Review: Sobat Ambyar (2021)

Seperti yang dapat dicerna dari judulnya, Sobat Ambyar adalah sebuah film yang mencoba untuk menangkap fenomena popularitas dari sosok Didi Kempot yang dikenal karena lagu-lagu campursari berbahasa Jawa-nya yang banyak bertemakan patah hati dan rasa kehilangan. Namun, jangan salah, film yang diarahkan oleh Charles Gozali (Nada untuk Asa, 2015) bersama dengan Bagus Bramanti ini bukanlah sebuah biopik yang ingin bertutur tentang seluk beluk kehidupan penyanyi yang telah tutup usia pada pertengahan tahun lalu tersebut. Disajikan sebagai sebuah drama romansa, Sobat Ambyar lebih tertarik untuk mengangkat kisah tentang bagaimana lagu-lagu yang dinyanyikan Kempot digunakan oleh para pendengarnya sebagai pelarian untuk menghibur rasa duka maupun lara yang sedang mengendap di hati mereka. Terbukti, lagu-lagu milik Kempot yang mengiringi banyak adegan film menjadi faktor kesuksesan Sobat Ambyar dalam menghasilkan momen-momen terbaik pengisahannya.

Alur cerita yang digarap oleh Bramanti (Yowis Ben II, 2019) bersama dengan Gea Rexy (Yowis Ben, 2018) sendiri sebenarnya bergerak secara cukup sederhana. Jatmiko (Bhisma Mulia) yang bekerja mengelola sebuah kafe di kota Solo bertemu dengan sesosok gadis cantik bernama Saras (Denira Wiraguna). Sejak pertemuan pertama mereka, Saras telah berhasil mencuri perhatian serta hati dari Jatmiko. Sayang, karena sifatnya yang pemalu, Jatmiko selalu urung untuk berkenalan dengan Saras. Atas dorongan adik, Anjani (Sisca JKT48), dan sahabatnya, Kopet (Erick Estrada), Jatmiko lantas berhasil untuk berbincang langsung dan lebih dekat dengan Saras. Hubungan keduanya bahkan dengan segera berkembang menjadi sebuah hubungan romansa. Masalah mulai muncul ketika Saras yang sedang berada di kampung halamannya di kota Surabaya tidak pernah lagi dapat dihubungi oleh Jatmiko.

Tidak ada banyak hal yang terjadi dalam linimasa pengisahan film yang juga dirilis secara internasional dengan judul The Heartbreak Club ini selain… well… gambaran tentang karakter Jatmiko yang mengasihani dirinya sendiri yang tidak mampu untuk melupakan sosok karakter Saras. Ada kisah sampingan tentang usaha sang karakter utama dalam mempertahankan usaha kafe miliknya atau jalinan hubungan antara dirinya dengan karakter sang adik ataupun sang sahabat yang sempat menyeruak di beberapa bagian. Namun, tak satupun dari plot tersebut dapat berkembang dengan baik. Kebanyakan hanya hadir dan dimanfaatkan sebagai sedikit distraksi dari plot utama film ini.

Sialnya, sebagai sajian pengisahan utama, naskah garapan Bramanti dan Rexy juga tidak begitu handal menghadirkan galian yang mendalam tentang balada kisah cinta antara karakter Jatmiko dan Saras. Banyak konflik maupun momen dalam alur pengisahan Sobat Ambyar dikembangkan dari lirik lagu-lagu karangan Kempot. Sayangnya, Sobat Ambyar seolah hanya berjalan dari momen ke momen kegalauan yang dirasakan dari karakter Jatmiko tanpa pernah berusaha untuk memberikan cerita yang lebih utuh tentang mengapa karakter Saras digambarkan begitu dingin dan mengapa karakter Jatmiko mau terus tenggelam (dan dimanfaatkan) oleh memori bersama sang mantan kekasih. Lumayan membuat penasaran kenapa produser film ini tidak memilih untuk menggarap biopik tentang Kempot saja.

Beruntung, Sobat Ambyar diberkahi barisan penampilan akting yang masih cukup dapat diandalkan. Merupakan penampilan akting perdananya di sebuah film layar lebar, Mulia hadir meyakinkan dalam setiap adegan dalam menghidupkan sosok pemuda yang terjebak dalam kenangan dan rasa sakit hati atas kandasnya sebuah hubungan asmara. Sayang, Mulia mendapatkan pendampingan yang tidak seimbang dari Wiraguna. Selain gagal untuk menghasilkan chemistry yang kuat bagi hubungan kedua karakter yang mereka perankan, Wiraguna seringkali terasa memberikan akting yang over-the-top dalam menterjemahkan sosok karakternya yang digambarkan “atraktif.” Para pemeran lain seperti Estrada, Sisca JKT48, dan Asri Welas – yang lagi-lagi hanya dimanfaatkan sebagai sosok penghasil guyonan sesaat dalam sebuah film namun tetap mampu memberikan penampilan yang mencuri perhatian – hadir dalam kualitas penampilan yang tidak mengecewakan.

Sebagai sebuah film yang didesain menjadi tribut bagi Kempot dan lagu-lagunya, Gozali dan Bramanti berhasil memanfaatkan lagu-lagu milik Kempot dengan baik dalam banyak adegan filmnya. Banyak momen musikal dalam film ini bahkan mampu tampil sebagai penyelamat bagi alur pengisahannya yang cenderung monoton dan terasa menjemukan. Kredit khusus juga layak diberikan pada gambar-gambar indah nan lembut yang dihasilkan oleh Hani Pradigya. Sobat Ambyar, secara keseluruhan, bukanlah sebuah presentasi yang istimewa dalam pengisahannya. Meskipun begitu, garapannya yang berusaha untuk menangkap (baca: mengenang) kebesaran lagu-lagu milik Kempot cukup membuat film ini menarik untuk disaksikan.

 

Sobat Ambyar (2021)

Directed by Charles Gozali, Bagus Bramanti Produced by Linda Gozali Arya, Charles Gozali Written by Bagus Bramanti, Gea Rexy Starring Bhisma Mulia, Denira Wiraguna, Sisca JKT48, Asri Welas, Erick Estrada, Mo Sidik, Emil Kusumo, Dede Satria, Rezca Syam, Didi Kempot Music by Nanin Wardhani Cinematography Hani Pradigya Edited by Ryan Purwoko, Charles Gozali, Ilham Adinatha Production companies MagMa Entertainment/Ideosource Entertainment/Paragon Pictures/Rapi Films Running time 101 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply