleh keluarganya setelah ia bercerai dengan suaminya yang gemar melakukan kekerasan terhadapnya; meskipun sesosok perempuan cerdas, Bu Lies selalu kesulitan untuk mewujudkan harapannya agar murid-murid perempuan mendapatkan akses pendidikan tinggi oleh lingkungan sekolah yang masih memandang perempuan tidak membutuhkan pendidikan tinggi dalam kehidupan mereka nantinya; Asih (Mian Tiara) terpaksa berbohong kepada keluarga demi menyembunyikan jati dirinya; bahkan guru Yuni, Pak Damar (Dimas Aditya), juga harus merasakan tekanan batin karena merasa dirinya gagal untuk memenuhi standar yang telah diterapkan lingkungannya.

Di sejumlah sudut pengisahannya, presentasi Yuni yang berusaha mengeksplorasi banyak konflik yang harus dihadapi oleh banyak karakter tersebut terasa rapuh penuturannya. Fokus yang berpencar yang membuat banyak elemen emosional penceritaan tidak mampu terbangun dengan benar-benar matang. Di saat yang bersamaan, dengan pengarahan lugas dari Andini, potongan-potongan kisah yang dihadirkan oleh naskah cerita film ini mampu menyatu dan menjelma menjadi potret yang menohok secara kuat akan kondisi banyak kaum perempuan di negeri ini. Eksekusi puitis Andini, baik melalui perwakilan bait-bait puisi yang diambil dari buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dinarasikan di beberapa adegan film atau melalui gambar-gambar yang ditangkap oleh Teoh Gay Hian, juga semakin membuat cerita-cerita kecil dalam film ini begitu menghantui.

Meskipun membawakan tema cerita yang berkesan cukup serius, garapan cerita Yuni disajikan dengan nada penuturan yang tergolong ringan. Dialog-dialognya – yang disampaikan dengan Bahasa Jawa dialek Banten – banyak hadir dalam kapasitas percakapan keseharian yang seringkali terasa menghibur. Bangunan hubungan yang terjalin antar karakter juga tampil begitu dinamis. Kehangatan interaksi yang terbentuk antara karakter Yuni dan sahabat-sahabatnya membuat kisah yang dialami oleh tiap karakter meninggalkan kesan lebih mendalam. Benih-benih romansa yang tumbuh dalam hubungan karakter Yuni dengan karakter Yoga (Kevin Ardilova) juga tampil manis dan meyakinkan, khususnya berkat chemistry erat yang mampu dimunculkan Kirana dan Ardilova. Meskipun tidak tereksplorasi dengan utuh, hubungan antara karakter Yuni dengan karakter kedua orangtuanya (Rukman Rosadi dan Nova Eliza) juga menghasilkan salah satu momen emosional terkuat bagi film ini.

Penampilan Kirana memang menjadi elemen krusial dalam kesuksesan pengisahan Yuni. Melalui penampilannya yang lugas, penonton dengan mudah dapat menyelami berbagai gejolak emosi dan pemikiran yang dilalui oleh karakter Yuni. Kirana, dalam banyak kesempatan, bahkan mampu menyampaikan berbagai rasa yang dirasakan oleh karakter yang diperankannya melalui gestur wajah dan tubuh yang penuh dengan makna. Penampilan cerdas yang tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Andini juga mendapatkan dukungan solid dari penampilan seluruh pengisi departemen aktingnya. Salah satu yang paling mengesankan adalah penampilan yang diberikan Abigail untuk karakternya, Suci. Digambarkan sebagai sosok perempuan yang mencoba bangkit dari masa lalu yang kelam, Abigail berhasil menterjemahkan banyak lapisan emosi yang dimiliki oleh karakternya untuk membuat karakter tersebut tampil begitu menggugah.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn2

yuni-arawinda-kirana-movie-posterYuni (2021)

Directed by Kamila Andini Produced by Ifa Isfansyah, Chand Parwez Servia Written by Kamila Andini, Prima Rusdi Starring Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Marissa Anita, Neneng Wulandari, Vania Aurell, Boah Sartika, Anne Yasmine, Asmara Abigail, Nazla Thoyib, Mian Tiara, Toto ST Radik, Rukman Rosadi, Muhammad Khan, Nova Eliza, Sekar Sari, Ayu Laksmi, Mutiara Vera, Aprillia, Icha Sriyanti, Taufik Hidayahtullah, Muhammad Reza, Ovie Rambo Banten, Bagja Kudrata, Siti Farida, Moh Hopip, Nita Nonci, Yuvin, Sapidi, Nagar Juna Cinematography Teoh Gay Hian Edited by Cesa David Luckmansyah Music by Ken Jenie, Mar Galo Production companies fourcolours films/Akanga Film Asia/Manny Films/Starvision Running time 122 minutes Country Indonesia Language Indonesian

3 thoughts on “Review: Yuni (2021)”

  1. Ya ampun, bahas film Indo lagi, 3 film Indo berturut turut? Belom ada keinginan nonton film Indo. Seperti yang sudah David katakan sebelumnya, melihat sehari hari kehidupan masyarakat di sekitar kita adalah the real film Indonesia. Alami alias ngga dibuat buat.
    Sekali kali bahas film barat yang sudah lama misalnya rilisan tahun 80 atau 90-an alias bukan yang baru. Sekedar saran. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s