Review: Army of the Dead (2021)


Sebelum namanya (lebih) popular sebagai sutradara andalan DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film-film pahlawan super seperti Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), hingga Zack Snyder’s Justice League (2021) serta dilibatkan dalam seluruh film-film yang berada dalam semesta pengisahan DC Extended Universe, Zack Snyder memulai karir penyutradaraan film cerita panjangnya dengan mengarahkan sebuah film aksi horor berjudul Dawn of the Dead (2004) yang berkisah tentang kekacauan yang terjadi akibat serbuan sekaligus penyerangan para mayat hidup terhadap manusia. Merupakan versi buat ulang dari film legendaris berjudul sama arahan George A. Romero yang dahulu dirilis pada tahun 1978, Dawn of the Dead garapan Snyder sering dinobatkan sebagai salah satu film horor bertemakan mayat hidup terbaik yang pernah diproduksi Hollywood oleh para kritikus film dunia sekaligus menjadi film terbaik yang pernah diarahkan Snyder hingga saat ini.

Film teranyar yang disutradarai oleh Snyder, Army of the Dead, juga merupakan sebuah film aksi horor yang menempatkan kisah tentang kekacauan akibat serangan para mayat hidup sebagai tema penceritaan utamanya. Namun, berbeda dengan Dawn of the Dead, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Snyder bersama dengan Shay Hatten (John Wick: Chapter 3 – Parabellum, 2019) dan Joby Harold (King Arthur: Legend of the Sword, 2017) ini juga menawarkan sejumlah plot pengisahan lain yang menonjol dan membuatnya tampil cukup berbeda dengan film-film lain yang melibatkan karakter mayat hidup dalam alur pengisahannya. Harus diakui, mereka yang familiar dengan barisan film yang telah diarahkan oleh Snyder sebelumnya jelas akan dengan mudah mengenali berbagai ciri khas gambar atau tata cerita yang kembali dihadirkan Snyder dalam Army of the Dead. Beruntung, elemen-elemen seperti penggunaan adegan gerak lamban, penggunaan kontras tinggi, hingga teknik memperbesar tampilan obyek di sejumlah adegan film mampu dimanfaatkan untuk menjadikan intensitas cerita lebih memikat.

Army of the Dead dibuka dengan pengisahan akan kehancuran kota Las Vegas, Amerika Serikat setelah terjadinya serangan mayat hidup. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengkarantina seluruh kota sehingga tidak ada seorangpun yang dapat masuk ataupun keluar tanpa seizin pihak berwenang serta berencana untuk menghancurkan Las Vegas dengan serangan nuklir dalam waktu dekat. Tidak ingin uang yang tersimpan di kasino miliknya menghilang begitu saja, Bly Tanaka (Hiroyuki Sanada) menyewa seorang mantan tentara bayaran bernama Scott Ward (Dave Bautista) untuk menyelinap masuk ke kota Las Vegas, membobol brankas kasino, dan membawa pulang uang tunai senilai lebih dari US$200 juta. Scott Ward, tentu saja, tidak sendirian. Ia lantas merekrut rekan-rekan lama kerjanya, Maria Cruz (Ana de la Reguera), Vanderohe (Omari Hardwick), dan Marianne Peters (Tig Notaro), serta orang-orang baru yang telah dikenal kehandalannya seperti Ludwig Dieter (Matthias Schweighöfer), Mikey Guzman (Raúl Castillo), dan rekannya Chambers (Samantha Win). Ditemani oleh pengawal Bly Tanaka yang bertugas untuk menyediakan berbagai akses ke berbagai ruangan di dalam kasino, Martin (Garret Dillahunt), Scott Ward mulai berpacu dengan waktu – serta para mayat hidup yang dapat menyerang kapan saja – untuk menyelesaikan misinya.

Seperti halnya film-film yang ia arahkan sebelumnya, Snyder juga memiliki sebuah visi yang baru tentang alur pengisahan yang ingin disampaikannya. Daripada hanya sekedar menghadirkan sekumpulan mayat hidup yang bertugas untuk menyerang dan/atau membunuh manusia, Snyder menciptakan sekelompok karakter mayat hidup yang berbeda serta memiliki tingkat kecerdasan intelektual dan emosional dari kebanyakan karakter mayat hidup lainnya. Tentu saja, kehadiran sosok-sosok mayat hidup yang memiliki kemampuan lebih tersebut mampu memberikan tambahan ketegangan bagi alur kisah yang harus dilalui oleh para karakter manusia. Army of the Dead juga tidak hanya disajikan sebagai kisah bagaimana para manusia bertahan hidup di tengah ancaman kematian yang mengintai di sekitar mereka. Plot utama dari film ini justru berfokus pada usaha pencurian uang yang dilakukan oleh karakter Scott Ward serta rekan-rekannya di kasino yang dimiliki oleh karakter Bly Tanaka. Sebuah heist movie yang berlatar zombie movie – paduan atraktif yang ternyata cukup mampu dikelola dengan baik oleh Snyder.

Di saat yang bersamaan, sulit untuk tidak merasakan bahwa Snyder, lagi-lagi, kembali mengulang kesalahan yang sama dari film-filmnya terdahulu: ide besar yang menarik namun kemudian dieksekusi dengan bangunan cerita yang begitu terbatas (baca: dangkal). Karakter-karakter mayat hidup dengan tingkat kecerdasan intelektual dan emosional memang adalah sebuah ide yang segar. Namun ketidakmampuan Snyder untuk memberikan galian latar kisah yang cukup tentang asal muasal dari kecerdasan tersebut membuat para mayat hidup tersebut terasa setengah matang dalam setiap pergerakannya. Usaha Snyder untuk memberikan sentuhan emosional pada alur kisah Army of the Dead dengan menghadirkan sosok anak dari karakter Scott Ward, Kate Ward (Ella Purnell), juga gagal ketika karakter Kate Ward sendiri lebih sering digambarkan dengan karakterisasi yang lebih sering terasa mengganggu. Kesalahan klasik Snyder lainnya, menghadirkan penuturan kisah dengan durasi lebih lama dari yang seharusnya juga masih muncul dalam film ini. Untuk film yang berdurasi sepanjang 148 menit, Army of the Dead tidak memiliki amunisi cerita yang cukup – dengan sejumlah plot cerita yang gagal untuk dikelola dan digali dengan lebih baik – untuk membuat penontonnya terus merasa terikat dengan penuturannya.

Terlepas dari sejumlah kelemahannya, sulit untuk tidak merasa terhibur dengan presentasi yang diberikan oleh Snyder. Menghadirkan alur cerita filmnya dalam ritme pengisahan yang cepat, Snyder mampu mengelola momen-momen aksi serta horor yang terasa menegangkan dengan baik. Departemen akting film ini juga tampil tidak mengecewakan. Meskipun aktingnya tidak pernah terasa istimewa, kharisma yang dihadirkan Bautista dapat menjadikan karakter Scott Ward yang ia perankan memegang perhatian penonton secara utuh. Penampilan yang diberikan oleh Schweighöfer, Win, serta Nora Arnezeder yang berperan sebagai sosok Lily juga memberikan momen-momen mengesankan tersendiri bagi Army of the Dead. Penampilan Schweighöfer, khususnya, jelas berhasil hadir mencuri perhatian setiap kali karakter yang ia perankan dilibatkan di dalam alur cerita. Masih belum mampu menyaingi kualitas Dawn of the Dead namun Army of the Dead jelas cukup dapat memuaskan para penggemar Snyder – dan, mungkin, sejumlah penikmat film-film tentang para mayat hidup.

Army of the Dead (2021)

Directed by Zack Snyder Produced by Deborah Snyder, Wesley Coller, Zack Snyder Written by Zack Snyder, Shay Hatten, Joby Harold (screenplay), Zack Snyder (story) Starring Dave Bautista, Ella Purnell, Omari Hardwick, Ana de la Reguera, Theo Rossi, Matthias Schweighöfer, Nora Arnezeder, Hiroyuki Sanada, Garret Dillahunt, Tig Notaro, Raúl Castillo, Huma Qureshi, Samantha Win, Richard Cetrone, Athena Perample, Michael Cassidy Music by Tom Holkenborg Cinematography Zack Snyder Edited by Dody Dorn Production company The Stone Quarry Running time 148 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Army of the Dead (2021)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s