Review: Encanto (2021)


Merupakan film cerita panjang yang menjadi kolaborasi kedua antara Byron Howard dan Jared Bush setelah Zootopia (2016) – yang sekaligus menandai rilisan ke-60 dari Walt Disney Animation Studios, Encanto menghadirkan jalinan kisah yang mungkin telah begitu familiar bagi para penikmat film-film animasi buatan rumah produksi tersebut namun dengan sejumlah sentuhan segar yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Bush bersama dengan Charise Castro Smith, Encanto bercerita tentang keluarga Madrigal yang tinggal di sebuah desa kecil di pedalaman hutan Kolombia. Berpuluh-puluh tahun sebelumnya, ketika Alma Madrigal (María Cecilia Botero) bersama saudara dan sejumlah tetangganya berusaha untuk melarikan diri dari sekelompok orang yang menyerang desa mereka, sebuah keajaiban terjadi dan memberikan anak-anak Alma Madrigal, Julieta Madrigal (Angie Cepeda), Pepa Madrigal (Carolina Gaitán), dan Bruno Madrigal (John Leguizamo), berkah berupa kekuatan-kekuatan magis.

Dengan arahan Alma Madrigal, berkah kekuatan tersebut dijadikan sebagai alat untuk melayani sekaligus melindungi orang-orang yang tinggal di sekitar keluarga Madrigal – yang menjadikan keluarga Madrigal sebagai keluarga yang disegani di desanya. Berkah kekuatan tersebut bahkan kemudian menurun ke anak-anak Julieta dan Pepa Madrigal – kecuali kepada anak bungsu Julieta Madrigal, Mirabel Madrigal (Stephanie Beatriz). Entah mengapa, berkah kekuatan yang datang kepada ibu, bibi, paman, kakak, Isabela Madrigal (Diane Guerrero), dan para sepupunya tersebut, tidak menurun kepada Mirabel Madrigal yang, tentu saja, membuatnya sering berkecil hati. Namun, ketika sebuah pertanda kemudian muncul dan menunjukkan bahwa berkah kekuatan-kekuatan tersebut akan segera menghilang, Mirabel Madrigal menjadi sosok kunci yang dapat mempertahankan keberadaan berkah kekuatan yang dimiliki para anggota keluarganya.

Tentu saja, tema tentang sosok karakter yang berusaha untuk mencari jati diri, menemukan tempat, sekaligus membuktikan kemampuan diri jelas bukanlah tema yang benar-benar baru dalam film-film rilisan Walt Disney Studios Motion Pictures. Film-film seperti Ratatouille (Brad Bird, 2007), Moana (Ron Clements, John Musker, 2016), dan bahkan Zootopia sendiri juga dihubungkan oleh benang merah garis besar tema penceritaan yang serupa. Encanto terasa istimewa berkat pilihan untuk menyajikan tema familiar tersebut dengan latar belakang kehidupan kelompok masyarakat Amerika Latin yang di film ini dihadirkan melalui latar belakang lokasi pengisahan yang berada di negara Kolombia. Naskah cerita garapan Bush dan Smith juga tidak menjadikan budaya dan lingkungan Amerika Latin sekedar tempelan latar lokasi maupun karakter belaka. Keragaman yang terdapat pada karakter, struktur sosial, serta budaya yang terdapat pada komunitas Amerika Latin menjadi elemen krusial bagi penuturan film ini.

Sayangnya, galian pengisahan tentang kehidupan komunitas Amerika Latin di Kolombia tersebut kemudian dikembangkan dalam balutan cerita yang tergolong menjemukan. Encanto disajikan dengan komposisi konflik dan karakter yang berkesan begitu familiar dan tidak pernah terasa berusaha untuk ditata dengan polesan cerita yang dapat membuatnya berkesan baru. Penekanan pada tema “setiap orang dilahirkan sebagai sosok yang spesial dan memiliki arti dalam kehidupan” pada barisan dialog film juga terasa begitu repetitif yang lantas membuat tema yang harusnya dapat terasa hangat dan… well… inspiratif tersebut menjadi berkesan preachy dan melelahkan untuk didengarkan. Karakter-karakter yang hadir dalam linimasa penceritaan Encanto juga tampil dangkal dengan karakterisasi yang tidak berkembang matang dari awal hingga akhir cerita – masalah yang membuat karakter Maribel Madrigal yang menjadi sosok protagonis utama dalam film ini hadir tanpa ikatan emosional yang kuat.

Terlepas dari rasa hambar penuturannya, cukup sukar untuk tidak mengagumi Encanto atas sejumlah pencapaian kualitas penuturannya. Animasi yang dihadirkan oleh Howard dan Bush tampil begitu memukau dalam menangkap detil lingkungan alam maupun komunitas masyarakat Amerika Latin yang menjadi fokus cerita filmnya. Sebagai sebuah musikal, lagu-lagu garapan Lin-Manuel Miranda juga menjadi kunci dalam menghadirkan dorongan nyawa di banyak adegan film. Seperti lagu-lagu garapannya dalam Moana dan Vivo (Kirk DeMicco, 2021), barisan lagu-lagu yang mengisi penuturan Encanto hadir dengan sentuhan lirik dan tatanan musik yang ringan namun begitu menyenangkan sehingga mudah untuk disukai. Mungkin bukan barisan karya terbaik dari Miranda, namun jelas menjadi salah satu elemen terkuat dari presentasi Encanto.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

encanto-walt-disney-movie-posterEncanto (2021)

Directed by Byron Howard, Jared Bush Produced by Clark Spencer, Yvett Merino Written by Jared Bush, Charise Castro Smith (screenplay), Jared Bush, Charise Castro Smith, Byron Howard, Jason Hand, Nancy Kruse, Lin-Manuel Miranda (story) Starring Stephanie Beatriz, John Leguizamo, María Cecilia Botero, Diane Guerrero, Jessica Darrow, Angie Cepeda, Wilmer Valderrama, Olga Merediz, Carolina Gaitán, Mauro Castillo, Adassa, Rhenzy Feliz, Ravi-Cabot Conyers, Maluma, Alan Tudyk Cinematography Nathan Warner (layout), Alessandro Jacomini, Daniel Rice (lighting) Edited by Jeremy Milton Music by Germaine Franco Production companies Walt Disney Pictures/Walt Disney Animation Studios Running time 99 minutes Country United States

2 thoughts on “Review: Encanto (2021)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s