Review: Yang tak Tergantikan (2021)

Tidak salah untuk mengatakan bila film kedua arahan sutradara Herwin Novianto yang dirilis di Disney+ Hotstar merupakan sebuah companion piece bagi film pertamanya. Jika Sejuta Sayang Untuknya (2020) menempatkan Deddy Mizwar sebagai sosok ayah tunggal yang berjuang untuk menghidupi putri remajanya, maka Yang tak Tergantikan menghadirkan penampilan akting Lulu Tobing yang berperan sebagai seorang perempuan yang berusaha untuk tetap tangguh bertahan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan demi masa depan kehidupan tiga anaknya. Seperti halnya Sejuta Sayang Untuknya, linimasa pengisahan Yang tak Tergantikan diisi dengan barisan konflik yang berkesan sederhana dan familiar namun mampu tergarap dengan kesan nyata yang kuat. Tidak mengherankan jika kemudian film yang naskah ceritanya ditulis oleh Novianto bersama dengan Gunawan Raharja (22 Menit, 2018) akan mampu dengan mudah untuk disukai setiap penontonnya.

Awal pengisahan Yang tak Tergantikan akan memperkenalkan penonton pada sosok Aryati (Tobing), seorang ibu yang setelah pernikahannya berakhir dengan perceraian lantas bekerja sebagai sopir taksi daring untuk menghidupi dirinya bersama dengan ketiga anaknya. Beruntung, terlepas dari berbagai kesulitan, Aryati diberkahi dengan tiga anak yang selalu dapat mengerti situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi, anak laki-laki satu-satunya Bayu (Dewa Dayana) yang selalu siap untuk mendampinginya sebagai kepala keluarga, Tika (Yasamin Jasem) yang sedang melalui masa remaja namun tidak pernah lupa untuk memperhatikan keluarganya, serta si bungsu Kinanti (Maisha Kanna) yang sering membanggakan dengan berbagai prestasi akademisnya. Permasalahan hidup tentu tidak akan ada habisnya. Namun Aryati bersama dengan ketiga anaknya selalu berusaha untuk berbagi dan memecahkan bersama berbagai problema tersebut.

Butuh sejumlah waktu bagi Novianto untuk benar-benar menemukan ritme pengisahan yang tepat bagi Yang tak Tergantikan. Momen-momen awal pengisahan, dimana film ini mulai mengenalkan barisan karakter serta konflik yang akan dikembangkan pada tahapan cerita selanjutnya, Yang tak Tergantikan terasa hanya melompat antara satu konflik maupun karakter ke satu konflik maupun karakter lainnya tanpa pernah menghadirkannya dengan pengembangan yang lebih matang. Secara perlahan, untungnya, Yang tak Tergantikan, mulai menemukan detak cerita yang pas untuk dijalani, khususnya ketika dinamika hubungan antar karakter mulai terbentuk dengan baik. Arahan cerita Novianto yang memilih untuk tidak menghadirkan sama sekali sosok suami atau ayah dalam alur pengisahan juga cukup cerdas bekerja sebagai gambaran akan absennya sosok tersebut dalam keluarga yang menjadi fokus cerita film ini.

Tentu, masih ada beberapa konflik dan karakter sampingan yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan dan sia-sia kehadirannya. Atau oversimplikasi beberapa permasalahan yang muncul dan lalu diselesaikan begitu saja dengan cara yang terlalu gampang. Pilihan penceritaan yang tampil membuka masalah lalu menyelesaikannya sebelum kemudian membuka masalah baru memang membuat tampilan Yang tak Tergantikan terasa episodik daripada sebagai sebuah pengisahan yang utuh. Penempatan iringan musik di sejumlah adegan juga terasa terlalu on the nose – lihat saja bagaimana iringan musik yang selalu berubah menjadi bernuansa komedi ketika karakter Babe Ucup (Babe Ucup) datang atau iringan orkestra yang kental ketika atmosfer cerita berubah menjadi melodramatis. Meskipun begitu, berbagai permasalahan tersebut merupakan ganjalan minor yang tidak begitu mengganggu namun cukup menyita perhatian.

Yang tak Tergantikan jelas mendapatkan dorongan kualitas yang benar-benar kuat dari barisan pengisi departemen aktingnya. Setelah momen keemasannya dalam Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) – yang kembali mengingatkan penikmat drama Indonesia tentang kebrilianan kemampuan aktingnya, Tobing dengan lugas menampilkan kehandalannya dalam berperan pada film ini. Gambaran karakternya sebagai seorang ibu rumah tangga tunggal yang harus menghadapi berbagai permasalahan familiar yang telah sering ditampilkan dalam banyak drama keluarga lain mungkin terkesan sederhana. Namun, Tobing mampu menghidupkan sosok Aryati sebagai karakter perempuan yang tidak hanya kuat dan tangguh namun juga memiliki sisi kelembutan yang tak terbantahkan baik dari gestur tubuh, tatapan mata, maupun olah vokal yang ia keluarkan. Chemistry yang ia hadirkan bersama dengan tiga pemeran muda yang berada di sekitarnya juga tampil hangat dan begitu meyakinkan.

Penampilan Dayana, Jasem, dan Kanna juga memberikan andil yang besar dalam mendukung penampilan prima Tobing. Pengolahan naskah Novianto dan Raharja memberikan tiap karakter yang mereka perankan kesempatan untuk mendapatkan galian cerita secara seksama. Dan ketiga aktor tersebut berhasil menghidupkan karakter-karakter mereka. Meskipun tidak ada yang terasa benar-benar istimewa, kualitas produksi film, dari tata sinematografi, desain produksi, hingga tata rias dan rambut, tampil memuaskan dalam mengiringi perjalanan cerita Yang tak Tergantikan.

Yang tak Tergantikan (2021)

Directed by Herwin Novianto Produced by Frederica Written by Gunawan Raharja, Herwin Novianto Starring Lulu Tobing, Dewa Dayana, Yasamin Jasem, Maisha Kanna, Babe Ucup, Shinta Putri, Almanzo Konoralma, Dayat Hasibuan, Akbar Nasdar, Rezky, S. Nardirey, Vitriaglam, Arya, Hami Diah, M. Clara SFS, Mitha Hardiyanti Music by Egi Cinematography Gunung Nusa Pelita Edited by Muhammad Ali Ridho Production companies Falcon Pictures Running time 105 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply