Review: Last Night in Soho (2021)


Film teranyar arahan Edgar Wright (Baby Driver, 2017), Last Night in Soho, akan membawa penontonnya ke kehidupan malam di kota London, Inggris pada tahun 1960an – lengkap dengan iringan sejumlah lagu popular dari era tersebut seperti yang telah menjadi ciri khas film-film garapan Wright selama ini. Namun, perjalanan ke tahun 1960an tersebut dilalui melalui linimasa berlatar belakang waktu pengisahan di era dimana Kylie Jenner lebih dikenal daripada Kylie Minogue ketika seorang gadis muda yang bercita-cita untuk menjadi seorang perancang busana, Eloise Turner (Thomasin McKenzie), dibawa oleh alam mimpinya ke tahun 1960an dan menjalani kehidupan sebagai seorang gadis muda bernama Sandie (Anya Taylor-Joy) yang bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Awalnya, mimpi tersebut terasa bagaikan perjalanan indah. Dengan talentanya, Sandie berhasil direkrut untuk menjadi seorang penyanyi di sebuah klub malam terkenal di kota London. Kecantikan dan gaya busana Sandie juga memberikan inspirasi kepada Eloise Turner dalam deretan busana yang dirancangnya. Sial, ketika mimpi tersebut bercerita tentang karir Sandie yang berujung pada sebuah pengkhianatan, hidup yang dijalani oleh Eloise Turner juga perlahan menemui banyak permasalahan.

Horor jelas bukanlah warna pengisahan yang benar-benar baru bagi Wright. Nama sutradara berkewarganegaraan Inggris tersebut bahkan mendapatkan rekognisi global untuk pertama kali berkat kesuksesan film horor komedinya, Shaun of the Dead (2004). Namun, tentu saja, Last Night in Soho menandai kali pertama Wright menggarap sebuah penuturan horor secara utuh. Naskah cerita film yang digarap Wright bersama dengan Krysty Wilson-Cairns (1917, 2019) terasa memanfaatkan pengaruh tata pengisahan horor yang datang dari film-film semacam Repulsion (Roman Polanski, 1965), Suspiria (Dario Argento, 1977), hingga Black Swan (Darren Aronofsky, 2010) yang bergerak dengan seksama untuk menancapkan teror horor psikologisnya sebelum akhirnya menghadirkan sentuhan kengerian dengan tampilan visual yang lebih vulgar. Lumayan berhasil.

Menit-menit awal dari penuturan Last Night in Soho yang dihadirkan dalam balutan atmosfer cerita yang ringan, cerah, dan penuh warna secara perlahan kemudian mendapatkan pengisahan yang semakin kelam beriringan dengan terbukanya tabir sejumlah lapisan cerita dan misteri yang diberikan pada kedua karakter utama film ini. Di saat yang bersamaan, fokus cerita yang terus terbagi antara karakter Eloise Turner dan Sandie acapkali membuat tampilan cerita bagi satu sosok karakter terasa lebih menarik jika dibandingkan dengan tampilan cerita bagi satu sosok karakter lainnya. Dengan barisan kisah misteri, karakter pendukung, serta penampilan gemilang yang disajikan Taylor-Joy, sukar untuk tidak merasa bahwa kisah yang diberikan bagi karakter Eloise Turner dan berlatar belakang waktu pengisahan di masa modern tampil menjadi distraksi bagi keutuhan kisah dari karakter Sandie.

Pola pengisahan misteri garapan Wright dan Wilson-Cairns untuk Last Night in Soho juga cenderung tampil monoton dan repetitif semenjak paruh kedua pengisahannya. Hal ini yang kemudian membuat paruh akhir pengisahan film dimana karakter Eloise Turner akhirnya mendapatkan kejelasan tentang sosok karakter Sandie yang selama ini telah menghantui kehidupannya justru gagal untuk hadir lebih mencengkeram. Wright dan Wilson-Cairns memang telah berusaha untuk memberikan sejumlah plot pengisahan pendukung lewat kehadiran karakter-karakter seperti Lindsay (Terence Stamp), Jocasta (Synnøve Karlsen), atau John (Michael Ajao). Sial, karakter-karakter tersebut tidak pernah terasa mampu dimanfaatkan dengan efektif. Kehadiran plot cerita yang menggunakan karakter-karakter tersebut kebanyakan hanya digunakan sebagai batu lompatan untuk mengisi kekosongan linimasa cerita daripada menjadi bagian esensial dari perjalanan cerita yang dialami oleh kedua karakter utama film.

Meskipun begitu, sukar untuk tidak merasa kagum ataupun terhanyut dengan visi pengisahan yang dihadirkan Wright dalam film ini. Wright mungkin telah dikenal banyak penikmat film dunia sebagai salah satu sutradara yang memiliki talenta kuat dalam memadukan desain produksi, tatanan visual dan sinematografi, serta dukungan energi yang diberikan oleh barisan lagu-lagu popular untuk menyokong penceritaan yang sedang dibangunnya. Lewat Last Night in Soho, kemampuan pengarahan Wright tersebut hadir semakin tajam. Dukungan penampilan solid dari Taylor-Joy, McKenzie, dan Matt Smith juga menghasilkan banyak momen yang tidak akan mudah dilupakan begitu saja oleh ingatan para penontonnya. Sayang sejumlah kelemahan pada pengelolaan cerita dan karakter kemudian menghalangi film ini untuk mencapai potensi pengisahan horor terbaiknya. Masih mengesankan, namun tidak akan membekas terlalu dalam.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Last Night in Soho (2021)

Directed by Edgar Wright Produced by Nira Park, Tim Bevan, Eric Fellner, Edgar Wright Written by Edgar Wright, Krysty Wilson-Cairns (screenplay), Edgar Wright (story) Starring Thomasin McKenzie, Anya Taylor-Joy, Matt Smith, Michael Ajao, Terence Stamp, Diana Rigg, Sam Claflin, Rita Tushingham, Jessie Mei Li, Synnøve Karlsen, Margaret Nolan, Michael Jibson, Lisa McGrillis, James Phelps, Oliver Phelps, Pauline McLynn Cinematography Chung-hoon Chung Edited by Paul Machliss Music by Steven Price Production companies Film4 Productions/Perfect World Pictures/Working Title Films/Complete Fiction Pictures Running time 116 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s