Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Sempat direncanakan rilis di layar bioskop dengan judul Connected pada tahun 2020, The Mitchells vs the Machines adalah film animasi terbaru yang diproduseri oleh Phil Lord dan Christopher Miller yang, tentu saja, dikenal dengan film-film yang mereka arahkan dan produseri sebelumnya seperti Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), The LEGO Movie (2014), dan Spider-Man: Into the Spider-Verse (Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman, 2018). Merupakan film animasi yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara Mike Rianda – serta co-director Jeff Rowe yang bersama dengan Rianda menuliskan naskah cerita film, The Mitchells vs the Machines mencoba meneruskan kesuksesan Sony Pictures Animation lewat Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam menghadirkan tatanan visual animasi dengan citarasa animasi yang berbeda dari kebanyakan film animasi modern. Untuk film ini, hal tersebut dilakukan dengan menyajikan serta memadukan teknik animasi tradisional dan animasi komputer, memberikan sejumlah sentuhan live-action di beberapa adegan, dan membungkusnya dengan warna-warna terang yang akan dengan segera mencuri perhatian. Berhasil?

The Mitchells vs the Machines sendiri mengisahkan tentang seorang gadis bernama Katie Mitchell (Abbi Jacobson) yang tidak sabar untuk meninggalkan rumahnya serta memulai kehidupan baru untuk duduk di bangku perkuliahan dan mencoba mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang pembuat film handal. Ketidaksabaran Katie Mitchell untuk meninggalkan rumah juga didorong oleh hubungannya dengan sang ayah, Rick Mitchell (Danny McBride), yang dianggap tidak pernah dapat memahami segala impiannya. Rick Mitchell sebenarnya menyadari akan kerenggangan hubungannya dengan sang putri. Karena itulah, daripada mengantarkan dan berpisah dengan anaknya di bandara, Rick Mitchell lantas mengajak istrinya, Linda Mitchell (Maya Rudolph), dan putra mereka, Aaron Mitchell (Rianda), untuk melakukan perjalanan bersama dengan mobil mereka untuk terakhir kali guna mengantarkan Katie Mitchell ke kampusnya yang berada di belahan negara bagian lain. Sial, belum sampai di tempat tujuan mereka, sebuah kekacauan terjadi yang disebabkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh sebuah perangkat lunak komputer yang dikenal dengan sebutan PAL (Olivia Colman) yang ingin mengambil alih kekuasaan dunia dari tangan manusia.

Kisah yang dihadirkan oleh Rianda dan Rowe memang terasa begitu familiar – kisah seorang anak dan ayah yang hubungannya mulai menjauh karena merasa mereka begitu berbeda sebelum akhirnya sebuah kejadian dapat menyatukan perbedaan mereka. The Mitchells vs the Machines juga memberikan lapisan kisah tentang bagaimana teknologi hadir dalam lingkungan keluarga. Namun, daripada berusaha untuk memberikan moral kisah tentang bagaimana “teknologi menghadirkan jarak dalam hubungan personal setiap orang” atau “teknologi adalah suatu hal yang buruk dalam hubungan manusia,” film ini lebih memilih untuk berkisah secara personal tentang bagaimana perjalanan sebuah hubungan yang bermasalah menemukan solusi yang humanis ketika karakter-karakternya digambarkan mulai berusaha untuk mengerti satu sama lain. Hasilnya, Rianda dan Rowe mampu menghadirkan sebuah jalinan kisah keluarga yang hangat sekaligus menghibur.

Alur tentang petualangan yang harus dilalui oleh anggota keluarga Mitchell dalam usaha mereka untuk menyelamatkan dunia juga dapat tergarap dengan apik. Dihadirkan dalam balutan komedi yang kental, Rianda mengeksekusi elemen petualangan dalam filmnya lewat ritme pengisahan yang cepat sehingga momen-momen keseruan yang harus dihadapi oleh tiap karakter dapat dihadirkan dengan baik. Pilihan untuk menyajikan cerita dengan tampilan grafis animasi yang merupakan paduan antara animasi gambaran tangan dengan animasi komputer juga membuat batasan cerita yang dapat diraih oleh alur pengisahan The Mitchells vs the Machines menjadi lebih luas. Tidak seperti kebanyakan film animasi modern yang berusaha untuk tampil dengan animasi dan warna yang berkesan nyata, film ini dihadirkan dengan berbagai sentuhan animasi yang membuatnya kadang berkesan konyol namun tidak pernah memberikan kesan mengada-ada. Tata musik garapan Mark Mothersbaugh yang dihadirkan beriringan dengan pilihan lagu-lagu indie pop enerjik juga membantu mendorong The Mitchells vs the Machines untuk menjadi sebuah presentasi yang sangat, sangat menyenangkan.

Kegemilangan kualitas pengisahan film ini juga mendapatkan dukungan dari penampilan vokal para pengisi suaranya. McBride, Rudolph, Jacobson, dan Rianda hadir dengan chemistry yang apik dan meyakinkan untuk tampil sebagai sebuah keluarga. Fred Armisen dan Beck Bennett yang berperan sebagai dua robot yang membantu petualangan keluarga Mitchell juga mampu mencuri perhatian lewat dialog-dialog komikal mereka. Berperan sebagai sosok antagonis yang mencoba untuk menguasai dunia, Colman tampil menjadi bintang bagi The Mitchells vs the Machines. Karakternya mungkin digambarkan sebagai sosok yang mengerikan atas usaha balas dendamnya namun Colman secara cerdas mengeksekusi dialog-dialog yang diberikan pada karakternya dengan sentuhan komedi yang membuat karakter PAL tetap terasa jenaka.

 

The Mitchells vs the Machines (2021)

Directed by Mike Rianda, Jeff Rowe (co-director) Produced by Phil Lord, Christopher Miller, Kurt Albrecht Written by Mike Rianda, Jeff Rowe Starring Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph, Mike Rianda, Eric Andre, Olivia Colman, Fred Armisen, Beck Bennett, Conan O’Brien, Charlyne Yi, Chrissy Teigen, John Legend, Blake Griffin, Doug the Pug, Sasheer Zamata, Elle Mills, Alex Hirsch, Jay Pharoah, Maddy McGraw, Ellen Wightman Music by Mark Mothersbaugh Edited by Greg Levitan Production companies Columbia Pictures/Sony Pictures Animation/Lord Miller Productions/One Cool Films Running time 110 minutes Country United States Language English

Leave a Reply