Review: Ghost Lab (2021)

Setelah turut berkontribusi dalam sejumlah film omnibus seperti Phobia (2008), Phobia 2 (2009), dan Seven Something (2012), sutradara Paween Purijitpanya kembali hadir lewat Ghost Lab yang sekaligus menjadi film cerita panjang pertama yang ia arahkan semenjak Body (2007). Dengan naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Vasudhorn Piyaromna (Bad Genius, 2017) dan Tossaphon Riantong (Brother of the Year, 2018), Ghost Lab berkisah tentang persahabatan antara dua orang dokter muda, Wee (Thanapob Leeratanakajorn) dan Gla (Paris Intarakomalyasut), yang sama-sama berambisi untuk menemukan bukti ilmiah akan keberadaan hantu serta berbagai makhluk supranatural lainnya. Terinspirasi dari pertemuan keduanya akan seorang sosok hantu di rumah sakit tempat mereka bekerja, penelitian Wee dan Gla awalnya berlangsung dengan serius namun tetap menyenangkan. Namun, setelah berulangkali gagal untuk benar-benar mendapatkan cara maupun teori ilmiah yang benar untuk menemukan para makhluk supranatural, keduanya mulai memiliki ide untuk mengambil langkah yang lebih ekstrem: mendekati kematian secara langsung dengan melakukan usaha untuk bunuh diri.

Merupakan film pertama yang dihasilkan oleh rumah produksi GDH 559 yang tayang perdana secara eksklusif melalui Netflix, Ghost Lab mencoba untuk menghadirkan paduan antara unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah yang cukup menarik. Layaknya film-film garapan GDH 559 lainnya, Ghost Lab juga tidak melulu berfokus pada unsur horor maupun fiksi ilmiahnya. Drama persahabatan antara kedua karakter utama serta sejumlah kisah mengenai hubungan antara karakter Wee dengan sang ibu (Suquan Bulakul) ataupun hubungan antara karakter Gla dengan kekasihnya, Mai (Nuttanicha Dungwattanawanich), juga turut dihadirkan guna memberikan sentuhan emosional pada alur pengisahan Ghost Lab. Lapisan-lapisan cerita dengan warna berbeda – horor, fiksi ilmiah, drama, romansa – tersebut memang menjadikan Ghost Lab terasa padat penuturannya. Namun, barisan konflik yang disajikan secara perlahan menjadi beban tersendiri ketika naskah cerita tidak mampu diberikan kualitas pengembangan yang lebih baik.

Tidak seluruh bagian penceritaan Ghost Lab tereksekusi dengan buruk. Elemen misteri pengisahan yang mungkin akan mengingatkan sejumlah penonton pada Flatliners (Joel Schumacher, 1990) atau malah The Invisible Man (Leigh Whannell, 2020) masih cukup mampu memberikan beberapa momen horor yang mengesankan. Dua karakter utamanya, Wee dan Gla, juga dapat disajikan dengan penggalian serta pengembangan karakter yang membuat keduanya cukup mudah untuk disukai – terlepas dari sejumlah karakterisasi yang bernilai cukup klise pada penggambaran kedua karakter. Pilihan Purijitpanya untuk memperpanjang komposisi cerita sejumlah konflik – dengan penuturan yang terasa lamban – serta eksekusi paruh akhir cerita yang terasa kebingungan dalam memberikan simpulan yang tepat bagi beragam konflik yang telah dituturkan sebelumnya lantas menghasilkan kesan pengisahan yang bertele-tele dan kurang efektif bagi Ghost Lab. Cukup disayangkan.

Meskipun tidak terasa istimewa, akting yang dihadirkan oleh Leeratanakajorn dan Intarakomalyasut setidaknya cukup dapat hadir meyakinkan bagi jalinan persahabatan yang dijalani oleh kedua karakter yang mereka perankan. Leeratanakajorn, khususnya, juga mampu menggambarkan perubahan gambaran kepribadian yang terjadi pada sosok Wee ketika dirinya semakin terobsesi untuk menemukan kehidupan sesudah kematian dengan baik. Secara keseluruhan, Ghost Lab berakhir sebagai sebuah sajian yang tidak mampu mengembangkan ide segar pengisahannya secara lebih kuat. Elemen drama dengan elemen horor dalam alur ceritanya memang berhasil menghadirkan sejumlah momen-momen kuat tersendiri namun, sebagai presentasi cerita yang utuh, kedua elemen tersebut terasa gagal untuk berbaur dengan baik. Masih cukup layak untuk disaksikan meskipun Ghost Lab jelas tidak berada dalam barisan film terbaik yang pernah dihasilkan oleh GDH 559.

 

Ghost Lab (2021)

Directed by Paween Purijitpanya Produced by Vanridee Pongsittisak, Paween Purijitpanya Written by Vasudhorn Piyaromna, Paween Purijitpanya, Tossaphon Riantong  Starring Thanapob Leeratanakajorn, Paris Intarakomalyasut, Nuttanicha Dungwattanawanich, Suquan Bulakul, Pearachanee Siralert, Natthawut Jenmana, Chaleeda Gilbert, Anchuleeon Buagaew, Jinjuta Rattanaburi, Alanta Potjes, Suniti Supavarahasoonthorn, Prem Fakseemuang, Ekkhapop Sunwannakij, Thawatchai Janthawan, Sombat Inopast, Pranya Sakiyalak Music by Bill Hemstapat Cinematography Pithai Smithsuth Edited by Nuttapon Timmueng Production company GDH 559 Running time 117 minutes Country Thailand Language Thai

Leave a Reply