Review: Palmer (2021)

Tidak sukar untuk menebak arah langkah perjalanan cerita Palmer beberapa menit setelah durasi pengisahannya dimulai. Merupakan film cerita panjang pertama arahan Fisher Stevens setelah menyutradarai Stand Up Guys (2012) yang kemudian diikuti dengan tiga film dokumenter, Palmer berkisah mengenai Eddie Palmer (Justin Timberlake), seorang mantan bintang sepakbola kampus yang karirnya hancur setelah ia dipenjara akibat tindakan percobaan pembunuhan yang dilakukannya. 12 tahun setelah menjalani masa hukumannya, Eddie Palmer memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, tinggal bersama neneknya, Vivian Palmer (June Squibb), dan mencoba menata ulang kehidupannya. Bukan sebuah persoalan mudah. Kisah kelamnya di masa lampau telah terpatri di ingatan banyak orang yang membuatnya sukar untuk kembali membaur. Kehidupan Eddie Palmer lantas mendapatkan warna baru ketika ia mulai menjalin persahabatan dengan Sam (Ryder Allen), seorang anak yang ditelantarkan oleh sang ibu, Shelly (Juno Temple), dan kini berada dalam perawatan neneknya.

Tidak ada yang benar-benar baru maupun istimewa dalam linimasa pengisahan Palmer ketika film yang naskah ceritanya ditulis oleh Cheryl Guerriero (Pledge This!, 2006) bercerita tentang usaha dari karakter Eddie Palmer untuk memperbaiki kembali jalan hidupnya guna “menebus” kesalahan fatalnya di masa lalu. Terdapat gambaran sosok-sosok yang tidak menyukai kehadiran karakter Eddie Palmer, karakter Vivian Palmer yang selalu yakin bahwa sang cucu akan mampu untuk berubah, alur cerita tentang usaha dari karakter Eddie Palmer untuk berjuang namun menemui jalan buntu sebelum akhirnya ia mencapai keberhasilannya, hingga, tentu saja, kehadiran sosok karakter yang akan menjadi karakter pemikat hati sang karakter utama. Cukup medioker, khususnya gambaran akan sosok Eddie Palmer sendiri yang disajikan dengan karakterisasi yang kurang kuat dan memikat.

Palmer justru tampil unggul ketika alur cerita memindahkan fokusnya pada sosok karakter Sam. Sam, yang digambarkan sebagai sosok anak laki-laki yang lebih memilih untuk bermain boneka, mengenakan tata rias pada wajahnya, serta bermimpi untuk menjadi salah satu puteri yang hidup di dunia peri, memberikan energi yang kuat bagi film ini untuk tampil lebih menonjol dalam berkisah. Harus diakui, pengembangan cerita yang diberikan Guerriero pada plot cerita terkait hubungan antara karakter Eddie Palmer dengan karakter Sam memang juga tidak terhindar dari sejumlah konflik yang terasa klise. Namun, keputusan Stevens dan Guerriero untuk tidak menjadikan sosok karakter Sam sebagai sosok karakter penderita dalam linimasa Palmer adalah sebuah pilihan yang sangat menarik. Karakter Sam memang menghadapi sejumlah konflik dan tantangan. Meskipun begitu, gambaran sosoknya yang begitu positif dalam memandang lingkungan sekaligus jati dirinya menjadikan Palmer sebagai sebuah presentasi yang cukup layak untuk dikagumi.

Keberhasilan karakter Sam untuk mencuri perhatian juga tidak lepas dari penampilan apik yang diberikan Allen. Aktor muda tersebut mampu memberikan detak penggambaran yang begitu tepat akan karakter yang ia perankan. Sering terlihat rapuh namun mampu memancarkan kekuatan mendalam akan kesungguhan hatinya. Keberadaan Allen memang akan membuat setiap orang (sedikit) melupakan keberadaan Timberlake yang sebenarnya mendominasi deretan adegan pengisahan Palmer. Meskipun begitu, Timberlake memberikan penampilan drama yang cukup efektif bagi film ini. Karakterisasi yang diberikan bagi sosok Eddie Palmer memang serba terbatas dan cenderung klise, tetapi Timberlake tetap mampu memberikan kehidupan pada karakternya, menjadikannya sebagai sosok yang mudah untuk disukai, sekaligus diberikan dukungan moril atas perjalanan hidupnya. Selain Allen dan Timberlake, departemen akting Palmer juga hadir dengan kualitas yang memuaskan. Squibb, Temple – dengan porsi pengisahan karakter yang benar-benar menyiakan bakat aktingnya, hingga Alisha Wainwright tampil maksimal.

Satu hal yang dapat dirasakan dari Palmer adalah pengarahan yang diberikan oleh Stevens hadir dengan sentuhan yang menyegarkan dalam usahanya untuk lebih memberikan fokus pada sisi positif pengisahan daripada berkutat dengan teror akan berbagai konflik yang berkesan negatif. Tentu, kadang-kadang penyampaian yang dihadirkan Palmer terasa menggurui. Namun, hal tersebut lebih sering muncul karena kefamiliaran kisah yang dihadirkan daripada disebabkan oleh penceritaan yang bercitra pretensius. Secara keseluruhan, meskipun tema besarnya sering terasa terolah secara kurang matang, Palmer adalah sebuah sajian drama yang akan mampu menggugah dengan penuturannya yang hangat serta solidnya penampilan barisan pemerannya.

Palmer (2021)

Directed by Fisher Stevens Produced by Charlie Corwin, Daniel Nadler, Charles B. Wessler, Sidney Kimmel, John Penotti Written by Cheryl Guerriero Starring Justin Timberlake, Ryder Allen, Alisha Wainwright, June Squibb, Juno Temple, Jesse C. Boyd, J.D. Evermore, Lance E. Nichols, Jay Florsheim Music by Tamar-kali Cinematography Tobias A. Schliessler Edited by Geoffrey Richman Production companies Sidney Kimmel Entertainment/Rhea Films/Hercules Film Fund Running time 110 minutes Country United States Language English

Leave a Reply