Review: Generasi 90an: Melankolia (2020)

Merupakan penulis naskah bagi film-film seperti Surat dari Praha (Angga Dwimas Sasongko, 2016), Love for Sale (Andibachtiar Yusuf, 2018), hingga Story of Kale: When Someone’s in Love (Sasongko, 2020), M. Irfan Ramli kini melakukan debut pengarahannya melalui film Generasi 90an: Melankolia. Seperti halnya Nanti Kita Cerita tentang Hari ini (Sasongko, 2020) – yang salah satu karakternya diberikan ruang penceritaan tersendiri lewat Story of Kale: When Someone’s in Love, Generasi 90an: Melankolia juga merupakan adaptasi bebas dari buku yang ditulis oleh Marchella FP. Bebas, dalam artian jika buku yang berjudul Generasi 90an yang dijadikan basis cerita dari film ini merupakan buku yang berisi berbagai kenangan akan film, musik, dandanan, permainan, bacaan, hingga makanan yang sempat populer di era tersebut, maka film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Ramli ini akan menuturkan garisan kisah yang dialami oleh sejumlah karakter.

Fokus pengisahan film ini berada pada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah (Gunawan Sudrajat), ibu (Marcella Zalianty), serta kedua anak mereka, Indah (Aghniny Haque) serta Abby (Ari Irham). Kehidupan mereka berjalan dengan baik hingga akhirnya sebuah tragedi datang dan merebut Indah dari keseharian mereka. Kehilangan sosok anak jelas merupakan mimpi buruk yang menjadi kenyataan bagi setiap orangtua – dan kedua orangtua Indah dan Abby kini tenggelam dalam rasa duka tersebut. Kesedihan yang mendalam juga dirasakan oleh Abby yang kini tidak pernah lagi dapat tampil seceria dulu. Tekanan mental yang dirasakan oleh remaja yang akan segera menyelesaikan bangku sekolah lanjutan tingkat atas tersebut juga membuat hubungan asmaranya dengan Kirana (Jennifer Coppen) berjalan hambar. Satu-satunya cara yang dipilih oleh Abby untuk dapat mengobati kepedihan hatinya adalah dengan mendekatkan dirinya dengan sahabat sang kakak, Sephia (Taskya Namya).

Meskipun tidak pernah menyebut latar waktu pengisahan secara spesifik, rasanya cukup mudah untuk menerka bahwa alur pengisahan Generasi 90an: Melankolia terjadi di era sekarang ketika film ini menggambarkan sosok karakter utamanya terlahir di tahun 2000 dan baru saja berulangtahun yang ke-18. Selain penyebutan nama Kurt Cobain, Nike Ardilla, kehadiran lagu-lagu seperti Begitu Indah, Sephia, dan Cinta Kan Membawamu Kembali, serta sejumlah benda serta gaya busana yang akan sangat familiar bagi mereka yang beranjak dewasa di era ‘90an, Generasi 90an: Melankolia memang tidak pernah terasa berkomitmen penuh untuk menghadirkan atmosfer cerita bernuansa ‘90an seperti yang ditonjolkan oleh judul film ini – ataupun buku yang menjadi sumber inspirasi ceritanya. Entahlah. Mungkin pembuat film ini merasa kesulitan untuk mencari dan menciptakan perlengkapan cerita yang tepat untuk menggambarkan era yang mereka jadikan sebagai judul film mereka. Atau memang film ini hanya sekedar menggunakan kepopuleran buku dan judul Generasi 90an sebagai trik pemasaran belaka.

Namun, pilihan untuk menjual era ‘90an sebagai judul film tanpa pernah mengaplikasikannya secara tepat pada alur pengisahan merupakan masalah yang tidak begitu besar pada penuturan Generasi 90an: Melankolia. Masalah lebih besar dan lebih mengganggu justru terdapat pada kualitas pengisahan film ini sendiri. Dalam 91 menit presentasi ceritanya, Generasi 90an: Melankolia berusaha memberikan analisa tentang bagaimana para karakternya menghadapi rasa duka akan kehilangan sosok yang mereka sayang. Tema cerita yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk dapat tampil emosional namun, sayangnya, gagal tergambar dengan baik akibat penggalian cerita yang cenderung dangkal. Daripada memberikan ruang cerita yang efektif pada karakter-karakternya, Ramli lebih memilih untuk menghadirkan fokus pada kisah asmara yang terjadi antara karakter Abby, Kirana, dan Sephia. Bukan sebuah pilihan yang benar-benar buruk namun komposisi cerita yang sering terasa hambar berkat karakter-karakter yang tidak pernah mampu terasa mengikat membuat Generasi 90an: Melankolia menjadi begitu bertele-tele dalam penuturannya.

Di saat yang bersamaan, fokus yang terlalu besar pada sosok karakter Abby kemudian menghilangkan substansi cerita pada karakter ayah dan ibu – yang justru terasa lebih memiliki esensi cerita yang lebih kuat berkat penampilan apik yang dihadirkan Zalianty dan Sudrajat. Dengan garapan cerita yang cenderung datar – termasuk kehadiran sebuah alur tentang kisah romansa yang dialami oleh karakter Indah di masa lampau, konklusi yang diberikan film ini pada kisah para karakternya kemudian menjadi berkesan tergarap setengah matang. Gambaran perjalanan tiap karakter dalam menghadapi rasa duka mereka tidak pernah terasa utuh untuk kemudian diberikan sebuah “akhir kisah yang bahagia” dimana karakter-karakter tersebut dikisahkan dapat menerima dan mengikhlaskan kepergian sosok terkasih mereka serta bersiap untuk membuka lembaran kehidupan yang baru. Terasa begitu canggung.

Terlepas dari sejumlah kelemahan yang tampil pada penuturan ceritanya, Generasi 90an: Melankolia sebenarnya telah dapat menunjukkan potensi yang dimiliki Ramli dalam bidang pengarahan. Kualitas produksi film ini tampil dalam kualitas yang memuaskan. Ritme pengisahan Generasi 90an: Melankolia juga tertata dengan baik, tidak pernah terasa terlalu lamban ataupun terburu-buru dalam berkisah. Ramli juga mendapatkan penampilan akting yang tidak mengecewakan dari para pengisi departemen aktingnya – meskipun pilihan untuk membuat Irham selalu berteriak dalam mengungkapkan depresi yang dirasakan oleh karakternya terasa berlebihan dan mengganggu pada sejumlah adegan. Tidak buruk, namun jelas terasa melewatkan kesempatan untuk mengolah sebuah potensi cerita secara maksimal.

 

Generasi 90an: Melankolia (2020)

Directed by M. Irfan Ramli Produced by Angga Dwimas Sasongko Written by M. Irfan Ramli (screenplay), Marchella FP (book, Generasi 90an) Starring Ari Irham, Taskya Namya, Aghniny Haque, Jennifer Coppen, Wafda Saifan, Gunawan Sudrajat, Karina Salim, Marcella Zalianty Music by Gascaro Ramondo Cinematography Abdul Gerry Habir Edited by Greg Arya Production company Visinema Pictures Running time 91 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply