Review: The United States vs. Billie Holiday (2021)

Diangkat dari buku yang berjudul Chasing the Scream: The First and Last Days of the War on Drugs yang ditulis oleh Johann Hari, film terbaru arahan sutradara Lee Daniels (Lee Daniels’ The Butler, 2013), The United States vs. Billie Holiday, mencoba untuk mengangkat sebuah sisi pengisahan dari sosok penyanyi legendaris Billie Holiday yang mungkin belum diketahui oleh banyak kalangan. Dengan karir yang berjalan selama lebih dari dua dekade, imej Holiday yang begitu popular pada era 30-40an sebagai seorang penyanyi jazz dengan kemampuan olah vokal yang membuatnya berada di kelas yang berbeda dengan kebanyakan penyanyi lainnya seringkali dibayangi oleh berbagai kasus hukum yang berkaitan dengan penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Ketergantungannya pada narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut bahkan membuat Holiday terus dikejar dan berada dalam pengawasan ketat pihak Federal Bureau of Narcotics. Namun, seperti yang diungkapkan oleh The United States vs. Billie Holiday, perhatian yang diberikan Federal Bureau of Narcotics pada Holiday tidak selalu berkaitan dengan ketergantungannya.

Di tahun 1939, Billie Holiday (Andra Day) merilis sebuah lagu berjudul Strange Fruit yang liriknya diinspirasi oleh berbagai tindak hukuman mati tanpa pengadilan di Amerika Serikat yang banyak menyasar pada keturunan Afrika-Amerika. Kesuksesan lagu tersebut mampu meningkatkan popularitas namanya namun, di saat yang bersamaan, juga membuat keberadaan Billie Holiday diwaspadai akibat nilai politis yang terkandung di dalam lirik lagu tersebut. Menilai bahwa lirik lagu tersebut akan membangkitkan rasa amarah sekaligus perlawanan dari warga keturunan Afrika-Amerika, kepala Federal Bureau of Narcotics, Harry J. Anslinger (Garrett Hedlund), mencoba untuk membungkam Billie Holiday dengan menggunakan ketergantungannya akan narkotika dan obat-obatan terlarang. Billie Holiday tidak menyerah begitu saja – bahkan ketika ancaman tersebut merusak karir menyanyi serta membuat sejumlah orang dekatnya kemudian berbalik untuk melawannya. Perlawanan yang dilakukan Billie Holiday berlangsung hingga hembusan nafas terakhirnya.

Jika dibandingkan dengan rekan-rekan penyanyi jazz keturunan Afrika-Amerika sepantarannya seperti Ella Fitzgerald, Count Bassie, hingga Louis Armstrong, yang memilih untuk menampilkan lagu-lagunya sebagai sebuah sarana hiburan, pilihan tegas yang diambil oleh Holiday dalam menyuarakan penindasan yang dialami oleh rasnya jelas adalah sebuah pilihan yang berani. Tidak heran jika kemudian Holiday dan lagunya Strange Fruit kemudian dipandang sebagai penggerak langkah awal dari gerakan hak-hak sipil bagi warga keturunan Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Bersama dengan penulis naskah Suzan-Lori Parks (Native Son, 2019), Daniels mengemas The United States vs. Billie Holiday untuk menangkap momen-momen personal yang dialami oleh Billie Holiday setelah pemerintah Amerika Serikat menilai lagunya dapat memicu gesekan sosial yang lebih besar antara warga keturunan Afrika-Amerika dengan para penindasnya (baca: warga kulit putih). Sayangnya, penceritaan yang dihadirkan Daniels dan Parks seringkali kehilangan fokus kisahnya yang secara perlahan membuat film ini kehilangan kekuatan sekaligus daya tarik penceritaanya.

Daripada menjadikan sosok Billie Holiday sebagai karakter sentral dengan penggalian penokohan yang kuat sekaligus mendalam, The United States vs. Billie Holiday malah lebih memilih untuk bercerita tentang sosok-sosok pria yang berada di sekitarnya – yang kebanyakan hadir dengan jalinan cerita romansa dengan sosok karakter Billie Holiday. Meskipun begitu, di saat yang bersamaan, Daniels dan Park juga tidak mampu menghadirkan balutan cerita yang menarik akan hubungan yang dijalin oleh karakter Billie Holiday dengan karakter-karakter pria tersebut. Kisah-kisah tersebut lantas berakhir bagaikan episode drama opera sabun yang jauh dari kesan menarik dan menenggelamkan esensi dari sosok karakter Billie Holiday, baik sebagai seorang penyanyi maupun sebagai sosok tangguh yang pengaruhnya ditakuti oleh sejumlah pihak di pemerintahan Amerika Serikat. Jelas sebuah kesempatan yang terbuang bagi sosok sebesar Billie Holiday untuk mendapatkan pengisahan yang sesuai dengan kebesaran talenta serta ketagguhan pendiriannya.

The United States vs. Billie Holiday baru mampu menghadirkan momen-momen pengisahan yang menarik ketika linimasa pengisahan film ini berkutat pada “perang dingin” yang terjadi antara sosok Billie Holiday dengan pihak pemerintahan Amerika Serikat. Karakter Harry J. Anslinger memang, lagi-lagi, tidak mampu dihadirkan secara baik galian ceritanya. Namun konflik politis yang tercipta antara kedua karakter dapat memberikan intensitas emosional yang kuat pada jalan penceritaan film. Film ini juga dapat terasa hidup ketika karakter Billie Holiday diberikan ruang pengisahan tersendiri yang menggali sisi kepribadiannya. Mulai dari kemampuan bernyanyinya yang menghipnotis, masa lalunya yang kelam, atau ketika karakter tersebut menghabiskan waktunya bersama dengan teman-teman dekatnya. Dengan durasi pengisahan yang berjalan selama 130 menit, Daniels tidak begitu mampu untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi kehadiran momen-momen terbaik tersebut.

Daniels memang gagal untuk menghadirkan kualitas cerita yang mumpuni bagi sosok sekuat Billie Holiday. Namun, The United States vs. Billie Holiday jelas masih dapat dinikmati berkat penampilan barisan pengisi departemen aktingnya. Sebagai sosok Billie Holiday, Day sukses menghadirkan sesosok karakter yang tidak hanya menarik namun juga mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap mata yang memandangnya. Merupakan penampilan akting bagi Day yang seorang penyanyi, Day tidak pernah menunjukkan keraguan dalam upayanya untuk menghidupkan sosok seikonik karakter Billie Holiday. Peran Hedlund sebagai Harry J. Anslinger serta Trevante Rhodes sebagai Jimmy Fletcher memang tidak mendapatkan porsi pengisahan yang kuat. Tetap saja, penampilan Hedlund dan Rhodes menjadikan kedua karakter tersebut menjadi cukup berarti kehadirannya dalam pengisahan film ini. Departemen akting The United States vs. Billie Holiday juga diperkuat oleh penampilan Natasha Lyonne, Rob Morgan, Da’Vine Joy Randolph, dan Evan Ross.

 

The United States vs. Billie Holiday (2021)

Directed by Lee Daniels Produced by Lee Daniels, Jordan Fudge, Tucker Tooley, Joe Roth, Jeff Kirschenbaum, Pamela Oas Williams Written by Suzan-Lori Parks (screenplay), Johann Hari (book, Chasing the Scream: The First and Last Days of the War on Drugs Starring Andra Day, Trevante Rhodes, Natasha Lyonne, Garrett Hedlund, Miss Lawrence, Rob Morgan, Da’Vine Joy Randolph, Evan Ross, Tyler James Williams, Tone Bell, Erik LaRay Harvey, Melvin Gregg, Dana Gourrier, Leslie Jordan Music by Kris Bowers Cinematography Andrew Dunn Edited by Jay Rabinowitz Production companies Lee Daniels Entertainment/New Slate Ventures/Roth/Kirschenbaum Films Running time 130 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: The United States vs. Billie Holiday (2021)”

Leave a Reply