Review: The Disciple (2020)

Enam tahun setelah merilis debut pengarahan film layar lebarnya yang gemilang melalui Court (2014) – yang tidak hanya mendapatkan pujian sekaligus pengakuan dari banyak kritikus film dunia namun juga berhasil terpilih mewakili India untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film di ajang The 88th Annual Academy Awards – sutradara Chaitanya Tamhane kini kembali dengan film terbarunya, The Disciple. Berfokus pada sosok-sosok karakter yang menekuni musik tradisional India dalam kehidupan mereka, naskah cerita yang ditulis oleh Tamhane dan digarap semenjak tahun 2015 menarik perhatian sutradara Alfonso Cuarón (Roma, 2018) yang kemudian bergabung sebagai produser eksekutif bagi film ini, membantu Tamhane untuk mengembangkan ide cerita dari film arahannya, serta memberikan sejumlah masukan untuk capaian teknikal film. Hasilnya tidak mengecewakan. Terlepas dari keterlibatan Cuarón, Tamhane dengan lugas menunjukkan kemampuan berceritanya yang terasa begitu personal sekaligus kuat dalam menyampaikan setiap titik poin kisahnya.

The Disciple bercerita tentang seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Sharad Nerulkar (Aditya Modak) yang kini sedang menuntut ilmu pada seorang musisi senior yang dikenal dengan sebutan Guruji (Arun Dravid) demi mewujudkan mimpinya – dan mimpi almarhum sang ayah (Kiran Yadnyopavit) – untuk menjadi seorang penyanyi sekaligus musisi musik tradisional India yang handal. Jalan yang harus dilalui oleh Sharad Nerulkar tidaklah mudah. Tidak seperti jenis musik lainnya, musik tradisional India seringkali dihubungkan dengan pendalaman maupun pencapaian spiritual yang harus dilalui oleh mereka yang ingin menekuninya. Oleh sang ayah dan sang guru, Sharad Nerulkar juga mendapatkan penekanan bahwa musik tradisional India adalah sebuah jenis musik yang harus diutamakan kemurniannya. Sharad Nerulkar mencoba untuk mengikuti serta menuruti setiap metode pelajaran yang diberikan padanya namun, setelah bertahun-tahun belajar dan mengutamakan pencapaian seni daripada kelangsungan hidupnya, Sharad Nerulkar mulai menyadari bahwa dirinya tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Seperti halnya Inside Llewyn Davis (Ethan Coen, Joel Coen, 2013) maupun La La Land (Damien Chazelle, 2016), The Disciple turut berkisah tentang pergulatan jiwa seorang musisi yang berjuang untuk meraih capaian artistik dalam karya mereka sembari terus menghadapi berbagai permasalahan yang terus menghadang dalam keseharian. Namun, jika karakter-karakter dalam Inside Llewyn Davis atau La La Land menghadapi dilema yang datang dari industri musik, maka karakter Sharad Nerulkar dalam The Disciple harus turut menjawab sejumlah tantangan dari tradisi yang telah terbangun dari beberapa generasi yang telah lahir sebelum dirinya. Tamhane membangun filmnya menjadi sebuah pembelajaran karakter tentang bagaimana karakter Sharad Nerulkar terus berusaha untuk memperbaiki kemampuan dirinya, memenuhi barisan kriteria untuk dapat menjadikannya sesosok musisi yang kredibel, yang membuatnya bahkan rela untuk mengenyampingkan berbagai kebutuhan pribadinya – mulai dari mendapatkan pekerjaan yang lebih layak hingga seorang perempuan yang dapat menjadi pendamping hidupnya.

Pilihan untuk bercerita secara begitu personal inilah yang kemudian membuat sosok Sharad Nerulkar terasa sebagai karakter yang begitu rapuh – terjebak antara mimpi untuk menjadi seorang musisi musik tradisional yang handal untuk kemudian menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi impian tersebut. Meskipun begitu, Tamhane tidak pernah merajut pengisahan The Disciple menjadi sebuah presentasi yang sentimental. The Disciple bahkan seringkali terasa dihadirkan dengan keberadaan jarak emosional antara penonton dengan karakter yang sedang diceritakan kisahnya. Tetap saja, galian pengisahan yang apik akan sang karakter utama tetap berhasil membuat sosok Sharad Nerulkar tetap sebagai karakter yang memikat untuk terus diikuti perjalanan kisahnya. Tidak banyak konflik lain yang mengisi linimasa pengisahan The Disciple yang berjalan selama 127 menit ini karena Tamhane memilih untuk memberikan gambaran kisah yang utuh bagi karakter utama filmnya.

Sebagai sebuah film yang menyelami kehidupan para musisi, The Disciple jelas diwarnai oleh banyak kehadiran lagu-lagu yang berasal dari jenis musik tradisional India. Penuturan film ini juga mencoba menyelami pemikiran akan “kemurnian” nilai artistik musik tradisional India – yang juga dapat dibaca dan diaplikasi pada berbagai karya seni pada umumnya – dimana banyak metode dari masa lampau justru mencegah jenis musik tersebut untuk dapat dinikmati atau dipelajari oleh kalangan yang lebih luas. Sentilan akan persiapan seorang musisi untuk hidup “menyendiri dan kelaparan” demi mengembangkan kemampuan artistiknya juga menjadi poin pembicaraan yang cukup lugas disampaikan oleh Tamhane dalam filmnya. Elemen-elemen cerita yang dihadirkan lembut namun begitu menohok inilah yang mampu membuat The Disciple menggoreskan kesan yang cukup mendalam bagi para penontonnya.

Seperti yang dilakukannya dalam Court, Tamhane mengisi departemen aktingnya dengan barisan pemeran yang belum memiliki pengalaman akting sebelumnya. Tamhane memilih Modak dan Dravid untuk berperan sebagai Sharad Nerulkar dan Guruji justru karena keduanya adalah musisi musik tradisional India dalam kehidupan kesehariannya. Namun, jangan salah, berkat arahan dari Tamhane, Modak dan Dravid mampu memberikan jiwa sekaligus kehidupan bagi kedua karakter yang mereka perankan. Modak, khususnya, dapat membuat penonton merasakan berbagai gejolak emosional dari perjuangan – mulai dari hasrat, semangat, sampai rasa kekecewaannya – yang ia rasakan dalam usaha untuk mencapai seluruh harapannya. Penampilan yang begitu mengesankan bagi sebuah film yang sangat mengesankan pula.

 

The Disciple (2020)

Directed by Chaitanya Tamhane Produced by Vivek Gomber Written by Chaitanya Tamhane Starring Aditya Modak, Arun Dravid, Sumitra Bhave, Deepika Bhide Bhagwat, Kiran Yadnyopavit, Abhishek Kale, Neela Khedkar, Makarand Mukund, Kristy Banerjee, Prasad Vanarse, Ashwini Kulkarni Music by Aneesh Pradhan Cinematography Michał Sobociński Edited by Chaitanya Tamhane Production company Zoo Entertainment Running time 127 minutes Country India Language Marathi

Leave a Reply