Review: No Time to Die (2021)


15 tahun semenjak dirinya menggantikan posisi Pierce Brosnan dengan membintangi film ke-21 dari seri James Bond, Casino Royale (Martin Campbell, 2006), serta, dalam perjalanannya, kemudian membintangi tiga film lanjutan, termasuk Skyfall (Sam Mendes, 2012) yang menjadi film pertama dalam seri petualangan sang agen rahasia yang berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$1 milyar selama masa perilisannya di seluruh dunia, Daniel Craig menyudahi tugasnya dalam memerankan karakter James Bond  melalui film teranyar dari seri film tersebut, No Time to Die. Diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga (Jane Eyre, 2011) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya bersama dengan Neal Purvis dan Robert Wade – yang telah menjadi penulis naskah bagi seluruh seri film James Bond semenjak The World is Not Enough (Michael Apted, 1999) – serta Phoebe Waller-Bridge, No Time to Die terasa melengkapi perjalanan karakterisasi dari karakter James Bond yang semenjak diperankan oleh Craig dihadirkan sebagai sosok yang lebih serius dan lebih kelam jika dibandingkan dengan karakter James Bond ketika diperankan oleh barisan pemeran sebelum Craig.

Alur pengisahan No Time to Die sendiri melanjutkan alur pengisahan yang sebelumnya telah dijabarkan lewat Spectre (Mendes, 2015). Setelah penangkapan yang dilakukannya bersama dengan MI6 terhadap Ernst Stavro Blofeld (Christoph Waltz) yang merupakan sosok dibalik organisasi kriminal SPECTRE, James Bond (Craig) memilih untuk pensiun dari tugasnya sebagai seorang agen rahasia dan memilih untuk hidup menyendiri di Port Antonio, Jamaika. Kehidupan tenang James Bond mendapatkan gangguan ketika sahabatnya yang juga seorang agen rahasia dari Central Intelligence Agency, Felix Leiter (Jeffrey Wright), yang datang bersama seorang agen rahasia lainnya, Logan Ash (Billy Magnussen), meminta bantuannya untuk melacak seorang ilmuwan bernama Valdo Obruchev (David Dencik), yang telah diculik oleh sekelompok orang dari laboratorium rahasia yang dimiliki MI6. James Bond awalnya menolak tawaran pekerjaan tersebut. Namun, ketika seorang agen rahasia dari MI6, Nomi (Lasyana Lynch), turut mendatangi dirinya dan menjelaskan tentang Project Heracles yang sedang ditangani oleh Valdo Obruchev serta memiliki keterkaitan dengan SPECTRE, James Bond lantas memutuskan untuk segera menyelesaikan masa pensiunnya.

Dari segi penuturan cerita, No Time to Die mungkin masih belum mampu menyaingi keeleganan kualitas yang sebelumnya berhasil ditampilkan dalam Casino Royale maupun Skyfall. Namun, film ini jelas mampu diberikan penataan konflik serta karakter yang jauh lebih baik daripada Spectre. Selayaknya film-film dalam seri James Bond, No Time to Die dipersenjatai dengan adegan-adegan aksi yang tergarap secara maksimal – baik dari penataan koreografi aksi hingga eksekusi audio maupun visual yang akan membuat setiap penonton merasakan ketegangan akibat kehadiran adegan-adegan bombastis tersebut. Tema serta intrik yang dihadirkan memang tergolong familiar. Hal yang sama juga dapat dirasakan dari motif penggerak sang karakter antagonis utama film, Lyutsifer Safin (Rami Malek). Meskipun begitu, naskah cerita film mampu dikelola dengan seksama oleh pengarahan Fukunaga yang membiarkan setiap lapisan cerita filmnya berkembang secara perlahan guna menghasilkan ikatan emosional yang sempurna – meskipun hal tersebut mendorong No Time to Die untuk bertutur sepanjang 163 menit.

No Time to Die hadir begitu kuat ketika mengeksplorasi hubungan intim yang terjalin antara sang karakter utama dengan karakter-karakter yang berada di sekitarnya. Entah itu hubungan romansa yang penuh masalah antara karakter James Bond dengan karakter Madeleine Swann (Léa Seydoux), hubungan profesionalnya dengan karakter-karakter seperti Nomi, Felix Leiter, M (Ralph Fiennes), Q (Ben Whishaw), atau Eve Moneypenny (Naomie Harris), bahkan hubungannya dengan sosok-sosok antagonis yang siap menghancurkan dirinya seperti karakter Ernst Stavro Blofeld dan Lyutsifer Safin. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter James Bond mendapatkan porsi pengisahan masing-masing yang sangat efektif dalam menjaga stabilitas pengisahan film. Dialog-dialog yang dilontarkan para karakter juga terasa dinamis dan hidup dengan sejumlah sentuhan komedi yang semakin membuat No Time to Die menyenangkan untuk terus diikuti.

Di saat yang bersamaan, adalah cukup tepat untuk menggolongkan No Time to Die sebagai kepingan akhir yang sesuai bagi perjalanan karakter James Bond selama diperankan oleh Craig. Jika penampilan Craig di Casino Royale mengubah persepsi yang telah tertanam akan sosok karakter James Bond yang tampan, glamor, flamboyan, dan pecinta wanita menjadi sosok dengan kepribadian yang lebih kelam, dingin, dan serius, maka No Time to Die melengkapi perkembangan karakterisasi tersebut menjadi sosok yang lebih hangat dan lebih dewasa. Tentu, No Time to Die masih meninggalkan jejak-jejak klasik karakter James Bond dalam pengisahannya – “shaken, not stirred,” “Bond, James Bond,” Aston Martin, dan berbagai perangkat berteknologi canggih yang akan selalu setia menemani masa tugasnya. Namun sangatlah menyenangkan untuk menyaksikan karakter James Bond di era Craig mampu menyajikan pergerakan sesosok karakter ikonik sehingga dapat tampil humanis dan jelas akan berhasil mengumpulkan banyak penggemar dari generasi terbaru.

Seri James Bond di era Craig juga disajikan dengan dukungan departemen akting yang sangat solid, tidak terkecuali dalam No Time to Die. Sejumlah deretan pemeran yang telah tampil dalam film-film sebelumnya kembali menunjukkan kapasitas penampilan mumpuni mereka dalam film ini. Chemistry yang terjalin antara Craig dengan Seydoux dalam jalinan kisah romansa antara dua karakter yang mereka perankan juga tampil semakin hangat. Karakter antagonis yang ia perankan mungkin tidak akan meninggalkan kesan yang mendalam namun penampilan Malek jelas menjadikan kehadiran karakter antagonis tersebut mampu memegang perhatian penonton secara utuh. Oh, berbicara mengenai memegang perhatian penonton, penampilan sekilas dari Ana de Armas sebagai seorang agen rahasia yang membantu salah satu misi dari karakter James Bond jelas akan menjadi perbincangan banyak pihak. Penampilan de Armas begitu lugas dan kuat dan akan membekas di kenangan banyak mata yang menyaksikannya – dan akan sanggup membuat banyak orang berharap karakter tersebut akan kembali hadir di masa yang akan datang.

Peran Craig dalam menghidupkan sosok karakter James Bond jelas tidak dapat dilepaskan begitu saja. Sejak Casino Royale, Craig telah menampilkan penampilan yang tidak hanya membuat karakter yang ia perankan terlihat sangat meyakinkan sebagai sosok agen rahasia yang tangguh, namun juga mampu membentuk ikatan emosional yang kuat dengan penontonnya. Sejujurnya, keberhasilan Craig dalam menghidupkan karakter James Bond cukup membuat sulit untuk membayangkan aktor lain hadir memerankan karakter tersebut. Jelas sebuah tugas yang besar bagi para pemeran karakter James Bond berikutnya untuk dapat menyaingi atau sekedar menyamai capaian Craig yang mungkin merupakan sosok pemeran karakter James Bond terbaik hingga saat ini.

popcornpopcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2

no-time-to-die-james-bond-daniel-craig-movie-posterNo Time to Die (2021)

Directed by Cary Joji Fukunaga Produced by Michael G. Wilson, Barbara Broccoli Written by Neal Purvis, Robert Wade, Cary Joji Fukunaga, Phoebe Waller-Bridge (screenplay), Neal Purvis, Robert Wade, Cary Joji Fukunaga (story), Ian Fleming (novel, James Bond) Starring Daniel Craig, Rami Malek, Léa Seydoux, Lashana Lynch, Ben Whishaw, Naomie Harris, Jeffrey Wright, Christoph Waltz, Ralph Fiennes, Billy Magnussen, Ana de Armas, David Dencik, Rory Kinnear, Dali Benssalah, Lisa-Dorah Sonnet, Coline Defaud, Mathilde Bourbin, Hugh Dennis, Priyanga Burford Cinematography Linus Sandgren Edited by Elliot Graham, Tom Cross Music by Hans Zimmer Production companies Metro-Goldwyn-Mayer/Eon Productions Running time 163 minutes Countries United Kingdom, United States Language English

One thought on “Review: No Time to Die (2021)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s