Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Menjadi film pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Israel, Navot Papushado, secara solo – setelah sebelumnya mengarahkan Rabies (2010) dan Big Bad Wolves (2013) bersama dengan Aharon Keshales, Gunpowder Milkshake berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Sam (Karen Gillan) yang ditugaskan untuk membunuh seorang pria, David (Samuel Anderson), karena telah mencuri sejumlah uang dari perusahaan tempat Sam sekarang bekerja, The Firm. Sebagai seorang pembunuh bayaran profesional, tugas tersebut jelas bukanlah sebuah hal yang sulit. Namun, ketika mengetahui bahwa David mencuri uang tersebut untuk digunakan sebagai tebusan bagi putrinya, Emily (Chloe Coleman), yang sedang diculik, hati Sam kemudian tergerak untuk membantu. Sam sendiri yang kemudian menghantarkan uang tebusan tersebut kepada sang penculik dengan maksud untuk kembali merebut uang tersebut dan mengembalikannya ke perusahaan setelah Emily berhasil ia dapatkan. Sial, rencana tersebut menemui kegagalan yang bahkan menyebabkan uang hasil curian lenyap. Sam, yang biasa memburu dan membunuh orang-orang yang telah ditentukan oleh The Firm, kini menjadi buruan karena dugaan telah melarikan uang perusahaan.

Premis tentang pemburu yang kemudian menjadi sosok yang diburu memang bukanlah tema cerita yang dapat dikatakan baru. Namun, untungnya, naskah cerita Gunpowder Milkshake yang digarap Papushado bersama dengan Ehud Lavski tidak hanya bertutur tentang usaha dari karakter utamanya untuk melarikan diri dari orang-orang yang memburunya. Bagian paling menarik dari film ini justru datang dari paparan akan masa lalu sang karakter utama yang dikisahkan memiliki hubungan buruk dengan sang ibu yang juga berprofesi sebagai pembunuh bayaran, Scarlet (Lena Headey), setelah sang ibu memilih untuk meninggalkannya di kala ia masih remaja. Papushado dan Lavski mampu mengelola konflik yang tercipta antara karakter ibu dan anak tersebut secara dinamis dengan turut memberikan galian yang karakterisasi yang kuat baik bagi sosok Sam maupun dari sosok Scarlet. Memang, elemen penceritaan tersebut masih memanfaatkan berbagai pola pengisahan akan sebuah film aksi bertema serupa yang telah banyak diproduksi Hollywood. Pun begitu, Papushado cukup mampu untuk memberikan garapan yang membuat pengisahan filmnya tidak berkesan usang.

Untuk sebuah film yang memiliki durasi presentasi sepanjang 114 menit, Gunpowder Milkshake tidak memiliki cukup kedalaman cerita yang akan dapat membuat penontonnya merasa benar-benar terikat. Entah memang disengaja – disimpan untuk nantinya dibuka pada sekuel yang telah direncanakan – atau tidak, banyak lapisan kisah dari konflik maupun karakter yang dikisahkan pada linimasa penceritaan film ini tampil dengan pengembangan yang seadanya. Lihat saja bagaimana penggambaran akan sosok-sosok karakter antagonis yang cukup monoton atau sempalan kisah tentang hubungan dari karakter Sam dan Scarlet dengan karakter-karakter yang digambarkan berperan bagi masa lalu mereka, seperti Madeleine (Carla Gugino), Florence (Michelle Yeoh), dan Anna May (Angela Bassett). Papushado dan Lavski sepertinya hanya menyediakan karakter-karakter tersebut sebagai pemantik sekaligus pendorong bagi keberadaan konflik dalam film ini tanpa pernah memolesnya dengan lebih baik lagi.

Terlepas dari sejumlah kelemahan pada penuturan ceritanya, harus diakui Gunpowder Milkshake berhasil dikemas untuk menjadi presentasi aksi yang memikat. Papushado menyajikan filmnya dengan ritme pengisahan yang bergerak cepat. Dukungan koreografi aksi yang brutal dengan kualitas departemen produksi yang berkelas – mulai dari eksekusi tata efek, tata rias dan rambut, hingga pilihan lagu-lagu bernuansa rock klasik yang mengisi banyak adegan – juga membuat penampilan film ini semakin meyakinkan. Departemen akting film juga menjadi bagian krusial bagi keberhasilan film ini dalam menorehkan kesan. Gillan memang mampu memegang perhatian penonton secara utuh. Namun, sulit untuk membantah bahwa Gunpowder Milkshake terasa benar-benar hidup ketika Headey, Gugino, Yeoh, dan Bassett sedang berinteraksi maupun memamerkan kemampuan mereka dalam bertarung. Penampilan apik Coleman dan Paul Giamatti juga menambah solid kualitas departemen akting film. Sebuah presentasi aksi yang menyenangkan.

 

Gunpowder Milkshake (2021)

Directed by Navot Papushado Produced by Andrew Rona, Alex Heineman Written by Navot Papushado, Ehud Lavski Starring Karen Gillan, Lena Headey, Carla Gugino, Chloe Coleman, Michelle Yeoh, Angela Bassett, Paul Giamatti, Ralph Ineson, Adam Nagaitis, Michael Smiley, Samuel Anderson, Mai Duong Kieu, Ivan Kaye, Jack Bandeira, David Burnell IV, Freya Allan Cinematography Michael Seresin Edited by Nicolas De Toth Music by Frank Ilfman Production companies The Picture Company/Babelsberg Studio/StudioCanal Film GmbH/Canal+/Ciné+ Running time 114 minutes Countries United States/Germany/France Language English

Leave a Reply