Review: Jolt (2021)


Film terbaru arahan Tanya Wexler (Buffaloed, 2019), Jolt, berkisah tentang seorang perempuan bernama Lindy (Kate Beckinsale) yang semenjak kecil didiagnosa memiliki kelainan kondisi medis dimana dirinya tidak mampu menahan rasa amarah yang lantas mendorongnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Untuk menangani rasa amarah Lindy yang sering tidak terkendali, psikiaternya, Dr. Munchin (Stanley Tucci), memberikan sebuah alat kejut listrik yang mampu meredam hasrat Lindy untuk berlaku kasar ketika dirinya sedang emosional. Dr. Munchin juga menyarankan Lindy untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan orang lain. Saran yang kemudian mempertemukan Lindy dengan seorang akuntan bernama Justin (Jai Courtney). Tanpa disangka, Justin ternyata dapat merebut sekaligus melunakkan hati Lindy. Namun, belum lama kisah asmara tersebut tumbuh, sebuah tragedi muncul dan menimpa Justin. Lindy tidak mampu lagi mengontrol seluruh emosi yang ia rasakan dan lantas berusaha untuk menemukan siapa yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada sosok pria yang begitu dicintainya.

Sekilas, naskah cerita garapan Scott Wascha untuk Jolt terasa sebagai paduan dari sejumlah film bertema serupa yang telah dirilis sebelumnya. Masih ingat dengan Crank (Mark Neveldine, Brian Taylor, 2006) dimana karakter yang diperankan oleh Jason Statham membutuhkan kejutan listrik untuk dapat bertahan hidup? Atau dengan kisah dari karakter yang diperankan oleh Jennifer Garner dalam Peppermint (Pierre Morel, 2018) yang seketika harus bangkit untuk membalaskan dendam kematian suami dan anak-anaknya? Tema yang familiar, tentu saja, namun Wascha mampu membubuhkan berbagai sentuhan cerdas dalam naskah ceritanya yang dapat membuat Jolt terasa begitu menyenangkan untuk diikuti. Lihat saja bagaimana Wascha memberikan paduan yang tepat antara kemampuan beraksi dan humor kepada karakter Lindy. Karakter tersebut digambarkan dapat merusak (atau membunuh) apa saja yang berada di hadapannya ketika sedang diamuk rasa amarah. Di saat yang bersamaan, sulit untuk tidak merasa jatuh hati pada karakter tersebut ketika Wascha berhasil memberikannya penggalian karakter serta dialog-dialog jenaka yang sangat efektif.

Harus diakui, seluruh keberhasilan tata penceritaan Jolt bergantung penuh pada performa dari karakter Lindy – dan penampilan Beckinsale yang menghidupkan karakter tersebut. Jolt dibuka secara kurang meyakinkan pada awalnya melalui sebuah narasi berdurasi lima menit yang bertutur akan kehidupan dari sang karakter utama semenjak ia kecil hingga berbagai tantangan hidup yang harus dilaluinya akibat masalah emosionalnya. Narasi yang terlalu panjang dan cukup mengganggu. Beruntung, Wexler secara perlahan mampu mengendalikan ritme pengisahan Jolt. Seiring dengan fokus yang terus berada pada sosok karakter Lindy, interaksinya dengan karakter-karakter lain, serta sajian aksi yang brutal membuat pengisahan Jolt menjadi dinamis. Meskipun susunan konflik dan karakternya tidak pernah berhasil dikelola secara lebih matang – dengan kemungkinan untuk mempersiapkan adanya sebuah sekuel – Wexler dapat mengeksekusi naskah cerita garapan Wascha untuk menjadi sebuah presentasi aksi yang kuat dalam elemen hiburannya.

Jolt mungkin tidak mampu tampil segarang dan semenghibur ini jika tanpa penampilan prima dari Beckinsale. Dengan film-film seperti Underworld (Len Wiseman, 2003), Van Helsing (Stephen Sommers, 2004), hingga Total Recall (Wiseman, 2012) berada di dalam filmografinya, kemampuan Beckinsale dalam mengeksekusi adegan-adegan aksi tentu tidak perlu diragukan lagi. Kehandalannya untuk mengelola tiap dialog jenakanya-lah yang membuat penampilan Beckinsale di film ini semakin mempesona. Keberadaannya membuat karakter Lindy sekaligus kualitas penceritaan Jolt secara keseluruhan menjadi lebih hidup. Wexler juga mendapat dukungan yang solid dari para pengisi departemen akting filmnya yang lain. Karakter-karakter yang diperankan oleh Tucci, Courtney, Bobby Cannavale, Laverne Cox, David Bradley, hingga Susan Sarandon memang hadir dengan penggalian kisah yang (terlalu) minimalis. Untungnya, nama-nama tersebut berhasil membuat karakter mereka hadir lugas dalam mendampingi karakter Lindy yang diperankan oleh Beckinsale. Jolt mungkin akan segera dilupakan seusai disaksikan. Namun, tidak akan ada yang dapat menyangkal bahwa film ini mampu menghadirkan banyak momen-momen menyenangkan dalam 91 menit durasi penuturannya.

Jolt (2021)

Directed by Tanya Wexler Produced by David Bernardi, Sherryl Clark, Robert Van Norden, Les Weldon, Yariv Lerner Written by Scott Wascha Starring Kate Beckinsale, Jai Courtney, Stanley Tucci, Bobby Cannavale, Laverne Cox, Constantine Gregory, Ori Pfeffer, David Bradley, Susan Sarandon, Lewis Bray, Nathan Cooper, Joseph Grogan, Sophie Sanderson, Steven Osborne, Tom Xander, Evan Sharp, Savvy Clement, Sofia Weldon, Eliya Or, Dorottya Bartok, Orlin Pavlov, Kaloyan Borisov, Daniel Singleton, Daniel Stoyanov, Simon Bullok, Harry Anichkin, Brayden Pindur, Lili Rich, Chloe Rahal, Chloe Sarbib, Mara Chapanova, James Grogan, Adam Brashaw, Christian Brassington, Vasil Yordanov, Eugene Buica, Jennifer Snodgrass, Genadiy Ganchev Cinematography Jules O’Loughlin Edited by Chris Barwell, Carsten Kupanek, Michael J. Duthie Music by Dominic Lewis Production companies Millennium Media/Busted Shark Productions/Campbell Grobman Films/Electric Films Running time 91 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s