Review: Don’t Breathe 2 (2021)


Dengan biaya produksi sebesar kurang dari US$10 juta yang kemudian berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$150 juta di sepanjang masa perilisannya, jelas tidak mengejutkan jika Fede Álvarez dan Sam Raimi kemudian berusaha keras untuk menghasilkan sekuel bagi Don’t Breathe (Álvarez, 2016). Namun, baru pada awal tahun 2020 kejelasan tentang keberadaan sekuel Don’t Breathe diumumkan dengan Álvarez hanya akan bertindak sebagai produser dan penulis naskah cerita sementara posisinya sebagai sutradara digantikan oleh Rodo Sayagues yang bersama dengan Álvarez juga menuliskan naskah cerita untuk Don’t Breathe dan sekuelnya, Don’t Breathe 2. Selain dari kehadiran kembali dari karakter Norman Nordstorm yang diperankan oleh Stephen Lang, alur cerita Don’t Breathe 2 tidak memiliki koneksi langsung dengan berbagai konflik yang sebelumnya dikisahkan dalam film pendahulunya. Lalu, apakah film ini mampu untuk menghasilkan intensitas teror horor yang sama?

Dengan linimasa penceritaan yang dikisahkan terjadi delapan tahun semenjak deretan konflik yang ditampilkan dalam Don’t Breathe, film ini menggambarkan kehidupan Norman Nordstorm (Lang) yang kini hidup di wilayah pinggiran kota bersama dengan putrinya, Phoenix (Madelyn Grace). Dengan berbagai pengalaman kelamnya di masa lampau, Norman Nordstorm memilih untuk mendidik putrinya secara mandiri sembari terus mengajarkan sejumlah pengetahuan tentang cara bertahan dan membela diri jika nantinya ada orang-orang yang berniat buruk kepada dirinya – meskipun Phoenix telah berulang kali mengungkapkan bahwa dirinya ingin bersekolah layaknya kebanyakan anak-anak seusianya. Sial, ketenangan hidup Norman Nordstorm bersama dengan Phoenix terusik ketika sekelompok penjahat datang dan berusaha untuk menculik Phoenix.

Diiringi oleh tata penyutradaraan yang apik dari Álvarez, Don’t Breathe mampu meraih sukses sekaligus memuaskan para pecinta horor dengan kisahnya tentang sekelompok pemuda yang berusaha merampok sebuah rumah milik seorang veteran militer tua dan buta namun kemudian mendapati diri mereka harus menghadapi perlawanan yang mematikan dari sang veteran militer. Garapan karakter yang kuat dengan penokohan sosok Norman Nordstorm – yang sepanjang film disebut sebagai The Blind Man – sebagai karakter yang tidak dapat melihat namun memiliki kecerdasan serta kehandalan untuk mempertahankan dirinya juga menjadi elemen yang krusial dalam kesuksesan pengisahan film tersebut. Don’t Breathe 2, sayangnya, tidak memiliki elemen kejutan tersebut. Premis tentang usaha sang karakter utama dalam melawan orang-orang yang berusaha berbuat jahat pada dirinya tidak lagi terasa baru meskipun film ini menghadirkan sebuah pelintiran kisah yang berkaitan dengan masa lalu dari karakter Phoenix.

Álvarez dan Sayagues sepertinya cukup memahami akan kondisi tersebut. Don’t Breathe 2 jelas hanya memanfaatkan keberadaan dari karakter Norman Nordstorm dan kemampuannya dalam menangani setiap taktik karakter lawan yang coba menghentikannya. Atas dasar tersebut, film ini kemudian memaksimalkan penggunaan adegan-adegan brutal nan berlumuran darah. Meskipun tidak lantas menjawab apa fungsi maupun esensi dari kehadiran Don’t Breathe 2 sebagai sebuah sekuel – selain untuk mengeruk keuntungan komersial lebih besar lagi, tentu saja – namun garapan Sayagues tetap dapat menciptakan banyak momen horor yang cukup mendebarkan. Plot akan pelintiran kisah dari karakter Phoenix juga tergarap dengan baik, khususnya bagian dimana karakter Phoenix kemudian dipertemukan dengan karakter-karakter yang diceritakan berasal dari masa lalu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Karakter Norman Nordstorm, yang pada film sebelumnya digambarkan sebagai sosok yang telah melakukan sejumlah perbuatan buruk, dalam film ini berusaha dinetralkan karakterisasinya dengan kisah hubungan yang dijalinnya dengan karakter Phoenix. Tidak sepenuhnya berhasil, khususnya ketika alur cerita film ini mengungkap bagaimana pertemuan awal antara karakter Norman Nordstorm dengan karakter Phoenix, namun penampilan Lang menjadikan sosok Norman Nordstorm tetap terasa humanis – memiliki sejumlah kesalahan namun berusaha untuk memperbaiki dirinya. Penampilan Lang juga tampil semakin dinamis ketika disandingkan dengan penampilan akting yang diberikan oleh Grace. Brendan Sexton III dan Fiona O’Shaughnessy yang berperan sebagai sosok antagonis juga tampil efektif dalam menghidupkan kedua karakter yang mereka perankan. Bukan sebuah presentasi yang akan diingat lama oleh para penonton, namun Don’t Breathe 2 jelas memiliki kekuatan untuk menghadirkan sejumlah momen horor menyenangkan selama perjalanan ceritanya.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

dont-breathe-2-stephen-lang-movie-posterDon’t Breathe 2 (2021)

Directed by Rodo Sayagues Produced by Fede Álvarez, Sam Raimi, Rob Tapert Written by Fede Álvarez, Rodo Sayagues (screenplay), Fede Álvarez, Rodo Sayagues (characters) Starring Stephen Lang, Brendan Sexton III, Madelyn Grace, Adam Young, Bobby Schofield, Rocci Williams, Christian Zagia, Steffan Rhodri, Stephanie Arcila, Diaana Babnicova, Fiona O’Shaughnessy Cinematography Pedro Luque Edited by Jan Kovac Music by Roque Baños Production companies Screen Gems/Stage 6 Films/Ghost House Pictures/Bad Hombre Running time 99 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s