Review: The Tomorrow War (2021)

Dalam The Tomorrow War, Chris Pratt berperan sebagai seorang pria dengan berbagai kenangan buruk akan sosok ayah yang meninggalkan dirinya di masa kecil serta kini harus turut dalam sebuah pertarungan melawan makhluk asing dari angkasa luar guna menyelamatkan Bumi. Bukan. The Tomorrow War bukanlah film yang melanjutkan perjalanan cerita Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) dan Guardians of the Galaxy Vol. 2 (Gunn, 2017) yang juga dibintangi oleh Pratt. Menjadi film pertama yang diarahkan oleh Chris McKay setelah kesuksesannya dalam mengarahkan film animasi The LEGO Batman Movie (2017), The Tomorrow War memang menghadirkan Pratt untuk berperan sebagai sosok dengan latar belakang karakter yang menyerupai sosok karakter yang diperankannya dalam seri film yang termasuk dalam semesta pengisahan Marvel Cinematic Universe tersebut. Tidak hanya desain karakter utamanya, film fiksi ilmiah ini juga memiliki barisan konflik yang cukup familiar bagi mereka para penikmat film-film bertemakan peperangan dengan makhluk asing dari angkasa luar. Bukan lantas berarti buruk karena McKay mampu membalut filmnya dengan banyak momen aksi yang akan cukup berhasil untuk mempesona banyak mata yang menyaksikannya.

Dengan cerita yang memiliki latar belakang waktu pengisahan pada tahun 2022, film yang naskah ceritanya digarap oleh Zach Dean (24 Hours to Live, 2017) ini bertutur tentang seorang mantan anggota pasukan khusus tentara Amerika Serikat yang kini bekerja sebagai seorang guru, Dan Forester (Pratt), yang kemudian terpilih untuk kembali maju ke medan perang dan membantu pasukan tentara dari masa depan untuk menghadapi sekelompok makhluk asing dari angkasa luar yang tengah menyerang Bumi pada tahun 2051. Terpilihnya Dan Forester untuk melaju ke masa depan ternyata terjadi berkat keterlibatan Colonel Muri Forester (Yvonne Strahovski) yang ternyata merupakan puteri Dan Forester yang telah beranjak dewasa. Dan Forester tentu saja merasa kagum dengan pencapaian puterinya di masa yang akan datang tersebut. Namun, Colonel Muri Forester sendiri memanggil kedatangan sang ayah guna memanfaatkan kecerdasan sang ayah dalam ilmu biologi. Sebuah kemampuan yang akan menentukan nasib keberadaan peradaban manusia di atas permukaan Bumi.

Tidak sukar untuk memberikan perbandingan antara The Tomorrow War dengan sejumlah film fiksi ilmiah lain yang memiliki tema hampir serupa. Lumayan generik. Momen-momen tebaik dalam film ini hadir ketika film ini secara perlahan meninggalkan seluruh hiruk pikuk konflik dan adegan aksinya untuk kemudian berfokus pada bangunan hubungan antara karakter Dan Forester dan Colonel Muri Forester. Meskipun hadir dalam jalinan kisah yang cukup sederhana, pengarahan yang diberikan McKay mampu menjadikan hubungan ayah dan anak antara kedua karakter tersebut yang kemudian berkembang menjadi kerjasama guna mengalahkan musuh mereka bersama tampil begitu manis dan menggugah. The Tomorrow War bahkan sebenarnya tampil dengan pengisahan yang lebih kuat ketika memilih untuk berfokus pada interaksi yang terjadi antara karakter-karakter manusianya. Tentu, efek audio maupun visual akan pertarungan dengan para makhluk asing dari angkasa luar dapat dieksekusi secara lugas oleh McKay. Namun The Tomorrow War justru tampil lebih bersinar dalam tuturannya yang lebih humanis.

Naskah cerita garapan Dean sebenarnya berusaha untuk menghadirkan sejumlah konflik besar yang terjadi pada sejumlah karakter yang, sepertinya, diniatkan untuk diberikan plot pengisahan mereka tersendiri. Sayangnya, banyak dari elemen tersebut tidak mampu untuk dikembangkan dengan baik. Kisah hubungan antara karakter Dan Forester dengan sang ayah (J. K. Simmons), kisah sosok pejuang bernama Dorian (Edwin Hodge) yang bersama dengan sejumlah pasukannya telah tiga kali maju ke medan perang menghadapi para makhluk asing dari angkasa luar, atau keberadaan karakter Charlie (Sam Richardson) yang banyak mendampingi karakter Dan Forester di paruh awal pengisahan terasa hanya hadir untuk sekedar menjadi batu lompatan bagi konflik-konflik lain dalam linimasa penceritaan film daripada mampu dijadikan sebagai plot cerita yang terasa utuh. The Tomorrow War bahkan kemudian terkesan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan seluruh konfliknya dengan membangun kisah akan pertarungan akhir antara karakter Dan Forester dengan rekan-rekannya dalam melawan para makhluk asing dari angkasa luar di paruh ketiga film. Pilihan yang menggelikan dan cukup merusak kualitas film yang sebenarnya telah cukup terjaga semenjak awal penceritaan.

Setidaknya The Tomorrow War masih memiliki penampilan mumpuni dari Pratt. Menggunakan kharisma serta kemampuan humornya, penampilan Pratt mampu menjadi andala untuk menjaga ritme penceritaan film ini untuk dapat terus tampil menarik. McKay juga mendapatkan penampilan yang prima dari para pengisi departemen akting filmnya yang lain. Meski karakternya seringkali terasa tidak tergali dengan cukup baik, penampilan Strahovski – serta chemistry-nya yang apik dengan Pratt, mampu menjadikan karakter Colonel Muri Forester begitu mudah untuk disukai. Penampilan Simmons, Richardson, Hodge, serta Betty Gilpin menambah solid kualitas penampilan departemen akting film ini. Sebuah film fiksi ilmiah tentang peperangan melawan makhluk asing dari angkasa luar yang memang tidak istimewa, namun The Tomorrow War setidaknya tidak pernah terasa membosankan dalam setiap menit penuturannya.

The Tomorrow War (2021)

Directed by Chris McKay Produced by David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, Jules Daly, David S. Goyer, Adam Kolbrenner Written by Zach Dean Starring Chris Pratt, Yvonne Strahovski, J. K. Simmons, Betty Gilpin, Sam Richardson, Edwin Hodge, Jasmine Mathews, Keith Powers, Mary Lynn Rajskub, Mike Mitchell, Seth Scenall, Ryan Kiera Armstrong Music by Lorne Balfe Cinematography Larry Fong Edited by Roger Barton, Garret Elkins Production companies Paramount Pictures/Skydance Media/New Republic Pictures/Phantom Four Films/Lit Entertainment Group Running time 138 minutes Country United States Language English

Leave a Reply